
" Apa?? Mmm... Aku hanya ingin mengabadikan momen ini saja. Sudah. " sahut Arunika sambil makan.
Zuu hanya mengangguk-angguk dengan perlahan juga tercengang dengan sifat-Nya Arunika, perilakunya teringat dengan teman-temannya Zuu yang terdahulu, tidak lain adalah Min-ah dan Megan. Ia termenung selintas dengan keadaan mereka sekarang. Setelah perayaan selesai Zuu juga yang lainnya pun beranjak pergi untuk pulang ke Rumah mereka masing-masing. Sedangkan, Arunika mengajak Zuu untuk pulang bersama tapi, saat mereka ingin membuka pintu mobil-Nya tiba-tiba, telepon Arun berdering dan langsung diangkat oleh-Nya. Di tengah menelpon Arun sontak marah dan geram sekali kepada orang yang ditelpon-Nya.
" Hey b***k!! Sudah aku katakan tenang saja, apa kau ini tidak punya akal sehat?! Bagaimana mungkin aku meninggalkan dia sendiri disini, jangan membuat-Ku melakukan hal konyol mengerti!! " bentak Arun kepada orang yang menelpon.
Setelah mengatakan itu, Arun dengan sigap karena kesal-Nya dia menutup telpon. Zuu yang mendengar sedikit obrolan Arun dengan orang itu, merasa tidak nyaman dengan kondisi-Nya saat ini, Arun pun menghampiri Zuu dan membuka pintu Mobil, tetapi Zuu merubah pikiran untuk tidak jadi ikut dengan Arun.
" ada apa? Ayo cepat masuk. " ajak Arun dengan kebingungan.
" Eee... Aku tak akan ikut dengan-Mu, kau bisa pulang lebih dulu. " sahut Zuu dengan tersengih.
Arun pun terheran-heran dengan perkataan yang dikeluarkan oleh Zuu dan bertanya kembali.
" Kenapa? Apa ada masalah?? " tanya Arun.
Zuu terdiam, seketika Arun tersadar.
" oh... Apa kau mendengar saat aku teleponan tadi? Uh... Tak usah hiraukan semua itu, sekarang ayo cepat kita pergi ini sudah malam, mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri disini. Eeuh... Mereka hanya menyuruh-Ku sesegera-Nya pulang tapi, sebelum itu aku ingin mengantar-Mu terlebih dahulu, jadi tak usah khawatir soal itu ayo... " gesa-Nya.
" Benarkah? " tanya Zuu.
" Benar. Ayo cepat " gesa Arun kembali.
Zuu pun masuk ke dalam dan mereka mulai berjalan. Di tengah perjalanan, Zuu meminta untuk diturunkan.
" Tunggu. " ujar Zuu.
Arun pun berhenti dan kebingungan, ia bertanya kembali.
" Apa lagi masalah-Nya? " geram Arun.
" Aku turun disini saja. Terima kasih untuk tumpangan-Nya Arun " ujar-Nya kembali dengan tersenyum seraya membuka pintu mobil.
" Ee..., tunggu. Apa maksud-Mu? Rumah-Mu dimana?? " tanya Arun kembali dengan kebingungan.
" Rumah-Ku dari sini lebih baik dari jauh yang tadi, tidak perlu khawatir, aku mengetahui jalan-Nya di wilayah ini, jadi cepatlah pulang. " ujar Zuu seraya menepak-nepak bahu Arun.
Ia yang tak menerima keputusan Zuu pun berbicara.
" Kau ini bagaimana! Aku ini berniat untuk mengantarkan-Mu ke Rumah, bukan..., " keluh-Nya.
" Aku tahu, tapi sebaiknya cepat kembali... Jika diantar sampai sana, kau akan memutar arah dengan perjalanan yang panjang. " Zuu menyelang.
Arun pun terdiam dan menghela nafas.
" Sebelumnya aku sungguh berterima kasih padamu Zuu, maafkan juga, aku belum benar-benar bisa menjadi teman yang baik untuk-Mu " ujar Arun dengan susah hati.
" Tidak-tidak, kau teman yang sangat baik Arun. Sungguh, justru ini sedikit aneh euh... Maksud-Ku, kita benar-benar bisa menjadi teman yang dekat dengan waktu yang singkat. Aku tak menyangka bisa menjadi lebih dekat dengan-Mu juga yang lainnya. Terima kasih. " sahut Zuu dengan tersengeh.
Arun pun ikut tersenyum malu, ia menarik nafas dalam-dalam dan langsung memeluk Zuu sejenak dengan mengatakan.
" Aku juga sangat berterima kasih, karena kehadiran-Mu sekarang bisa menggantikan seseorang yang hilang selama ini. " ujar Arun dengan tersenyum.
