
" Apa yang salah, ini pakailah agar orang-orang itu tidak mengenalimu. " ujar Lee seraya menyodorkan masker di tangannya.
Zuu merasa ragu-ragu untuk memakai benda itu.
" Apa ini bisa membantu? " tanya Zuu bimbang hati.
" Pakai saja, meski barang ini kecil tapi jangan ragukan hasilnya. " tegas-Nya.
Zuu pun mengenakan, setelah dipakai oleh-Nya dengan seketika Lee tercengang-cengang akan parasnya yang begitu elok.
" wah, meski dalam keadaan ditutup pun kecantikannya tidak berkurang sama sekali, dia...dia benar-benar..., " gunyam-Nya terselang.
" Aku pergi, sampai nanti. " ujar Zuu seraya berlari.
Lari Zuu terhenti seketika dan berbalik badan kembali ke arah Lee, ia hanya lupa mengatakan berterima kasih kepada-Nya.
" oh, terima kasih yah " ujar Zuu kembali seraya tersenyum juga melambai-lambai.
Ia pun berlari kembali. Lee menyahutnya.
" Oh tentu saja, ingat!! tetap berhati-hatilah Zuu!! Belajar dengan giat ya?!! " teriak-Nya.
" benar-benar cantik. " gunyam-Nya kembali sembari tersenyum.
Di tengah berjalan menuju sekolah tiba-tiba ia melihat sebuah Toko Es krim di hadapan jalannya.
" Wah, moci es krim. Itu sangat cocok sekali untuk menjadi hidangan penutup-Ku. Ah... kita memang di takdirkan berjodoh hehe... " terkejut Zuu juga senang hati.
Ia pun berlari menuju toko itu dan memesan 3 buah es krim tersebut.
" kak 3 moci es krim rasa stroberi. " pesan-Nya seraya berdiri dengan riang.
" Mohon ditunggu. " sahut penjual itu.
Kemudian datanglah hidangan yang dipesan olehnya tadi, Zuu pun memberikan uang melebihi jumlah harga makanan, hingga pada akhirnya Zuu harus menunggu kembali ketibaan penjual itu, sembari berdiri juga sekalian menyantap satu buah mocinya. Di tengah memakan, tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria yang merasa tidak asing baginya, karena rasa penasaran Zuu pun menoleh ke belakang, penglihatannya bentuk dari tubuh laki-laki itu sangat familiar di mata Zuu, ia berusaha mengingat-Nya. Di saat Zuu dikelilingi rasa penasaran juga bertanya-tanya, tanpa di duga pria itu membalikkan badan, dan Zuu sangat-sangat terkejut karena ternyata laki-laki itu adalah dalang dari semua terjadi-Nya masalah Zuu dengan Lee sehingga membuat mereka harus terpaksa dinikahkan pada waktu itu, dengan sigap Zuu mengenakan masker kembali. Ia benar-benar panik harus berbuat apa, karena ditambah-Nya kegelisahan Zuu orang itu berada di belakang. Tiba-tiba,
" Kak ini kembaliannya, mohon maaf lama. " ujar penjual.
Zuu tidak menyahut ujaran-Nya, penjual pun meminta tolong kepada pria itu untuk memberikan kembalian uangnya. Seketika tangan Zuu bergemetar juga panik, saat ia mengeluarkan satu kata,
" Kak. " panggil laki-laki itu.
dengan langsung juga lekasnya Zuu berlari. Jelas sekali pria itu terkejut-kejut kenapa dia bertingkah begitu. Ia berusaha menahannya.
" eh, Kak!! Kau melupakan uangmu!! " serunya kembali.
" lalu ini bagaimana? " tanyanya kepada penjual.
Karena penjualnya juga sedang disibukan oleh pembeli lain, pria itu terpaksa mengejar Zuu.
" aaarrggh... Merepotkan orang lain saja. " dongkolnya.
Ia pun langsung berlari mengejar, Zuu yang demikian juga lari tergesa-gesa ketakutan juga khawatir tidak memperdulikan jalanan dan orang-orang disekitarnya, karena terlalu panik juga cepatnya ia berlari, sehingga tidak sengaja menabrak seorang pria lagi, ia dengan sigap meminta maaf dan sesegera lari kembali.
" Ahh... maafkan aku, maafkan aku, akan aku ganti nanti. " gesa Zuu terengah-engah.
Sepertinya pria yang ditabrak Zuu mengenalinya, karena ketika bertabrakan dengan Zuu ia sempat memanggil namanya.
" Zuu. " tercengang-cengang.
Tapi Zuu tidak memerhatikan juga tidak tahu, karena situasi sangat mencekamnya. Pria itu tetap melihatnya meski Zuu dalam keadaan berlari.
Tapi pada akhirnya Zuu bisa bernapas lega laki-laki yang mengejarnya sudah tidak ada, ia pun berlari kembali dengan cepat, karena takut waktu pelajaran sekolahnya di mulai. Sampainya di sekolah Zuu terengah-engah keletihan, tiba-tiba saja seseorang menepak bahu Zuu dari belakang sehingga Zuu terperanjat terkejut.
" Zuu. " panggilanya.
" Wah!!! " kejut-Nya menjegil juga berteriak.
Seketika si penepak pun ikut terkejut dibuatnya.
" Wah!! " kejut mereka.
Saat Zuu menoleh ternyata eh ternyata orang itu adalah teman-teman sekelasnya yang demikian Arun, dan Amerta.
" Kalian! " ujar Zuu dengan bernapas lega.
" Hahaha... " Zuu geli hati.
