
Sudah beberapa hari Ken meninggalkan kota B, hampir setiap hari tak lupa untuk menelfon kedua anak kembarnya yang selalu membuatnya rindu, bukan hanya kedua anaknya yang membuatnya rindu tapi wanita yang telah melahirkan kedua anaknya kini telah membuat otaknya terasa penuh olehnya, tidak bisa sedikit pun Ken melupakanya, beberapa bulan bersama, telah membuatnya tak henti memikirkanya, rasanya Ken tak bisa lagi jauh darinya dan ingin segera terbang kesana menemui anak dan mantan istrinya, namun pekerjaan tidak bisa di tinggalkan, meski selama lima tahun meninggalkan ibukota, dan tanggung jawab dibebankan pada Aldo, namun Ken tetap memantau jalanya perusahaanya, Aldo sangat bisa diandalkan.
Berbeda dengan Arrumaisha, tak banyak yang bisa ia lakukan, semua pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakanya, dari mencuci, setrika, bersih-bersih rumah dan bahkan memasak, begitu juga dengan tokonya, Arrumaisha hanya menerima laporan dari Ratna sebagai kepala toko dan menikmati hasilnya, saat mengantar jemput kedua anaknya sekolah Ken telah menyiapkan sopir yang siap mengantarnya, tidak ada yang banyak ia lakukan, Ken memintanya untuk menunggu kedatangannya jika ingin membuka toko kue, meski tak bisa di pungkiri kehadiran Ken sangat banyak membantunya, mengubah hidupnya dan juga anak-anaknya, dia juga merasa ada sosok yang hilang setelah di tinggal Ken, tapi dia berusaha tidak menunjukan itu, Arrumaisha tahu akan status dirinya, dia tidak mau terlalu memikirkannya. Ada sebuah kekosongan kembali, Ken adalah sosok yang datang dan pergi begitu saja, baginya yang terpenting sekarang adalah anak-anaknya bahagia, semua yang dia lakukan dan dia berikan adalah untuk kebahagiaan anak mereka dan itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, Arrumaisha berusaha menyesuaikan diri, dia akan tetap berjuang untuk kedua anaknya dan dirinya, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti.
Siang ini setelah menjemput anak-anaknya, Arrumaisha mengawasi kedua anaknya yang sedang berenang. Kedua anak ini sudah bisa berenang walaupun belum mahir. Arrumaisha hanya fokus untuk mengurus anaknya saja.
Sebuah mobil expedisi berhenti di depan toko Arrumaisha, seorang kurir masuk ke toko, dan langsung menyapa pegawai disana.
''Paket mbk, untuk ibu Arrumaisha'', ucap kurir itu.
''Sebentar pak saya panggil mbak Arrum dulu'', ucap Ratna segera berjalan ke belakang toko dimana terdapat pintu belakang yang langsung terhubung ke halaman belakang dan menuju rumah yang ditinggali Arrumaisha.
''Mbak Arrum, ada paket di depan untuk mbk'', seru Ratna.
''Paket apa??, saya tidak merasa memesan barang??.
''Saya juga tidak tahu, katanya untuk mbk Arrum, lihat aja dulu paketnya besar dan banyak''.
''Baiklah, mbak tolong jaga anak-anak saya dulu, saya mau lihat ke depan'', menyuruh asisten rumah tangga untuk mengawasi kedua anaknya.
''Baik bu'', jawabnya.
''Sayang jangan lama-lama renangnya, sebentar lagi kalian pergi mandi dan istirahat, mama lihat dulu ke depan''.
''Ok mami'', jawab pria kecil dengan patuh.
Arrumaisha segera berjalan ke toko bersama Ratna. Setelah sampai di depan kurir itu segera menyapanya.
''Dengan ibu Arrumaisha??, sapa kurir itu sedikit kaget karena wajah Arrumaisha yang masih terlihat muda.
''Iya saya sendiri''.
''Ada paket , silakan dicek dulu barangnya''.
''Paket apa, saya tidak merasa memesan barang''.
''Disini pembelinya atas nama bapak Aldo Pratama Putra dan alamat yang di tuju benar ini''.
''Aldo, kenapa dia mengirimkan ini padaku??, pikirnya, Arrumaisha segera mengeceknya dan dia sangat kaget, semua adalah alat perlengkapan untuk membuat kue yang dia sangat inginkan selama ini. Arrumaisha nampak berfikir ini pasti Ken yang membeli semua perlengkapan membuat kue untuknya, karena hanya Ken yang tahu rencananya ingin punya toko kue. Arrumaisha tersenyum senang, semua alat ini adalah merk terkenal dan mungkin dirinya tidak akan sanggup untuk membelinya, jika melihat hidupnya di masa lalu, Arrumaisha hanya akan memendam keinginan, karena uangnya tidak akan cukup untuk mewujudkannya, dengan keadaan dia yang hanya mengandalkan hidup dari penghasilan toko kecilnya dan harus membesarkan kedua anaknya, tentu dia akan berfikir berkali-kali.
''Terimakasih pak'', ucapnya setelah selesai mengecek semua barang. Kurir itu membantunya membawa masuk ke toko yang akan di gunakan sebagai toko kue Arrumaisha, setelah itu segera pergi meninggalkannya.
