
" apa sebaiknya sekarang aku pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan-Nya? " pikirnya.
seketika juga niatnya terhenti.
" tapi untuk apa? Jika mereka menanyakan pembayarannya lalu aku harus bagaimana?? " bingungnya.
Benak kepala Zuu sempat terpikir saja kepada Faiz.
" apa aku meminta bantuan padanya saja?? Ahh tidak tidak!! Itu menjijikkan! Tak seharusnya aku berhubungan lagi dengannya. Aaarrggh...!! Lalu aku... Eh tunggu, " geramnya kebingungan.
Tak lama kemudian entah kenapa otaknya teringat langsung ke Amerika dan berpikir meminta tolong padanya, tapi itu tidak lama niatnya di sangkal kembali oleh dirinya sendiri.
" amerta!!? Dia pas..., Dia pasti membunuh-Ku wahai Zubaidah!!! Aaarrggh...!!! Tidak begitu!! Hiks... Aku baru ingat Amerta terlihat sangat murka padaku tadi, begitu pun juga terhadap kak Lee sehingga ia mampu mengeluarkan air mata sebanyak itu, sungguh pertama kali aku melihat-Nya bertingkah begitu. Hiks... Lalu bagaimana?!! " kesal diri berteriak.
Ia memutuskan untuk berhenti sejenak di tepi jalan sambil tepekur. Lalu Zuu mencoba melihat-lihat isi daftar kontak yang ada dalam telepon genggam-Nya itu untuk mencari orang yang mampu membantu masalahnya tersebut. Tidak lama berselang Zuu alhasil merasa berang sendiri.
" akh!! Apa gunanya mempunyai ponsel jika tidak merubah perkembangan kondisi-Ku! Lihatlah, daftar semua kontak ini hanya ada beberapa orang. Cik, ini sangat menyebalkan!! " merentan hati.
Tak lama kemudian perhatiannya teralihkan setelah melihat kontak yang bernama Leon. Ia berpikir dalam-dalam.
" bolehkah?? " gumamnya.
Akhirnya Zuu pun coba menghubungi nomor tersebut, lalu diangkatlah olehnya.
" Halo. " sapa Leon kebingungan.
Seketika tangan Zuu bergetar tak keruan, tertahan untuk berbicara.
" A...a... " gagunya.
" Mohon maaf dengan siapa ini? " ucapnya kembali.
" Euu... I...ini Zuu. " sahutnya.
Sontak Leon terkejut setelah mendengar jawaban-Nya, ia tidak menduga bahwa Zuu akan menelponnya.
" Zuu!!? Wah, sulit di percaya ia baru bisa menghubungi nomor-Ku sekarang hahaha... " sindirnya terkejut.
" Hehe... Aku sangat minta maaf, tapi sungguh nomor kakak sudah lama tersimpan di ponselku! " ujar Zuu.
" Hm benarkah?? Berapa tahun itu? " olok-oloknya geli hati.
" Euu... Sejak dari kakak memberinya. " bingung.
" Ha... Lucu sekali. Haha... " tergelak-gelak.
Zuu keruan sekali merasa aneh akan tingkahnya Leon. Akhirnya ia pun menghentikan gelakak-Nya dan kembali berbicara.
" Huh... Jadi ada masalah apa? Jika aku mampu tentu akan di bantu. Katakan saja. " celetuknya. Zuu langsung tercengang bengang setelah mendapatkan sorotan dari Leon. Lalu tanpa basa basi Zuu pun menceritakan dengan terus terang. Disini ia bukannya ikut berduka juga iba akan kondisi Lee sekarang melainkan Leon malah tergelak-gelak dengan seketika karena tingkahnya Zuu.
" haha... Ini sungguh!! Haha... Dia langsung mengatakan-Nya haha... " gelaknya.
Tak lama ia tertawa pun sigap berhenti dan berpikir sebentar, kemudian bertanya kembali dengan bersungguh-sungguh.
" tunggu, suamimu masuk rumah sakit dan sekarang kau mendapatkan masalah soal biayanya? " tegang, tersadar.
" Benar. " sahut Zuu.
" Akh!! Bodoh! Bagaimana bisa aku malah berkata begitu!! Sungguh Zuu aku tadi hanya merasa geli hati seketika setelah kau langsung berbicara terus terang, aku hanya berniat mengolok-olok yah... Bersenda gurau begitu. Euu... Maksudku akh!!! Aku sangat minta maaf padamu. Ini menjijikkan! Aku akan segera kesana sekarang. " sesal diri dengan beresah-resah.
" Huh... Aku berharap setiap waktu berjalan ada perkembangan. " menarik napas lega, penuh harapan.
