
Selesai membersihkan Zuu berpamitan pergi. Eunoia menahan.
" Kalo begitu aku duluan pergi, sampai nanti. " ujar-Nya.
" Tunggu dulu. " sahut-Nya.
" Ada apa?? " tanya-Nya.
Eunoia meminta nomor ponsel-Nya Zuu.
" Kamu punya nomor telepon? " sahut-Nya kembali.
" Oh. Tentu saja aku punya. "
" Boleh aku menyimpan-Nya? " tanya Eunoia.
" Oh ini ambil saja telepon ini dan simpan nomor-Mu. " menyodorkan ponsel.
" Emmm... Baiklah tunggu sebentar. " sahut-Nya.
" Dia ini sedikit konyol. Tapi, kenapa paras wajah-Nya merubah semua-Nya? Mungkin aku belum mengenal dalam. " gumam-Nya.
Eunoia pun menyimpan nomor-Nya di ponsel Zuu.
Zuu melirik-lirik Ruangan olahraga, disitu ia terkejut melihat CCTV yang dengan tenang-Nya menatap ke Arah Eunoia juga Zuu.
" Ampun!! Gawat!! Kenapa Jaguar itu bisa berdiri di Atas Sana. Mati!! Mati... Bagaimana ini?? " panik.
Eunoia juga terkejut melihat isi telepon-Nya Zuu yang mempunyai kontak Faiz saja.
" Faiz... Dia mempunyai nomor-Nya, kenapa hanya 1 orang yang ia simpan?? " keheranan.
Eunoia pun bertanya pada-Nya. Tetapi, ia malah sedang ternganga.
" Zuu... Zuu... " panggil-Nya.
" Hah?? Kenapa? " terkejut.
" Zuu, kenapa hanya nomor Faiz yang kamu simpan? " tanya-Nya.
" Oh itu, dia menyimpan nomor-Ku karena ada perlu jadi, aku belum sempat menambahkan nomor telepon yang lain-Nya. Dan untung-Nya kau berniat baik untuk berteman. " sahut-Nya.
" Oh begitu. Yasudah ini, aku sudah menyimpan nomor telepon-Ku. " ujar-Nya.
" Emm... Baiklah. Terima kasih banyak. " tersengih.
" Sama-sama. Aku pergi duluan. " tersenyum.
" Sampai nanti ya... " teriak-Nya.
Sigap Zuu ingin mengambil CCTV itu. Tetapi, karena keberadaan-Nya sangat tinggi Zuu, mengambil beberapa alat di Ruang itu untuk membantu meraih CCTV.
" Duh... Kenapa tinggi sekali. Oh gunakan itu saja dan juga ini. " gumam-Nya.
Sedikit lagi untuk meraih-Nya tiba-tiba. Brukk...!!! Zuu jatuh dari Atas Kursi itu dan merintih kesakitan.
" Aduh...!! Sakit, ini kursinya kenapa?? Ngajak berantem kau ini rupanya. " dongkol-Nya.
Karena suara yang lumayan keras sontak Guru tiba.
" Zuu... " panggil-Nya.
" Oh. Iya, Halo Bu. " sahut-Nya.
" Kenapa kamu masih disini, Anak-anak yang lain-Nya sudah masuk. " tegur-Nya.
" Oh iya. Nanti saya akan masuk. " tersengeh.
" Kenapa nanti. Ayo pergi bersama Ibu. " ajak-Nya.
" Owh... Iya Bu. " sahut-Nya.
Zuu pergi ke Kelas dengan Guru-Nya.
Di Dalam Kelas Zuu bergumam sambil berjalan menuju Kursi-Nya.
" Semoga Ruangan-Nya tersegel dan hanya aku yang bisa membuka-Nya. " dl hati.
Zuu duduk dan Arun langsung menepak-Nya, dan bertanya.
" Kau ini darimana saja?? Hati-hati nanti jadi target Guru di Sekolah ini. Aku peringatkan. " tegur-Nya.
" Aku tadi selesai membersihkan Ruang Olahraga, Faiz yang mengajak kerja bersama, eh dia malah menghilang lebih dulu. Untung saja Ketua OSIS-Nya bijak. " cela-Nya.
" Memang-Nya Kau tidak tahu, apa yang telah terjadi dengan Faiz? " tanya-Nya.
" Aku tahu, dia dipanggil Pak kepala Sekolah ini. " sahut-Nya.
" Bukan itu Zuu, hey. Ayah-Nya Faiz mengalami kecelakaan dan ia meminta untuk dipulangkan lebih dulu, begitu. " menjelaskan.
" Oh... Seperti itu. Itu pasti sangat menyakitkan bukan? " tersengih.
" Ekpresi-Mu sangat berbeda Zuu. " cela-Nya.
" Maksud-Mu?? " sahut-Nya.
" Tidak, nanti setelah jam istirahat kita akan pergi bersama untuk menjenguk. " ujar-Nya.
