
Lee sangat terkejut dengan tanggapan Zuu.
" Aku tidak berbohong, ibu-Mu sungguh memberikannya untuk Zuu. " ujar Lee.
" Benarkah?? Oh tentu baiklah, jika memang dia benar-benar memberikannya, satu hal yang ingin aku tanyakan, karena sebab apa dia melakukan itu?? " tanya Zuu seraya menatap tajam Lee juga tersedu-sedu.
" Karena sayang. " sigap sahutnya.
" Sayang?? Sayang? Hahaha... buang saja, itu sama sekali tidak berguna. " elak Zuu kesal hati.
Sangat tegas sekali Lee marah akan ucapannya. Ia benar-benar tidak menduga Zuu dengan mudah mengatakan benda itu sampah, tanggapan Zuu benar-benar sulit dipercaya olehnya, sehingga Lee tidak sengaja mengatakan sesuatu hal terjadi pada-Nya diwaktu membawa cincin itu. Wajah Lee sungguh dipenuhi kemarahan, ia merasa usahanya sia-sia bahkan, hingga mati-matian menjaga teguh cincin itu hanya untuk diberikan padanya, ia juga sangat berharap dianggap lebih dimata Zuu.
" Aaarrggh... Benarkah kau anggap ini sampah hah!? Apa kau tahu?? Aku hampir mati karena benda ini!! Oh bukan hanya itu, mobil-Ku juga dirampas oleh si penjahat berengsek itu! Apa kau sama sekali tidak bertanya-tanya dan sedikit saja merasa ganjil dengan keadaan-Ku yang sekarang? Aaarrggh...!! " murka Lee membentak-bentak.
Karena bentakan dari Lee yang begitu lantang sehingga membuat Zuu menangis kembali, Lee menarik napas dalam-dalam untuk mengademkan diri dan berujar kembali.
" setidaknya sedikit saja hargai pemberian dari orang lain, bahkan ini adalah orang terdekat-Mu sendiri. Dengar, ini hanya sebuah kesalah pahaman, buka mata-Mu. Aku mengerti, aku mengerti perasaan-Mu selama ini, posisi yang kau alami saat ini dan sebelumnya juga pernah terjadi dalam kehidupan orang lain, tapi mereka tidak menyerah meski terkadang situasi akan terus membuat mereka goyah, mereka memang terjatuh disaat ombak itu menerjang, tapi yang menghidupkan mereka bangkit kembali adalah keyakinan juga usaha. Aku sangat percaya sekali kau bisa memperbaiki semua kekeliruan ini. Kau benar-benar gadis kuat, sungguh. " nasehat-Nya dengan menggenang air dimata.
" huh... Kau tetap ingin membuangnya?? " tanya Lee, lembut.
Zuu merubah pikiran-Nya dan mengulurkan tangan ke hadapan Lee dengan wajah dipenuhi air mata yang terus mengalir. Ia pun memberikannya dengan menatap kegelisahan terhadap Zuu. Seiring dipakai-Nya cincin itu oleh Zuu, Lee sembari mengatakan.
" cincin itu adalah perhiasan pertama yang disukai ibu-Mu. " ujar-Nya tersenyum.
Lee dibuat termangu-mangu kembali karena-Nya, ia terdiam sejenak lalu mengatakan dengan rusuh hati.
" dan juga... Sejujurnya, cincin itu memang diniatkan untuk diberikan padamu, tapi ketika takdir berbeda dari harapan, ibu-Mu membuang-Nya keluar dengan sangat jauh, kemudian aku memungut cincin itu agar bisa diberikan padamu. " Lee menjelaskan.
Ia dibuat kesal juga kebingungan kembali akan ekpresi ditunjukkan oleh Zuu yang terus menerus mengeluarkan air mata.
" aaarrggh... Apa kau bisa berhenti melakukan itu?? Aku benar-benar sebal sekali melihat-Nya. " dongkol Lee.
Zuu tidak menyahut ujaran Lee, dan itu malah semakin membuat-Nya dipenuhi kegundahan, ia terus berusaha agar Zuu berbicara tapi tetap saja tidak berhasil. Lee yang mulai kebingungan juga gelisah harus berbuat apa lagi, tiba-tiba Zuu mendekati Lee secara perlahan dan ternyata eh ternyata Zuu malah memeluk Lee dengan lembut,
seraya mengatakan.
" Terima kasih Kak. " ujar-Nya keluar air mata.
