Blue Love

Blue Love
Perisak



Zuu benar-benar merasa tercengang bengang dengan perlakuan juga sifatnya saat ini.


" Wah, sepertinya dia bersungguh-sungguh dalam menyayangi Kak Lee, aku sangat takjub dengan keberaniannya. " gunyamnya.


Lama bertengkar, tiba-tiba.


" Blam!... " suara pintu dipukul dengan keras.


Sontak semua pun terdiam juga hening, dan sigap menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Arun.


" Apa yang sedang kalian lakukan? " ucap pelan.



Para perisak menjadi gagu karena kedatangan Arun disana.


" Euuu... Itu, " tergagap-gagap.


" Apa yang sedang kau lakukan hah!? " bentaknya.


" mencoba untuk perundungan kepada orang lain? " tanya Arun mengolok-olok.


" Bukan begitu... " elaknya.


" Diam!! Di saat keadaan sudah aman kalian bisa sesuka hati mengganggu ketentraman hidup orang lain? Tidak beradab!! " bentaknya kembali.


Arun memanggil para pengaman kelas.


" Jodi, Akbar, Harry bawa mereka dan segera hadapkan ke Guru cepat! " suruhnya sembari menulis.


Lekas mereka melaksanakan perintah-Nya. Amerta yang merasa sudah payah sekali pun bisa bernapas lega dan menghampiri Arun.


" Untung kau segera datang Run, ak..., eh apa ini?? " kejutnya.


Tiba-tiba, ketika Amerta melihat buku yang ditulis Arun sontak terkejut-kejut karena ia juga malah menulis nama Zuu di kertas itu.


" kenapa Arun juga menulis Zuu disini? Hey dia yang menjadi korban perisakan bukan si perisak. " belanya.


" Tetap saja dia bersalah hanya melihatmu bukan ikut membantu, ayo cepat kau akan menjadi saksi disana. " ujarnya sembari menarik tangan Amerta.


Seketika Zuu linglung sendiri, dan merasa bertanya-tanya.


" Apakah aku juga bersalah? " gunyamnya tercengang.


Saat Zuu ingin melangkahkan untuk ikut menyusul dengan mereka tiba-tiba saja, kakinya sulit di gerakkan seperti tersangkut menginjak lem super lekat. Ia pun melihat ke bawah, sontak Zuu membeliak karena kejutnya sekali melihat sebuah tangan yang terdapat di sela-sela nya itu ada belatung juga berlumuran darah, ditambah dengan bau yang begitu busuk, Zuu sigap meronta-ronta melepaskan diri, saking terlalu kuatnya Zuu menarik kakinya sehingga pas dilepaskan malah berbenturan dengan tembok.


" Bruk... " kerasnya tabrakan.


Aw... Aw... Aaaaaaah!!... " rintihnya.


Sigap berlari terbirit-birit dengan ketakutan.


" Tap...Tap... " berlari.


Tiba-tiba,


" Bruk... " menabrak.


Karena terlalu paniknya Zuu sehingga tidak melihat sekelilingnya, ia malah menabrak keras 2 orang siswa yang tengah membawa kardus besar, ulama dari Zuu membuat mereka terjatuh sehingga dus itupun ikut terjatuh.


" Gedebum!.... "


Dan kardus mengeluarkan bunyi saat terjatuh.


" Crack!... "


" Aaarrggh... Aw... Aw... Aaaaaaah!!... " rintih kesakitan mereka.


Sontak Zuu terkejut sigap membantu mereka dengan meminta maaf.


" Oh tidak, aku sungguh tidak sengaja, ahh tidak bagaimana ini? " gelisah resah.


Mereka berdua pun lekas berdiri dengan berpeluh juga kesakitan.


" Aaarrggh... Wah!!! " kejutnya.


Seketika saja mereka terkejut karena melihat diri Zuu yang dipenuhi cairan hitam juga berantakan, wajah Zuu bercucuran darah di bagian jidatnya.


" aaa...a..da apa apa dengan-Mu?? Apa yang sudah terjadi?? " tercengang.


" Euu... Ini, seseorang telah merisak-Ku. " kalu lidah menjelaskan.


" Apa??! Bagaimana bisa itu terjadi? Siapa yang berani melakukannya? Kamu Zuu dari kelas 11 yang populer paras kecantikan-Nya itu bukan? " terkejut-kejut.


" Kenapa mereka... " ucapnya terhenti.


Tiba-tiba saja salah satu guru di sekolah datang menghampiri mereka, kejadian itu pun menjadi pusat perhatian guru tersebut.


" Ada apa ini?? Kalian tidak apa-apa? " tanyanya khwatir.


" Tidak bu, kami baik-baik saja. " sahut mereka berdua.


" Ini siapa?? Kenapa dia berlumuran kotor begini??? Ini juga kenapa bisa berdarah? " kejutnya.


" hey apa yang telah terjadi dengan kamu? " tanya guru itu panik kebingungan.


