
Amerta mendekati Zuu dan membisik.
" Berhenti berdebat, kita dilihat banyak orang. " ujar-Nya dengan panik.
Zuu melihat sekeliling dan ternyata banyak warga-warga di Sekitar sana yang melihat keributan dari jauh dengan mata tajam juga risi. Zuu membisik kembali.
" Apakah dia ini murid dari Sekolah kita?? " bisik Zuu kepada Amerta.
" Seperti-Nya benar, seragam yang ia kenakan. Coba kau lihat. " sahut Amerta dengan membisik.
" Pernah melihat sebelum-Nya? " bisik Zuu kembali.
" Mmm... Kurasa aku tidak tahu, murid di Sekolah itu terlalu banyak. Aku tidak bisa melihat semuanya. " sahut Amerta.
Mereka berdua asik saling membisik, dan itu malah membuat Pria Pengganggu itu murka.
" Hey!! Apa kalian mencoba untuk mempermainkan-Ku hah!!?? " bentak-Nya.
" Mempermainkan yah... Mmmm... Ah. Aku tahu permainan apa yang pantas untuk dia ini. " Zuu tersengih konyol.
Zuu mengeluarkan ponselnya dengan mengatakan.
" Kau ingin Wanita itu bertanggung jawab bukan?? Dan sebagai gantinya dia harus memberikan ponselnya padamu, begitu? " tanya Zuu.
" Bosan hidup?? " cela Pria Penggangu itu.
" Hahaha... Aku masih ingin hidup kau tahu. Uh... Ambil ini. Aku yang akan menggantikan-Nya karena dia adalah teman-Ku. " ujar Zuu.
Eunoia menyelang.
" Zuu... " panggil-Nya.
" Tenang saja Eunoia. Ambil ini hey. " sahut Zuu dengan tersenyum.
Pria Penggangu itu mendekati Zuu untuk mengambil ponsel tersebut. Dekat dan mendekat Zuu sontak berteriak karena terkejut.
" Ulat... Ah... Ulat di bahu-Mu ahhh tidak. " lantangnya.
Seketika itu membuat Pria Penggangu terkejut dan sesegera-Nya melepas baju. Dan terbuktilah bahwa dia bukanlah murid Sekolah mereka, sontak itu juga membuat para Warga disana terkejut.
" Wah... Wah... Sudah aku duga, sebenarnya kau ini bukanlah murid di Sekolah kami. Apa kau berusaha untuk mencemarkan nama baik Sekolah ini hey. Hahaha... " cela Zuu.
" Kau!! " lantang Pria itu.
" Ahaha... Lihatlah everyone, inilah perilaku yang sangat menjijikkan, dia bertingkah seperti sampah. Yang membusukkan tubuh-Nya sendiri. Tidak adakah mainan yang sepantasnya kau gunakan " cela Zuu dengan tersenyum.
Pria itu melihat sekeliling dan banyak sekali orang yang menatap-Nya dengan risi sorot yang tajam. Sigap dia meninggalkan tempat itu dengan dongkol juga murka. Zuu tertawa terbahak-bahak dan menepak-nepak bahu Amerta. Begitupun juga Amerta ikut terbahak.
" Ini sungguh lucu hahaha... Ini hampir membuat-Ku konyol haha... " puas-Nya Zuu.
" Sudah-sudah. Kau sangat penjahat jika terus tertawa seperti itu. " ujar Amerta sambil mengatur nafas-Nya.
" Penjahat apa maksud-Mu hah? Hahaha... Hadeh... " sahut Zuu juga mengatur nafas-Nya.
Zuu merangkul Eunoia dan berjalan bersama menuju Sekolah.
" Kantin ayo " ajak Zuu.
" Sebentar lagi akan masuk. " sahut Amerta.
" Memang-Nya sarapan itu berapa lama? " tanya Zuu
" Huh... Yasudahlah terserah. " Amerta menghela nafas.
" Seperti-Nya, aku tidak akan ikut. " ujar Eunoia.
" Kenapa?? " tanya Zuu.
" Aku akan langsung masuk ke Kelas karena ada piket. " ujar Eunoia.
" Mmm baiklah, aku yang akan pergi bersama Amerta. " sahut Zuu dengan tersenyum.
" Kau masih memegang baju-Nya itu?? " Amerta menunjuk ke Arah tangan Zuu.
" Oh. Ini haha... Ini sangat berarti, ini akan menjadi kenangan yang jahat bagiku tapi, aku menyukai-Nya haha... " Zuu terbahak kembali.
Mereka berdua pun sarapan bersama mendabak telepon Amerta berdering, dan menghindari Zuu untuk mengangkat telepon-Nya.
