Blue Love

Blue Love
Kerusuhan di RS



" Aku juga tidak tahu, aku tidak tahu. " sahutnya juga resah.


" Ahh kau itu memang menyebalkan Lee su!!! " kesalnya rusuh hati.


" kau tunggu dan jaga mereka mengerti!! Aku akan keluar untuk mencari bantuan. " tegasnya, sigap berlari.


Lee sempat menahannya.


" Eh tunggu!! Jangan!! Grrr! Dia ini! " geram Lee.


Zuu mencari dokter ke sana kemari, ia pun masuk ke ruangan yang ternyata memang di dalamnya ada seorang dokter, sigap Zuu menarik lengannya sembari mengatakan.


" Dokter cepat kemari!!! " ajak Zuu menggesa-gesakan.


" Klontang!... " benda terjatuh.


Siapa sangka karena tarikan dari tangan Zuu membuat benda yang ada di tangan dokter tersebut jatuh secara seketika karena terkejut.


" Hey apa yang kau lakukan hah?? Sedang apa kau ini?? Tidak melihatkah di ruangan mana kau masuk?? Ini ruang operasi!! Lebih gilanya lagi kau malah masuk dan menggangu pekerjaan kami!! Hey Gadis mana kau?? " bentaknya berang.


" Pak dokter tolong dengarkan! Ini lebih penting dari apapun, jadi laku..." ucap Zuu di selang.


" Hey bagaimana kau bisa mengatakan ini tidak penting hah!!? Orang ini bisa saja mati dalam beberapa detik karena sikap kecerobohanmu!! " bentaknya gusar.


Zuu gagu menjelaskan.


" Tentu saja ini penting, tapi itu mereka juga, tapi mereka akan mati. Euu... Mereka sudah mati! Ahh!! Tidak aku tidak tahu mereka telah tiada atau belum, tolong lihat sejenak pak dokter! Operasi ini tolong untuk di jeda terlebih dahulu untuk menengok mereka secepatnya pak dokter! " gelisah resah.


" Jika begitu kenapa kau datang kemari? Memangnya di rumah sakit sebesar ini seorang dokter apa hanya satu?? " ujarnya merentan hati.


" Aku hanya bisa menemukanmu saja. " sahut Zuu sedih.


" Kau ini manusia atau... Ahh!!! Sudahlah! " geramnya sembari membersihkan tangannya.


Lekas dokter tersebut pun beranjak pergi, tapi sebelum itu ia menitipkan pesan kepada beberapa anak buahnya untuk tetap melanjutkan operasi tersebut.


" hey jaga ini baik-baik jangan membuat semua orang kecewa! Mengerti!!? " peringatannya.


" Baik pak. " seru mereka.


Lalu dokter mengajak salah satu perawat untuk ikut membantunya.


" Hey kau ikut denganku. " ucapnya.


Tidak ada sahutan darinya, perawat itu malah menatap Zuu dengan sangat bersungguh-sungguh sehingga membuat dokter tersebut kebingungan, dan mencoba menyadarkannya.


" heh! Kau dengar atau tidak? " tegasnya.


" Hah? Oh, tentu aku akan melakukannya. " tersadar gugup.


" Ada apa denganmu? Cepat ikut dari belakang! " ujarnya.


" Baik pak. " sahutnya sigap.


" Ayo. " ajak dokter kepada Zuu.


" Kemana? " tanyanya.


Seketika mereka semua terkejut di penuhi keanehan dengan tanggapannya Zuu.


" Hah?? " bingung dokter sembari menengok ke belakang.


Para perawat di belakang menggelengkan kepala mereka. Salah satu dari mereka pun menceletuk.


" Hey apa yang kau katakan hah!? Bukankah mereka di perintahkan untuk mengikutimu!! " geramnya.


Sontak saja Zuu terkejut sendiri.


" Oh benarkah?? Jadi kalian menuruti keinginanku?? Betulkah?? Aku mengira..., " ujar Zuu di selang.


" Heh ada apa dengan pikiranmu yang sekarang ini hah!? Jangan bermain-main! Apa kau berpikir aku ini hanya menangani satu pasien?? Cepat jalan!!! " bentaknya gusar.


" Oh! Tolong maafkan aku Pak Dokter, aku hanya... " ucapnya di selang kembali.


" Jangan bicara cepat pergi!!! " berangnya sembari mendorong Zuu.


" Oh iya aku minta maaf. Mari ikut denganku. " ujarnya.


" Grrr!!! Darahku sepertinya memuncak kembali! Akh... Bagaimana bisa ada manusia seperti dia. " celetuknya berdesah.


Siapa sangka selama perjalanan menuju ruangan Lee, ia malah terus menerus salah dalam memilih ruangan karena saking panik ditambah suasana menekan. Hingga sampai tiba di tempat yang di tujunya.


Sesampainya yang tunjuk Zuu, Dokter itu pun langsung mengesampingkan Zuu dari tempatnya sembari berusaha menahan amarah, lalu berkata sambil melewatinya.


