
" Harap bersabar Pak, harap bersabar. " salah satu Guru itu menenangkan Kepala Sekolah dengan mengelus-elus dada.
" Huh... Zuu. Saya memanggi kamu kemari itu, karena ingin mengucapkan banyak-banyak Terima Kasih atas sikap keberanian kamu dan kesetiaannya kepada Sekolah ini, Saya mendapatkan kabar bahwa kamu telah membasmi kuman yang ingin menjatuhkan nama baik Sekolah ini. Dan, Saya sebagai Kepala di Sekolah mengucapkan Terima Kasih sekali " menghela nafas dan tersenyum.
" Oh seperti itu, iya Pak Saya menerima-Nya. " sahut Zuu dengan tersenyum.
" Menerima apa?? " tanya-Nya dengan kebingungan.
" Euh... Menerima kenyataan-Nya. Terima kasih juga Pak. " sahut Zuu.
" Uh... Sudahlah. Tolong ambilkan jas itu. " gesa Kepala Sekolah itu kepada Guru lainnya.
Iapun mengenakan jas itu kepada Zuu.
" Ini hadiah. Terimalah. " ujar Kepala Sekolah.
" Wah... Benarkah ini untukku?? " Zuu tercengang bengang.
" Tentu saja. Kamu akan menjadi contoh tauladan bagi Siswa di Sini. Segeralah kembali ke Kelas kamu. " ujar-Nya kembali.
" Baiklah. Sekali lagi, Saya berterima kasih kepada Bapak dan yang lainnya, atas bimbingan yang luar biasa. " sahut Zuu kembali dengan girang.
Zuu kembali ke Kelas-Nya. Ketika ia masuk Kelas, sontak semua anak-anak memberikan tepukan tangan kepada Zuu dan berseru.
" Huhu... Selamat Zuu, semangat terus... Kami mencintai kamu Zuu. " seru mereka.
" Wah... Aemmm ini sungguh sambutan yang hangat, aku sangat terharu Terima kasih semua-Nya. " sahut Zuu.
Zuu duduk di Kursinya dan Arunika berkata.
" Zuu aku sangat bangga dengan-Mu... Emmm, aku sangat beruntung bisa se-Kursi dengan-Mu. " gereget Arunika dan memeluk Zuu dengan girang.
" Haha... Benarkah?? Terima kasih banyak, kau juga ikut serta membantu-Ku tadi Run, aku tersemangati olehmu. " sahut Zuu kembali.
Bel pulang berbunyi, setiap pulang Sekolah Faiz juga Zuu selalu pergi bersama, dan pulang larut malam. Sekian lamanya berhubungan dengan Faiz Zuu belum pernah merasakan rasa cinta dengan-Nya. Meski Faiz melihat Zuu selalu tertawa girang dan bahagia ketika bersama-Nya tetapi, Zuu begitu karena ia menganggap Faiz itu seorang teman atau sahabat laki-laki yang sangat baik. Sedangkan Lee su, selalu pulang dan berangkat di pagi hari. Faiz mengambil keuntungan dengan ketidak hadirannya Lee. Zuu pulang kembali ke Hotel dengan merasa lelah, sigap ia langsung berbaring diatas Kasur dan berdesah.
" Hah... Makhluk di Muka Bumi ini sangatlah banyak tetapi, kenapa rasanya aku seperti hidup seorang diri. Bahkan aku belum melihat dia lagi sekian lama-Nya tinggal disini, dia itu benar-benar tidak waras, memang-Nya ada orang bekerja selama itu pulang pagi berangkat pagi. Bukankah itu sangat aneh, ah!!! " rintihan-Nya dengan geram.
" sebenarnya, setiap tidur aku selalu mendengar seseorang datang, ahh!! Kenapa aku sangat sulit untuk bangun sepagi itu. Uh... " dongkolnya dengan menghela nafas.
" bahkan aku sudah mengiriminya pesan chat tapi, dia sama sekali tidak melihat-Nya. " teriak-Nya.
Zuu menghela nafas kembali dan menenangkan dirinya, ia memutuskan untuk tidur.
Pagi tiba Zuu sigap bangun dan melihat ke arah Jam, menyedihkan sekali jam itu menunjukkan pukul 04:47 pagi.
" uh... Sudahlah aku berangkat saja. " dongkolnya dengan berdiri.
Zuu pergi mandi dan bergegas pergi ke Sekolah. Ditengah belajar Zuu lengah, Arunika berkata.
" Jika terus begitu, Guru itu tidak akan segan-segan menghukummu Zuu. " tegur-Nya.
" Ah... Maafkan aku. " sahutnya dengan tersadar.
Bel istirahat berbunyi, Zuu dan Arunika pergi bersama menuju Kantin Sekolah. Sambil makan mereka saling berbicara.
" Amerta tidak ikut? " tanya Zuu.
" Dia sibuk dengan teman Pria-Nya. " ujar Arun.