" Kau mau kemana?? " teriak Zuu.
" Aku akan pergi sebentar. " sahut Amerta sambil berlari.
" Aku habiskan makanan-Mu ya?? " tanya Zuu dengan berteriak kembali.
" Terserah. " sahut-Nya kembali.
Ditengah makan tiba-tiba Faiz duduk di sebelah-Nya Zuu dengan mengatakan.
" Kamu dipanggil kepala Sekolah sesegera-Nya temui dia sekarang. " ujar Faiz sambil minum.
" Ukhuk... Ada apa?? " Zuu terkejut dengan tersedak.
Faiz menggelengkan kepalanya karena ketidak tahuan. Zuu sigap berdiri dan merasa kebingungan.
" Apa ini? Hey Iz' apa aku melakukan kesalahan di Sekolah ini?? " tanya Zuu.
Faiz bertanya kembali merasa keheranan dengan apa yang berada di Tangan-Nya Zuu.
" Apa itu? " menunjuk ke Arah tangan-Nya Zuu. Zuu memberikan baju bekas Pria Penggangu tadi itu.
" Ini. Buang saja ini. " ujar Zuu dan sigap pergi.
Zuu pergi menemui Kepala Sekolah sampai-Nya disana. Saat ingin masuk seketika semua orang yang berada di Dalam Ruangan Guru bertepuk tangan kepada Zuu. Dan Zuu juga ikut bertepuk tangan juga berseru.
" Wuhuu... Ya... Wikwiw, cikiwir-cikiwir... Wuhuu... " seru Zuu.
" Kenapa kamu malah ikut bertepuk tangan juga?? " tanya Wakil Kelas dengan kebingungan.
" Ikut serta merasakan apa yang kalian rasakan Pak. " sahut Zuu.
" Ampun... Kami itu memberikan tepukan tangan untuk-Mu Zuu. " ujar Wali Kelas itu kembali.
" Untuk-Ku?? Euh... Memangnya kenapa Pak, saya merasa bukan seorang Atlet yang tiba langsung diberi tepukan tangan. " sahut-Nya Zuu.
" Memang-Nya ketika Atlet datang akan diberi tepukan seperti ini yah? " bisik Wali Kelas kepada Guru lainnya.
" Tidak tahu. Siapa peduli itu, jangan Anda ketularan penyakit oleh Murid Anda sendiri Pak, Saya mohon cukup satu orang saja yang menjadi beban bagi Sekolah ini. " cela Guru lainnya itu.
Kepala Sekolah pun mendekati Zuu dan memegang bahunya dengan mengatakan.
" Selamat Zuu, selamat atas keberanian dan perilaku contoh yang sangat bagus ditiru untuk Siswa lainnya. " puji Kepala Sekolah.
Zuu hanya terdiam juga sangat kebingungan. Kepala Sekolah itu menyuruh Zuu untuk berdiri di dekat Ding-ding tersebut.
" Jalan dan berdirilah disana Zuu. " gesa-Nya.
" Aku?? " tanya Zuu dengan kebingungan.
" Memang-Nya siapa lagi yang berada di Tempat ini yang bernama Zuubaidah selain kamu, sudah Zuu laksanakan saja. " gesa Kepala Sekolah kembali.
Zuu pun berdiri di dekat Ding-ding itu dan difoto oleh seorang fotografer. Kepala Sekolah itu mengatakan kembali.
" Berposelah dengan tiga gaya yang pertama, pose imut, yang kedua pose cantik, dan yang terakhir terserah. " ujar Kepala Sekolah itu.
Zuu menuruti arahan yang diperintahkan oleh Kepala Sekolah. Selesai sudah dipotret dan mereka semua terpukau melihat hasil gambarnya.
" Wah sangat cantik dan indah " puji salah satu Guru.
" Benar. Ini Fotografer-Nya yang pintar atau memang wajah Zuu yang cantik?? " tanya Guru.
" Fotografer-Nya yang pandai mengatur dan pandai memotret. Feeling yang sangat bagus MR. " sahut Zuu.
Zuu pun diperintahkan duduk oleh Kepala Sekolah tersebut.
" Zuu. Saya dan juga segenap keluarga Sekolah ini, benar-benar..., " terhenti/terpotong oleh Zuu.
" Segenap?? Tapi, bukankah Lebaran masih jauh Pak, bahkan Saya juga belum sempat membeli baju untuk dipakai di hari Raya. " selang-Nya Zuu.
" Memang-Nya siapa yang mengatakan bahwa hari ini hari Lebaran?? " lantangnya.