Di sini Arun benar-benar ganjil akan tingkah-Nya, ia bukannya menyahut malah menahan tawa, Arun pun bertanya-tanya.
" Kau ini sungguh aneh? Sekarang kenapa tertawa begitu?? " tanya Arun.
Zuu menjelaskan sambil menahan tawa.
" Arun mendaratkan sesuatu di hidungnya Amerta. Hahaha... " sahut Zuu, geli hatinya.
Arun pun berbalik ke arah wajahnya Amerta, ia sangat terkejut karena saking syoknya kejadian tadi juga terlalu menghayati peranjat-Nya, sehingga menimbulkan es krim yang di genggam Arun mengenai hidung Amerta, ia pun sesegeranya meminta maaf.
" Aku sungguh minta maaf Mer, aku tidak mengira ini akan mengenai-Mu. " ujar Arun.
Paras Amerta bukannya menujukan ekpresi marah dan kesal melainkan malah tersenyum dan berkata seperti menerima keadaan.
" Tidak apa-apa ini sama sekali bukan masalah, benar kan Zuu?? " serunya dengan tersenyum.
Arun juga Zuu yang demikian merasa aneh akan tingkah lakunya Merry pun sunguh-sungguh dikelilingi kebingungan.
" Hah?? "
Tanpa di suruh dengan tiba-tiba menepak-nepak bahu Zuu juga Arun sembari mengatakan.
" Hey ada apa dengan kalian hah?? Kenapa wajahnya menujukan seperti itu hahaha... " tanya Amerta mengolok-olok.
" Bukan begitu, selayaknya kami yang bertanya ada apa dengan-Mu, kau sedang tidak sakit kan? " sahut Arun terheran-heran.
" Apa ini?? Apa aneh aku bersikap seperti ini? Hal yang wajar bukan? Kalian berdua adalah teman-Ku, mana mungkin aku harus memukuli kalian sampai tidak berdaya, jika kita bermusuhan baru kurasa aneh bersikap baik hahaha... " sahut Amerta sembari gelak sumbing.
Seketika kata-katanya sangat membuat Zuu geli hati kembali. Tapi tidak dengan Arun ia malah memojokkan Merry juga membuka aibnya.
" Benarkah?? Yang benar saja kau ini. Hey Zuu, jangan pernah percaya dengan belu-belainya mengerti? Jangankan seorang teman, adiknya saja di tenggelamkan dalam kolam renang, bagaimana bisa dia mengatakan itu. " ujar-Nya menyindir.
Sontak Zuu terkejut matanya juga terbeliak saking syoknya mendengar cerita dari Arun. Amerta yang merasa tidak menerima celaan Arun pun menjelaskan.
" Apa maksud-Mu? Aku melakukan itu karena memberinya pelajaran agar tidak meminum alkohol lagi, dan pada akhirnya apa? sekarang ia berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. " elak-Nya.
" ahh... Seharusnya aku memang layak dijuluki kakak keras berhati malaikat. Oh bagaimana menurut kalian? apa julukan itu cocok untuk-Ku? " tanya Amerta dengan angkuh.
Obrolan-Nya terselang, karena tiba-tiba saja datang seorang siswa seraya menepak bahu Arun dengan mengatakan.
" Arun, kau ini dari mana saja? Sebagai ketua OSIS kenapa lamban sekali, segera menghadap wali guru sekarang, dari tadi ia memanggil juga mencari-Mu, cepat! " tegur ajar siswa itu sembari menyuruh Arun bergesa-gesa.
" Ahh, aku juga baru tiba di sini. " sahut Arun, dongkol.
Karena rasa kesal pun Arun langsung pergi berlari untuk menemui wali guru. Zuu yang merasa keheranan kenapa Arun bertingkah seperti itu pun bertanya-tanya kepada Amerta.
" Kenapa ia tampak kesal? Apakah masalah jika guru itu mencarinya? " terheran-heran.
" Aku juga tidak tahu, tapi biasanya jika dia bertingkah menyebalkan begitu karena mungkin ada masalah, tapi pada akhirnya dia akan menceritakan-Nya di kemudian hari, jadi tidak perlu di khawatirkan, dia bukan tipe orang yang lama menyimpan unek-unek haha... " ujar Amerta.
Seketika perkataan Merry membuat-Nya merasa geli hati kembali. Setelah berhenti tertawa tanpa di duga tiba-tiba saja Amerta memegang tangan Zuu sembari berkata-kata lembut.
" makan ayo, sekalian ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan padamu. " ajak-Nya belu-belai.
Zuu pun merasa risih dan melepaskan gandengan-Nya juga mengatakan.
" Ahh tidak-tidak, kau perlu tahu pagi ini aku sudah makan banyak dan karena itu rasanya membuat perutku ingin meledak. Aku minta maaf. " elak-Nya.
Amerta merasa kecewa dengan tanggapan Zuu tapi ia berusaha untuk tetap membicarakan sesuatu kepada-Nya.
" Oh benarkah?? Hm... Yasudahlah tidak masalah, tapi aku ingin berbicara dengan Zuu, bagaimana? Apa kau juga sudah bicara banyak? Dan apakah mulutmu juga seakan-akan ingin meledak? " ujar-Nya sembari senda gurau.
" Hahaha... Tidak-tidak, tentu saja aku akan menerima tawaran-Mu. " gelak-Nya.
" Haha... Ah, jika begitu bagaimana duduk di situ saja? " ujar Amerta menunjuk ke arah tempat duduk umum.
" Baiklah. " sahut Zuu.
Amerta pun memulai percakapan dan mengatakan.
" Zuu, apa tanggapan-Mu jika aku menginap 1 pekan bersamamu? " tanya Amerta.