
Perkataan Amerta membuat Zuu bermenung, ia menyangka Amerta begitu bersungguh-sungguh menyukai Kak Lee.
" Amerta. " panggilnya seketika.
" Hah? Apa? " menoleh ke Zuu.
" Mmm... Sebelumnya aku benar-benar mengucapkan terima kasih karena kau begitu keras sekali menolong-Ku di waktu perundungan tadi. Aku sangat terpukau melihatmu cara memberantas para pengganggu itu, meski begitu sukar tapi tetap saja kau tekad tetap teguh menangkis mereka semua. " sanjungnya.
" Haha... Aku tahu itu. Lagi pula aku sudah berjanji padamu untuk berusaha lebih keras untuk menjaga kedekatan kita. " sahutnya besar hati.
" Benarkah? " olok-olok.
" Tentu..., " ucapnya terhenti.
" Hey! " serunya.
Tiba-tiba seseorang, memanggil mereka dari belakang. Sigaplah menoleh dan ternyata itu adalah, Kak Leon. Setelah mereka menoleh lekas sekali ia menghampiri dengan terkejut-kejut karena melihat dari wajah mereka berdua.
" a...a..apa yang telah menimpa kalian sehingga menjadi seperti ini?? " panik.
Mereka tergaguk-gaguk oleh pertanyaan itu.
" Euu... Kami... Itu Kak, " Zuu tergagap-gagap.
" Euu... Sekolah ini baru saja tertimpa perisakan. " sahut Amerta.
" Apa?? Betulkah itu?? Lalu kalian yang menjadi korban-Nya? " tanyanya kembali.
" Benar. " sahutnya.
Hal itu pun menjadikan Leon bertanya-tanya.
" Kalian baik-baik saja? "
" Amerta sudah merasa lebih baik dari sebelumnya Pak, karena ibu guru memberi obat luka di wajah Amerta yang tadinya dipenuhi goresan darah. " sahutnya kembali.
" Lalu bagaimana dengan Zuu? "
" Hm... Zuu hanya merasa pusing saja, sepertinya tadi terlalu banyak benturan keras menimpa kepala Zuu. Tadi..., " ucapnya terhenti.
" Obat pereda pusing di ibu guru sudah habis, tadinya Zuu ingin meminta izin untuk dipulangkan tapi karena suasana terlalu mencekam jadi tidak jadi. Alasan bapak memanggil kami berdua kenapa? " Amerta menyelang.
" Euu... Oh, tadinya saya ingin menegur kalian karena tidak datang ke ruang latihan, tapi setelah mengetahui hal ini saya sangat mengerti. " linglung.
" Ahh benar, kita melupakan itu Zuu. Euu... Di jam istirahat ke 2 saja Pak kami akan memulai latihan kembali. " ujarnya.
" Tidak apa-apa? Lalu bagaimana dengan Zuu? " tanyanya.
" Oh... Euu... " kebingungan.
" Aku juga akan ikut. Pusing hanyalah hal biasa yang bisa saja terjadi dalam kehidupan manusia. " selangnya.
Bel masuk pun berbunyi menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai. Segeralah Zuu dengan Amerta masuk ke dalam kelas. Guru tiba dengan sekonyong-konyong saja buku yang dibawa-Nya di hentakkan ke meja sehingga menimbulkan bunyi keras. Pow!... Dan mengatakan,
" Zuubaidah, Amerta! " serunya dengan lantang.
Sontak mereka berdua mendongakkan kepalanya lekas berdiri.
" Iya bu. " sahut mereka.
" Apa benar kalian di risak? " tanyanya bengis.
Mereka saling melihat dan menjawab dengan bersamaan.
" I...iya bu. " tergaguk-gaguk.
" Duduk kembali. " ujarnya.
Zuu juga Amerta menuruti ucapan dari Guru tersebut.
Serentak siswa-siswi di kelas pun langsung menyahut.
" Mengerti bu. " tegas bergas.
" Sekolah ini mengutamakan adab anak-anaknya, tolong pahami semuanya. " tutur katanya kembali.
" Baik bu. " seru mereka.
Pelajaran pun kembali di mulai. Di tengah berjalan waktu belajar, entah kenapa kepala Zuu terasa sakit, penglihatan matanya mulai kabur. Zuu berusaha menenangkan dirinya untuk tetap teguh belajar.