Tidak ada sahutan dari mereka bertiga. Lama berdiam, Guru itu teralih perhatian-Nya ke kardus yang terjatuh tadi dan bertanya.


" apa ini? "


Kedua siswa itu pun tergaguk-gaguk menjelaskan, keruan sekali ia murka karena tindakan ceroboh muridnya itu.


" apa!! Bagaimana bisa kalian sembrono dalam melaksanakan tugas? Lalu sekarang bagaimana? Di jam pelajaran kimia peralatan laboratorium ini hancur semua! " merentan hati.


Salah satu dari mereka pun mengatakan bahwa kejadian itu yang salah adalah Zuu, begitupun mereka juga memberitahu perisakan yang sudah menimpa Zuu. Guru tersebut terkejut-kejut matanya juga terjegil dalam seketika.


" Apa!! " kejutnya.


Zuu berusaha menyelang dan memberitahu.


" Euu... Ibu tenang saja, para pengganggu sudah diatasi oleh ketua OSIS juga dibantu para pengaman lainnya. " tutur kata Zuu.


" Akh... Kenapa masih saja ada peristiwa seperti ini, Zuu kamu ikut Ibu sekarang agar bisa mempermudah juga mempercepat masalah ini. " suruhnya.


" akh... Keliaran masih dipungut oleh manusia. " dongkol guru itu sembari berjalan.


" Lalu kami harus kemana bu? " tanya 2 siswa tadi.


Seketika Guru terhenti dan menoleh ke belakang.


" Kemana memang-Nya harus kalian berada sekarang? " tanyanya gusar.


" Apakah para Guru masih dalam keadaan rapat? Siswa yang lainnya diperbolehkan pulang? Pasti masalah ini membutuhkan waktu yang lama. " tanya mereka dengan polos.


" Situasi seperti ini apa kalian masih sempat memikirkan untuk pulang cepat!? Kembalikan ke kelas, dan ambil itu juga segera. " perintahnya dengan kesal hati.


" Kami minta maaf. " ujarnya.


Mereka dengan gesit berlari juga mengambil kardus tadi.


" Aaarrggh... Ternyata masih ada saja murid yang seperti itu, ayo cepat Zuu. " gesanya.


" Baik bu. " sahutnya.


Setelah semuanya terselesaikan. Meski Zuu menjadi korban perisakan, tapi ia tetap di hukum selama 3 hari tidak diperbolehkan masuk ke sekolah bukan hanya itu, ia juga ditimpa denda karena lamban tidak segera melaporkan malah ikut melawan begitupun juga Amerta. Sedangkan para perundung itu sudah dikeluarkan dari sekolah. Saat Zuu tengah berjalan menuju kelasnya tiba-tiba Amerta datang dengan menepak bahunya dan mengatakan.


" Hey Zuu. Kau merasakan keganjilan tidak akan sikap Arun akhir-akhir ini? " tegang.


" Oh Amerta. Mmm... Maksudnya? " kebingungan.


" Tentu saja dia yang sekarang ini benar-benar aneh, kau tidak melihat cara ia memojokkan dirimu tadi? Bukankah setidaknya beri saja kemudahan, kita kan berteman? " kesalnya.


" Mmm... Aku merasa biasa saja, ya mungkin itu sudah menjadi peraturan di sekolah ini, jika dia bertingkah begitu bukankah berarti dia benar-benar baik dalam melaksanakan tugasnya? Aku bahkan kagum dengan ketegasan-Nya. " sahutnya.


" Benarkah kau mengatakan begitu? Apa kau tidak mengamati sikapnya Zuu? " tanyanya keheranan.


" Ahh, kau ini terlalu menghayati setiap perlakuan seseorang. " ejeknya.


Mereka berdua saling berbicara seraya berjalan.


" Ahh terserahlah. Oh ya Zuu, aku lupa memberitahu padamu bahwa, Kak Lee sudah diperbolehkan kembali bekerja. " tutur katanya girang.


" Hah?! Benarkah? Tapi... Ba...ga.. " tergagap-gagap dengan terkejut.


Amerta yang merasa kebingungan karena tingkahnya Zuu, ia seharusnya senang malah terlihat panik seperti orang tak setuju jika Kak Lee bekerja kembali bersama Amerta.


" Kau kenapa? Hey seharusnya itu bagus bukan? " terheran-heran.


" A... Euu... Ah, tentu saja aku ikut bahagia, a...aku hanya bertanya-tanya kenapa ayah Amerta bisa semudah itu menerima orang kembali, begitu. " tergaguk-gaguk.


" Aku sudah mengatakan-Nya tadi pagi, saat memohon izin aku sungguh-sungguh mengalami kesulitan tapi semuanya dapat teratasi. Hehe... " sahutnya.


" Mmm... Ah... Sangat bagus sekali. " gelak sumbing.


" Aku sudah tidak sabar ingin segera tinggal bersama Kak Lee hihi... " geregetnya.