
Lee yang tadinya hendak pergi ke dapur untuk memasak teralih perhatiannya karena terdengar suara teriakan-Nya Zuu yang begitu nyaring, sigap menghampiri. Saat ingin membuka pintu kamar mandi, seketika
" Brak... " bertabrakan.
Seketika Zuu keluar dengan berlari sembari ketakutan sehingga mereka saling bertabrakan. Tanpa pikir panjang Zuu langsung memeluk Lee karena saking takutnya dia.
" Kak tolong Kak!!! " keluh-Nya.
" Ada apa? Kau kenapa? " linglung.
" Airnya!! Airnya!!! Air itu berubah menjadi berwarna merah!! Aku tidak tahu karena sebab apa bisa begitu!?? " menggigil ketakutan.
" Akh... Sebarang saja kau ini!! Mana ada air berubah seketika begitu! Tapi jika adapun mungkin salurannya bermasalah. " ujar Lee.
" Aku tidak tahu, aku tidak tahu. " syok.
Lee pun memeriksa ke dalam kamar mandi, setelah masuk entah karena sebab apa, ia langsung mencium aroma busuk, saking baunya aroma itu sehingga membuatnya ingin muntah. Ia keluar kembali.
" Hoek!! " mual Lee.
Zuu yang menunnggu di luar pintu bertanya-tanya.
" Ada apa?? "
" Bau apa ini?? Kenapa di dalam sana busuk sekali!! Kau buang air besar tadi sebelumnya?? " sangka Lee.
" Tidak, aku bahkan belum memegang atau melihat air sedikitpun. Sebelumnya tadi aku hanya bercermin saja, saat aku memutar keran itu tiba-tiba saja yang keluar itu air tapi berwarna merah. " elak-Nya.
" Lalu dari mana asal baunya ini datang? " kebingungan.
" yasudah, kita masuk bersama untuk memeriksa air kau sebutkan tadi. " rancangnya.
" Baiklah. " sahutnya gemetar.
" Tapi sebelumnya, tutup hidungmu. Bernapaslah melewati mulut. " ujarnya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar mandi kembali, saat melihat keran dan bak mandi sontak langsung terkejut-kejut dan matanya ikut membeliak karena rasa ganjilnya terhadap air yang keluar dari keran tersebut.
" apa ini?! Bagaimana bisa airnya berubah menjadi berwarna merah?? " heran Lee.
Ia pun melepas tutup hidungnya untuk memeriksa meski rasa baunya sangat menyengat. Saat di sentuh juga dicium airnya, mata Lee makin membeliak. Keterkejutan mereka semakin meningkat.
" ini darah!!! "
" Hah?? " ikut terkejut.
Lee sigap menarik tangan Zuu dan membawanya keluar dari kamar mandi itu, lekaslah di tutup pintu tersebut.
" Ini aneh juga hal yang tidak mungkin terjadi!! Bagaimana bisa air itu berubah menjadi darah, busuk pula. " terheran-heran juga panik.
Zuu seketika langsung merasa frustrasi karena keganjilan yang menimpa-Nya.
" Akh... Hiks!!! Aku tidak mengerti maksud dari ini semua!!? Kau bisa menyaksikan itu sendiri bukan Kak? Ada sesuatu hal gaib yang tengah mengincar-Ku!!! Mengerikan!! " gelisah resah
" Kau bertenang-tenanglah, kita masih belum menget... " ucap Lee terhenti.
" Tok, tok... " ketukan pintu.
Terdengar oleh mereka berdua suara ketukan pintu juga belum dibunyikan secara berulang-ulang. Hal itu membuat Lee dan Zuu merasa ketakutan juga panik, sangkaan mereka itu bukanlah seseorang yang datang kemari. Ditambah rasa gelisah resahnya itu karena hari juga sudah gelap.
" Kau menanti seorang tamu hari ini Kak? " tanya Zuu.
" Aku tidak, mungkin kau? " balik tanya.
" Aku juga tidak! Lalu siapa yang datang? " ketakutan.
Tubuh mereka berdua benar-benar sudah dipenuhi keringat dingin juga gemetar tak keruan, sekonyong-konyong terdengarlah suara teriakan memanggil.
" Kak Lee!! Zuu!!, Kak Lee!! Zuu!! Apa kalian ada di dalam?? " serunya dengan lantang.
Sontak mereka saling melihat dan berkata secara bersamaan.
" Itu Amerta! " ujarnya.
Lekas mereka langsung berlari menghampiri dan membukakan pintu tersebut. Ternyata sesuai dengan perkiraan mereka tamu yang telah tiba di depan rumah adalah Amerta juga Arun. Sigap Lee Zuu bersikap tenang.
" Eh, kalian sudah sampai?? " ujar Zuu.
