
Arun dan Amerta saling menatap satu sama lain dengan terheran-heran. Zuu sigap menyuruh mereka segera habiskan makanan-Nya untuk mengalihkan perhatian.
" akh... Sudahlah. Yang terpenting pertanyaan kalian sudah kami klarifikasi bukan, berarti jelas sekali jawabannya. " elak Zuu.
Alhasil Arun dan Amerta terpaku, meski rasa penasarannya mencekam mereka. Makanan pun akhirnya terhabiskan juga. Saat rekan-rekan Zuu juga Lee hendak membereskan meja makan ditahan olehnya.
" eh, tidak! Aku yang akan membersihkan semuanya. " selang Zuu.
Amerta yang merasa tak terima ujaran dari Zuu pun membelot.
" Bagaimana kami hanya membuat Zuu kesulitan saja. " tangkis Amerta.
" lagi pula makanan-Nya sudah dibuatkan dengan susah payah olehmu, kami akan membantu, berantakan-Nya meja ini sebab ulah kami juga, jadi sewajarnya. "
" benar kan Arun?? " tanya Amerta.
Melihat wajah dari Arun menampakkan seperti orang tengah kelinglungan.
" benar kan Arun?! " tegasnya kembali.
Ia menjawab tapi membelot dari yang dikatakan Amerta.
" Benar, kami seorang tamu sudah layaknya dimanjakan. " ujarnya sembari merangkul lengan Amerta dan menariknya pergi.
" Eh, eh, eh, bukan itu yang aku maksudkan Arun! Arun!! " meronta-ronta.
Lee yang melihat pun merasa ada yang aneh dengan sikap teman Zuu yang satu ini.
" Kenapa perilakunya pedas sekali Zuu?? " herannya.
" hey Zuu!! Apa dia memang selalu bersikap seperti itu? "
" Akhir-akhir ini aku sudah mengetahui watak sebenarnya Arun, tindakan apapun yang ia lakukan sudah sewajarnya, dia adalah ketua OSIS di sekolah. Meski terkadang terlihat menyeramkan juga bengis, tapi dia juga pandai bersikap manis. " sahutnya sambil membenahi meja makan.
" Hah! Benarkah? Bukankah saat ini ketua OSIS di sekolah itu Ara? Bagaimana bisa kau mengatakan Arun adalah... " ucap Lee di selang.
" Benar, sekarang di angkat oleh Ketua Ara untuk menggantikan posisi-Nya. " ujar Zuu.
" Kenapa?? Apa dia melakukan kesalahan?? " kira Lee.
" Dia mengundurkan diri, karena waktunya tidak bisa terus dihabiskan di sekolah, itu sebabnya orang tuanya ketua Ara di perintahkan untuk mundur. " jawabnya kembali.
" Akh... Sayang sekali, padahal aku merasa lebih nyaman dengan dia, Ara juga sangat baik, bijaksana, cekatan, juga dapat di percaya. Sifat yang paling aku sukai dalam dirinya itu ialah, dia selalu bertingkah ramah kepada siapapun. Sikap yang jarang sekali dilakukan oleh orang lain. " sanjung-Nya dengan kecewa.
Entah kenapa ucapan yang dikeluarkan Lee sontak saja agak membuat suasana hatinya gerah.
" Tahu dari mana Kakak bahwa ia mempunyai semua sifat itu? " heran Zuu.
" He, he Zuu, perlu kau kerahui juga bahwa sejujurnya saja, ketua OSIS yang terdahulu itu mengetahui hubungan khusus kita. " olok-olok tersengih.
" Apa?!! " kejutnya.
" Haha... Tentu. Waktu itu aku pernah menitipkan sesuatu kepada-Nya untuk diberikan padamu, tapi celaka! aku sempat mengatakan dengan gaya seperti ini. ISTRIKU ADA DI DALAM? tegas bergas sekali ia terkejut. Pada awalnya aku mampu mengalihkan perhatian Ara, tetapi aku yang kurang mengetahui dia itu seperti apa, wah layak sekali jabatan ketua OSIS diberikan kepada Ara aku mulai mengetahuinya. Tidak aku kira ternyata kecerdasan dalam membuka sebuah masalah sangatlah mudah bagi seorang Ara, dia menguji aku untuk mengeluarkan hal sejujurnya dengan cara pergi seperti tak mengacuhkan keberadaannya aku disana. Karena aku begitu membutuhkan seseorang untuk memberikan barang itu padamu, aku memanggilnya dan meminta tolong kepada Ara. Dan disinilah dia bermulai, UNTUK SIAPA AKU HARUS MEMBERIKAN BENDA INI? tanya dia, dengan terpaksa hati, aku pun memberitahu-Nya. Dia pun langsung menangkap perkataan-Ku tadi dan menyatukan-Nya, OH JADI ZUU SUDAH MEMPUNYAI SEORANG SUAMI. Dia langsung mengira dengan kebenarannya. Tapi beruntung-Nya menjadi seorang Ara, ia berbaik hati sekali merahasiakan hubungan kita yang sebenarnya. " cerita Lee.
