
Pagi-pagi Ken telah bangun bersiap untuk pergi, namun dia masih harus menunggu kedua anaknya bangun, karena dia tidak ingin kedua anaknya merasa ditinggalkan, dia menghampiri mantan istrinya yang sedang membuat sarapan di dapur.
''Isha'', panggil Ken
Merasa ada yang memanggil, Arrumaisha menoleh mencari sumber suara yang sudah akrab di telinga. ''Ada apa??
''Ada yang ingin ku katakan padamu, Ken duduk di kursi ruang makan dekat dapur, Arrumaisha ikut duduk di kursi depanya.
''Isha, aku ada pekerjaan yang harus aku urus sendiri, aku akan pergi untuk beberapa hari untuk mengurusnya'', ucap Ken.
Arrumaisha terdiam sesaat, ''apa anak-anak sudah tahu??
''Ya, aku sudah memberitahunya kemarin saat mau tidur, semalam aku juga ingin memberitahumu, tapi aku tertidur lebih awal'', jelas Ken.
''Jaga anak-anak dengan baik, aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mengurus rumah dan tokomu, kau hanya perlu mengurus dirimu sendiri dan anak-anak, jangan terlalu sibuk bekerja kau baru pulih, aku tidak ingin kau sakit lagi dan membuat anak-anak kuatir, gunakan ini untuk semua keperluanmu dan anak-anak, dan pakai ini untuk menghubungiku, tentang keinginanmu membuka toko kue aku akan memikirkanya, tunggu aku kembali''. Ken menyerahkan sebuah kartu debit dan sebuah ponsel keluaran terbaru.
Arrumaisha diam, dia hanya melihat benda itu, merasa aneh jika menerimanya, dia bukan siapa-siapanya lagi, dia hanya ibu yang melahirkan anaknya, dia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Ken. Meskipun berulang kali Ken mengatakan, bahwa semua yang dia lakukan tidak akan pernah sebanding, tapi Arrumaisha bukan wanita yang suka memanfaatkan keadaan.
''Aku punya penghasilan dari toko, walaupun tidak besar tapi cukup untuk kebutuhanku dan anak-anakku, kau sudah memberikan tempat tinggal yang layak padaku dan anak-anak, kau juga menanggung semua biaya orang-orang yang bekerja disini, kurasa aku tidak membutuhkanya, aku bukan istrimu lagi, kau tidak harus bertanggung jawab padaku, tapi karena ada anak-anak kau harus mengeluarkan biaya lebih banyak, aku tidak ingin menjadi bebanmu atau orang lain, selama aku bisa aku akan berusaha sendiri, aku bisa mengurus diriku dan juga anak-anakku'', ucapnya.
Ken terdiam, dia heran dengan wanita yang lima tahun lalu dinikahinya sampai sekarang tidak berubah, saat dulu masih menjadi suami istri dia tidak pernah memberikan apapun bahkan biaya hidupnya, biaya kuliah juga dibayar sendiri, Ken teringat saat di apartemen kehabisan stok makanan, dia juga membeli sendiri, dia tidak pernah meminta uang pada Ken, entah kenapa apa mungkin dia tidak berani meminta padanya, pada saat bercerai dia juga tidak menuntut hak tentang harta dan Ken tidak memberinya sepeserpun, dan sekarang Ken memberikan secara cuma-cuma dia juga tidak mengambilnya dan malah menolaknya. Dia berbeda dengan Rachel, entah berapa banyak pengeluaran setiap bulan oleh Rachel sudah tak terhitung lagi, sesaat Ken membandingkan mantan istrinya dan mantan kekasihnya yang telah meninggal lima tahun lalu, sangat berbeda. Rachel suka menghamburkan uang, bahkan hanya dalam sekejap saja. Mungkin itu juga yang membuat Ken bekerja keras untuk menghasilkan uang lebih banyak, sehingga terus mengembangkan bisnisnya, namun tidak disangka kekasih yang begitu dia puja-puja di depan istrinya saat itu justru menghianatinya, dan harus meregang nyawa karena demi melindungi Ken.
''Isha, aku tahu kau punya penghasilan dari tokomu, anak-anak adalah tanggung jawabku, aku tidak bermaksud menghinamu, kau simpan saja, sapa tahu kau akan membutuhkannya di kemudian hari, aku tidak akan mengambil apa yang sudah ku berikan padamu, aku akan membangunkan anak-anak dulu''. Ken meninggalkan Arrumaisha dan melangkah ke lantai atas untuk membangunkan putra putrinya.
