Blue Love

Blue Love
Keganjilan datang kembali



" Ah terserahlah, aku sama sekali tidak mengerti maksud-Mu. " ujarnya.


" Ha... Pada biasanya jika sudah kalah dalam berperang selalu berkata menyudahi setiap serangan agar apa? Karena jikalau diteruskan ia akan tertimpa malu yang ketinggian-Nya tiada tara. " ejeknya menggelekek.


Zuu yang merasa jengkel hanya terdiam melihat-Nya tertawa dengan tatapan bengis. Lee pun menghentikan tawa-Nya secara perlahan.


" hehe... Lupakan saja. " ujarnya.


Ia langsung mengambil kembali kompresan dari dalam wadahnya itu hendak kembali meletakkan di kepala Zuu. Sebelumnya ia bertanya.


" jadi ingin dibantu apa tidak? " mengolok-olok.


Zuu tak mengacuhkan ucapan Lee.


" ahh terserah. " sembari mengompres.


" sebenarnya apa yang membuatmu hingga seperti ini? Padahal bekerja juga tidak. " sindir Lee.


Sontak Zuu menatap tajam ke mata Lee.


" euu... Maksudnya, apa yang membuatmu tadi saat tidur tiba-tiba terperanjat sampai begitu, bahkan air yang awalnya aku bawakan tadi untuk mengobati-Mu sampai tersepak. " hindar-Nya.


Zuu bangkit untuk duduk terpaku sejenang, kemudian ia pun terbuka hatinya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi dalam mimpinya.


" Oh ya, kau tahu tidak? Sejujurnya tadi itu aku terkena mimpi yang amat buruk. " tegang.


" Oh... Lalu kenapa memangnya? " sahutnya.


" Grrr!! Ekpresi-Mu kenapa biasa saja?! " menepak bahu Lee dengan kencang.


" Aw!! Kau yang kenapa? Memang mimpi buruk adalah hal yang wajar dan tentunya bisa dialami manusia, termasuk orang gila juga. " sahut Lee.


" Aaarrggh...! Maksudnya bukan begitu. Sepertinya saat ini aku sedang di ganggu hal gaib. " ucapnya.


" Hah!? Apa maknanya hah? " kejutnya.


" Ahh aku juga tidak tahu, tapi ini benar-benar terjadi dari jauh dari perkiraan-Ku. " linglung


" Ah kau ini terlalu menghidupkan hal-hal yang seharusnya tidak ada. Itu hanya mimpi dan lupakan saja. " tutur kata Lee.


" Aku juga berpikir sama dengan-Mu, awalnya aku kira ini hanya halusinasi saja, atau mungkin karena pikiran-Ku terlalu berat sehingga bisa sampai merasakan hal itu. Tapi semua dugaan-Ku berubah dalam seketika! " ketegangan.


Zuu menceritakan dengan terus terang kepada Lee.


" awal mula-Nya itu disaat kita masih tinggal di hotel, seingatku entah kenapa dengan keadaan hotel sekonyong-konyong lampunya mati sehingga membuat aku merasa tidak tenang juga gelisah resah Kak, dia muncul mendadak dengan cara menarik kaki-Ku hingga ke bawah ranjang! Aku benar-benar ketakutan juga panik. Lalu bukan hanya itu, kejadian serupa terjadi lagi setelah aku pulang dari Sekolah, seseorang menarikku hingga ke bawah jembatan! Hampir ingin jatuh untungnya Min-ah datang dan menolong. Aku anggap semua kejadian ganjil itu hanya halusinasi tapi kenapa begitu nyata, dan kemudian aku pun melupakannya. Dan sekarang sekonyong-konyong seakan-akan dia datang kembali, waktu aku di sekolah ada sebuah tangan yang memegang kakiku dengan kuat! Hi...!! Mengerikan Kak! Ditambah lagi keyakinan-Ku sekarang ia datang dan menampakkan wajahnya di dalam mimpi-Ku tadi! " menjelaskan.


" Benarkah itu terjadi dalam kehidupan-Mu?? " tegang.


" Sungguh! " tegasnya.


" Ahh lupakan saja, mungkin itu memang benar pikiran-Mu sedang berat. " ujarnya.


Tanggapan dari Lee sontak membuat Zuu geram.


" Hah? Apa maksud-Mu?! Kau berkata bahwa aku ini mengada-ngada hah!? "


" Itu memang benar, waktu di hotel karena situasi sedang gelap dan membuat hatimu tadi apa?? Gelisah resah bukan? Yah, jelas sekali kau hanya terbawa suasana sehingga mampu berhalusinasi sekuat begitu, lalu ada seseorang menarik kakimu di jembatan karena kau baru pulang dari sekolah keruan sekali kau kelelahan begitu pun juga sama halnya di sekolah terjadi memegang kakimu itu. " ucap Lee.


" Lalu bagaimana dengan mimpi-Ku? " selangnya.