" Banyak sekali ternyata macam-macamnya anak-anak. Baiklah karena pelajaran ibu perlu mau selesai sebelum istirahat kalian perlu menjawab pertanyaan yang dilempar oleh ibu. Jika kita mengonsumsi jamur fly agaric apa yang akan terjadi? Lalu karena sebab apa bisa mengakibatkan seperti itu? Tolong jawabannya Siti Zuubaidah. " ujarnya seraya menoleh ke Zuu.
Guru yang melihat paras wajah Zuu seperti orang tengah kebingungan,
segeralah di tegur.
" zuu, Zuu!!! " serunya.
Seketika ia pun tersadar juga Zuu pun berdiri.
" Aku minta maaf bu. " sahutnya.
" Baiklah duduk kembali. " suruh berdesah.
Setelah kembali ke posisi tadi Guru bertanya lagi.
" jadi apa jawaban-Nya? " tanyanya.
" Hah?? " linglung.
Zuu kebingungan apa yang dimaksud Guru tersebut, karena terlalu lamban, pertanyaan pun di lempar ke teman yang lainnya. Satu persatu dari mereka berhasil melewati pertanyaan dari Guru-Nya, hanya tinggal beberapa siswa lagi yang belum bisa menjawab termasuk juga Zuu sampai pada akhirnya mereka tetap tidak berhasil menjawab karena gagal dalam menangkap materi yang diberikan Guru tersebut. Alhasil sebagai hukuman bagi mereka pun diperintahkan jongkok sembari berjalan mengelilingi ruang kelas depan hingga 11 putaran. Ditengah menerima hukuman kepala Zuu kembali menghantam dirinya.
" aw... Aaarrggh... Kepala-Ku hiks sakit... Aaaaaaah... " rintihnya.
Zuu berusaha tetap menahan rasa sakitnya, setelah selesai semuanya pergi keluar untuk beristirahat sedangkan Zuu kembali duduk ke kursinya untuk bisa sedikit meredakan rasa sakitnya. Meski begitu, kesakitannya malah menjadi-jadi, ia pun memutuskan menelpon Lee untuk menjemput-Nya kesini, saat hendak menelpon tiba-tiba,
" Blam... "
Mendabak Amerta datang sembari memukul pintu dan mengatakan,
" Hey Zuu!! Grrr!! Kau ini bagaimana? Pak Leon menunggu kita, ayo cepat! " gesa-Nya terengah-engah.
" Hah? Oh tentu baiklah. Kau duluan saja, aku akan menyusul. " jawabnya.
" Ahh... Aku berharap kau tidak mengecewakan banyak orang Zuu. " ucapnya sigap pergi.
Kemudian Zuu pun memutuskan untuk minta dipulangkan.
" Aku tidak bisa memaksakan diri-Ku terlalu lama. Semoga saja Kak Lee mengangkat-Nya. " tutur katanya berharap juga menahan kesakitan.
Alhasil Lee akhirnya menjawab telepon darinya dengan sigap Zuu memberitahu padanya. Keruan saja Lee terkejut-kejut juga khawatir seketika, ia mengatakan akan segera datang ke sekolah-Nya untuk menjemput Zuu. Lama menunggu, kesabarannya pun kandas, ia memutuskan meminta izin sendiri saja sembari memegang kepala-Nya karena kesakitan. Setelah memohon izin tentu saja Zuu diizinkan ditambah dengan keadaan wajahnya yang benar-benar mengkhawatirkan membuat mereka yakin bahwa Zuu bersungguh-sungguh dalam keadaan buruk. Sebelumnya Zuu ditawarkan untuk di antarkan oleh salah satu orang di sekolah, tapi ia menolak karena memberitahu bahwa akan ada seseorang yang datang nanti kemari untuk menjemput dirinya. Mereka mempercayakan semuanya pada Zuu, meski dalam setengah bimbang. Di tengah berjalan Zuu berusaha tetap teguh menahan rasa sakitnya.
" aw... Aaarrggh... Tenang huh... Huh... " menarik napas dalam-dalam.
Lelah berjalan, ia istirahat sejenak di tepi jalan sekalian menenangkan dirinya.
" Aw... Panas sekali, aku juga kehausan. Hiks aku ingin cepat pulang sedangkan perjalanan ini masih jauh. Aaarrggh... Sebenarnya kau ini dimana? Berjalan kesini saja apa membutuhkan berpuluh-puluh jam? Aw... Panas!! " keluh kesahnya.
tiba-tiba saja seseorang dari arah sebelah Zuu memanggil namanya.
" Zuu! " serunya lembut.
Saat di toleh ternyata itu adalah seorang pria yang ternyata adalah Faiz.