
Lee pun hanya terdiam karena merasa bersalah. Seiring berjalan-Nya waktu, Zuu pun berbicara kembali dengan pertopikan yang berbeda.
" oh Kak, berapa uang yang kau keluarkan pada tiap bulan-Nya untuk membayar Rumah itu? " tanya Zuu dengan melihat ke arah-Nya.
" Oh, itu. Setiap bulan-Nya..., eh, maksud-Ku Rumah itu bukan sebuah kontrakan atau hal sebagai-Nya. Itu adalah Rumah-Ku yang biasa aku tinggal. Tak perlu kau khawatirkan soal pembayaran untuk istirahat yang nyaman. " sahut Lee dengan sigap.
Zuu sontak terkejut.
" Hah!? Rumah-Mu? Tunggu sebentar, berarti di dalam-Nya itu terdapat sebuah keluarga!? Hey, kenapa tidak mengatakan itu dari awal! Lalu, bagaimana nanti tanggapan Ibu dan Ayah-Mu? Apa yang harus aku katakan dan lakukan?? apa mereka mengetahui pernikahan kita? apakah mereka akan menerima-Ku Kak? bagaimana jika tidak? " tanya Zuu kembali dengan panik.
Lee pun menjelaskan kembali dengan menenangkan Zuu secara perlahan juga gagap.
" Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, tenanglah... Rumah itu baru dan tak ada siapapun disana saat ini. " sahut Lee kembali.
" Hah?? Oh... Wah kau ini sangat hebat rupanya, ternyata Kakak juga sudah mempunyai tempat tinggal. Kakak membeli dengan keringat sendiri? " tanya Zuu dengan tercengang bengang.
" Iya benar. " sahut Lee mengangguk.
Zuu sungguh kagum dengan Lee, ia tak mengira Lee bisa berkehidupan seperti itu. Zuu pun bertanya kembali dengan menjegilkan matanya karena saking kagum-Nya terhadap Lee.
" Lalu kapan Kakak ini akan menikah hah? Apa kau sudah mempunyai seseorang untuk menemani hidupmu nanti? " tanya Zuu seraya menepak bahu-Nya juga terseyum, tersengih.
Lee yang mendengar ucapan darinya pun seketika terjengil karena terkejut dan melihat ke arah-Nya.
" Apa dimaksud-Nya lagi?? Oh Tuhan tolong... Sebenarnya dia ini kenapa? Apa yang membuat-Mu terbius seperti ini Zuu? " gumam Lee dengan geram juga kebingungan.
Mereka berdua bertatapan dan Zuu pun tersadar.
" Oh... Hahaha... Maafkan aku, tolong lupakan saja yang aku katakan tadi. " ujar Zuu dengan memalingkan wajah.
Zuu pun bertukar topik kembali.
" hey Kak! Apa Rumah-Mu itu cukup besar untuk kita tinggal? " tanya Zuu.
" Mmm... Mungkin, agak baik untuk tempat kehidupan. Apa kau menginginkan Rumah yang besar? " sahut Lee.
" Tentu saja, siapa yang menolak hal itu? Setiap wanita pastinya memiliki Rumah impian masing-masing, dan salah satunya adalah Rumah yang besar untuk diimpikan. " sahut Zuu mengangguk.
" Aku tidak cukup tahu, bagaimana itu Rumah yang besar dan tidak. Kau sukat saja nanti berapa besar, luasnya Rumah-Ku itu. " ujar Lee.
" Kau pikir aku ini apa? mengukur sebuah Rumah? Jangankan Rumah, sebuah baju saja aku tidak tahu mana ukuran yang besar dan tidak. " sahut Zuu dengan cemberut.
Lee pun menggeleng-gelengkan kepala-Nya karena bingung akan pikiran Zuu. Lama berjalan akhirnya pun tiba, karena sangat jauh-Nya perjalanan mereka Zuu pun hingga tertidur, Lee membangunkan-Nya.
" hey, hey... Bangun, kita sudah sampai. "
Zuu bangun dengan setengah sadar, dan membukakan mata-Nya. Saat Zuu turun dari Mobil dan langsung melihat ke arah Rumah Lee, betapa terkejut-Nya ia melihat bangunan tinggi dan halaman yang sangat indah, diteras-Nya juga memiliki ayunan, pandangan itu terlihat seperti di Taman.
" Ini Rumah-Mu??? " Zuu tercengang bengang.
Lee mengangguk.