****
Selesai sarapan tadi Ken langsung berangkat, dia berangkat pagi-pagi agar tidak ketinggalan pesawat, maklum saja kota B hanyalah kota kecil, hanya ada dua kali penerbangan dalam sehari. Meninggalkan kedua anak dan mantan istrinya Ken merasa ada yang hilang, namun dia tidak akan membuat mommynya menunggunya di apartement, sudah bertahun-tahun Ken tidak bertemu dengan ibu kandungnya dan sekarang ibunya datang mencarinya sampai ke ibu kota, Ken merasa ada sesuatu yang terjadi, sejak perpisahan kedua orang tuanya Ken tidak di perbolehkan bertemu dengan ibunya, namun mereka diam-diam selalu mengirim kabarnya tanpa sepengetahuan keluarga daddynya, hingga sampai Ken dewasa Ken sendiri yang mencari mommy yang tinggal di desa di negaranya, ibu Ken bekerja sebagai dokter umum di kota kecil. mengabdikan diri di masyakat di desa kelahirannya, Ken dibesarkan oleh daddynya bersama ibu tirinya, tumbuh bersama Mark saudara tiri yang menghianatinya, serta adik perempuannya, yang merupakan anak dari perkawinanya daddy dan ibu tirinya.
Satu Jam perjalanan udara telah di tempuh, pesawat turun di bandara internasional, Ken langsung keluar mencari Aldo yang sudah setia menunggu disana.
''Apa kabar tuan???, sapa Aldo
''Tidak tuan, kenapa kalau ibu anda tahu??.
''Aku tidak ingin memberi tahu dulu, aku yang akan memberitahunya sendiri'', tegas Ken
''Siap tuan??
''Apa ada masalah dengan perusahaan''.
''Sampai saat ini perusahaan masih berjalan lancar dan terkendali''.
''Aldo tolong kau cari tahu alat-alat untuk membuat kue yang bagus, Isha ingin membuka toko kue di toko yang baru direnovasi, aku ingin menghadiahkan itu untuknya, dan segera kirim kesana''.
''Siap tuan, bagaimana kabar nona dan si kembar? apa nona sudah sehat??.
''Ya, dia sudah lebih baik, Ken tiba-tiba merasa rindu dengan kedua anak kembarnya dan mantan istrinya, beberapa bulan disana, setiap hari melihat kedua anaknya tumbuh dengan baik, namun dia juga sedih, karena mantan istrinya belum mau membuka hati dan secara tidak langsung menolak rujuk.
''Apa nona sudah menerima permintaan tuan???,Aldo memberanikan diri untuk bertanya.
''Tidak'', jawab Ken begitu sedih.
''Dia belum mau membuka hatinya untukku, meskipun dia sudah memaafkanmu, dan tidak mengatakan secara langsung, dia tidak punya alasan menerimaku kembali karena kami dulu tidak saling mencintai, dia tidak pernah berfikir untuk menikah kembali, dia hanya ingin hidup untuk membesarkan dan membahagiakan anak-anaknya'', Ken begitu kecewa, terlihat jelas di raut mukanya.
''Tuan jangan menyerah, mungkin nona telah mengalami kepahitan hidup yang membuatnya enggan membuka hati lagi, tuan harus bersabar'', hibur Aldo.
''Aku tahu, ini tidak akan mudah, dia wanita mandiri, tidak ingin bergantung pada orang lain dan memanfaatkan keadaan, aku sangat naif dan terlalu percaya diri, dia pasti berfikir untuk apa rujuk karena kami dulu tidak pernah saling mencintai'', ucapnya lirih.
Aldo tidak tahu harus menghibur tuanya seperti apa, dia sendiri belum pernah berkencan, meski dia pernah merasakan jatuh cinta pada seorang wanita, tapi dia masih memedamnya hingga sekarang, dia terlalu sibuk mengurus perusahaan, terlebih selama lima tahun terakhir, selama Ken belum kembali ke ibu kota Aldolah yang mengurus jalanya perusahaan, bahkan orang mengira Aldo sebagai pemilik perusahaan, banyak karyawan wanita yang mengagumi sosok Aldo di perusahaan, tapi karena Aldo sangat sibuk, Aldo mengabaikan perasaanya sendiri.
Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di apartemen milik bosnya, Ken segera turun dan bergegas untuk menemui ibunya, sedang kan Aldo kembali ke perusahaan.