" Kenapa?? " melotot.
" Aku harus, harus pergi ke Perpustakaan aku mau fokus belajar, lagi pula ada kalian jadi tolong wakilkan ya. Sampaikan juga aku turut berduka cita. "
" Wah, bukan hanya cantik ternyata kau juga sangat rajin. Sangat istimewa. " tersenyum.
" Tidak seperti itu juga. " sahut-Nya.
" Yasudah biar nanti aku yang menggantikan uang bagian-Mu. " ujar-Nya.
" Oh yasudah nanti akan aku bayar. " sahut-Nya.
" Tidak perlu, aku merasa bahagia bisa menggantikan uang untuk orang se-Istimewa dirimu, lagi pula itu juga tidak seberapa. " ujar-Nya kembali.
" Kau bersungguh-sungguh? " tanya Zuu.
" Iya. Tentu saja. " sahut-Nya.
Zuu langsung memeluk Arun. Dan mengucapkan terimakasih.
Istirahat tiba, Zuu pergi ke Perpustakaan untuk mengambil beberapa buku. Dan ia-Pun berdiri di Depan Ruang Olahraga sambil memegang buku-Nya. Zuu celingak-celinguk untuk melihat apakah ada orang yang memperhatikan-Nya, Zuu memegang gagang pintu dan menggerakkan kebawah keatas, Pintunya ternyata dikunci.
" Aduuh ... Kenapa harus begini? " keluh-Nya.
" Kira-kira siapa yang memegang kunci ini? " gumam-Nya.
" Zuu tolong berikan ini ke Paman Office Boy disana yah, aku dipanggil seseorang yang tak asing lagi. " tergesa-gesa.
Tiba-tiba Amerta memberikan sebuah kunci kepada Zuu, dengan tergesa-gesa Amerta berlari.
" Kenapa harus aku yang memberikan-Nya??! " teriak-Nya.
" Aku sudah tidak tahan, alam menunggu. " teriak Amerta.
" Ah dia ini. Eh, ini kunci?? Ini kunci-Nya... Ahaha... Seperti-Nya kita memang berjodoh. " tertawa lebar.
Zuu langsung mengecek apakah ini kunci-Nya cocok. Dan ternyata masuk. Zuu langsung pergi ke Dalam tetapi, seseorang menahannya dan merangkul Zuu.
" Hey. Pergi ke Lapangan bersama yuk. " ajak-Nya.
" Oh. Tentu, mari... " sahut-Nya.
Zuu dan salah satu siswa itu berjalan bersama menuju Lapangan Olahraga. Zuu mengambil salah satu kunci yang bertulis Ruang Olahraga, ia langsung menyaku-Nya.
Di Lapangan Olahraga itu sangat ramai Siswa-siswi yang sedang bermain. Ia berteriak.
" Hey!! Dia adalah teman-Ku. " seruan-Nya.
" Wah... Halo. Apa kabar, namamu siapa? " sapa-Nya.
Masing-masing menyapa Zuu dengan hangat.
" Aku baru pertama kali bertemu dengan mereka tetapi, mereka seperti sudah kenal dengan-Ku bertahun-tahun. " gumam-Nya.
Zuu pergi kembali ke Kelas-Nya karena belum sudah berbunyi.
" Aku terlalu senang bermain dengan mereka sehingga aku melupakan kematian-Ku, bagaimana ini. Jaguar itu masih mengintai kehidupan-Ku. " gundah-Nya.
Arunika membisik.
" Zuu tadi Faiz menanyakan-Mu, sepertinya dia sedikit kecewa karena tidak ada kehadiran teman dekat-Nya, itu sangat menyakitkan Zuu, sungguh. " tegur-Nya.
" Aku juga berniat untuk menjenguknya nanti. " sahut-Nya.
" Sungguh? jika memang benar begitu, itu sangat bagus. " tersengih.
Bel berbunyi kembali menandakan pulang tiba.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju Luar Gerbang.
" Baiklah, mari hari ini kita bersenang-senang. " bersemangat.
" Maksud-Mu? " tanya Zuu.
" Ada apa ini? Kenapa bertanya begitu? Hari ini mari kita pulang bersama-sama. " sahut-Nya.
" Kekasih-Mu kemana? " tanya Amerta.
" Hari ini dia mendapatkan Kelas tambahan, karena bolos-Nya yang rajin. " tersengih.
" Haha... Oh jadi sekarang kita diperlukan begitu? " tertawa.
" Hey, ayolah kita bersenang-senang hari ini. Kapan aku bisa seperti ini lagi. " ujar-Nya.
" Percaya... Seorang Arunika sebagai idol yang waktu-Nya itu tak boleh disia-siakan haha... " cela-Nya.
" Hey!! Berhenti... " tertawa.
Zuu menyelang dengan mengatakan.
" Aku tidak akan ikut. " selang-Nya.
Seketika semua jadi hening.
" Maksud-Mu?