Blue Love

Blue Love
Kericuhan Hati



" A...ada a..apa? " Lee gagap dengan gemetar.


" Kau ini. Hey ini sup, bukan es teler, kau pikir ini dingin?? Panas!! Tiup terlebih dahulu, haah... Sebenarnya tinggal di alam mana? Kau ini hah!!? " dongkol Zuu dengan menghela nafas.


" Euh... Aku hanya ingin cepat-cepat mencicipi masakan yang kau buat ini, pertama kalinya aku melihat masakan berkuah yang dibuat oleh-Mu. " sahut Lee dengan canggung.


Zuu tersengeh dengan tingkah Lee, ia pun mengatakan.


" Yasudah makan saja sekarang. " ujar Zuu dengan menyodorkan sup-Nya.


" Terima kasih untuk makanan-Nya. " ujar Lee kembali.


Saat dicicip, seketika itu membuat Lee tercengang bengang dengan masakan-Nya.


" Wah... Ini hebat... Bagaimana bisa makanan ini menjadi selezat ini?? Ini tipuan atau bagaimana? Sungguh kau yang membuat-Nya Zuu? " Lee terpukau.


" Tentu saja aku yang membuat-Nya. Memangnya, siapa lagi yang berada di tempat ini?? " sahut Zuu.


" Wah... Jika kau masuk dalam kompetisi mencari bakat memasak, aku yakin kau yang akan menjadi juara satunya Zuu. " puji Lee kembali.


" Benarkah?? " tanya Zuu.


" Tentu saja. " sahut Lee dengan gesa-Nya makan.


Zuu berdiri dan duduk disebelah Lee dengan mendekatkan wajahnya.


" Eumm... Jika, boleh aku bertanya... Berapa rating untuk masakan pertama-Ku ini?? " tanya Zuu dengan muka manis.


" Euh... Apakah itu penting?? " tanya Lee.


" Hey, tentu saja itu penting. Mungkin, dengan adanya itu bisa menambahkan aku untuk bersemangat dalam memasak lagi. " sahut Zuu.


" 7/8 " sahut Lee sambil makan.


" Wah... Benarkah?? " tersengeh.


" mmm... Lalu, berapa rating untuk makanan yang dibuat oleh Arunika? " Zuu tersengih dengan muka manis.


Lee terheran-heran dengan pertanyaan Zuu ia merasa canggung dengan wajah yang di ekpresi-kan oleh-Nya.


" Eu... Hey! Kenapa bertanya seperti itu, berhenti menatap-Ku dengan wajah itu. " tegur Lee dengan memalingkan wajah-Nya.


" Apa masalah-Nya? Huh... " dongkol Zuu dengan menghela nafas.


" Jika boleh jujur, masakan yang dibuat oleh Arunika sangat jauh tingkat dari masakan-Mu. Yah seperti itu. " sahut Lee kembali.


" Euu... Benarkah? Berapa rating-Nya? " tanya Zuu kembali dengan gundah.


" 9/10 " sahut Lee kembali.


" Hah!!? " teriak Zuu dengan terkejut.


" Duh... Ada apa dengan-Mu?? Telinga-Ku hampir tidak bisa mendengar kembali karena-Mu?? " tegas Lee.


" Ke...kenapa sangat jauh rating yang kau berikan untuk-Nya?? " dongkol Zuu dengan sedih.


" Huh... Disini siapa yang salah aku tidak tahu, aku hanya berkata apa yang ada di dalam benak-Ku saja. " sahut Lee kembali.


Zuu mulai merasa kesal dengan Lee.


" Euu...tunggu, apa kau yakin itu masakan yang dibuat oleh-Nya?? Setahu-Ku... Arunika adalah seorang putri di Rumah-Nya, hal yang tidak wajar dia melakukan itu. " tanya Zuu kembali.


" Aku tidak tahu, tapi jika dibandingkan dengan makanan ini, yang dibuat oleh Arunika sangat jauh berbeda. " sahut Lee kembali.


" Euh... " Zuu gagap dengan mengangguk-nganggukan kepala-Nya.


Saat Zuu beranjak berdiri Lee bertanya,


" Kemana?? " tanya Lee.


" Euh... Aku harus keluar untuk menemui Faiz. " sahut Zuu.


" Owh euh... Kapan kau kembali nanti?? " tanya Lee kembali dengan memalingkan wajah-Nya.


