
Seketika Lee pun tertegun.
" aaarrggh...! Aku membenci ini!! " kesalnya sembari menghapus air mata dan berdiri.
Kemudian, Zuu melihat tajam mata Lee seketika juga ia teringat akan ucapan penceramah tadi malam.
" Selalulah hormati suami kalian jangan pernah sesekali membentaknya. Jika dulu sebelum kalian menikah maka kita diharuskan menghormati dan menyayangi seorang ibu karena surga dan keridhoan Tuhan ada padanya, tetapi jika manusia yang sudah menikah maka beralih surga seorang wanita ada di dalam suaminya. Meski sang ibu mendesak anaknya untuk datang berkunjung ke rumahnya tetapi jika seorang suami tidak mengizinkan maka haramlah hukumnya, pepohonan, langit, bumi apalagi Tuhan sangatlah melaknat bagi si wanita yang membangkang suaminya, setinggi itulah derajat seorang suami bagi istrinya. " tegas penceramah dalam ingatan Zuu.
Ia pun beralih pikiran mengingat ucapan yang dikatakan Amerta.
" Asap tidak akan muncul jika tidak ada api. " bermenung tepekur.
Zuu pun ikut terdiam dan berusaha mengadem. Ia angkat bicara secara lembut.
" Apa Kakak marah? " tanyanya.
Sigap mata Lee terbeliak karena kejutnya pertanyaan Zuu.
" Lupakan saja. " tak acuhnya sembari berputar badan.
Zuu yang merasa jengkel pun bertanya-tanya dengan tegas agar Lee menjelaskannya dan juga bisa dimengerti diperbaiki oleh Zuu.
" Kenapa tindakan-Mu seperti itu, kamu hanya perlu menjawab dan menjelaskan-Nya secara terus terang bukan?? Katakan saja!! Katakan saja. " tekan Zuu.
" Berhenti, aku minta maaf dan sekarang kau boleh beristirahat. " tegasnya sambil berjalan pergi.
Zuu yang tak menerima sorotan dari Lee pun tetap teguh menekan Lee mengejarnya.
" Pecundang memang tidak sepantasnya hidup. " sindirnya.
Seketika Lee terhenti berjalan dan langsung menoleh ke belakang berhadapan dengan Zuu.
" Kembali tidur saja sana. " suruhnya lembut.
" Katakan. " sahut Zuu.
Kesa Lee pun keluar.
" Aaarrggh...!! Kenapa kau amat menjengkelkan? Aku tidak bisa mengatakannya, sudah lupakan saja. "
" Sesulit itukah untuk mengutarakan kebenarannya, jika memang aku mempunyai salah tolong katakan agar aku bisa memperbaiki-Nya!! Aku sungguh membenci sikapmu yang sekarang Lee su!! Cepat... " gerutu Zuu terhenti.
" Berhentilah untuk terus menerima ciuman dari orang lain!! Aaarrggh... Bagaimana mungkin aku mengatakan ini padamu. Tapi jika memang benar kau bersungguh-sungguh ingin mengetahuinya, itulah jawabannya. " celetuk Lee.
Zuu terpaku akan syoknya sahutan dari Lee.
" sudah aku katakan lupakan saja. " ujarnya kembali seraya berbalik badan.
Saat hendak pergi, tiba-tiba Zuu berkata.
" Apa kau benar-benar marah karena hal itu?? " selangnya.
Lee hanya diam membelakangi Zuu, ia pun mengerti maksud dari ucapan Lee.
" hey katakan. " besar hati dengan mengolok-olok.
" kau ini memang pecundang, jika mereka bisa melakukan itu lalu kenapa kau tidak? " sindir Zuu.
Sontak Lee langsung memutarkan kembali badannya karena terkejut, dan tanpa di duga Zuu sudah berada di belakang-Nya, sekarang ia pun berhadapan dengan Zuu sangat dekat.
" mereka bisa melakukannya lalu kenapa kau tidak bisa?? " olok-olok Zuu.
Seketika Lee tertegun bergetar tak keruan, Zuu memejamkan matanya sambil berkata.
" jika itu bisa meredakan ataupun menghilangkan kekesalan-Mu, maka lakukan saja sama seperti apa yang mereka lakukan kepada-Ku. " ganggu Zuu.
Lee langsung memalingkan mukanya, dan malah duduk di kursi. Zuu membuka matanya dan ikut menghampiri Lee.
" Entah kenapa dengan aku, padahal ini adalah hal yang wajar saja kau diperlakukan seperti itu oleh mereka. Aku hampir gila hanya karena perkara sepele, bahkan aku hampir saja membunuhmu secara perlahan. " mengutarakan mendongakkan kepala.