" Benar, kenapa lama sekali? Kami menunggu hingga gelisah juga khawatir begini betul kan Zuu? " sahut Lee.
" Sangat dibenarkan Kakak. " jawabnya.
Sontak Amerta merasa terharu, tersanjung akan ucapan-Nya Lee.
" Benarkah?? Kak Lee menunggu-Ku?? Sulit dipercaya, aku senang sekali hihi... " girangnya tersengih.
" Oh... Ha... Tentu itu bukan masalah, yang terpenting sekarang kita sudah berkumpul, mari masuk. " ajaknya dengan bermulut manis.
" Terima kasih banyak. " sahut Arun.
Saat hendak masuk mendabak Amerta berkata seperti ini.
" Tunggu sebentar, ini hanya aku saja yang mencium aroma busuk? Kalian menghirupnya juga kan? " kebingungan.
Arun pun tersadar.
" Euu... Benar, sekilas seperti bau darah yang membusuk. " sahutnya menoleh sekeliling.
Lee Zuu seketika panik juga bergemetar berusaha untuk mengalihkan perhatian.
" Euu... Mungkin seseorang sedang membakar ikan atau ayam. " elak Zuu.
" Mana ada bau panggangan seperti ini? " belotnya.
Arun teralihkan pandangan ke tangannya Lee yang berlumuran darah, sontak Arun pun terperanjat karena terkejut.
" ha!!! Di tangan Kak Lee! " ujarnya panik.
Seketika mereka berdua tergaguk-gaguk.
" Euu... Oh ini, apa Zuu, euu apa oi Zuu! " gagap Lee.
" Ini tadi Kak Lee su, Kak Lee su... Euu... Potong ayam yang masih hidup begitu haha... Dia lupa mencuci tangan, hi... Jorok sekali bukan? Bersihkan sana! " sindir Zuu.
Lee langsung memegang tangan Zuu sembari mengatakan.
" Yasudah jika begitu, kalian masuklah terlebih dahulu, aku akan membuat diriku nyaman untuk menyambut teman-teman Zuu, silahkan masuk saja. " ajak Lee menarik tangan Zuu dan lekas berlari.
Amerta yang melihat merasa ganjil dengan tingkah Lee.
" Kenapa harus ditemankan Zuu? Sendiri tidak bisa? " gerutunya.
" Apa masalahnya, mereka saudara. Menurut-Ku itu hal yang wajar dilakukan, aku juga pernah mengalami-Nya. " selang Arun.
" Benarkah? " tanyanya.
Mereka pun langsung ke dalam rumah. Lee membawa Zuu ke dapur.
" Kau ini kenapa hah?? Jika mereka curiga bagaimana? " tegur ajarnya.
" Aku membutuhkanmu untuk tolong menyiramkan air ke tangan-Ku ini. " keluh kesah Lee.
" Lalu, air apa yang harus aku ambil untuk membersihkan tanganmu itu hah? Sedangkan kau tahu sendiri airnya telah berubah menjadi darah! " ujar Zuu kebingungan.
" Yasudah ambil saja air di dalam lemari es. " suruhnya.
" Huh... " berdesah.
Zuu pun berjalan untuk mengambil air di dalam kulkas tersebut. Kemudian, ia bertanya kembali setelah mengambil-Nya.
" dimana harus aku siram? " tanyanya.
" Disini. " sahutnya sembari berjalan ke arah wastafel.
Zuu mengikuti arahan dari Lee.
" Aaarrggh... Aneh sekali! Mengapa hal seperti ini bisa terjadi di kehidupan nyata?! Aku tidak mengira akan benar berlaku begini. " gerutu Lee sembari mencuci tangan.
Seketika Pikiran Zuu teralihkan kepada Amerta juga Arun karena mendengar tawaan mereka yang tengah bersenda gurau.
" Oh ya Kak, apa kau sudah menyiapkan sesuatu untuk teman-teman aku itu? " tanyanya.
Lee terhenti dan langsung.
" Ahh kau benar! Lalu bagaimana ini?? Kau juga yang bersalah, sudah tahu kehidupan kita sedang surut! "
" Lah?! Kau sendiri yang menerima permintaan Amerta bukan? Bahkan sampai bisanya bermulut manis kepada-Nya. " tangkis Zuu.
" Siapa yang mempunyai rancangan menginap ini hah? " tekan Lee.
Zuu yang menampakkan dari wajahnya seperti sedang malas berbicara apalagi bertengkar.
" Bukan aku, sudahlah terserah. "
Seketika rancangan melintas di kepalanya.
" mmm... Aku akan lihat di dalam kulkas, mungkin masih ada bahan yang bisa di buat menjadi makanan baik bagi mereka. " tutur kata Zuu.