Blue Love

Blue Love
Berunding



Seketika Zuu terbeliak karena terkejut, " Hah?? " kejut-Nya.


Ia mengalihkan pembicaraan dengan memberikan Amerta tisu untuk menyeka wajahnya.


" ini aku punya tisu, elap wajah-Mu hehe... " elak-Nya, resah.


" Oh, wah terima kasih kau memang sangat perhatian. " pujiannya tersenyum.


" lalu apa jawaban-Mu? Aku diperbolehkan menginap apa tidak? Hanya 1 pekan tak akan lama sungguh! " tanya-Nya memohon.


Zuu benar-benar dibuat gagu olehnya.


" Euu... Kenapa? Apa yang membuat-Mu terpikir seperti itu?? " tanya Zuu gagap.


Amerta pun mulai berbicara terus terang juga tersipu malu.


" Sejujurnya saja, aku mulai menyukai pria itu hehe... " bisik Amerta.


Saat itu juga Zuu lebih terkejut dari sebelumnya, ia tidak mengira bahwa Amerta akan mengatan itu kepada-Nya dan juga sunguh-sungguh menyukai Lee.


" Benarkah?? Maksud-Mu Lee su?? " tanya Zuu.


" Benar, ini di luar dugaan bukan? Kau tahu apa yang membuat aku segitu menyukai-Nya? " tanya Amerta dengan tersengeh.


" Oh... Emmm, memang-Nya apa itu?? " tanya Zuu kembali.


" Dia benar-benar pria idaman-Ku, kau tahu? Setiap kali aku menghubungi-Nya dia selalu menghindar, aku sangat menyukai pria dingin seperti dia, itu sangat menyenangkan dan selalu membuat-Ku penasaran, jadi setiap saat dan dimanapun seakan-akan pria itu selalu berusaha agar aku terus ingat kepada-Nya, misterius bukan haha... " ujar-Nya.


" Bukankah itu berarti dia tidak menyukai-Mu?? " linglung.


Amerta pun berusaha mengelak.


" Hah? Ah... Hahaha apa maksud-Mu? Mana mungkin dia seperti itu, bahkan mengutarakan cinta aku saja belum. " ujar-Nya


Entah kenapa Zuu merasa tidak menerima juga tak suka Amerta berkata seperti itu, tampak dari wajahnya seperti gelisah takut akan sesuatu terjadi ke depannya nanti. Ia berusaha menghasut agar Amerta merubah pikiran-Nya dengan mengatan.


" Apa kau yakin dia tipe pria idaman-Mu? Maksud-Ku... Sejujurnya saja, aku yang seatap bersama-Nya setiap hari bertemu apalagi berbicara, seakan-akan darah-Ku selalu tinggi karena apa? Tingkahnya yang menjengkelkan itu tak ada obat sama sekali, aku benar-benar meragukanmu jika bisa nyaman tinggal bersama kami. " cela-Nya wajah kusam.


Amerta yang merasa tidak percaya begitu pun juga keheranan bertanya-tanya malah membela Lee.


" Benarkah dia seperti itu?? Aku merasa ragu dengan ucapan-Mu, kau tahu? Selama ia menjadi pengawal pribadi-Ku aku sama sekali tidak pernah merasa di jengkel kan olehnya, malah ia selalu membuat-Ku terpukau juga terpesona akan tingkah lakunya. " kritiknya.


" Hah?? Oh benarkah? Ah... Tentu saja dia begitu, itu karena kau seorang atasannya, tapi sungguh jauh berbeda sifatnya ketika dengan-Ku. " cacatnya kembali.


" Jika begitu berarti Lee hanya bertingkah menjengkelkan padamu saja kan? Bukan masalah bagiku? " pojoknya kembali.


" I...iya benar... " gagunya.


Zuu pun menangkis ucapan Amerta kembali.


" tunggu, hey apa maksud-Mu? Jika nanti kalian menikah kau bukan lagi orang asing bagi Lee, dan bukankah tentu-Nya dia juga akan berlaku seperti itu?? " tegur ajar-Nya.


" Itu berbeda judul lagi Zuu, kau itu hanya saudara-Nya, sedangkan nanti aku akan menjadi ratu di hatinya, yaitu sebagai istri yang akan selalu memanjakan seorang suami. " belu-belainya dengan tersengeh.


Sontak Zuu bergunyam.


" Berbeda judul bagaimana? Dia bahkan tak mengetahui hubungan kami sebenarnya. " gunyam-Nya sembari risi.


Setelah itu Amerta berkata kembali yang membuat Zuu lebih-lebih terkejut dari sebelumnya.


Zuu mengangguk penasaran.


" Sejujurnya saja aku akan mengatan cintaku lebih dulu dari Kak Lee. " ujar-Nya tersengeh.


