
" Grrr!! Bukankah dia telah menyakiti-Mu? Penderitaan yang dilakukannya bukanlah candaan tetapi itu sungguh-sungguh diniatkan oleh laki-laki ini! Apakah dia pantas untuk dimaafkan? Tolong pikirkan baik-baik! Bagaimana jika dia melakukan hal yang sama lagi terhadapmu? Bukan kau, jika orang lain menjadi targetnya bagaimana? " tegasnya.
" Apa menurutmu, kalian semua juga pantas dimaafkan? Apa kau berpikir juga hati-Ku sekuat batu jika di cabik-cabik tidak mengeluarkan darah atau sakit? Apalah diriku ini hanya manusia biasa yang sama halnya seperti orang lain jika dilukai juga merasakan sakit, begitulah! Tapi otakku berpikir kembali, bahwa itu adalah salah satu watak para manusia yang tidak lumut dari kesalahan. Apa yang kalian lakukan juga laki-laki ini sama seperti perbuatan aku terdahulu. Dia begitu pun kalian semua pantas mendapatkan kesempatan bukan? " tangkis Zuu.
Mereka terdiam. Tak lama kemudian salah satu darinya membisik.
" Sudahlah! Perkataan-Nya itu benar-benar nyata! Apa bedanya kita dengan laki-laki ini? Sama saja! Jika dia di penjara maka kita juga harus ikut serta dengan-Nya, lagi pula kita juga yang salah dalam mengambil keputusan, tidak berpikir dengan jernih sehingga kekeliruan kita menimbulkan jatuh ke lubang yang dipenuhi lumuran darah busuk. Aku masih mempunyai keluarga dan tentunya kewajiban-Ku masih berlaku, tolong pikirkan itu. Gadis ini berpikir sangat bijak, terimalah kebaikannya. " tegur ajarnya.
Pada akhirnya ia pun melepaskan dan meminta dengan bersungguh-sungguh kepada Zuu.
" Tolong maafkan kami! Sungguh kenapa penyesalan selalu datang pada akhir waktu? Kami semua benar-benar memohon maaf padamu Zuu! " ujarnya menundukkan kepala.
Saat Zuu hendak menanggapi ucapannya sekonyong-konyong saja laki-laki itu malah langsung pergi dengan tangkas, mereka semua yang menyaksikannya pun terkejut-kejut dan telah akhir sudah bahwa Zuu dan Lee tidak pernah melakukan hal kotor itu, semuanya terbukti terang sekali. Zuu menyahut.
" Tidak apa-apa, aku mema'lumi semuanya. Mmm... Bagaimana pun juga aku juga sangat berterima kasih kepada laki-laki tadi, jika bukan karena kejujuran-Nya aku yakin akan sangat meragukan masalah ini akhirnya terselesaikan juga " tutur katanya.
" Senang sekali mendengar-Nya. Terima kasih banyak Zuu! " girang hati.
Lalu dengan sigap orang-orang itu membantu mendirikan Lee dari baringannya.
" hey apa yang kalian lihat?! Ayo cepat angkat suaminya itu! Bantu, bantu!! Dan segera bawa ke rumah sakit sekarang!! " perintahnya dengan keras.
Tetapi Zuu menyelipi ucapannya.
" Eh tidak, tidak! Biarkan saja, aku yang akan membawanya pulang nanti, dia lebih baik mendapatkan perawatan dari rumahnya. " panik.
" Oh benarkah?? Kenapa bisa seperti itu? Bukankah penanganan dari rumah sakit lebih bagus? Tidak perlu dibantu? Kau yakin bisa merawatnya? " bingungnya.
" Euu... Iya tentu saja! Mengapa tidak? Hehe... Tidak perlu khawatir soal itu. Sungguh. " gelak sumbing.
Mereka semua pun berpamitan pergi kepada Zuu. Setelah semuanya usai, Zuu lekas membantu membangkitkan Lee.
" Ayo euu... Kau bisa kan?? " berkeluh sembari membangun Lee berdiri.
Di tengah-tengah mengangkat Lee malah menggerutu dengan kondisi lemah.
" Kenapa kau tidak menerima bantuan-Nya hah?? Kau tidak melihat tubuhku yang sekarang?? Jika mereka menolong kita tak usah berpeluh kesusahan untuk menutupi luka-luka ini!! " berangnya.
" Kau ini tidak berpikir atau bagaimana hah?? Memangnya berapa banyak uang yang kau miliki di sakumu itu hah?? Tidak akan sebanding dengan total pembayaran nanti di rumah sakit! Hasil dari jasa bekerja paruh waktu-Ku juga tak akan mencukupi biayanya. Lalu dengan apa kau akan membayar nanti hah? Apa dengan darah yang menutupi wajahmu ini akan di terim oleh mereka? Memang-Nya kau ini siapa?? Tidak tahu malu! " tegur ajarnya.
Akhirnya ia pun mampu mengangkat-Nya meski dengan cara menggandeng lengan-Nya di punduk. Lee lanjut menangkis perkataan Zuu yang tadi.
