
Pada akhirnya pun Zuu melaksanakan apa yang diinginkan Lee dengan terus berdesah. Hingga selesai pada titik akhir Zuu pun meletakkan masakan-Nya itu di atas meja, dengan mengatakan.
" lama sekali aku menunggu, tiba juga pada momen penghabisan. Aku berharap kau menikmatinya!! Huh... " desah-Nya dengan geram.
Ia mengambil kembali alat-alat pembersih itu, dan melanjutkan pekerjaan-Nya. Lama waktu berjalan, tiba juga hal yang dinanti-nanti oleh Zuu, ia berhasil menyelesaikan pembersihan di Rumah itu.
" huh... Ternyata seperti ini rasanya bekerja keras. Melelahkan tapi aku merasa senang dengan hasilnya, aaahhh... Ruangan ini sangat bersih juga wangi... Aku merasa dunia-Ku kembali hidup!! " pukau-Nya dengan terus menghirup aroma Ruangan.
Setelah menyelesaikan itu, Zuu pergi mandi dan bersiap-siap untuk berangkat keluar. Saat ia membuka pintu tiba-tiba,
" Hey Zuu!!! " lantang Lee.
Lee berteriak dengan amat kencang sehingga Zuu terkejut dan menoleh ke arah-Nya.
" Ada apa lagi dengan pria sebal itu!!? Kenapa dia harus berteriak? Membuat suasana panas saja. " gumam Zuu dengan geram.
Zuu menarik napas dalam-dalam dan Lee berjalan menghampiri Zuu dengan membawa sebuah mangkuk di tangan-Nya. Zuu kebingungan, ia merasa tidak asing dengan benda yang berada di tangan Lee itu.
" bukankah? ... Itu adalah tempat yang aku siapkan untuk meletakkan masakan-Ku untuk Lee tadi, kenapa?? " gumam Zuu dengan terheran-heran.
Wajah Lee benar-benar murka sekali, rasanya Lee terlihat seperti ingin melahap Zuu dengan sadis. Lee pun berteriak-teriak dengan mengatakan.
" Hey Zuu! Apa yang kau lakukan hah!!? " bentak-Nya.
" Sekarang apa lagi maksud-Mu?? Kau ini benar-benar manusia yang tidak mengenal tata krama? Memanggil-Ku saja harus dengan berteriak, lalu dimana rasa berterima kasih-Mu itu?? Aku sudah sangat baik melakukan yang diperintahkan oleh-Mu. " sahut Zuu dengan keluh.
" Apakah ini bisa disebut melakukan yang terbaik?? " tanya Lee dengan geram.
Lee seraya langsung memperlihatkan makanan yang dibuatkan oleh Zuu tadi, dan kondisi-Nya sangatlah kacau. Jelas sekali Zuu merasa kebingungan kenapa makanannya bisa seperti itu.
" Hah? Apa ini?? Kenapa masakan-Ku menjadi hancur seperti ini?? " ujar-Nya terjegil.
" Kenapa kau terkejut hah?! Ini semua salah-Mu!! " bentak Lee kembali dengan menunjuk-nunjuk.
Zuu lebih terkejut saat Lee menyalahkan-Nya.
" Apa?? Tunggu, kenapa aku yang disalahkan?? " tanya Zuu dengan kebingungan.
" Hey, siapa yang menyuruh-Mu untuk membiarkan makanan itu tergeletak di meja? Kenapa kau tidak memberikannya langsung padaku?!! " ujar Lee kembali.
" kau ini memanglah pantas dijuluki wanita i****!! Sangat payah sekali! Melakukan hal itu saja apakah sulit?? " cela Lee dengan melotot.
Zuu ternganga dengan cacatan dari Lee, ia mengangkatkan tangannya dan serasa ingin memukul wajahnya Lee, saat ditengah niat Zuu berhenti dan berusaha menenangkan hati, ia pun memutuskan untuk pergi dengan mengatakan.
" Huh... Aku harap kau menikmati makanan-Nya, aku akan segera kembali nanti. " ujar-Nya seraya membuka pintu.
Lee menahan dan bertanya.
" Eh, tunggu-tunggu. Kau mau kemana sekarang hah? Ternyata kau ini bukan hanya dijuluki wanita i**** tapi juga wanita s***** " cela Lee kembali dengan tersenyum jahat.
Zuu langsung melihat ke arah Lee dan menatap-Nya. Lee mengatakan kembali.
