Blue Love

Blue Love
Ngebul



Karena rasa panik Lee sigap menyahut sembari mendekati Amerta dengan mengatakan.


" Amerta pernah mendengar tidak seorang istri yang di azab karena durhaka kepada suaminya?? " sindir-Nya seraya menatap mata Zuu.


" Oh iya tentu aku pernah mendengar itu, dan juga mengetahui sekali tentang hal itu. Ada apa memang-Nya Kakak bertanya? " kebingungan.


" Ahh bukan apa-apa, aku hanya menghawatirkan siapapun yang tidak tahu sama sekali persoalan yang diketahui olehmu tadi, bagaimana nasib kedepannya nanti. " sindiran Lee juga mengolok-olok.


Tanpa pikir panjang Lee pun menyuruh Amerta dan Arun untuk duduk di kursinya.


" ah... Hahaha sudah-sudah, aku hanya asal berbicara. Mari duduk bersama kami. " ajaknya.


Zuu yang melihat perilaku juga perkataannya langsung melihat ke arah Lee dengan penuh kekesalan dan penasaran. Amerta beranjak berdiri tetapi niatnya terhenti karena Lee menahan.


" Oh tunggu sebentar, aku ingin memesan makanan dahulu, Arun kau akan makan apa? " ujar Amerta sembari berdiri.


" Haha... Apa ini, tidak perlu seperti itu, Amerta tidak melihat kami memliki banyak makanan di sini, jangan sungkan untuk memakannya, ayo ayo. " ajak-Nya.


" Oh benarkah, tapi apa itu tidak mengapa? " tanya Amerta.


" Tentu saja tak apa-apa, apa yang perlu di khawatirkan kalian ini adalah teman baiknya Zuu haha... " sahut Lee.


" Bagaimana dengan Zuu? " seraya melihat ke arah Zuu.


" Ya, tidak apa-apa, kenapa kalian bertingkah seperti orang asing. Cepat makan. " ajaknya juga.


" Wah kalian memang berhati besar, baiklah terima kasih. " girangnya.


Zuu yang melihat Arun sungguh ganjil dengan sifatnya, ia sempat berpikir bahwa dari tadi Arun seperti orang yang dingin kepada Zuu, tapi pikiran teralih tiba-tiba karena Amerta mendabak memegang tangan Lee juga berekspresi kejut histeris disebabkan karena ada luka di tangannya.


" Apa ini?? Tangan Kakak kenapa bisa begini? Apa yang sudah menimpa Kakak?? " ujar-Nya khawatir.


Sontak Zuu juga ikut terkejut padahal dari tadi ia bersamanya tapi kenapa Zuu sampai tidak melihat luka yang berada di tangannya itu, ia merasa tidak senang Lee di perhatikan oleh Amerta.


" Bukan apa-apa, ini hanya luka kecil. Tadi sebelum datangnya ke sini aku berkelahi dahulu dengan seorang penjahat. " jelasnya.


Seketika mereka terkejut-kejut terutama Amerta.


" Bagaimana bisa?? Mengapa Kakak bisa berhubungan begitu dengan mereka?? " tegang bertanya-tanya.


" Ahh penjahat jaman sekarang, aku juga tidak mengerti pola pikirnya, ia tiba-tiba saja mengambil kantong keresek-Ku, di dalamnya ada barang-barang yang diniatkan untuk aku berikan kepada Zuu. " menjelaskan.


Zuu langsung menatap sejenak dengan tercengang-cengang akan penjelasan dari Lee.


" Lalu Kakak mengejarnya? " tegang.


" Tentu. Hasil nya aku mendapatkan kembali kantong plastik itu. " sahutnya.


Tiba-tiba Amerta mengisap darah yang berada di lukanya Lee, karena rasa kesal Zuu mengebul-ngebul.



Mendabak datang 3 orang siswa tengah bersenda gurau karena terlalu asyiknya bercanda sehingga menimbulkan salah satu dari mereka terdorong oleh temannya dan tidak sengaja menyiram bagian kepala Zuu, tanpa pikir panjang Zuu langsung memarahinya.


" Apa kau sudah gila hah?!!! Kenapa kalian mengguyur-Ku!! " bentak-Nya.


Seketika semua orang di sana terkejut suaranya yang begitu menggelegar. Arun dan Amerta apalagi Lee tidak menyangka Zuu berkata seperti itu.


" Aku tidak sengaja sungguh, kami hanya bermain-main dan kami..., " penjelasan siswa terhenti.