" Aku tidak tahu. Aku berangkat. " sahut Zuu dengan membuka pintu.


" Huh... " Lee menghela nafas dengan menengadahkan kepala-Nya ke atas.


Tiba-tiba, telepon Lee berdering dan sigap mengangkat-Nya. Setelah menelpon Lee bergegas pergi.


Zuu dengan Faiz pergi untuk makan, Faiz merasa tidak nyaman dengan sikap yang ditunjukkan oleh Zuu yang demikian terus melamun. Dengan entah kenapa secara mendabak Zuu berteriak.


" Argghhh!! Hiks... " teriak-Nya dengan dongkol.


Tiba-tiba Zuu menundukkan kepala-Nya di atas Meja dengan sedih juga gelisah. Faiz pun bertanya.


" A...ada apa Zuu?? A...apa yang telah terjadi?? " tanya Faiz dengan kebingungan.


Zuu pun mengangkatkan kepala-Nya dan bertanya.


" Iz', beritahu aku dengan secara jujur. Huh... Berapa rating masakan-Ku dengan Arunika? Cepat apa jawaban-Mu?? " gesa Zuu.


" Euh... " Faiz gagap dengan kebingungan.


Zuu semakin menekan Faiz dengan menggebrakan Meja.


" Maafkan aku Zuu, tetapi... Aku tidak mengetahui bagaimana rasa masakan-Mu. Begitupun, aku juga tidak mengetahui masakan-Nya Arunika. " sahut Faiz dengan gagap.


" Huh... Kau benar. Hiks... " ujar Zuu dengan gundah gulana.


" Euh... Apa yang yang sebenarnya terjadi? Apa Lee-su menyelekehi masakan-Mu?? " tanya Faiz kembali.


" Hah? Eum... Tidak. Aku tidak tahu. " sahut Zuu kembali dengan lesu.


" Euh... Yasudah, bagaimana jika aku mencoba makanan yang dibuat oleh-Mu, apa kau mau memasak-Nya untuk-Ku? " tanya Faiz kembali.


" Apa kau tidak akan menyesal pada akhirnya?? Aku merasa sangat frustrasi karena hal itu. " lesu Zuu.


" Hah?? Tentu saja tidak, aku ingin mencoba-Nya. Dan... Jika itu tidak merepotkan-Mu. " Faiz tersengeh.


" Em... Baiklah. Besok datang ke Kamar kami oke? " sahut Zuu dengan tersenyum.


" Oh...euh... " sahut Faiz dengan gugup.


" Oh tunggu, aku tidak melihat-Mu lagi di Hotel Ayah -Mu itu, apa kau dikeluarkan karena pekerjaan buruk-Mu? " tanya Zuu dengan celetuk.


Faiz tersenyum dengan perkataan Zuu.


" Tidak, aku tak dikeluarkan dari pekerjaan itu. Hanya saja, akhir-akhir ini sangat sulit untuk membuka waktu untuk bekerja disana kembali, Guru itu banyak sekali memberikan tugas kepada-Ku. " sahut Faiz dengan tersengih.


Zuu menganggukkan kepala-Nya.


" Oh aku mengerti. Orang pintar seperti-Mu memang pantas mendapatkan banyak tugas seperti itu. " celetuk Zuu kembali.


" Hah?? " Faiz terkejut.


" Euh... Maksud-Ku... Orang sukses itu pada umumnya sangatlah dipadati dengan kesibukan yang luar biasa. Yah... Seperti-Mu ini, sangat sibuk dengan banyak-Nya tugas yang berguna, aku sangat iri. Hihi... " tersengih manis.


Faiz sangat tersenyum lebar dengan tingkah-Nya Zuu. Kemudian, ia-Pun mengatakan kembali dengan menengadahkan kepala-Nya ke atas.


" Aku sangat ingin sekali, menulis sebuah lagu yang ditulis oleh kita berdua " ujar Faiz dengan canggung.


Sontak itu membuat Zuu terjegil karena terkejut.


" Hah?? Menulis sebuah lagu yang dibuat oleh kita berdua, maksud-Mu... Kau dengan aku?? " gagap.


Faiz mengangguk.


" wah... Itu sangat luar biasa. Aku juga sangat ingin sekali menulis sebuah lagu, kau tahu tidak? Aku ini banyak sekali menulis dari berbagai elemen untuk membuat sebuah lagu yang bagus juga bervarian rasa, agar mereka yang mendengarkan tersentuh oleh lagu yang dibuat. " sahut Zuu dengan tersenyum bahagia.


