
Tatapan Faiz sangat dingin seperti orang kecewa, lalu ayah Faiz bertanya-tanya.
" Kamu pacar-Nya Faiz? " tanyanya.
Sontak Lee dan Zuu terjegil terheran-heran.
" Euu... " Zuu gagu.
" Apakah kalian sungguh berpacaran? " tanya-Nya kembali.
" Euu... Benar Pak, kami juga kerap kali berkencan meski, kadang tersendat-sendat. " sahut Zuu kaku lidah.
" Kamu juga wanita yang pernah menjenguk saya waktu sakit bukan? " tanya kembali.
" Euu... Iya Pak, sekarang bagaimana keadaannya? Sudah merasa pulih? " tanya Zuu kembali.
" Alhamdulillah sehat, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu karena telah mendoakan saya hingga hasil seperti sekarang ini, dan juga sungguh-sungguh berterima kasih telah menjaga Faiz selama kamu berpacaran dengan dia. Sejujurnya saja saya sangat senang kalian mempunyai hubungan khusus, tapi maaf persoalan tadi saya sudah berusaha keras agar kalian tetap teguh untuk berhubungan khusus mungkin takdir berkata lain, dan saya sangat berharap kalian masih tetap menjalin hubungan baik sebagai seorang teman, benar kan Iz'? " ujar-Nya.
Sontak Faiz meninggalkan tempat itu dengan muram. Ayahnya yang merasa tidak nyaman hati pun meminta maaf atas perlakuan-Nya.
" saya minta maaf. " ujar-Nya kembali.
" Tak apa-apa Pak, saya amat mengerti perasaan Faiz sekarang. " sahut Zuu.
Beda lain sahutannya Lee.
" Anak jaman sekarang membelakangkan adab mereka. " sindirnya.
Zuu seketika terkejut juga terbeliak akan ucapan Lee baru saja.
" Apa yang kau katakan hah!? " tegur ajarnya membisik seraya memukul lengan Lee juga panik.
" Memangnya apa yang aku katakan Zuu?? " bisiknya kembali mengolok-olok.
" Euu... Mohon maaf, jika begitu saya pamit. Permisi. " ujar ayahnya.
" Oh... Euu... Iya Pak, maafkan saya ya Pak? " sahut Zuu.
" Tidak mengapa. " sahut ayahnya juga seraya bergegas pergi.
Kemudian Zuu menatap Lee dengan tajam.
" Ada apa?? Kenapa menatap-Ku seperti itu? " tanyanya.
" Pria tidak tahu malu!! " cela-Nya.
Lee bukannya marah karena perkataan Zuu, melainkan ia malah tertawa terbahak-bahak.
" Haha... Haha... Aku juga tidak tahu Zuu apa yang sebenarnya menimpa-Ku. " ujar-Nya mengolok-olok.
" Kepala-Mu terbentur truk sampah sehingga mulut-Mu saat bercakap sangatlah busuk. Ahh dasar pria tidak tahu malu!! " cacatnya.
Lee langsung terdiam dan tertawa kembali.
" Benarkah?? Seperti-Nya kau salah, aku bukan tertimpa truk sampah tapi truk pengangkut jamur fly agaric. Haha... Aku hampir gila karena ini. " ujar-Nya.
" Bukan hampir, tapi kau memang sudah terverifikasi gila. Menjengkelkan!! " cacatnya.
" Hahaha... " gelak sumbingnya berkecil hati.
" Ada apa? Marah?? " olok-olok Zuu.
Lee menarik napas dalam-dalam dan menjulurkan tangannya yang berisi uang.
" Ini. " ujar-Nya.
Zuu yang tidak mengerti pun bertanya-tanya.
" Apa ini?? " tanya Zuu.
" Menurut-Mu memangnya apa lagi yang kau lihat?? Tentu saja ini uang. " sahut Lee kesal hati.
" Aku tahu itu uang, mata ini masih berfungsi. Apa maksud dari uang ini??! " geram Zuu.
" oh aku tahu, biar aku yang menebaknya, kau menyuruh-nyuruh aku kembali bukan? " celotehnya.
" Tidak, apa maksud-Mu? Aku memberikan ini untuk uang jajan-Mu. " sahut-Nya.
Seketika Zuu tercengang akan ucapannya.
" Benarkah?? Ini untuk bekal-Ku? " tanya Zuu terheran-heran.
" Tentu saja, kau masih tanggung jawab-Ku. Ahh aku selalu saja lupa untuk memberikan ini pada awal waktu. Bebal dasar haha... " cacatnya sendiri.
Zuu langsung merasa malu sendiri juga gagu.
" Tanggung jawab?? Apakah memang aku ini tanggung jawab dia?? Kenapa?? Aku tidak tahu sama sekali, aku merasa bodoh sekali juga tidak enak hati jika menolak-Nya. " gunyam Zuu menunduk juga kebingungan.
" baiklah. " ujar-Nya sembari mengambil uang dengan besar hati.
Zuu pun meninggalkan Lee dengan berjalan cepat.
" Eh kau mau kemana?? " tanya Lee berteriak.
" Pergi makan. " sahut Zuu juga berteriak.
" Tunggu, aku juga akan ikut. " teriaknya kembali.
" Kenapa tidak pulang saja? " tanya Zuu.
" Aku akan pulang setelah makan. " sahutnya.