" Paras wajah cantik otak dungu!! " celanya terengah-engah.


Setelah melihat orang yang pingsan tersebut sontak Dokter itu langsung terkejut, panik resah tak keruan.


" Kenapa dengan anak-anakku?? Apa yang telah kalian perbuat hah?? " murkanya sembari menyadarkan orang tersebut.


" Ka...k...kami tidak melakukan apapun sungguh! " kaku lidah Zuu menangkis.


" Aaaaaaah... Dasar kau ini! Hey perawat Yudi! Cepat bantu aku untuk mengangkatnya. " suruhnya dengan dongkol.


" Siapa yang terlebih dahulu kita gotong? Kakak perawat? Atau Satpam? " tanyanya.


Dokter langsung terpaku dan melihat ke arah perawat laki-laki itu. Lalu ia pun berdiri dan berlari cepat menuju meja yang di ada di dekat ranjang Lee untuk mengambil sebuah benda, dengan secara langsunglah benda tersebut melayang ke atas kepala perawat.


" Pow!... " memukul.


" Akh... " rintihnya seketika.


" Pertanyaan macam apa yang baru saja kau lemparkan hah!!? Kau ketularan bodohnya dari gadis ini?? " bentaknya geram.


" Aku mengerti, aku mengerti! " sigapnya.


" Aaarrggh... Mudah sekali otakmu tercuci. " kesalnya sambil membungkuk.


Saat hendak menggendong satpam, dokter itu terpaku kembali karena tingkah laku perawat kembali. Ia menegur ajar dengan tegas dengan cara memukul bahunya.


" hal apa yang sebenarnya kau mengerti hah!! Grrr!! Cepat angkat temanmu itu! Menjengkelkan sekali kau ini! " bentaknya kembali.


" Oh! " sahutnya tersadar.


Ia pun lekas menggendong, begitu juga dokter itu.


" Awas kau!! Menyingkir!! " gelisah resahnya.


Lee cepat bangun dari tempat tidurnya dan berdiri menghampiri Zuu, lalu ia bertanya.


" Heh! Apa yang sudah kau perbuat sehingga membuat otak dokter itu bukan terus mengepul?? Jangan bertingkah macam-macam! " bisiknya.


" Kau berpikir apa tentangku?? Sehingga berkhawatir seperti itu? " ucapnya.


" Hey dengar! Apa ketika kau selesai memasak asap tidak akan muncul?? " ujarnya membisik.


" Hah?? " kebingungan.


" Kalau tak ada api, masakan ada asap! Barang sesuatu yang terjadi, pasti ada sebabnya! Jika kebenarannya kau memang berbuat salah pada dokter itu, sebaiknya cepatlah meminta maaf. " perintahnya gelisah.


" Tapi aku tidak melakukan apapun!! Dengan alasan apa aku meminta maaf padanya?? " sahut Zuu.


Alhasil mereka berdua malah saling adu mulut juga berdorong-dorong. Lama berdebat, sehingga hati Lee merasa gerah dan menyebabkan Zuu terganjur ke depan menghantam barang yang berada di sebelah ranjang tersebut.


" Bruk... Klontang!... " menabrak, jatuh.


Dan tumbanglah benda itu. Dokter terkejut sejenak, kemudian menarik napas dalam-dalam, mengendalikan amarahnya. Tak lama, ia langsung menengok ke arah Lee juga Zuu dengan tatapan risih dan kesal. Sigap Zuu berkata.


" Pria ini mendorongku, sungguh! " ujarnya, menunjuk me arah Lee.


Saat Lee hendak membela diri, dokter berucap lebih dulu.


" Bertenanglah selagi nyawa kalian itu masih disayangi, mengerti?? " peringatannya.


" Iya Pak, mohon maaf. " menunduk.


Mereka berdua pun memutuskan untuk keluar sementara dari dalam ruangan itu, dan duduk di kursi bersama. Tidak lama tengah menikmati sebuah ketenangan yang mereka rasakan sekonyong-konyong saja datang seorang perawat menghampiri sembari membawa makanan di atas tangannya untuk diberikan kepada Lee.


" Ini sarapan pasien yang bernama Alee Suharto? " ujar perawat.


Sigap Lee berdiri dan menerima makanan tersebut.


" Oh itu saya. Terima kasih banyak. " ucap Lee.


Perawat pergi, setelah Lee melihat menu makanannya sontak menggerutu.


" apa ini??? Mereka menaruh perkedel sapi kembali?? Sebenarnya telinga mereka masih berfungsi atau tidak? Aku sudah menyuruh mereka untuk tidak lagi meletakkan benda ini di dalam piringku! Ahh dasar penjahat! " dongkolnya.


Zuu seketika berkata,


" Benda apa maksudmu? Sudah jelas sekali ini adalah makanan, lagi pula lauk itu tidak akan mencekikmu, kenapa kau begitu menyangkalnya! " tegur ajar Zuu.