''Mbak Arrum mau buat kue lagi?, tanya Ratna
''Iya dong, toko sudah kamu yang pegang, terus aku mau ngapain, aku hanya bisa membuat kue''.
''Wah suami mbak Arrum sangat pengertian ya, saya tidak pernah menyangka, selain tampan suami mbak Arrum juga mendukungnya, kemarin di buatkan rumah yang bagus dengan fasilitas lengkap, toko di renovasi, sekarang di belikan perlengkapan membuat kue, dia benar-benar pengertian'' ucap Ratna
''Mbak Ratna bisa aja, aku tidak memintanya, bagaimana dia bisa tahu aku sangat menginginkan peralatan ini sedari dulu''.
''Mama....mama dapat paket apa?? tanya putrinya yang menyusul ke dalam toko.
''Ini apa mami??, tanya putra semata wayangnya.
''Ini peralatan untuk membuat kue sayang''.
''Mama mau buat kue lagi ya?? tanya putrinya lagi.
''Iya sayang, mami tidak ada kerjakan, setelah mengantarkan kalian ke sekolah mama hanya bengong dirumah''.
''Siapa yang mengirim ini untuk mami?, tanya putranya lagi.
''Pengirimnya disini tertulis nama uncle Aldo''.
''Kenapa uncle Aldo mengirimkan barang-barang ini ke mama??, tanya Ryube
''Aku yakin bukan uncle Aldo, tapi papa yang mengirimnya, Be kita telepon papa saja, ajaknya''.
''Sayang kalian waktunya tidur siang!!!, seru Arrumaisha
''Setelah menelfon papa kami akan pergi tidur, kami hanya ingin tanya saja, mami juga harus istirahat, papa bilang mami kan baru sembuh''. Ryuna menarik tangan maminya, mengajaknya untuk kembali ke rumah.
Arrumaisha hanya bisa mengikuti kedua anaknya, diberjalan ke dapur untuk membuat susu, sedang kedua anaknya berlari ke kamar Arrumaisha.
Dreetttt
''Papa....,, kapan papa pulang'', tanya Ryube saat panggilan video itu diangkat oleh papanya.
''Papa masih ada kerjaan, maaf papa belum bisa pulang sweetheart'', jawabnya.
''Apakah papa mengirimkan sesuatu untuk mami???, tanya putranya Ryuna.
''Sesuatu seperti apa??, tanya Ken
''Hari ini mami mendapat paket besar, pengirimnya uncle Aldo, kata mami peralatan untuk membuat kue'', jelas Ryuna
''Oh ya, apa mami suka??
''Iya pa, mama sangat menyukainya, papa kan yang kirim bukan uncle ajak, tanya Ryube
''Kenapa kalau uncle Aldo yang kirim untuk mami?.
''Kami hanya ingin tahu saja''.
''Kalau begitu mana mama, papa ingin bicara denganya''.
Bertepatan dengan itu Arrumaisha masuk ke kamar.
''Mami, papa mau bicara dengan mami'', putranya itu langsung memberikan ponselnya pada maminya dan mengambil susu berbaring di ranjang maminya.
''Hai, anak-anak bilang kau menerima paket, apakah kau suka??, tanya Ken sedikit canggung , perasaan rindunya sedikit terobati melihat wajah mantan istri di layar yang kini telah memenuhi ruang hati dan pikiran.
''Apa kau yang mengirimkannya untukku, apa aku harus menggantinya, itu pasti sangat mahal, seumur hidupku aku tidak akan bisa membelinya''.
''Jangan bicara seperti itu, aku senang kalau kau menyukainya, jadi aku tidak sia-sia membelinya, aku tidak pernah meminta kembali apa yang sudah aku berikan''.
''Benarkah, jadi aku sudah boleh membuat kue lagi.
''Asal tidak mengurangi waktumu untuk anak-anak, dan kau tidak boleh terlalu menyibukkan dirimu di toko kuemu, anak-anak prioritas utama jangan sampai lelah, kau sudah pernah oprasi itu sangat rentan''.
''Iya, aku tahu, terimakasih ya'', ucap Arrumaisha malu-malu sambil tersenyum manis membuat Ken terkesima, seperti Ryube yang selalu menggemaskan.
''Kau seperti Ryube kalau seperti itu, menggemaskan, sepertinya putriku mewarisi itu darimu'', goda Ken.
''Dia putriku, tentu saja mirip denganku, hanya wajahnya yang mirip denganmu''.
''Nona Arrumaisha, dia putri kita, kau tidak boleh melupakan bahwa aku yang.......'', Ken tidak jadi melanjutkan ucapanya, dia tidak ingin mengungkit masa lalu yang akan membuat mantan istrinya sedih mengingatnya.
''Yang apa???
''Bukan apa-apa, istirahatlah, setelah pekerjaanku selesai aku akan kesana, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, aku sangat merindukan kalian'', ucapnya mengiba.
''Siapa??
''Nanti kau akan tahu''.
''Baiklah, sekali lagi trimakasih, aku tutup telfonya''.
''Jangan sungkan, katakan padaku jika kau menginginkan sesuatu atau kau bisa menggunakan kartu yang kuberikan padamu untuk membeli sendiri barang yang kau inginkan''.
''Ini sudah cukup, terimakasih''. Telefon itu segera di matikan, Arrumaisha merebahkan badannya disamping kedua anaknya, dan akhirnya diapun ikut terlelap.