
Kapal telah membawa mereka berlayar, Aldo terus mengikuti Ryuna yang penasaran dengan kapal yang di tumpanginya, pria kecil itu berjalan kesana kemari memutari kapal tanpa rasa takut, melihat-lihat ke setiap bagian kapal, Aldo dengan sangat hati-hati menjaganya, dia adalah calon penerus perusahaan milik papanya dan mungkin nanti dia akan menggantikan posisi papanya di perusahaan.
Berbeda dengan Ryube, gadis itu sekarang sedang bersama dokter Reisa, ia sangat takut naik kapal yang sekarang sedang berada di tengah laut, Lily dan nyonya Sophia terlihat mengantuk dan lelah, sehingga Reisa berinisiatif menjaganya menggantikan Lily. Hingga kapal itu hendak bersandar Ryube masih duduk di pangkuan dokter Reisa.
''Hai cantik apa kau masih takut naik kapal??, tanya Aldo
''Iya uncle, bagaimana kalau kapalnya tenggelam??
''Kau kan sudah bisa berenang Be, papa sudah mengajari kita, jadi tidak perlu takut'', ucap saudara laki-lakinya
''Kau ini memang jagoan sayang, grandma bangga padamu, kau sangat pemberani'', ucap nyonya Sophia mengelus kepala cucunya itu.
Mereka melanjutkan perjalanannya menuju villa yang di tempati Ken dan Arrumaisha, karena kelelahan Ryuna tertidur hingga sampai di villa.
Sementara itu Ken dan Arrumaisha masih belum kembali ke villa. Mungkin mereka masih menikmati suasana alam pulau sebrang berdua.
''Ini tempat apa??,tanya Ryube penasaran
''Ini penginapan Be, kita akan menginap disini bersama-sama, tunggu Ryuna bangun nanti kita bisa main'', jawab dokter Reisa
Mereka segera turun, menaiki buggy car yang sudah siap mengantarnya menuju villa, Aldo membopong Ryuna yang masih tertidur pulas dan membaringkanya di sofa yang ada di villa, pria kecil itu benar-benar tidak terganggu dan masih lelap.
Gadis kecil itu melihat halaman villa yang di hiasi dengan beraneka bentuk balon berwarna warni, halaman depan villa itu di sulap seperti taman di istana kecil yang indah dari balon, dia begitu penasaran, segera turun dari buggy car yang mengantarkannya, beberapa pekerja sibuk menyiapkan tempat untuk makan dan menata halaman villa dengan baik.
''Apa akan ada pesta disini??, tanyanya lagi
''Sepertinya akan ada acara di halaman ini'', ucap Lily.
Mereka semua masih tidak ada yang tahu, Ken telah meminta pihak pengelola penginapan untuk mendekorasi halaman villa untuk acara ulang tahun kedua anaknya. Ken telah menyiapkan pesta kejutan, bahkan mantan istrinya juga tidak tahu, mereka berdua sedang menikmati kecannya.
Gadis kecil itu nampak duduk di teras villa sendiri, melihat beberapa orang yang sedang sibuk menata, entah apa yang di pikirkan, ia nampak duduk dengan tenang disana, Aldo tetap mengawasinya, sedang Reisa sedang mengobrol dengan Lily dan nyonya Sophia, hingga beberapa lama dia melihat dua orang yang begitu di rindukan turun dari buggy car.
''Uncle itu mama dan papa Be kan?, tanya gadis itu, belum sempat Aldo menjawab gadis itu langsung berlari memanggil sang mama.
''Mama..... ????,, panggilnya berlari menghamburkan ke pelukan Arrumaisha dengan riang.
Arrumaisha segera berjongkok memeluk putrinya dengan erat, ia sangat merindukan kedua anaknya
''Sayang kamu kok bisa disini??
''Be kangen mama, jangan tinggalin Be'', ucapnya manja.
''Be tidak kangen sama papa??, Ken pura-pura ngambek
''Kangen papa juga, papa dan mama sudah selesai urusan orang dewasa ya??, terus kesini ya?, tanyanya dengan lucu.
Ken langsung mengambil alih putrinya, dia menggendong putrinya dan mengayunkanya, membuatnya tertawa riang
''Apa ini kejutan yang kau siapkan??, semua menyusul kita??, tanyanya pada Ken sembari mencium putrinya
''Apa kau terkejut??,
''Terimakasih ya, aku sangat kuatir dan merindukanya'', ucapnya pada Ken, ''sayang di mana saudaramu??
''Dia masih tidur ma, mama lihat banyak balon di sini''.
''Iya, sepertinya mau ada acara disini'', Arrumaisha sesaat diam dan menyadari besok adalah ulang tahun kedua anaknya, dia kembali bertanya, ''apa ini kejutan untuk anak-anak??
''Menurutmu'', jawab Ken
''Kenapa tidak bilang!!!.