Arun pun langsung naik kembali ke dalam Mobil untuk pulang lebih dulu. Meski, perkataan Arun sedikit mengganjal Zuu tapi, ia pun tak memenungkan-Nya. Di tengah berjalan kaki Zuu merasa lelah, ia berjongkok sejenak kemudian menengadahkan kepalanya ke depan, ia pun terkejut karena melihat Lee yang tengah berjalan membelakangi-Nya. Zuu pun berteriak.
" Kak Lee su!!... Kak Lee su! " lantangnya seraya beranjak berdiri dan menghampiri Lee.
Saat berlari mengejar-Nya, Zuu terhenti teringat bahwa Lee sedang marah kepada Zuu.
Ia pun berbalik arah dan berjalan membelakangi Lee, tiba-tiba Suara panggilan terdengar.
" Zuu... Hey Zuu! " teriak-Nya.
Ia melihat kembali ke arah Lee, dan dikejutkan lagi oleh-Nya karena Lee sedang melihat ke arah Zuu. Mereka saling melihat dari kejauhan Zuu terdiam. Lee berteriak memanggil Zuu.
" Hey Zuu! Kenapa diam disana? Cepat kemari " teriak-Nya.
Zuu yang mendengar pun terkejut dan tersengeh malu. Ia berlari menghampiri Lee.
" Hai. " sapa Zuu dengan terengah-engah juga tersengeh.
Lee menatap Zuu dengan terheran-heran dan bertanya.
" Sekarang apa lagi yang dilakukan oleh-Nya? " tanya Lee dengan risi.
" Hah?? " Zuu kebingungan.
" Kenapa terkejut seperti itu? Kau ingin kemana lagi? Kenapa memutar arah? Sebenarnya kau ini tahu waktu atau tidak hah? " tanya Lee kembali dengan geram.
" Bukan itu maksud-Ku, aku hanya berpikir bahwa kau itu sedang marah padaku saat ini bukan? Untuk itu aku memutuskan berhenti dan berbalik arah. " ujar Zuu kembali.
Lee pun merangkul bahu Zuu dengan mengatakan.
" Haha... Tadinya aku memang sedang marah sebelum kau menyiapkan sarapan untuk-Ku pagi ini, sering kali lah buatkan aku sarapan seperti itu oke? " ujar Lee dengan tersenyum bahagia.
Zuu yang mendengarkan pun senang dan tertawa.
" Haha... Terima kasih sebelum-Nya, mmm apakah itu lezat? " tanya Zuu dengan bersemangat.
" Tentu saja itu sangat lezat, bagaimana bisa kau membuat-Nya? " tanya Lee dengan tersenyum manis.
" Sebenarnya... Aku membeli sarapan itu untuk-Mu hehe... Aku membeli dengan harga 250 ribu. " sahut Zuu dengan tersengeh.
Sontak itu membuat Lee terkejut dengan ternganga, dan sigap melepas rangkulan-Nya.
" Hah!! Kau membelinya? Bagaimana bisa kau membuang-buang uang hanya dengan sepaket sarapan saja? Apa itu? " tanya Lee dengan murka.
" Kenapa terkejut begitu? Aku membeli itu dengan sangat susah payah kau tahu? Tempat makan mana yang sudah buka diwaktu sepagi itu, diwilayah itu sangat sulit untuk Ku-dapatkan. Mendengar rasanya lezat darimu saja, menurut-Ku itu sudah membayar rasa lelah-Ku membeli sarapan untuk Lee. " ujar Zuu dengan masam wajah.
Lee menghela nafas dan meminta maaf kepada Zuu.
" Huh... Eee... Yasudah maafkan aku. " Lee menundukkan kepala-Nya.
" Jika nanti aku mempunyai niat baik lagi padamu, aku akan membinasakan-Nya, karena menurut-Ku... Itu adalah hal yang menyia-nyiakan saja, kau saja tak menghargai niat-Ku yang sekarang ini. " ancam Zuu dengan memalingkan wajah-Nya.
Lee yang tidak menerima ucapan Zuu menyelang.
" Hey! Bukankah aku sudah meminta maaf? Huh... Maksud-Ku jangan lakukan itu, tolong maafkan aku. " ujar Lee perlahan dengan cemberut.
Zuu yang melihat ekpresi Lee pun merasa geli hati.
" Baiklah, aku akan memafkan-Mu Kak Lee su. " sahut Zuu dengan merangkul lengan Lee.
Jantung Lee berdetak dengan kencang ketika Zuu menggandeng lengan-Nya. Dak, dig, dug... Lee pun bertanya.
" Kita akan kemana? " tanya Lee dengan gugup.