
Arun dan Amerta pun sigap menutup mata mereka karena sebab ketakutan.
" Aduh!! Ada apa ini?! Kenapa berisik sekali!!? " gerutu Zuu.
Saat Zuu membuka mata dan melihat di depan-Nya, sontak ia juga ikut terkejut.
" Aaaah!! " kejutnya.
" kak Lee su? " herannya.
Setelah mendengar ucapan dari Zuu, mereka membuka tutupan matanya dan melihat.
" aa..apa yang terjadi dengan-Mu?? " bingungnya.
" Itu sungguh Kak Lee?? " syok Amerta bertanya.
Yang lebih mengejutkan bagi mereka ialah melihat gandengan tangan dari Lee kepada Zuu, kemudian ia sigap melepaskan genggaman Lee itu.
" Kak Lee, dari mana Kakak mendapatkan wajah itu? Dan kenapa, bagaimana bisa? " tanya Arun.
Lee tergaguk-gaguk menjelaskan.
" Euu... Zuu jatuh sakit, itu sebabnya aku melek semalaman. " sahutnya lemas.
Seketika Zuu terkejut.
" Hah? Benarkah?? Aku merasa baik-baik saja? " belotnya.
" Bukankah aku sudah mengatakan-Nya, bahwa semalaman kau dijaga oleh aku. " tangkis Lee.
" Tunggu Kak, jika memang benarnya begitu... Lalu, apa alasan Kakak memegang tangan Zuu? " selip Arun.
" Hah?? Aku akan menjawab dengan sejujurnya. Entah apa yang terjadi Zuu di sepanjang waktu tangannya terus bergemetar tak keruan, mungkin... Rasa ketakutan dalam dirinya masih menyerang pikiran Zuu, aku mencoba mencari tahu cara untuk menghilangkan rasa takutnya itu, aku berpikir bahwa menggenggam tangannya akan meringankan gemetaran itu, dan ternyata perkiraannya memang benar ada dalam sebuah artikel. Alhasil juga ia malah jatuh sakit. Berbuahlah wajah-Ku ini. " sahutnya.
Seketika mereka semua tercengang-cengang dengan perkataan Lee.
" Wah... Benarkah Kakak melakukan itu semua?? Aku sangat iri tetapi juga bangga. " sanjungnya.
" hey Zuu!! Wah... Kau benar-benar beruntung mempunyai seorang saudara seperti Kak Lee, aku hampir cemburu karena kedekatan kalian. " olok-oloknya terpukau.
" Benarkah itu?? " ucap Zuu.
Arun menyelang pembicaraan.
" Sebelumnya aku sungguh mengucapkan terima kasih telah menyambut dan menerima kami tinggal disini dengan hangat, tapi aku bersungguh-sungguh akan menyesali setelah mengatakan ini, aku harus segera pulang ke rumah untuk bersiap pergi ke sekolah nanti, orang di rumah-Ku juga sepertinya sudah menunggu. Aku pamit pergi. " tutur katanya.
" Baiklah, senang sekali mendapatkan tamu seperti kalian. " sahutnya Zuu.
Arun pun pergi keluar rumah, tak lama kemudian Amerta merubah pikiran-Nya memutuskan untuk ikut juga pergi keluar.
" Euuu... Kak, Zuu, sepertinya aku pulang sekarang saja yah. Terima kasih atas sikap hangatnya aku pamit pergi, sampai nanti. " ujar Amerta sigap berlari.
Zuu berusaha menahannya tetapi ia sudah terlanjur keluar.
" Eh Amerta tunggu! Lalu pakaian-Mu bagaimana?? " teriaknya.
" ahh dia ini yang benar saja, banyak membawa barang-barang seakan-akan ia akan tinggal selamanya! Lalu bagaimana sekarang?? Apa aku harus membuangnya! " gerutunya bertanya.
Tidak ada sahutan dari Lee, karena merasa heran Zuu menoleh.
" sekarang bagai... " terhenti.
Tidak di sangka Lee malah tergeblak tertidur di sofa tersebut. Zuu mencoba menyadarkannya.
" hey Kak! Aku sedang kebingungan! Lalu mau kita apakan semua pakaian milik Amerta?? " tanyanya sembari menggoyang-goyangkan bahunya, Lee pun menyahut dengan keadaan tertutup mata.
" Hah?? Yasudah biarkan saja, nanti dia juga akan mengambil-Nya kembali jika itu berharga baginya. "
Melihat dari sorotan Lee itu membuat-Nya merenung akan apa yang diucapankan tadi oleh Lee tersendiri.
