
Nyonya Sophia berdiri meninggalkan Ken dan Arrumaisha yang tidak bergeming dari tempat duduknya. Keduanya tidak berbicara dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya mata mereka yang saling menatap, suasana menjadi hening.
''Maaf'', ucap Ken
''Maaf untuk apa???
''Maafkan mommy, maafkan aku, kehadiran kami, permintaan kami membebanimu'', ucap Ken lagi
''Haahhhhh, apa aku egois???
''Tidak, kau tidak seperti itu, kau wanita terbaik yang pernah aku temui, kau seorang ibu yang pantas dibanggakan anak-anak, kau wanita penyayang dan sabar, kau berjuang sendiri dalam kesulitanmu, kau wanita kuat'', jawab Ken.
''Aku yang egois, aku yang menyebabkan semua ini, aku yang tidak bertanggung jawab, aku tidak pantas menjadi suamimu, tidak pantas menjadi papa dari anak-anak, aku menyebabkan banyak masalah untukmu''. ucapnya lagi tak menutupi semua keburukan yang pernah ia lakukan.
''Jangan katakan itu!!.
''Aku tidak ingin menutupinya, jika anak-anak tahu papanya seperti apa dimasa lalu, mungkin mereka akan membenciku selamanya, tapi kau menutupi semua keburukankanku dari mereka, kau mengijinkanku bertemu dengan mereka, kau mendidik dan merawat mereka dengan baik. Akulah pria yang tak tahu malu, dulu aku telah menyia-nyiakanmu, sekarang aku hanya bisa berharap kau mau menerimaku kembali, aku benar-benar berharap kau mau membuka pintu hatimu untukku, akulah yang egois'', Ken bicara panjang dan justru membuat air mata Arrumaisha membasahi pipinya.
Arrumaisha tidak berkata sepatah katapun, dia menunduk dan tersedu.
''Mama, Be mau tidur!!!, seru sang putri dari lantai atas.
''Maaf Isha, aku tidak ingin membuatmu menangis lagi, aku ingin kau dan anak-anak bahagia, Ken meraih tangan Arrumaisha dan mengenggamnya ''hapus air matamu, anak-anak akan membenciku jika melihatmu menangis, aku akan mengurus mereka''.
''Papa!!!!, teriak Ryube lagi.
''Papa segera kesana, Ken beranjak meninggalkan Arrumaisha, tak ingin anak-anaknya tahu mamanya hari ini menangis karena mommynya meminta untuk segera rujuk.
Sesampainya di lantai atas Ken nampak kaget melihat putranya tidur dilantai diantara mainan yang berserakan, putranya mungkin kelelahan setelah berenang.
''Papa, Be mau mama???
''Mama sebentar lagi menyusul, papa pindahkan Ryuna ke kamarnya dulu ya'', Ken segera mengangkat putranya membaringkan di kamarnya, lalu segera kembali menghampiri putrinya yang duduk di tangga menunggu mamanya.
''Mama....., panggilnya lagi, ''Be mau tidur peluk mama!!!!
''Sini papa gendong, mama kan habis operasi tidak boleh minta gendong mama'', mengangkat putrinya dan mengendongya, melihat wajah putrinya begitu memelas, hatinya sangat getir mengingat bagaimana dulu saat pertama bertemu dengan anak dan mantan istrinya yang hanya tinggal di rumah yang sangat sempit dan merawat kedua anaknya sendirian, gadis kecil itu seperti bisa merasakan apa yang sedang terjadi, tak ingin jauh dari kedua orang tuanya, Ken menggendong putrinya hingga tertidur.
''Tak berapa lama Arrumaisha naik ke lantai atas dengan wajahnya yang sembab, ia menghampiri Ken membelai rambut putrinya, ''dimana Ryuna???
''Dia sudah aku pindahkan ke kamarnya, tadi tertidur dilantai''.
''Oh ya??
Ken hanya mengangguk, tak ingin suara kerasnya mengganggu putrinya yang baru saja tertidur dalam gendongan.
''Ryube ingin tidur denganmu!!!
''Baringkan di kamarku'', Arrumaisha masuk ke kamarnya dan Ken mengikutinya dari belakang lalu membaringkan putrinya di ranjang.
''Namanya Lily, aku akan segera menghubunginya'', jawab Ken
''Apa dia akan menetap disini???
''Aku belum tahu, kurasa tidak akan lama''.
''Kenapa begitu???
