Blue Love

Blue Love
Rekan-rekan?



" Ada apa?? Aku hanya menebaknya. " ujar Zuu.


" Sebaiknya kau tidak perlu pikirkan kondisi aku nanti, cepat pergi sana. " dongkolnya.


" Kau ini kenapa? Aku hanya bertanya saja marah. " sindirnya juga kesal.


Berang Lee semakin menjadi.


" Kau yang kenapa!! Sudah berangkat sana!! " bentaknya.


Zuu sontak terkejut dan beranjak berdiri untuk pergi.


" Aku mengerti, aku mengerti! Tanpa adanya bentakan darimu juga aku bisa pergi. " dongkolnya.


" Aaarrggh... Dia ini kenapa harus bertingkah seperti itu? " heran Lee berdesah.


Ia pun memejamkan matanya kembali untuk beristirahat. Sekonyong-konyong langkah kaki Zuu berhenti, dan menoleh kembali ke arah Lee, dan menyerunya.


" Kak. "


Seketika Lee terbangun dengan terkejut akan ketidakpercayaan Zuu masih berada disini dan malah memanggilnya.


" Akh!! Kau...!! " geramnya.


Zuu sigap bicara.


" Aa...aku hanya ingin mengingatkan-Mu saja, segeralah putuskan soal pekerjaan yang ditawarkan oleh Amerta itu! Sudah. Sekarang aku akan berangkat dengan bersungguh-sungguh. " tutur katanya, langsung berlari keluar.


Karena ucapan dari Zuu sontak saja membuat Lee teralihkan pikiran-Nya.


" Bagaimana cara aku mendapatkan uang kembali tanpa harus adanya seorang Amerta. " bingungnya.


Alhasil Lee bermenung-menung.


" aku pernah mencoba mencari pekerjaan baru waktu itu, tapi karena kondisi yang sekarang sangat membuat posisi-Ku kesulitan! Aku hampir terlihat masih berkeliaran di sini oleh para pengawas itu. Tapi Zuu saat ini juga amat membutuhkan bantuan dari-Ku, tentunya aku tidak bisa berdiam di rumah saja. "


Lee malah bertengkar dengan dirinya sendiri dalam hati.


" tapi aku juga tidak bisa kembali kepada Amerta! Aaarrggh... Tingkah dan perilaku-Nya sangat membuat-Ku risih tak keruan. Aku bahkan tidak menyukainya. " keluh Lee.


Ia benar-benar sangat di bimbangkan dengan dirinya. Akhirnya Lee memutuskan untuk mencoba kembali mencari pekerjaan di luar, dibandingkan dengan emas yang sudah ada di depan mata.


Cerita pun beralih di tempat Zuu berada yang ternyata masih dalam perjalanan menuju sekolah-Nya dengan menggunakan kendaraan umum. Di tengah jalan sekitar beberapa menit lagi menuju tujuan, Zuu memutuskan untuk turun lebih dulu, karena ia berpikir bahwa membayar setengah jasa kendaraan itu, separuh dari uang yang ia miliki sangat lumayan untuk bekal di sekolah-Nya nanti. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki tiba-tiba di sela-sela langkahan kakinya...


" Awas!!! " teriaknya sembari menarik tangannya ke tengah jalan.


" Sis... " mobil meluncur dengan cepat.


Sontak Zuu terkejut-kejut, matanya juga membeliak besar.


" Huh... Ha... Apa yang terjadi?? " syok Zuu terengah-engah.


Saat Zuu melihat ke arah penolong itu ia langsung terkejut karena orang tersebut adalah Eunoia, teman sekolah Zuu yang sudah lumayan cukup lama tidak terlihat di sekolah.


" eh, Eunoia!!? " kejutnya ternganga.


Ia juga ikut terkejut.


" Zuu! "


" Ba...bagaimana bisa?? " ucap Zuu terselang.


" Beep, beep...! " klakson mobil menegur mereka.


" Ayo ke tepi jalan. " ajaknya.


Kemudian Zuu sungguh bertanya-tanya dengan kondisinya Eunoia.


" Bagaimana kabar kamu sekarang?? Semuanya baik-baik saja kan? Kenapa akhir-akhir ini aku jarang melihatmu di sekolah? " herannya.


Eunoia seketika tertegun terpaku akan pertanyaan dari Zuu. Perhatiannya teralih melihat Eunoia men


" ada apa?? Kenapa kamu malah terdiam?? " tanya Zuu kembali.


Tetapi perhatiannya teralih/tersadar melihat Eunoia mengenakan seragamnya.