Lee yang demikian sangat dibuat gagu akan tingkahnya Zuu, dan jantungnya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Dak, dig, dug...
" Ahh... Kenapa dia malah memeluk-Ku begini? Ini bagaimana? Jantung-Ku akan lepas dibuat-Nya. " gumam Lee panik juga resah. Esok pagi pun tiba dan Zuu bersiap untuk berangkat ke Sekolah kembali. Ketika Zuu ingin membukakan pintu tiba-tiba terdengar suara panggilan.
" Zuu, hey Zuu!!! " serunya.
Sontak Zuu menoleh ke belakang dan ternyata Lee sedang melambai-lambai seraya memanggilnya. Zuu pun sigap menghampiri.
" Oh, ada apa Kak? " sahut Zuu.
" Kau ini ingin kemana? Bagaimana bisa berangkat sekolah tanpa mengisi perut terlebih dahulu hah? " ujar Lee olok-olok.
Saat Zuu melihat ke atas meja makan, ia benar-benar di gagukan dengan banyaknya menu makanan.
" A...apa kau sungguh melakukan semua ini? Tunggu, apa kau membelinya? " Zuu tercengang bengang.
" Tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? " gumam Zuu kebingungan.
" apapun itu, kelihatan-Nya ini sangat lezat, sudah lama juga aku tak makan seperti ini hahaha... " ujar-Nya dengan senang hati juga sembari duduk.
Lahapnya mereka berdua menyantap makanan itu. Ternyata dugaan Zuu memang benar, sepertinya Lee terlalu berlebih-lebih sehingga makanan itu pun tidak kuat lagi di makan oleh-Nya begitu pun juga Lee.
" aku berhenti, ini... Huh... Huh... Bisa saja membunuh-Ku. " ujar Zuu mengap-mengap.
Lee yang tidak menerima ucapan-Nya sigap berkata.
" Apa maksud-Mu, aku sudah sangat lelah membuatkan ini untukmu, apa ini balasannya hah? Kau menyia-nyiakan waktu dan tenaga-Ku, huh... Hah... " tangkis Lee juga mengap-mengap.
" Ini benar kau berniat membuatkan untuk-Ku apa untuk siluman hah? Setidaknya ketika memasak gunakan logika-Mu, apa kau tidak berpikir dan melihat? Memasak tidak kira-kira. Huh... Hah... Aduh perutku, apa kau berpikir aku mengidam penyakit polyphagia " ujar Zuu kembali.
" Bukankah memang setiap saatnya kau selalu merasa lapar? " tanya Lee.
" Tidak, rasa lapar itu datang secara tiba-tiba. " elak Zuu.
" ahh sudahlah, aku akan berangkat sekarang. " ujar-Nya sembari beranjak pergi.
Di tengah berjalan menuju pintu Zuu menggetu sejenak.
" ahh perutku rasanya seperti akan meledak, ahh bagaimana cara aku berjalan menuju sekolah. "
Lee merasa sedih juga kecewa karena tidak bisa mengantar Zuu ke sekolah kembali.
" Ahh, kenapa bisa dia sangat cepat mengambil mobil itu, padahal aku masih membutuhkannya. " gunyam-Nya kesal hati.
Seketika Lee tersadar sesuatu, dan mengejar Zuu.
" zuu Zuu!! " serunya berlari membuka pintu.
Zuu untung masih tidak jauh dari depan Rumah pun mendengar panggilan dari Lee dan menoleh ke arahnya. Lee berlari cepat menghampiri Zuu.
" tunggu, jangan pergi dahulu. " terengah-engah.
Ia yang kebingungan pun bertanya-tanya.
" Ada apa? Kenapa kau bertingkah seperti itu? " tanya Zuu.
" Jangan bertindak ceroboh kau itu masih buronan orang-orang. " tegas Lee.
Zuu yang mendengar pun terkejut dan tidak mengerti akan ucapannya.
" Apa maksud-Mu?? Hey, memang-Nya kesalahan apa yang aku perbuat sehingga menjadi buronan orang-orang. Hey Kak aku bukan penjahat! kenapa kau mengatakan itu. " ujar Zuu tersinggung.
Lee pun menjelaskan.
" Aku berkata dengan benar, orang-orang yang terus mengincar kita, apa kau lupa? " tegas Lee kembali.
Seketika Zuu teringat.
" Oh, ahh kau benar. Lalu bagaimana cara aku bisa sekolah? Mana mungkin aku harus terus tetap berada di dalam Rumah? Harapan-Ku masih panjang Kak. " keluh kesahnya