''Dia bilang kabur dari rumah, pasti sedang terjadi sesuatu padanya, sebenarnya aku sudah memutuskan hubungan dengan keluarga daddy. Ku rasa ini ada hubungannya denganku''.
''Kenapa???
''Isha, bolehkah aku minta satu permintaan padamu??
''Tentang apa itu??
''Saat Lily disini jangan menjaga jarak denganku. Jangan terus menghindariku, aku tidak ingin dia mengetahui bahwa kita sudah bercerai''.
''Kenapa??? , kau takut dia tahu jika kita sudah bercerai!!!
''Aku masih belum tahu alasan kenapa dia meninggalkan rumah. Aku sudah pernah bilang padamu daddy ingin aku bertunangan dengan anak dari rekan bisnisnya, untuk menggantikan Mark, dan aku menolaknya, dan kau sudah tahu alasanya. Mungkin karena hal itu, sekarang Lily juga di paksa sepertiku, sehingga dia berani meninggalkan rumah daddy''.
''Kau bisa kan???, aku tahu kau selalu menghindariku dan lebih suka menyendiri, bicara seperlunya, bahkan mommy memarahiku karena kau sibuk di toko kue. Mommy mengira aku tidak memberimu biaya hidup''.
Arrumaisha tidak menjawab, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. dia bersandar di sandaran ranjang di sisi putrinya yang terlelap, sedang Ken berada disisi lain putrinya.
''Meskipun dia bukan saudara kandungku, dan selalu di manja oleh daddy, Lily gadis yang baik, selama aku tinggal disana, dia paling peduli denganku'', jelas Ken.
''Berapa usianya???
''Seumuran denganmu!!! dia juga baru menyelesaikan studynya.
''Ohhhh..
''Tidak perlu sungkan denganya, aku akan minta Aldo membelikan tiket pesawat untuknya dan menjemputnya besok. Ada lagi yang ingin kau tanyakan tentangnya???
''Tidak, aku mau istirahat!!!!
''Aku sudah bilang berapa kali, jangan terlalu lelah!!, kita hampir tidak pernah mengobrol, kau bangun dini hari langsung membuat kue lalu ke toko, aku mengizinkanmu membuka toko kue, bukan untuk mencari uang, aku hanya tidak ingin kamu bosan saat anak-anak pergi ke sekolah, karena kamu terbiasa bekerja, selain itu kau bilang itu satu-satunya keahlianmu, lagi pula aku sudah memberimu kartu debit untuk semua kebutuhanmu, kenapa tidak pernah kau gunakan???, aku masih sanggup membiayai semua kebutuhanmu dan anak-anak, bahkan jika kita rujuk dan bisa memiliki anak lagi''.
''Anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama, tanpamu mereka mungkin tidak akan pernah hidup seperti sekarang, dan mungkin kami masih tetap tinggal di ruko yang sempit, aku sangat berterima kasih, aku akui kau sangat peduli dan bertanggung jawab, tapi satu hal yang perlu kau tahu aku bukan tanggung jawabmu lagi, aku tidak ingin menjadi beban siapapun, dulu mungkin paman dan bibi sangat terbebani dengan diriku, sehingga dia memaksaku menikah denganmu, aku tidak ingin menyimpan dendam pada mereka, ini sudah takdir, aku tahu kau lebih dari mampu jika hanya sekadar menanggung biaya hidupku''.
''Shuuuttt, Ken menaruh jari telunjuknya di bibir Arrumisha, ''jangan katakan itu lagi, aku sangat menyesali apa yang aku lakukan terhadapmu dimasa lalu, dulu aku sangat berambisi, sombong dan angkuh, lalu aku hancur dan hampir tidak bisa bangkit lagi, menemukanmu kembali bersama anak-anak adalah anugrah terindah, aku tidak ingin kehilangan kalian lagi, aku ingin hidup bersamamu, membesarkan anak-anak kita, bersama hingga akhir, tentunya jika kau mau'', ucap Ken terlihat begitu sedih dan benar-benar menyesal.
''Aku......aku minta maaf, aku sudah memikirkanya, sejujurnya aku takut untuk rujuk, hingga terkadang membuatku tidak bisa tidur''.
''Aku tahu, kau pasti trauma dengan pernikahan kita dulu, aku memahaminya dan mengerti, kita jalani saja dulu, meski aku sangat berharap padamu, dan ini untuk kebaikan kita dan anak-anak. Kau tidak perlu minta maaf, aku yang memohon maafmu, kau dan anak-anak adalah harapanku'', ucap Ken dengan tulus.