" Hey!! Penyebab aku bisa menjadi seperti ini karena mereka! Tentu saja semua resiko yang akan menimpa aku akan ditanggung oleh mereka!! Kau ini memang benar-benar bodoh atau pura-pura lupa!!? " cacatnya dengan geram.
" Oh benarkah?? Aaarrggh...!! Kenapa tidak mengatakan-Nya dari awal?? Sungguh saja aku tidak mengetahui mengenai hal ini, karena sebelumnya peristiwa seperti ini belum pernah terjadi dalam kehidupan-Ku. " sesalnya mengeluh.
" Akh... Dasar kau ini memang! Hey bukankah kau itu orang terpintar di sekolah? Bagaimana bisa mengenai hal ini saja kau tidak tahu?? Gurumu buta atau bagaimana?? " celanya kembali.
Mereka bukannya segera berjalan untuk pulang melainkan malah saling memarahi satu sama lain.
" Hey dengar! Bukan begitu maksud-Ku, otakku tadi hanya terpikir dengan kesalahan terdahulu jadi aku merasa tidak pantas saja mendapat bantuan dari mereka. " ucapnya.
" Huh!! Hindaranmu buruk sekali dan hanya bisa dilakukan oleh seorang Zuu. " sindirnya.
Tak lama kemudian perdebatan mereka mendadak saja terhenti, karena mata Zuu begitu juga Lee teralihkan kepada seorang wanita tengah berdiri di arah depan mereka yang tak lain adalah ibu Zuu.
" ummah??!! " kejutnya membeliak.
Sekonyong-konyong entah kenapa ibu Zuu malah pergi. Jelas sekali itu membuat mereka terkejut-kejut juga keheranan.
" Bagaimana ini? Kau tidak ingin mengejarnya? Bukankah semuanya telah terbukti nyata juga benar? " tanya Lee berpeluh darah.
" Perlu kata apa lagi yang harus aku berikan padanya? " ucapnya merentan hati.
" Akh... Tubuh-Ku terasa sakit kembali Zuu!! Aaarrggh...!! " keluhnya merintih kesakitan.
Jelas sekali hal itu membuat Zuu panik juga khawatir.
" Kau bersungguh-sungguh?? " rusuh hati.
" Akh... Tidak apa-apa, sebaiknya kita cepat pulang saja. " perintahnya menggesa.
" Baiklah, baiklah. Kita akan sesegera-Nya pergi dan lekas merawat-Mu. " gelisah resah.
" Aku sangat berterima kasih. " ucap Lee lemas.
Saat mereka berdua membalikkan badan, disini juga situasi mencekam, mencekiknya disebabkan karena berdiri-Nya seorang siswi SMA yang sudah lama berdiam di belakang mereka.
" A...aa..amerta!!! " kejutnya ternganga.
Tentu saja mereka terkejut-kejut melihatnya, wajah Amerta terlihat seperti selesai menangis di sebabkan jalanan yang di tempatinya sudah menampung banyak air yang tergenang disana. Sigap Zuu mencoba mendekati-Nya tetapi situasi sedang tidak mendukung dirinya dikarenakan ia tengah menggandeng Lee sehingga menimbulkan kesulitan untuk menghampiri-Nya. Tetapi, sekonyong-konyong saja Amerta mengatakan.
" Kita selesai. " ujarnya.
Tak lama kemudian ia malah langsung pergi setelah berkata begitu. Zuu berniat mengejarnya tapi Lee melarangnya.
" Biarkan saja, hal yang mempercumakan. Sebaiknya kau cepat bawa aku ke rumah, seperti-Nya saat ini kondisi-Ku seakan-akan melumpuhkan sekujur tubuhku. Aaarrggh... " keluh kesahnya kesakitan
" Benarkah??! Oh tidak jangan sekarang Lee su!! Aku belum sempat mengobati-Mu dulu dengan benar. " paniknya.
" He, he, he!! Apa kau pikir aku akan mati sekarang hah!!? Kenapa sorotanmu begitu pedas!! Aku belum mati!! " berangnya.
" akh... Aaarrggh... Sakit!! Sudahlah hentikan, kenapa disaat kondisi-Ku seperti ini saja kau bisa menyempatkan diri bertingkah begitu! Cepat bertindak cerdas Zuu! " dongkolnya berkeluh.
" Aku minta maaf, sungguh! Euu... Lalu sekarang dengan cara apa kita bisa pulang?? Matahari hendak tenggelam. Di tengah perjalanan seperti-Nya kita akan kemalaman. " keluhnya.
" kau membawa uang? " tersadar.
" Justru itu adalah alasan aku mengapa bisa keluar dari rumah tadi, di sebabkan saku ini tidak memegang sepeserpun lagi uang, aku kehabisan pembekalan. " ujarnya mengeluh.
Mereka berdua saling berkeluh kesah karena bingung akan situasi sekarang yang dihadapi-Nya. Di sela-sela berunding tiba-tiba telepon Zuu berdering menunjukkan panggilan masuk, sigap ia pun menjawabnya.
" Halo? " ujar Zuu.
Tak lama kemudian ia terkejut setelah mengangkat telepon tersebut, dikarenakan orang yang menghubungi-Nya ialah atasan baru di pekerjaan paruh waktunya itu.