Ocehan dari Lee sungguh membuat Zuu merasa kantuk.
" Iya aku mengerti, aku mengerti. Satu hal saja yang ingin aku tanyakan, apa itu juga bisa dikatakan cerdas? " celanya.
" Hey tentu saja, kau saja yang tidak mengetahuinya. Tindakan-Nya sehingga mampu membuat aku mengatakan dengan sejujurnya. " ujar Lee.
" Benarkah? Tapi entah kenapa di benak kepala itu hanya kau-Nya saja yang memliki mulut bocor. " sindir Zuu menguap.
" Hah? Apa?? " syok.
" Akh... Sudahlah, aku mengantuk dan aku harus sesegera-Nya membersihkan ini semua. " kata Zuu.
Lee yang tiba-tiba saja merasa tak tega melihat kondisi Zuu pun berniat membantu tapi, Zuu menahannya juga.
" Eh!! Kau mau apa? "
" Tidak-tidak, sebaiknya Kakak temani saja teman-teman Zuu di depan, setidaknya ajak mengobrol sembari mengemil atau tidak lakukan hal yang positif. " suruhnya.
" Ini malam Zuu, kau menyuruh mereka untuk melakukan apa? Waktu saat ini selayaknya digunakan untuk beristirahat. " tangkis Lee.
" Yasudah, jika memang benar begitu... Tentunya mereka belum mengetahui dimana tempat tidur-Nya bukan? " ujarnya kembali.
Seketika Lee teringat dengan ucapan Zuu tadi.
" Oh iya benar! Apa maksud dari perkataan-Mu tadi tentang pertaruhan hah?? Kau menyuruh mereka untuk tidur di ruangan-Ku nantinya?? " kira Lee.
" Euu... Jika tidak di tempat-Mu lalu mereka harus tidur dimana?? " tanya Zuu kembali.
" Kalian kan bisa tidur bersama. " saran Lee mengeluh.
" Kau ini punya otak atau tidak? Jangankan untuk tidur bertiga, aku yang tidur sendiri saja sudah terdesak-desak! Mudah sekali kau menyarankan begitu! Itu sofa!! Bukan ranjang berisi kasur besar... " tegasnya.
" Lalu aku tidur dimana?? " kesalnya berkeluh kesah.
" Aku juga tidak tahu. " sahutnya sedih.
Lee yang melihat tampak dari wajah Zuu yang berbicara sembari berkaca-kaca alhasil entah kenapa Zuu malah mengeluarkan air mata. Lee pun menegaskan.
" Hey! Kenapa kau malah menangis hah??! " dongkolnya mengeluh.
" Aku kebingungan. Sejujurnya saja aku juga tidak ingin menyulitkanmu Kak, pemikiran kita sama. Yasudah bagaimana jika kau tidur di tempat-Ku saja? " saran Zuu mengusap air mata.
Lee yang mendengar ucapan dari Zuu merasa tak terkira dalam pemikiran-Nya.
" Ahk... Tidak-tidak! Itu rancangan yang buruk, malam ini aku akan tidur di luar saja. " sahutnya seraya berlari pergi.
Zuu yang merasa keheranan pun bertanya.
" Maksudnya kau tidur di luar dimana?? Menginap di rumah temankah?? " teriak Zuu.
Tidak sahutan, karena Lee sudah pergi keluar pintu.
" akh!! Dia ini bagaimana?? " kesalnya.
Zuu pun melanjutkan membersihkan meja makan. Di tengah mencuci piring tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.
" Zuu! " serunya.
Saat menoleh ke belakang ternyata itu adalah Arun yang memanggilnya sembari berjalan menuju menghampiri Zuu.
" Oh Arun, ada apa? " kejutnya.
" Apa Kak Lee mempunyai sebuah mobil? " celetuknya.
Seketika Zuu merasa ganjil dengan pertanyaan yang di lemparkan Arun kepada-Nya.
" Hah? Euu... Tidak. Memangnya kenapa?? " tanya Zuu.
" Kau yakin? " tekannya.
" Euu... Sebelumnya Kak Lee sempat juga memiliki kendaraan itu, tetapi seseorang mengambil-Nya secara paksa. Lalu? " sahut Zuu linglung.
" Oh... Mmm mobil seperti apa itu?? " tanya Arun kembali.
" Euu... Aku minta maaf, tapi sejujurnya saja aku kurang mengetahui jenis-jenis mobil itu seperti apa, tapi aku bisa memberitahu sedikit padamu, warnanya adalah hitam gelap sekali mungkin, oh ya! Yang aku ingat juga benda itu memiliki kumis di bagian depannya. " sahutnya.
" Oh benarkah?? " kata Arun.
" Benar, lalu ada apa? " tanya Zuu.
" Ini sangat aneh, mengapa masalahnya sulit untuk dipecahkan. " gunyam Arun.