Blue Love

Blue Love
Murid baru tidak bagi-Ku



Di dalam mobil.


" Kau sangat kejam Kak. " dongkolnya.


" Haha... Ada apa Zuu? " elaknya.


" Masih bertanya. Kau membiarkan aku tidak mandi pagi ini, kenapa aku ini sangat menyedihkan untuk mandi saja kesusahan. " resahnya.


" Hey mandi itu bukan berarti bisa membuat orang bahagia bukan? " ejeknya.


" Diam!! Apa kau ini anak-anak yang tidak tahu perihal mandi, itu sangat penting kau tahu!! " bentaknya.


" Aku sungguh minta maaf. Sudahlah ini hanya soal mandi, aku yakin selepas ini kau akan mandi setiap hari. " belainya.


Zuu melirik sedikit ke Arah Lee.


" Ini sungguhan. Kita akan pindah hari ini. " sahutnya Lee kembali.


" Benarkah, hari ini Kamar sudah mulai mengosong?? Bukankah mereka mengatakan sekitar beberapa hari lagi untuk kita bisa pindah? " terheran-heran.


" Aku tidak tahu, yang terpenting kita ambil isinya saja. " sahutnya.


" Emm... Apapun itu aku sangat bahagia sungguh. Ahhh... " tersenyum.


Lee menyodorkan sekantung cemilan untuk diberikan kepada Zuu.


" Ini untuk-Mu. " belai.


" Uhh... Benarkah ini?? Ah sangat bagus... Terima kasih... " tersenyum lebar.


Zuu membahas perihal nomor telepon kepada Lee.


" Kak. Punya nomor telepon? " tanyanya.


" Tentu saja. Memangnya untuk apa? Oh aku tahu, Kau ingin menyimpan nomor-Ku bukan?? " tertawa.


" Tidak untuk-Ku, aku tidak punya handphone. " sahutnya.


" Oh. Lalu untuk apa? " tanyanya kembali.


" Tolong tulis nomor-Mu di Kertas ini. " perintah-Nya


Lee pun menulisnya.


Sampai di Sekolah. Mereka berdua turun dari Mobil, Zuu berpamitan.


" Baiklah, Terima kasih untuk tumpangannya. Aku berangkat, kau hati-hati di Jalan Kak " ujar Zuu.


" Tentu saja. Belajar yang giat " tegasnya.


" Oke. " sahutnya.


" Dia sangat cantik, aku tak tahu hatiku berdetak kencang begini melihat senyumnya, untuk karena itu aku menyekolahkan dia ke Tempat yang tepat. Sekolah ini melarang para murid dengan muridnya berpacaran, itu membuat-Ku tenang. Sebenarnya aku sangat takut jika dia bersekolah kembali. " gumamnya.


Saat Zuu berbalik badan, melangkahkan kakinya dan terhenti. Karena mendengar panggilan dari arah Belakang.


" Kakak. " panggilnya.


Ternyata itu adalah Amerta yang memanggil sambil


berlari menuju arah Lee.


" Halo Kak, Zuu. " sapanya.


" Hai... " sapa kembali.


" Ada apa, lari-larian begitu? " tanya Zuu.


" Euh itu..., " sahutnya.


Amerta mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


" Kak ini, gelangmu tertinggal di Rumah-Ku. " tersenyum.


" Oh. " ternganga.


Zuu seketika terkejut.


" Hah?? " kebingungan.


Lee pun langsung sigap menjelaskan dengan tergesa-gesa.


" Tunggu, Zuu jangan salah paham dulu, benar semalam aku datang kemari untuk menjemput-Mu tapi, di Sekolah ini tidak ada siapa-siapa dan, Amerta mengatakan semuanya sudah pulang. Terus juga, aku melihat kakinya cedera jadi aku menawarkannya untuk pulang bersama. Dan Ibunya menawarkan makan malam bersama begitu. " panik.


" Oh yasudah. " sahutnya.


Zuu langsung merangkul lengan Amerta.


" Yasudah mari, berangkat bersama. " tersenyum lebar.


" Oh. Tentu saja mari. " sahutnya.


Mereka berdua pun berjalan bersama menuju Sekolah. Itu membuat Lee sangat terkejut.


" Hah?? " terkejut.


Di Dalam Kelas Zuu menghampiri Kursi Amerta dan memberikan nomor telepon Lee.


" Terima ini. Aku mendapatkannya. " ujarnya.


Amerta langsung gugup dan malu.


" Euh... Aku sudah mendapatkannya semalam langsung dari saudara-Mu. " tersengeh.


" Oh jadi, kau sudah memintanya? " terkejut.


Amerta mengangguk. Zuu langsung kembali ke Kursinya, Arun bertanya.


" Ada apa Zuu? " tanyanya.


" Dia meminta nomor telepon laki-laki. " bisiknya.


" Wah benarkah?? Tapi, bukan siswa disini?? " tanyanya kembali.


" Tidak. " sahutnya.


" Aku sangat bahagia jika benar begitu, semoga saja lancar dan berjalan baik. " tersenyum.


Bel berbunyi. Guru Kelas pun datang, disini semua terpukau melihat murid baru yang tiba di Kelasnya.


" Wah dia sangat tampan, tubuhnya juga tinggi dan sehat. Ini sangat bagus. " tercengang bengang.