" wah!!! Luar biasa!!! Aku seakan-akan berada di Rumah impian yang sesungguhnya para wanita!! Hahaha... Hey-hey, bagaimana bisa kau mendapatkan uang sebanyak ini?? Kau... Kau sangat hebat hey Lee su!! " Zuu memuji dengan melompat-lompat.
" Ada apa dengan-Nya? Bahkan menurut-Ku kehidupan dia lebih bagus daripada aku. " gumam Lee.
" aku melihat-Mu tadi begitu sangat mengantuk, tapi sepertinya aku salah. " ujar Lee dengan risi.
" Hey hey, aku juga merasa seperti itu hahaha. " sahut Zuu dengan gembira.
Zuu pun merasa kebingungan, kenapa Lee tidak tinggal di sini sebelumnya.
" hey Kak, apakah kau ini masih waras atau tidak? Kenapa kau lebih memilih tinggal di Hotel dibanding Rumah-Mu sendiri, butakah? Rumah ini sangat bagus, dan bahkan menurut-Ku lebih bagus dan nyaman-Nya berlipat-lipat dengan Hotel yang usang itu. " cela Zuu terheran-heran.
Lee yang mendengar pun langsung membatas ucapan Zuu.
" Hey kau ini memang nenek sihir kah? " cela Lee dengan geram.
" Hah?? " Zuu terkejut juga terjegil.
" Kau lupa? Siapa penyebab aku melakukan untuk meninggalkan Rumah ini? Siapa lagi jika itu bukan karena-Mu! " ujar Lee kesal hati.
" Oh. Maksud-Ku... Kenapa kau tidak membawa aku kesini sebelumnya? Jika aku tahu Rumah-Mu begini, pasti sekali aku mau. Hehe... Jadi, kau tidak perlu bersusah hati bekerja keras karena aku. " sahut Zuu dengan senang hati.
Lee hanya menggeleng-gelengkan kepalanya juga berdesah, saking bingung-Nya dengan pemikiran Zuu. Ia pun mengatakan kembali.
" Tapi Zuu, euh... Menurut-Ku Rumah ini tidak akan senyaman yang kau kira. " ujar Lee dengan gagap.
Seketika Zuu langsung melihat ke arah Lee dengan kebingungan akan ucapan-Nya.
" Aku tak ingin menjadi badut-Mu lagi Kak, katakan saja langsung ke pokok isinya. " tanya Zuu dengan kesal.
Lee pun perlahan menjelaskan dengan sedikit kegugupan.
" Euh... Sebenarnya, aku sudah mempunyai niat untuk membawa-Mu tinggal disini, beberapa bulan yang lalu aku sudah memahami karakter-Mu seperti apa dan bagaimana. Meski, kau terlihat cantik juga baik seperti anak yang tidak mempunyai dosa, aku tetap berpikir kau ini sebenarnya orang jahat atau tidak. Dan mungkin, semoga saja keputusan aku membawa-Mu kemari adalah tindakan yang tepat. Meski, sebenarnya meragukan. " ujar Lee dengan tegang.
Jelas sekali itu membuat Zuu terkejut juga tersinggung. Ia pun merepet.
" Apa?? Jadi, maksud-Mu itu, aku ini sedang merencanakan hal buruk untuk kedepannya? Apa kau berpikir aku akan merebut barang-barang kau begitu!!? Kau berpendapat bahwa aku ini gila harta!!? Itu sebabnya aku diragukan?" ricau-Nya.
" Haha... Kau ini kenapa? Aku sama sekali tidak merasa begitu, maksud dari aku meragukanmu itu..., aku tidak tahu apakah ini akan baik untuk kedepannya, aku hanya mengkhawatirkan-Mu saja. " sahut Lee kembali dengan menenangkan Zuu.
Zuu pun merasa geram dengan tingkah dan ucapannya Lee, ia pun memukul bahu-Nya dengan keras. Blam!!
" akh...! Kenapa kau malah memukul-Ku? Kau sakit. " Lee merintih kesakitan.
" Kau yang sakit! Sudah aku katakan, bicara langsung ke pokok isinya, tulikah!!? " bentak Zuu mencela.
Lee pun mengelus-elus bahu-Nya dan berbicara kembali dengan perlahan.
" Setiap 3 hari sekali akan ada orang yang datang kemari untuk melihat Rumah ini. " ujar Lee dengan cemberut.
Zuu terkejut dan bertanya-tanya.
" Maksud-Mu?? "