" Ahh kau ini. Sudah aku katakan mimpi buruk bisa menimpa siapa saja termasuk orang gila juga. Bukankah kau tengah sakit pasti sekali itu ada efeknya. Terkadang ketika aku sakit hal yang kau alami tadi pernah aku rasai . Biasanya itu terjadi karena aku terlalu memaksakan diri untuk tidur, dan datanglah mimpi buruk secara mendabak. " tegur ajarnya.


" Mungkin? Masuk logika juga, yang dikatakan-Nya sama dengan tindakan-Ku tadi, aku memaksakan untuk tidur sehingga mimpi buruk itu datang. "


" Ada apa? Ucapan-Ku benar bukan? Hey tentu saja itu semua benar, pengalaman-Ku lebih tinggi darimu maka dari itu kau harus lebih menghormati aku sebagai Kakak tertua. " besar hati dengan mengolok-olok.


Zuu sontak terdiam terpaku.


" oh ya Zuu, alasan aku datang terlambat menjemput-Mu itu karena pemilik si mobil yang ingin aku pinjam terus menyuruhku kesana kemari, mungkin dia sedang membutuhkan bantuan dariku, aku tidak tahu pada akhirnya malah menjadi ikut sulit karena-Nya. " ujarnya.


" Sebaiknya kembalikan saja, aku sama sekali tidak memerlukan barang itu, menurut-Ku itu akan menjatuhkan dirimu sendiri. " peringatan-Nya.


" Maksudnya? " kebingungan.


" Tidak usah meminjam kesana kemari! Itu memalukan, selama kita tidak terlalu sangat perlu dengan hal itu kau tidak harus bersusah payah meminjam. Lagi pula, perkara meminjam bisa membuat kita tidak nyaman hati dengan orang lain meski itu orang tua sendiri, pada intinya meminjam boleh saja jika kita sangat benar-benar memerlukan-Nya, mobil hanyalah barang sampingan tidak ada kehadiran-Nya juga tak membuat siapapun mati. " tegur ajarnya.


" aku menyuruhmu menjemput karena takut sesuatu terjadi di tengah perjalanan, kau bisa bukan menggunakan hal lain selain harus menggunakan mobil. "


" Aku hanya ingin membuat-Mu nyaman, itu saja. " tangkisnya.


" Kenyamanan bukan berarti harus terlihat serba ada, tapi itu tergantung-Nya dirimu memperlakukan seseorang. Kita bisa berjalan kaki bersama, dan jika kau berniat untuk membuat aku nyaman, disitulah kau harus bertindak agar aku selalu ingin bersamamu. " ucap Zuu.


" Selalu ingin bersama? " linglung.


" Euuu... Bersama maksudnya itu, buatlah perjalanannya menjadi berwarna meski jauh. Jadi seakan-akan terasa ingin melakukan dengan terus menerus saking manisnya momen itu. " tergaguk-gaguk.


" Benarkah?? " olok-olok.


" Ahh tentu saja! Lupakan saja, ambil saja yang diperlukan dari ucapan-Ku tadi. " elak-Nya.


Sigap Zuu mengalihkan pembicaraan.


" oh ya, aku ingin mengatakan kau diperbolehkan kembali kerja di rumah Amerta. " gagap.


Siapa sangka ternyata Lee malah syok dengan perkataannya Zuu, seakan-akan tampak dari wajahnya seperti ketakutan.


" Hah?? Apa? " kejutnya.


" Tidak usah berasa panik terkejut begitu. Dalam hati seorang Lee pun berkata, oh tidak! Bagaimana caranya agar aku terlihat mempesona lagi di depan Amerta agar aku dapat menciumnya lebih banyak lagi! Jadi kapan kau akan masuk? " mengolok-olok dengan kesal.


" He tunggu! Apa maksud-Mu?? " kebingungan tegang.


" Tunggu-tunggu apa maksud-Mu, omong kosong! Jadi kapan kau akan mulai bekerja?! " tekan Zuu.


" Eh tunggu, aku sungguh... " kata Lee diselang.


" Oh tidak perlu bicarakan itu sekarang, Amerta akan menginap nanti disini, kau penjelas saja nanti kepada-Nya. Aku akan pergi mandi. " sigap beranjak pergi.


Lee berusaha menyelipi perjalanan Zuu.


" Tapi aku belum mengatakan apapun padamu Zuu! " teriaknya.


" Katakan kepada Amerta nanti! " teriaknya juga.


Zuu pun mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Seiring berjalannya waktu ia sambil menggerutu tak keruan.


" tunggu-tunggu apa maksud-Mu, tunggu-tunggu apa maksud-Mu? Dia bertingkah seperti orang tak berdosa di depan-Ku, padahal dia sendiri yang berucap aku ini perempuan murahan sehingga dapat menerima ciuman dari pria manapun! Lalu dirinya pantas dikatakan apa!? "


Saat Zuu hendak menyalakan keran bak mandinya tiba-tiba ia berteriak histeris.


" ha...!!!! " lantangnya.