" Apa benar semalam benar-benar terjadi sesuatu dengan aku? " gumamnya.
Zuu menawarkan dirinya kepada Lee.
" Tidak usah, memangnya apa yang telah terjadi dengan kondisia-Ku hah?? Ini semua akan baik-baik saja, dengan tidur beberapa waktu aku akan kembali pulih seperti biasanya. Jangan bolos di sekolah itu jika kau tidak mau menerima resiko-Nya kembali. " tegur ajar Lee.
" Baiklah, itu semua terserah pada dirimu. " sahutnya langsung pergi.
Zuu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah-Nya, setelah selesai kemudian Zuu berangkat pergi. Tetapi sebelumnya ia sempat berbincang sejenang kepada Lee dengan mengatakan,
" aku akan pergi sekarang. " ucapnya.
Zuu pun duduk di sofa bersebelahan dengan Lee.
" euu... Jadi begini Kak, hari ini sepertinya aku akan pulang larut. Kau menyetujuinya atau tidak? " tanya Zuu.
" Itu sangat bagus. " sahutnya lesu.
Pasti sekali Zuu sangat keheranan juga penasaran kenapa Lee malah berkata begitu.
" Hah!? Maksudnya?? Kau sungguh menginginkan aku untuk pergi menjauh dari sini?? " kiranya.
Lee masih bisa menjawab pertanyaan dari Zuu.
" Kemungkinan besar para pesuruh itu datang kembali ke rumah ini. " sahutnya.
Zuu pun langsung terkejut dan tersadar.
" Ahh kau benar! Mereka akan datang malam ini?? Lalu dengan Amerta? Jika dia mengetahuinya bagaimana?? " panik.
Lee masih menyahut pertanyaan dari Zuu masih sama dengan keadaan sebelumnya.
" Kenapa harus gelisah resah begitu? Hari ini temui dia dan beralasanlah dengan masuk logika agar kepercayaannya dia akan ucapan-Mu kuat. "
" Euu... baiklah. " ujarnya bimbang.
Perbincangannya telah usai, saat Zuu hendak beranjak pergi ia ditahan oleh Lee.
" Tunggu dulu Zuu! Memangnya nanti malam ada acara apa kau berniat pulang larut. " tanya Lee.
Ia bertanya bukannya dijawab Zuu malah bertanya balik.
" Euu... Katakan sebenarnya, kau akan memulai berkerja kembali bersama Amerta kapan? " tergagap-gagap.
" Hah?? Oh persoalan itu? Aku masih belum sempat memikirkannya dalam-dalam, butuh waktu lama untuk memutuskan kembali lagi dengan-Nya. " sahutnya.
" Euu... Sejujurnya, malam ini aku akan pergi untuk bekerja paruh waktu. " jawabnya.
Seketika Lee matanya Lee membeliak karena terkejut-Nya dengan perkataan Zuu.
" Apa?? Bekerja paruh waktu!? Hey jangan bercanda!? " kejutnya.
Lee malah mengira ucapan Zuu itu hanya mengolok-olok Lee. Tetapi, Zuu menjelaskan dan meyakinkan kepada Lee.
" Aku bersungguh-sungguh, alasannya aku bertindak begini karena harus sesegera-Nya melunasi hutang di sekolah, jika tidak tepat pada waktunya pendidikan-Ku yang akan menjadi taruhannya. " jawab Zuu kembali.
" Tunggu! Apa maksudnya?? " kebingungan juga resah.
" Aku tertimpa masalah sehingga harus di denda oleh pihak sekolah. Tapi kau tidak perlu khawatirkan tentang hal itu, aku hanya perlu bekerja selama beberapa waktu agar bisa membayar semuanya itu. " ujarnya.
Apa yang sudah Zuu katakan sontak saja sangat membuat Lee merasa tidak nyaman hati juga gelisah, tapi ia juga berasa bingung dengan apa yang harus dilakukan oleh-Nya di dalam situasi ini. Lee terdiam termenung. Zuu bertanya kembali untuk mengalihkan pembicaraan.
" aku ingin mengetahui, jika nanti malam kau akan pergi ke tempat mana untuk bersembunyi dari gerombolan penjaga itu?? "
Lee tersadar dan menjawab dengan rusuh hati.
" Oh... hal itu? Oh... euu... " gagu.
" euu... aku akan pergi ke suatu tempat yang sangatlah tidak mungkin di datangi oleh mereka semua. " sahutnya.
" Kuburan kah? " tanyanya.
Lee langsung teralih pikiran-Nya karena sangkaan dari Zuu.
" Apa?? " terbeliak.