" Lalu, kemana karya-karya yang telah kamu ciptakan itu? Aku ingin melihat-Nya " tanya Faiz.


" Sudah Ku-buang. " sahut Zuu dengan sigap.


" Hah?? Euh... Haha ada apa?? Kenapa kamu membuang sebuah karya? Itu sangat tidak bagus kau tahu?? " tegur Faiz dengan tersengih kebingungan.


" Aku tidak tahu, aku hanya berfikir seperti-Nya tidak akan ada yang mau menerima karya miskin seperti itu. " sahut Zuu dengan tersenyum.


" Haha... Memang-Nya kamu ini siapa yang bisa langsung begitu saja menentukan kedepannya. Eumm... Jika seperti itu, kamu mau kita berkolaborasi dengan awal yang baik? " tanya Faiz.


" Maksud-Mu?? " Zuu kebingungan.


" Untuk besok, kita batalkan saja untuk bertemu, dan resmikan untuk bertemu malam ini. Apa kamu keberatan?? Aku juga ingin segera memakan masakan-Mu malam ini? " ujar Faiz dengan tersengeh.


" Itu tidak buruk. Baiklah, malam ini kau datang saja ke Kamar-Ku. " sahut Zuu.


Mereka berdua saling tersenyum dengan bahagia terutama Faiz. Tiba-tiba, pandangan Zuu teralih kepada seseorang yang sedang menundukkan kepala-Nya dengan berpakaian tertutup, begitupun juga kepala-Nya. Zuu melirik-Nya dengan mencurigakan, tak lama kemudian Zuu beranjak berdiri dari duduk-Nya, dan segera mengejar orang itu dengan berteriak.


" Hey kau!! Pencuri tolong woi!! Pencuri itu!! Hey! Berhenti disana!! " lantangnya.


Faiz kebingungan dengan tingkah-Nya Zuu pun langsung mengejar-Nya. Dengan tidak sengaja Zuu menabrak seorang Pelayan, sangat jelas sekali Pelayan itu marah dengan tindakan-Nya Zuu.


" Apa yang kau lakukan hah!!? " bentak-Nya.


Zuu berusaha mengejar kembali, tetapi Pelayan itu menahan-Nya dengan mengatakan kembali.


" ingin kemana sekarang hah?? Cepat bersihkan ini dan tanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan cepat!! " bentak-Nya.


" Aduh kau ini tidak mengerti atau bagaimana?? Hey buka mata-Mu, lihat... Orang itu telah mengambil sesuatu yang bukan milik-Nya, seharusnya kau itu membantu-Ku, bukan malah sebaliknya. Aku harus segera pergi. " sahut Zuu dengan mencela.


Meski Zuu berusaha pergi, Pelayan itu tetap juga menahan-Nya.


" Yang seharusnya membuka mata itu kau!! Hey!! Kau pikir aku ini bodoh atau bagaimana hah?? Dengar, ini Restoran elite! Tidak sembarangan orang bisa berada di tempat ini, apalagi seorang pencuri, jangan melantur cepat kerjakan sekarang " bentak-Nya dengan menggesa.


" Hey, siapapun akan bertindak liar jika sudah tidak tahu harus berbuat apa, dan mata hatinya pun sudah buta, orang itu sudah kehilangan akal sehatnya karena itu aku ingin membenarkan-Nya. " sahut Zuu kembali dengan mengelak.


" Wah... Kau benar, seperti-Nya siapapun itu bisa saja bertindak liar jika sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, dan contoh-Nya itu kau!! " bentak-Nya kembali.


Seketika itu membuat Zuu terjegil dengan kebingungan.


" Hah?? Maksud-Mu?? " tanya Zuu terheran-heran.


" Seperti-Nya pencuri itu bukan berlari kesana, tidak perlu kau kejar, karena aku yang akan menangkap pencuri itu. " sahut Pelayan itu.


" Bagaimana bisa kau mengejar-Nya?? " tanya Zuu kembali.


" Dengan seperti ini " sahut-Nya dengan langsung mencekik leher Zuu dengan menggunakan lengan Pelayan itu.


Zuu meronta, tapi tetap ditahan keras oleh Pelayan itu. Kemudian, Faiz pun datang dan langsung memukul wajah Pelayan itu. Sontak itu membuat para tamu tertarik perhatian kepada mereka.