" Hah?? Apa?! tunggu-tunggu, kau ini jangan lakukan itu, sangat memalukan. Bagaimana nanti dengan harga dirimu, bukankah itu sedikit ganjil seorang wanita mengutarakan cinta lebih dulu? Dan bagaimana nanti dengan jawabannya? Ahh... Maksud-Ku aku khawatir, kita bahkan tidak tahu perasaan Kak Lee su bagaimana? " tegur ajar-Nya.


Amerta amat mengerti akan ucapan-Nya Zuu tapi ia tidak mengkhawatirkan hal itu,


" Kau tidak perlu mencemaskan perihal itu, aku tidak akan melakukan ini tanpa adanya sebab, kau pernah mendengar peribahasa ini? asap tidak akan timbul jika tidak ada api. Sejujurnya saja, Kak Lee sudah memberiku kode terlebih dahulu hehe... " tersengeh.


" Maksud-Mu? Sebaiknya kau jangan salah menanggapi dalam setiap perilaku orang lain, tapi jika memang halnya benar begitu..., lalu bagaimana cara ia memberikan-Mu sinyal itu?? " tanya Zuu serasa tegang.


" Ah... Ternyata Kak Lee memang belum menceritakan-Nya padamu. Apakah kau benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu? Kau tahu kan perihal Kak Lee mencium-Ku di malam itu. Dia sunguh-sungguh manis. " bisiknya tersenyum.


Dan di sinilah keterkejutan Zuu melimpah-limpah. Seketika Zuu terperanjat karena terkejut, ia merasa tak mempercayai perkataan-Nya Amerta.


" Hah?? C...c..cium?? Kak Lee pernah menciummu?? " terjegil.


" Benar. Bagaimana menurut tanggapan-Mu sekarang?? " tanya-Nya menatap penasaran.


Zuu gagu karena-Nya.


" Oh... Hahaha... Memang-Nya apa yang harus aku tanggapi? " gelak sumbing.


" euu... Aku juga tidak tahu apa yang harus aku katakan, tapi apakah kau yakin dia memang benar-benar menyukai-Mu, apa tidak ingin menahannya lebih dulu agar lebih terlihat benar apa tidak-Nya? " sarannya.


" Maka dari itu akan aku coba untuk mengetahui Kak Lee su suka atau tidak? Dengan cara menginap bersama-Mu itu akan membantu aku lebih dekat dengan-Nya, dan tentu mengetahui perasaan hatinya Kakak, benar kan? Cerdas sekali bukan? " ujar-Nya dengan besar hati.


" Oh i...iya kau benar. Euu... Jadi kapan kau akan menginap? " tanya Zuu kembali kaku lidah.


" Apa kau tidak akan berunding dulu dengan Kakak? " terheran-heran.


Zuu langsung panik dan sigap kembali berbicara, karena saking kakunya lidah Zuu hingga hampir saja bicara terus terang.


" Oh iya hahaha... Tentu saja aku akan bercakap-cakap dahulu dengan tuan rumah hahaha... Itu benar sekali, aku juga akan mengubungi-Mu jika su... " terhenti juga terjegil.


" Su?? Hah? Apa maksudnya itu? " Amerta bertanya-tanya.


" Ah... Su... Su... Lee su, akan aku hubungi Amerta jika Lee su menyetujui, ya seperti itu. Ahh... namanya terus terasa di lidah-Ku hahaha... " sahut-Nya dengan sigap juga panik.


" Oh... Haha... Sejujurnya saja itu tidak baik bagi Zuu jika terus memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan namanya. " tegur ajar-Nya Amerta.


" Ah... Hahaha... Benar sekali, itu karena terlalu seringnya kami berdebat sehingga aku terkadang menyebutnya nama ataupun kakak, tapi aku usahakan untuk lebih menghormati-Nya. " ujar Zuu.


" Tentu, tentu aku mengerti. " sahut Amerta.


Tanpa di rencana tiba-tiba saja Amerta memegang tangan Zuu seraya menyatakan rasa terima kasihnya.


" terima kasih banyak ya Zuu, aku sungguh-sungguh terbantu oleh-Mu, maafkan aku juga yang selalu merepotkan, aku sangat senang bisa saling bercurhatan dengan-Mu, aku berjanji akan menjadi teman yang baik untuk Zuu, akan aku usahakan. " curahan-Nya dengan rawan hati.


Zuu pun beriba-iba akan ucapan manisnya Amerta.


" Itu sangat menyentuh aku terharu, kau tidak perlu berkata begitu, selama aku mampu untuk membantumu kenapa tidak? Terima kasih juga dengan sikap-Mu selama ini, aku juga sangat senang bisa berteman dengan-Mu begitu pun juga Arun. " haru-Nya tersenyum.


Mereka pun saling berpelukan akan keterharuan-Nya ucapan mereka sendiri, setelah usai berbicara akhirnya Zuu begitu juga Amerta berjalan untuk pergi ke ruang kelas bersama, tapi tiba-tiba seseorang menarik tangan Zuu dari belakang sontak itu membuat mereka terkejut-kejut. Kemudian Zuu menoleh dan ternyata ia adalah...