" Apa sekarang dia sudah memiliki pacar?? " tanya Zuu kembali.
" Mm... Mungkin, aku tidak tahu tapi, sepertinya memang begitu. " sahut Arun sambil makan.
" Wah... Aku ikut senang. " Zuu tersenyum.
Tiba-tiba Amerta datang dengan ceria dan bersemangat.
" Halo semuanya. Hari yang sangat indah bukan? Haha... " sapanya sambil duduk.
" Tadinya aku memang ingin begitu tapi, ya begitu haha... " sahut-Nya dengan girang.
Amerta mengeluarkan sebuah bingkisan dan menyodorkan kepada Zuu, jelas sekali itu membuat-Nya tersenyum bahagia.
" Ini hadiah. " Amerta tersengih.
" Wah... Benarkah ini?? Kau sungguh memberikan ini untuk-Ku?? " Zuu tercengang bengang juga terharu.
" Eum...eum... Ini untuk saudara-Mu Kak Lee, tolong berikan ya. " sahut Amerta dengan menggelengkan kepalanya.
" Oh... Oke. Eh tapi, akhir-akhir ini aku sangat jarang bertemu dengan-Nya. Bagaimana cara aku memberikan-Nya?? " ujar Zuu.
" Hah?? Kenapa jarang, bukankah kalian keluarga? " tanya Arun.
" Eum... Memang benar. Tapi, dia itu selalu pulang pagi dan berangkat pagi mungkin, karena pekerjaan-Nya yang padat. " sahut Zuu.
Sontak itu membuat Arun dan Amerta terkekeh.
" Haha... Itu lucu sekali, hey jangan bercanda. Amerta sangat sering berjalan dengan-Nya, apa itu bisa disebut pekerjaan yang padat?? Haha... " cela Arun.
" Haha... Itu benar. Tunggu-tunggu, apa kalian berdua sedang ada masalah sehingga bersikap seperti itu?? " ujar Amerta dengan terkekeh.
Zuu hanya terdiam dan terkejut dengan kebingungan.
" Huh... Yasudah lah aku ambil kembali. Aku tidak ingin melihat kalian bergaduh seperti kucing dan tikus ketika bertemu. " ujar Amerta dengan menghela nafas.
Amerta dan Arun merasa bersalah karena terdiam-Nya Zuu dan langsung meminta maaf.
" Hey aku tidak jadi memerintahkan-Mu Zuu. Jadi, tenang saja. " ujar Amerta kembali.
" Euh... Kami sungguh tidak bermaksud apa-apa Zuu percayalah. Maafkan kami ya jika, perkataan tadi itu menyakiti-Mu. " Arun sigap meminta maaf.
" Eum... Tidak masalah, aku dengan-Nya tidak ada masalah apapun. " sahut Zuu dengan tersenyum.
Mereka berdua pun merasa lega dengan jawaban dari Zuu.
" Tapi, saudara-Mu itu sungguh jahat, uh... Dia telah mengambil teman kami. " desah Arun.
" Maksud-Mu? Kak Lee lagi? Ada apa kau bilang begitu. " Zuu kebingungan sambil makan.
" Benar begitu. Meski kita jadi jarang bersama tapi, jika itu membuat Amerta bahagia kenapa kita harus menghalangi mereka untuk berhubungan. " sahut Arun.
Sontak itu membuat Zuu terkejut dan menyembur wajah Arunika dengan seketika.
" uh... Kau ini!! Apa yang kau lakukan?? " dongkolnya dengan terkejut.
" M...maafkan aku Run, sungguh aku tidak sengaja melakukan-Nya. Maaf " ujar Zuu sambil bergegas mengelap wajah Arun.
" Sudah-sudah... Aku tidak apa-apa. " sahutnya Arun.
Diakhir waktu pelajaran Guru memberikan sebuah tugas lisan, siapa yang hapalannya dengan baik akan dipulangkan. Zuu sigap menghapal dan maju kedepan lebih dulu.
" Saya Pak, saya ingin mencoba-Nya. " ujar Zuu dengan mengacungkan jari tangan-Nya.
Zuu pun mulai melakukan tugasnya dan hapalan sangat baik, dan membuat semua tercengang bengang dengan kecerdasan Zuu. Anak-anak di Kelas-Pun saling membisik.
" Dia itu bukan hanya cantik dan pemberani tapi, dia juga sangat pandai juga gesit bukan? " pujian salah satu temannya Zuu itu.
" Kau benar, kita sangat beruntung mempunyai teman Sekelas seperti dia " sahut teman disamping-Nya.
Ia pun bergegas pulang, niat Zuu sebenarnya itu adalah menghindari pertemuan dengan Faiz. Jadi, dia mengambil jalan yang berbeda dari yang biasa ia lewati untuk pulang, agar tidak ada yang mengganggu-Nya.
Arti dari keluarga itu anak, sanak saudara, adik, kakak, kakek, nenek, suami, dan istri.
......Love you all ❣️❣️......