" eh tunggu, kamu memakai seragam sekolah sekarang? Berarti hari ini akan masuk kembali bukan?? " duganya.


Sontak saja Eunoia melepaskan gandengan-Nya dan langsung mengatakan.


" Sebelumnya terima kasih, tapi sejujurnya saja aku tidak memerlukan itu. Aku pergi. " hindarnya berjalan pergi.


Zuu jelas sekali kelinglungan dengan tindakannya.


" Ada apa?? Kenapa dia bertingkah seperti itu?? Apa sebelumnya aku melakukan kesalahan kepada-Nya?? " gumamnya.


Zuu pun kembali melanjutkan perjalanannya. Setibanya disana ternyata Zuu masih memikir dalam-dalam tentang persoalan tadi, ia berniat menemuinya sebelum masuk tiba, tetapi sayang-Nya bel sudah mendahului dirinya, alhasil Zuu tidak fokus dalam pelajaran. Tak lama kemudian, perhatian Zuu teralihkan kepada Arun yang berperilaku aneh juga, ia menampakkan juga sama halnya seperti Zuu melamun tak keruan yang lebih mengerikan bagi Zuu ialah, Arun melamun sembari menekan-nekan juga menggenggamnya dengan kuat-kuat pulpen miliknya sehingga menimbulkan patahlah benda yang pegang-Nya itu. Zuu yang merasa ganjil juga ingin tahu pun mencoba bertanya.


" apa semuanya baik-baik saja Ar... " ucapnya diselang.


" Diam! Pelajaran berlangsung! " tegur ajarnya dingin, sinis.


" Oh iyah. Maaf. " canggung.


Seketika suasana tiba-tiba berubah kembali lagi menjadi tidak nyaman dengan tingkah-Nya Arun.


Setelah selesai pelajaran, Zuu hendak bertanya kembali tetapi tak lama berselang ia malah meninggalkan Zuu tanpa meninggalkan sekata pun, jelas sekali itu sangat membuat Zuu kesal hati juga tersinggung, tapi ia juga dikelilingi kebingungan, ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


" apa aku melakukan sesuatu sehingga membuat-Nya berperilaku seperti itu? Meski memang sifat Arun menjadi juga tak sampai segitunya. Aaarrggh... Aku mulai gila karena hal ini!! " gumamnya dongkol.


Zuu beranjak berdiri dan menghampiri meja Amerta.


" hey! Amerta. " serunya seraya duduk.


" Oh hai! " sahutnya bergemetar tak pasti.


" Aku ingin mengatakan bahwa Kak Lee belum bisa memberikan jawabannya sekarang, ia masih memerlukan waktu untuk berpikir. " ujarnya.


" Hah? Benarkah itu?? " terkejut.


" Aku ingin meminta padamu, tolong jangan berikan pekerjaannya kepada orang lain, aku sangat memohon untuk menunggu keputusan dari Lee, tidak apa-apa kan? " ucapnya.


" Ah... Tentu saja itu bukan masalah bagiku. " tersengih.


" Terima kasih banyak ya, aku sangat berhutang sekali padamu. " tersenyum, bernapas lega.


" Eh tentu saja. "


Seketika Zuu teringat akan hal yang ingin juga ditanyakan pada Amerta.


" Oh ya!! Apa itu?! Euuu... Barang-barang milik-Mu... Aku..., " terselang.


" Aku harus pergi sekarang ya. Maaf. " ujar-Nya bergegas pergi.


Zuu yang melihat sorotan dari Amerta pun berusaha menahannya.


" Eh tunggu! Aku belum menyelesaikan ucapannya! Hey Amerta! " serunya.


" aku belum selesai mengatakan-Nya. " ucap Zuu lesu, kecewa.


Alhasil ia sangat gundah gulana dengan sifat rekan-rekannya itu. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kelas.


" Tok, tok, tok... "


Saat Zuu menoleh ternyata ia adalah pelatih menarinya yang tidak lain adalah Leon.


" Oh!? Kak Leon?! " kejutnya sigap berdiri.


Zuu langsung menghampirinya dan bertanya.


" euuu... Ada apa Kak?? " gelisah hati.


" Niat aku kemari untuk memberimu pelajaran karena tidak hadir di waktu pelajaran-Ku berlangsung. " sindirnya tersenyum.


Zuu terbeliak juga tersadar.


" Oh, aku mengerti. " sorotnya.


Leon sontak saja tertawa lucu akan tingkah lakunya Zuu.


" Hahaha... Aku sangat menyukai sifat cekatan-Mu Zuu! Yasudah, mari ke ruang latihan. " ajaknya.