''Kalau aku bilang kau pasti akan sibuk memikirkanya, dan tidak peduli dengan kencan kita'', bisiknya, ''aku menyerahkan semua pada pihak penginapan untuk mengaturnya'', jelas Ken.
Mereka segera masuk ke dalam villa, Arrumaisha tidak menyangka disana ada sahabatnya.
''Kau tidak suka aku disini??,
''Tentu saja aku senang'', ucapnya sembari memeluk sahabatnya
''Sayang untung kau segera datang, mommy tidak tahu lagi bagaimana membuatnya tenang, semalam Be terus merengek dan menangis mencarimu'', ucap nyonya Sophia
''Ia hampir tidak tidur semalam, terus merengek mencarimu, terbangun dan menangis'', jelas Lily
''Maaf merepotkan mommy dan Lily, aku tidak tahu kalau Ken akan mengajakku pergi kesini''.
''Apa kau tahu putrimu sangat takut naik kapal, dia takut kapalnya tenggelam'', jelasnya.
''Dia baru pertama naik kapal, kemarin aku sampai mabuk perjalanan'', ucapnya sembari duduk di sofa dekat putranya yang masih tidur dengan lelap, ia menciumnya, membuat pria kecil itu menggeliat.
''Kau mabuk perjalanan, apa kau hamil??, tanya Reisa langsung, ''mau aku periksa??.
''Apa sih, ada-ada saja kau ini, enggak lah'', Arrumaisha membeliakan matanya, membuat nyonya Sophia dan Lily tertawa.
''Ya sapa tahu, baru sehari pergi lihat tuh lehermu habis di gigit vampir ya, ceritakan padaku apa yang terjadi??, ucapnya dengan lirih
Arrumaisha tidak menjawab, dia terus mencium putranya, menunduk malu karena lehernya banyak tanda kepemilikan yang di buat Ken.
''Enggak, aku malu'', jawabnya
''Iiihh pelit''.
''Sayang bangun dong, ini mami!!!! seru Arrumaisha pada putranya yang tidak terganggu. Pria kecil itu hanya menggeliat lalu tidur lagi.
''Dia kelelahan, selama perjalanan dia tidak tidur, saat di kapal ia berjalan kesana kemari, dia sangat penasaran, dia baru bisa tidur setelah hampir sampai villa'', jelas Reisa.
''Terimakasih sudah menjaganya, trimakasih juga kau mau ikut kesini, apa kau tidak sibuk??.
''Sebenarnya aku sibuk, tapi demi kebahagiaan sahabatku, jadi aku minta bertukar jam kerja, kau harus ceritakan padaku nanti, bagaimana kencanmu'', desak Reisa.
''Tidak ada yang perlu diceritakan Rei, kau saja tidak cerita, andai waktu itu kita tidak ketemu di tempat spa, kau tidak akan memberitahuku jika kalian sedang berkencan''.
''Iya maaf, aku tidak ingin kau berfikir buruk, apa benar kalian akan rujuk, semalam Aldo memberitahuku tentang perjanjian pra nikah dan memintaku menjadi saksi''.
''Sepertinya begitu, aku hanya ingin anak-anakku hidup dengan baik Rei, mereka takut jika kami sampai berpisah, dan seperti yang kau bilang, tidak mungkin kami hidup satu atap terus tanpa menikah''.
''Kau harus membaca surat perjanjianya dengan baik, tambahkan poin-poin penting yang kau inginkan, jangan sampai merugikanmu, kalau perlu kau minta ganti rugi untuk enam tahun ini, kau sudah hidup menderita dan kehilangan masa depan serta harus membesarkan kedua anakmu sendiri'', ucap Reisa antusias.
''Aku rasa itu tidak perlu Rei, bagiku sekarang yang penting anak-anakku, aku tidak mau kehilangan hak atas mereka, jika dikemudian hari terjadi hal-hal yang tidak kami kehendaki, mereka akan tetap bersamaku''.
''Apa dia menyetujuinya???, tanya Reisa lagi
''Ya, begitulah''.
''Baguslah, tapi bagaimana dengan dokter Fahri, dia pasti akan patah hati'', ucap Reisa sedih.
''Aku yakin dia pasti akan mengerti Rei, aku berharap dia segera bertemu dengan perempuan yang baik dan mencintainya''.
''Aku punya ide, bagaimana jika kita kenalkan dengan Lily''.
''Jangan macam-macam, Lily kabur kesini karena harus bertunangan dengan pria pilihan orang tuanya, sepertinya dia belum siap''.
''Justru itu, ini kesempatan baik untuk Lily, dia bisa pilih antara dokter Fahri atau pria pilihan keluarganya''.
''Apa sekarang kau punya profesi baru, selain dokter, penasehat terbaikku, juga makelar perjodohan''.
Kedua wanita itu tertawa, hingga membuat pria kecil itu terbangun.
''Mami.....,, aku merindukanmu'', ucapnya langsung memeluknya.