" TIDAK MUNGKIN!! Faiz??? " terkejut.


" Apa kau mengenalnya? " tanya Arun.


" Laki-laki itu, Dia teman Sekolah-Ku di Mawar Biru Run. " terkejut.


" Benarkah?? Ah ini aneh. ke..., " keheranan.


Guru pun menyelang pembicaraan mereka.


" Sttt... Bisa perhatikan dengan baik?? " tegurnya.


" Maafkan kami Pak. " menunduk.


Jam istirahat tiba, dan Iz' langsung menghampiri Zuu.


" Zuu. " sapanya.


" Oh hai. Aku tidak menyangka Kau akan pindah kemari " tersenyum.


" Benarkah? Berarti ini hadiah dari-Ku Zuu. surprise. " cengar-cengir.


" Haha... Ini hadiah yang buruk, jika makanan sebagai hadiahnya itulah yang terbaik. " tertawa.


" Eh... Aku juga membawakan-Mu makanan, tunggu sebentar. " selangnya.


Iz' kembali ke Kursinya untuk mengambil makanan yang dibawa Dalam tasnya.


" Ini untuk-Mu. " tersenyum.


Arun pun mencolek-colek bahunya Faiz.


" Kau sama sekali tidak memberi-Ku apa-apa? " ujarnya.


" Ahaha... Maafkan aku, mungkin aku hanya ingat untuk memberikan ini kepada teman-Ku saja. Lain kali akan Ku-bawakan juga untuk-Mu. " tersenyum.


" Euh... Apapun itu Terima kasih untuk ini. " sahut Zuu.


" Sama-sama Zuu. " tersenyum lebar.


Zuu merasa kebingungan , kenapa Iz' sikapnya biasa-biasa saja.


" Ah mungkin dia juga mengetahui bahwa, di Sekolah ini pacaran dilarang. " gumamnya.


Faiz menjaga jarak dengan Zuu seharian di Sekolah karena aturan berlaku. Tapi, meski begitu Iz' tetap mencari kesempatan untuk bisa berpegangan tangan dengan-Nya. Semua siswa kerja bakti bersama di Lingkungan Sekolah. Saat Zuu merasa keresahan Iz' datang dan berada disisi Zuu, dan disitulah Zuu mengambil kesempatan untuk bisa memegang tangannya. Disana juga siswa yang lainnya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


" Ini sangat meresahkan bukan. " tersenyum.


" Euh... Iya. " gugup.


" Kamu tidak keberatan jika, aku begini. " bisik Iz'.


" Tidak. Lakukan saja. " sahutnya.


Bel pulang pun berbunyi.


" Aku pulang lebih dulu ya Run, Mer. Sampai nanti. " ujarnya.


Berjalan menuju Gerbang Sekolah.


" Ini. " ujar Iz'.


Tiba-tiba Iz' menyodorkan sebuah bingkisan untuk diberikan kepadanya.


" Mmm... Apa maksud-Mu? " kebingungan.


" Hadiah. " tersenyum.


" Wah. Terima kasih banyak, apa di Dalam-Nya ada..., " bersemangat.


Menyelang.


" Ambil saja. Aku akan pergi sekarang. Sampai nanti " sigapnya.


" Wah... Ini sangat bagus. Dia itu benar-benar Laki-laki yang memperhatikan seorang Perempuan. Uh... Sangat berbeda dengan Lee Su. " tersenyum bahagia.


Toot... Tiba-tiba suara klakson Mobil berbunyi.


Lee melambaikan tangannya.


" Cepat!! " teriaknya.


Zuu sigap berlari ke Seberang Jalan, dan masuk ke Dalam Mobil.


" Halo. " sapanya.


" Hai. Bagaimana bersekolah-Nya, berjalan baik?? " belainya.


" Terlebih sangat baik. " semangatnya.


Zuu langsung membuka bingkisan yang diberi oleh Faiz tadi. Dan Zuu terkejut melihat hadiah itu, yang ternyata adalah sebuah handphone.


" Wah... Ini sangat bagus. Ah... " teriaknya.


Lee yang penasaran bertanya.


" Apa itu?? "


" Tidak ada. " sigapnya.


" Owh... "


Tiba Di Hotel. Lee langsung pergi mandi dan Zuu melihat-lihat telepon genggam baru-Nya dengan cengengesan karena saking bahagia-Nya.


" Wah... Ini sulit dipercaya. Aemm sangat bagus, aku menyukainya. " gembira.


Zuu terkejut saat melihat kontak telepon yang ternyata disitu sudah ada nomor-Nya Faiz.


" Oh... Jadi, dia menyimpan nomor-Nya lebih dulu. " gumamnya.


Ditengah bermain, Lee melihat ke Arah Zuu yang tengah sibuk sendiri. karena rasa penasaran Lee menghampiri, ternyata eh ternyata Zuu sedang sibuk memainkan telepon-Nya, Lee yang demikian terkejut.


" Ternyata Zuu sudah mempunyai telepon, Ku-kira belum. " gumamnya.


Lee pun berjalan dan membuang telepon yang tadinya untuk diberikan kepada Zuu.


...Lihat terus dan harus penasaran dengan episode selanjutnya. 👀➡...


......Baca terus Kakak❣️......


......LOve You So Much ❤🍭......