" Bermain-main?? Apa kalian pikir tempat ini cocok untuk bermain hah?! Lupa usia atau bagaimana kalian ini sebenarnya? " cacatnya.


Amerta pun berusaha melerai dan menenangkan Zuu. Arun juga Lee ikut berdiri.


" Hey sudah Zuu kenapa kau sangat marah?? Dia tak sengaja melakukannya. " tegas Amerta.


Seketika Zuu tersadar dan merasa malu sendiri.


Di sini Lee merasa gede rasa bahwa timbulnya kemarahan Zuu itu disebabkan melihat dirinya dekat dengan Amerta, tapi karena besarnya rasa penasaran dan akhirnya pun mencoba untuk membuktikan menggunakan cara menyetujui Amerta menginap.


" Oh ya omong-omong Zuu pernah mengatakan bahwa, Amerta meminati untuk menginap bersama kami? " belu-belainya.


Sontak semuanya kejut melihat ke arah Lee.


" Ah, itu..., euu... Aku memang ingin jika Kak Lee mengizinkan. " gagunya.


" Ah... Haha... Tentu saja Amerta, aku akan sangat senang kedatangan tamu spesial seperti kamu. Menginap saja. " ujar-Nya mulut manis.


" Benarkah?? Aku sungguh diperbolehkan tinggal bersama? " tanyanya kembali.


" Tentu saja. " sahut Lee.


" Euuu... 1 pekan. " canggungnya.


" Ah... 1 tahun juga tidak mengapa haha... Benarkan Zuu? Jadi kapan Amerta datang dan menginap? " ujar Lee kembali tertawa.


Entah kenapa Zuu merasa tidak nyaman hati ketika berkata begitu, tampak dari wajah Zuu sangat muram, dan menatap tajam ke wajah Lee



tapi ia malah menjadi-jadi.


" Apakah malam ini?? Wah itu sangat bagus!! Aku sangat senang sekali sungguh! Malam ini pasti akan menjadi malam yang sangat mengenang dalam hidupku. " gembira-Nya sembari melihat ke arah wajah Zuu.


Amerta pun menyahut dengan tersentuh hati juga senang.


" Benarkah? Aku sangat tersanjung Kak sungguh, tapi sayang hari ini sepertinya tidak akan bisa itu karena ayah Amerta pulang. Sekali jalan aku ingin meminta izin diperbolehkan tinggal atau tidak " kecewanya.


" Wah siapa sangka ternyata Amerta sangat bermulut manis, jarang sekali bukan anak jaman sekarang memohon izin terlebih dahulu kepada orang tuanya, wanita idaman bukan? " belu-belainya.


Amerta semakin tersipu malu juga rasa sukanya meledak-ledak. Zuu sigap mericuhkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan.


" Tapi bukankah Kak Lee akhir-akhir ini tengah sibuk mencari pekerjaan? Lalu, nanti siapa yang menerima Amerta, tidak baik jika kedatangan-Nya itu tak ada sapaan dari tuan Rumah? " olok-olok Zuu.


Lee terdiam juga tergagu-gagu, tapi takdir berkata lain Amerta mendapatkan solusi untuk persoalan itu.


" Yasudah bagaimana jika Kakak bekerja kembali dengan Amerta? " tanya-Nya.


Sontak Lee terkejut dan benar-benar tergagu-gagu.


" Ah... itu..., euu apakah boleh? Sungguh?? " berpura-pura terkejut.


" Tentu, aku akan menanyakan juga kepada ayah nanti, tapi Kakak tidak perlu menghawatirkan diizinkan atau tidaknya, Amerta bisa jamin. " tersenyum manis.


" Wah benar..., " belu-belai Lee terhenti.


Tiba-tiba Zuu menggebrak Blam!!!


" Grrr!! Aku minta maaf, tapi sepertinya sekarang seseorang membuat aku kesal dan juga tengah menunggu-Ku di depan sana, pergi dulu. " gusarnya beranjak berjalan cepat.


Lee pun langsung berdiri dan bertanya seraya berteriak.


" Hey kau mau kemana? " lantangnya.


" Sudah aku katakan seseorang sedang menunggu-Ku di depan sana!! " teriaknya juga.


" He!! jangan bercanda siapa orang itu? Pria atau wanita? " ujar-Nya kembali.


" Jika Pria memang apa masalahnya dengan-Mu hah!!? " teriak-Nya seraya berjalan cepat.


Zuu tak memperdulikan ucapan Lee.