" Terserah, tapi berjanjilah! Jika urusan-Mu sudah selesai di sini segera pergi. " peringatan-Nya.
" Ya baiklah. " jawab-Nya.
Mereka berdua memutuskan makan bersama di kantin, Lee bertanya.
" ingin makan apa?? " tanya Lee.
" Aku lapar, jadi pesan nasi goreng saja itu pasti bisa membuatku kenyang. " sahutnya.
" Benar?? Apa hanya ingin nasi goreng saja? " olok-olok.
" Iya cepat!! " sahutnya agak kesal.
Lee pun beranjak berdiri dan pergi menuju Ibu kantin untuk memesan. Sekian lama menunggu pesanannya datang.
" Ini nasi goreng, mie ayam, nasi padang, sate, ayam pedas, baso..., " ujar pelayan mengoceh makanan.
Zuu tercengang-cengang seketika setelah melihat makanan yang begitu banyak di atas meja, dan bertanya-tanya.
" I...ini untuk apa?? " kejut-Nya.
" Pertanyaan konyol apa itu?? Tentu saja ini untuk di makan, ahh kau ini. " sahutnya seraya mengambil makanan.
" Kau memesan banyak makanan lagi?? " tanya Zuu kembali.
" Jika kau tidak mau, aku yang akan memakannya tenang saja. " sahut Lee kembali.
" Ahh dasar kau ini memang pemboros. " cela-Nya.
" Hey hey, bukankah kau seharusnya girang karena akhir-akhir ini aku menyediakan banyak makanan? Ini untuk-Mu juga Zuu?? " tersinggung Lee bertanya-tanya.
" Akhir-akhir ini juga pekerjaanmu itu seret, lalu jika uangmu habis bagaimana kedepannya?? Kau menyuruh-Ku untuk menjadi kuli panggul lagi?? " tegur ajarnya menyindir juga sembari makan.
Lee langsung tertawa.
" Haha... Tentu saja tidak, kau bisa mengandalkan-Ku, selama masih hidup pekerjaan apapun itu pasti ada, ditambah dengan aku yang begitu berpengalaman, sulit untuk diragukan bagi mereka. " sahut-Nya angkuh.
" Benarkah?? Lalu sekarang kau menetap kerja dimana?? " olok-olok-Nya.
Sontak Lee terdiam, dan memalingkan wajahnya seketika sembari makan bakso.
" ahh pria aneh. " cacatnya juga makan.
" tunggu, apa aku katakan sekarang saja yah persoalan Amerta itu?? " gunyam-Nya sambil menatap tajam Lee.
Lee yang merasa risi pun terganggu dengan tatapan Zuu, dan menegurnya.
" Hey!! Berhenti menatap-Ku! Kau membuat-Ku jijik. " tegur ajarnya.
Zuu akhirnya pun memutuskan menghentikan makannya untuk mulai bercakap-cakap dengan cara berdeham terlebih dahulu.
" Ehemm... Jadi begini, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu. " ujar-Nya.
Lee pun sontak ikut terhenti juga makannya dan bertanya-tanya penasaran.
" Bertanya?? Apa itu? "
Zuu tergagu-gagu untuk berbicara karena takutnya dengan jawaban Lee.
" Bagaimana jika Kak Lee mengizinkan dia?? Ahh tapi..., " gunyam-Nya terhenti.
" Ada apa cepat katakan!! " menggesa-gesakan.
" Euu... Jadi..., salah satu teman-Ku mengatakan bahwa, ia ingin menginap bersama-Ku di rumahmu. " ujar-Nya.
Lee langsung terkejut dan timbul juga rasa ingin tahu.
" Hah?? Oh, memangnya siapa rekanmu itu? Perempuan atau laki-laki? " tanyanya.
" Perempuan, dia adalah Amerta. " sigal sahut Zuu.
Jawaban dari Zuu sangatlah membuat Lee tertegun seketika, tangannya juga ikut bergemetar.
" jadi bagaimana?? Kau memperbolehkannya tinggal atau tidak? Hanya 1 pekan. Katakan saja. " ujar Zuu menggesa juga sedikit gelisah.
" Hah!? Euu... Me...memangnya karena sebab apa dia ingin menginap di rumah-Ku?? " tergagap-gagap.
Zuu yang dari tadi merasa penasaran dengan jawaban Lee pun kesal hati.
" Aaarrggh... Kau ini!! Katakan saja iya atau tidak! Kenapa malah menanyakan alasannya segala!!? Apa pentingnya itu? " geram Zuu.
" Hey wajar saja aku bertanya begitu, sesiapa pun pasti mempunyai alasan untuk bertindak. " tangkisnya.
" Bagaimana mungkin aku mengatakan alasannya apa. " gunyam-Nya.
Zuu pun langsung menghentikan niat meminta keterangan dari Lee.
" sudah-sudah, lupakan saja. Itu tidak penting. " ujar Zuu seraya makan kembali.
" Ahh dasar kau ini!! Jika akhirnya begitu sebaiknya tidak usah mengatakannya dari awal. " kesalnya juga sembari memasukkan makanan.
Tiba-tiba boing!! Bakso yang berada di dalam mulut Lee mengambul ke wajahnya Zuu, itu disebabkan karena tiba-tiba saja Amerta datang sembari menepak pundak Lee sehingga terkejut. Sontak Zuu marah dan berteriak di hadapannya.
" Lee su!!! " lantangnya.