Zuu mengamati penjelasan dari Lee.
" mungkin kau juga bisa mengetahuinya aku bersikap begini, itu karena sudah lama sekali kita bersama dan sangatlah dekat hubungan kita seakan-akan seperti seorang..., yah mungkin adik kakak. Euu... Entah kenapa rasanya aku merasa ketakutan jika kau terlalu dekat dengan pria asing ataupun orang lain. Kau juga tahu bukan kalo aku tidak memiliki siapapun lagi, mungkin aku terlalu terobsesi sehingga berbuat begini padamu. " ucapnya.
" huh, tapi apapun alasannya... Aku tidak ingin menjadi seperti itu lagi, mengerikan. Zuu aku akan..., " ujar Lee terhenti.
Tiba-tiba saat mengatakan tadi seraya menoleh ke arah Zuu, mendabak Cup!... Tanpa di duga ia mencium bibir Lee sambil memejamkan matanya. Jelas saja Lee tertegun, matanya terbeliak juga berkeringat dingin, begitu pun tangan Lee yang ikut bergetar tak keruan, apalagi jantung Lee yang berdetak begitu kencang karena terkejut-kejut akan tindakannya.
" Dak, dig, dug... " Lee tercengang bengang.
Kemudian Zuu melepaskan ciumannya dengan tersenyum dan mengatakan.
" Itu sebagai jaminannya bahwa kakak tidak akan berbuat hal gila kembali, jika memang ada kesalahan dalam diriku, segera beritahu. " peringatan Zuu.
Lee masih terpaku amat tak mempercayai dengan yang terjadi baru saja. Zuu pun mengalihkan pembicaraan.
" oh ya, perlu diketahui juga, di setiap atau dimana pun melihat aku berciuman dengan pria, sebenarnya mereka bukan tengah menciumku, kami hanya mencoba menenangkan diri. Apa yang dimaksud pria itu adalah Faiz? Berapa kali kau pernah melihat-Nya? " tanya Zuu.
Seketika Lee pun teralihkan perhatian-Nya.
" Memang-Nya berapa kali kau pernah mmelakukan hal cemar itu" ejek Lee.
" Aku tidak melakukan itu, sudah aku katakan kami hanya menenangkan diri. " tegas Zuu.
" Menenangkan diri?? " kebingungan.
" Mereka mendekatkan wajah dengan wajah lagi dan saling memejamkan mata. Biasanya dilakukan saat sedang mengalami frustasi atau kelelahan, sebenarnya sedikit konyol sih tapi yah entahlah, aku hanya ikut saja selama itu tidak buruk. Mereka juga tidak berbuat macam-macam. " menjelaskan.
" Lalu siapa pria yang terakhir melakukannya denganmu itu. " tanya Lee kembali.
" Oh, aku akan memberitahunya padamu, dia adalah Kak Leon guru menari aku terdahulu di sekolah mawar biru, tapi entah apa yang membuat ia bisa kembali kemari? Bahkan sekarang ia menjadi pelatih di sekolah-Ku. Mungkin dia hanya ingin membagikan keahliannya selama liburan. Dia juga mengatakan, sangat sayang jika menyia-nyiakan kelebihan dalam dirinya. " sahut Zuu kembali.
" Pandangan-Ku melihat kalian amat dekat. " tanya Lee kembali.
Seketika Zuu tersipu malu.
" Benarkah?? Haha... Sepertinya memang begitu, sejujurnya saja... Aku sangat mengidolakan banyak sekali penggemar dikalangan remaja wanita waktu itu. Aku juga tidak menyangka bisa makan bersama dengan Kak Leon. " geregetnya.
" Oh begitu? Selalu berhati-hatilah Zuu. " nasihat Lee.
" Baiklah Kakak aku mengerti. " tersenyum riang.
Sigal Lee mengalihkan topik pembicaraan.
" Euu... Boleh aku bertanya..., " kaku lidah.
" Apa itu?? " sahut Zuu.
" Euu... Jika mereka tidak pernah menciummu, apakah berarti tadi itu adalah ciuman pertama-Mu? " tanya Lee canggung.
Sontak Zuu terjegil dan menjawab pertanyaan Lee juga dengan tergagap-gagap.
" Euu... Tidak. Kakak adalah ciuman ke dua-Ku " sahutnya dengan tidak enak hati.
" Oh benarkah? Lalu siapa orang pertama yang pernah menciummu?? " tanya Lee kecewa.