" ada apa? Itulah kenyataan-Nya, kau lari ditengah kesalahan, dimana rasa tanggung jawab-Mu? " tanya Lee kembali.
Zuu pun mengatakan.
" Aku akan keluar untuk menemui Faiz, sampai berjumpa nanti kembali di Rumah. " ujar-Nya seraya menutup pintu.
" Tidak perlu kembali, mengerti!! Aku tidak membutuhkan-Mu, tidak ada gunanya kau disini!! Itu adalah tindakan yang bagus!! Pergilah!! Jangan kembali lagi mengerti!! " lantang-Nya dengan kesal.
Lee berusaha mengatur kembali amarah-Nya dengan terus berdesah. Saat Lee ingin masuk kembali ke dalam Rumah seketika ia teringat sesuatu.
" tunggu, Zuu ingin menemui Faiz? Dimana mereka akan bertemu? Dan bagaimana jika Zuu diketahui oleh orang-orang itu kembali?? Ah tidak!! Ini tindakan bodoh!! Bagaimana bisa dia melakukan itu!!? " gundah-Nya.
Lee pun memutuskan untuk mengikuti Zuu dengan menutupi wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya. Saat ia hendak berangkat ia bergumam sejenak.
" sekaligus aku akan mencari tahu, apa pria semalam itu Faiz atau bukan. " gumam-Nya dengan menggunakan masker. Zuu menemui Faiz di sebuah tempat makan. Sebelum tibanya menemui Faiz ia mengeluarkan napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa amarahnya terhadap Lee, Kemudian Zuu menemui Faiz.
" Hai sampai juga akhirnya. " ujar Faiz.
" Apakah kamu menunggu lama?? " tanya Zuu.
" Hm... Lumayan, tapi jika menunggu seseorang yang disukai tentu saja rasanya menyenangkan. " sahut Faiz dengan tersenyum riang.
" Benarkah?? Hahaha... Baiklah jika begitu, seharusnya aku tiba besok saja. " canda gurau-Nya.
" Baiklah, aku akan tetap menunggu sampai ketibaan dirimu hahaha... " sahut Faiz kembali dengan bergurau.
Mereka terlihat sangat menikmati suasana hari disana dengan senang hati.
" Huh... Aku merasa seperti hidup kembali. " Zuu menghela napas karena lega.
" Aku sangat senang melihat-Mu seperti ini. " ujar Faiz dengan tersenyum.
Zuu tersenyum kembali dengan tertawa kecil. Saat Faiz melihat ke arah tangan Zuu ia melihat sedikit ada luka memerah, Faiz sontak bertanya kepada Zuu.
" Apa yang telah terjadi dengan-Mu?? " tanya Faiz seraya memegang tangan Zuu.
Seketika suasana hati Zuu langsung berubah menjadi panas kembali dan sigap menyahut dengan semangat.
" Oh ini, kau tahu pria menyebalkan itu?? Yah Lee, karenanya aku seperti ini. " celetuk Zuu.
Jelas sekali Faiz terkejut dan bertanya-tanya.
" Apa yang telah dilakukan oleh-Nya?? Apa dia melakukan kekerasan dalam kehidupan-Mu??? " tanya Faiz dengan kejut
" Bisa dikatakan seperti itu. " sahut-Nya kembali.
Faiz semakin terperanjat dengan jawaban dari Zuu. Sangat sulit dipercaya bagi-Nya. Wajah Faiz seketika berubah menjadi kesal dan marah.
" Kenapa kau tidak melaporkan-Nya saja. Aku sudah menduganya, pada akhirnya pasti dia akan melakukan hal yang diluar pikiran kita. " geram Faiz.
Zuu malah semakin memanaskan situasi dengan terus mengeluarkan aib Lee.
" Benar, kenapa aku tidak melaporkan-Nya saja atas tindakan Lee yang menjijikan itu, argghhh !! Kau tahu, seharian aku membersihkan Rumah sebesar Kastel. Rasanya aku ingin mati saja di waktu itu, belum ia memerintahkan aku hal yang lainnya. Huh... " desah Zuu.
Faiz sedikit ganjal dengan cerita-Nya Zuu, ia benar-benar tidak menyangka Lee melakukan itu.
" Sulit dipercaya, bukankah dia sangat membela juga memperhatikan-Mu, pemikiran-Ku ini sangat jauh dari sikapnya selama ini. " ujar Faiz kembali dengan kebingungan.
seketika Zuu juga termangu.