Zuu memberikan alamat posisinya saat ini. Lama menunggu, akhirnya kendaraan yang di tungganginya sudah terlihat jelas dimatanya. Leon keluar dari dalam mobil dan lekas menghampiri Zuu.
" Hey Zuu! Jadi sebenarnya bagaimana?? Seperti apa? Lee mana? Bukankah tadi di telepon bahwa kau saat ini dibingungkan juga sangat membutuhkan bantuan untuk membayar biaya rumah sakit, lalu ada apa dengan dirimu? Bagaimana bisa kau malah di tempat ini? Kalian tidak diusir dari sana kan? " tanyanya rusuh hati.
" Aku tidak tahu, mungkin kami belum di terjang dari sana. Kak Lee saat ini sedang berada di rumah sakit, kau pasti mengetahui mengapa aku bisa berada dalam berkeliaran malam-malam seperti ini. " ujarnya gelisah resah.
Seketika Leon pun mengerti maksud dari perkataannya Zuu, dengan lekas juga ia langsung pergi dari sana untuk mendatangi rumah sakit. Di sela-sela perjalanan Zuu membuka percakapan.
" sebenarnya alasan aku menghubungi itu... Karena ingin meminta bantuan Kak. Euu... Berat sekali aku mengatakan-Nya, tetapi sungguh aku tidak tahu harus meminta pinjaman uang dari siapa lagi, jika kakak tidak merasa berang juga senang hati bisakah membantu kami? " tutur katanya.
" Tidak ada yang perlu dikatakan perihal itu, tentu aku akan melakukannya. " sahutnya.
" Benarkah?? " terbeliak.
" Tentu saja. "
" Ah... Lega sekali rasanya, aku akan berjanji setelah uang gajiku terkumpul nanti dengan segera-segeranya aku ganti semua uangmu! Pegang ucapan-Ku ini. " kata Zuu bersemangat.
Leon pun merasa geli hati akan apa yang dikatakan olehnya.
" Haha... Benarkah?? Memang-Nya... Sekarang ini Zuu sudah bekerja? " olok-oloknya.
" Tentu, tapi hanya bekerja separuh waktu dalam hariku. Meski ya... Pasti akan memakan banyak masa untuk bisa membayar semuanya. " ujarnya menghela napas.
" Wah... Sudah dewasa rupanya Zuu. " sanjungnya terkesan.
Sampainya disana, sigap Zuu melihat kondisi Lee yang tengah terbaring di ranjangnya. Ia hanya bisa menatap dengan susah hati.
Setelah melihat keadaan tubuh Lee keruan sekali Leon bertanya-tanya.
" Wah!! Apa ini?? Kenapa banyak bekas luka memar di wajahnya? Lee di serang atau bagaimana?? " kejutnya ternganga.
Pada awalnya Zuu hanya terdiam terpaku karena bingung harus mengatakan dengan sebenarnya atau tidak, tapi hatinya mengatakan bahwa Leon juga berhak tahu begitu pun Zuu merasa tidak nyaman jika tidak menyahut dengan terus terang pada Leon, sebab karena adanya dia masalahnya bisa teratasi. Alhasil dia menceritakan secara perlahan. Jelas sekali Leon terkejut juga membeliak akan ketidakpercayaan semua hal itu terjadi pada Zuu. Tak lama waktu berselang Leon juga mengatakan.
" Wah, sulit di percaya kalian bisa tertimpa masalah seperti ini. Aku merasa iba dengan kondisi Lee sekarang, luka yang ada pada tubuhnya lebih payah daripada dirimu. " ucapnya.
" Sebelum aku tertangkap, dia yang lebih dulu di terjang oleh para warga itu. Sudah tentu Kak Lee akan separah yang aku duga, kau bisa menyukatnya, hanya dalam beberapa menit saja aku sudah berada dalam kondisi mengkhawatirkan apalagi dia. " sahutnya.
" Apapun itu tapi sekarang aku sudah merasa lebih tenang dan bahagia jika kebenarannya sudah terungkap dengan jelas. " ujarnya.
Sekonyong-konyong saja Leon menanyakan hal lain kepada Zuu.
" kalian menikah itu disebabkan karena dorongan dari para warga bukan? "
" Iya. " sahutnya.
" Ibu Zuu juga sudah mengetahui kelurusannya. Lalu satu hal yang ingin aku tanyakan, bagaimana jalan hidupmu sekarang? " tanyanya.
Zuu merasa tertegun karena merasa ganjil bingung akan perkataannya tapi itu tidak lama, iapun tersadar.
" Oh!! " kejutnya.