
Tiba-tiba ada sebuah telepon untuk Zuu yang nomornya tidak diketahui. Ia menyangkanya itu Faiz.
" Ini nomor siapa?? Apa ini nomor Faiz, agar dia menelpon tidak diketahui Kak Lee. " gumamnya.
Zuu-Pun mengangkat telepon itu dan menjauh dari lingkungan Lee.
" Aku tinggal sebentar. " ujarnya.
" Kemana lagi?? " tanyanya.
" Tunggu saja. " sahutnya.
Zuu pergi keluar dan mengangkat teleponnya.
" Halo. " sapanya.
Tidak ada sahutan.
" Maaf, Faiz bukan? " tanyanya kembali.
" Iya. Tolong kemari, sekarang aku berada di Seberang Jalan. Aku tunggu. " sahutnya.
Faiz langsung menutup telepon.
" Kau disini?? Untuk apa kemari?? " terkejut.
Tidak ada sahutan.
" Iz'. Halo... Halo... Ah dia ini. Sebaiknya aku temui dulu saja. " sigapnya.
Zuu pun lari dan melirik-lirik kesana- kesini. Ia-Pun melihat Iz' melambaikan tangan-Nya. Zuu menghampiri.
" Huh... Ada apa?? Kau ini sangat berkeras hati rupanya, kenapa kemari? " terengah-engah.
Iz' memeluk Zuu dengan sangat erat.
" Kesini hanya untuk memeluk-Ku saja? " tanya Zuu.
Pelukan Iz' semakin lama semakin kuat. Sehingga Zuu merintih kesakitan juga sesak bernafas.
" Ukhuk!! Lepaskan pelukan-Nya, aku tidak bisa bernafas!! " senaknya.
Iz' tidak memperdulikan ucapan Zuu, dan ia malah semakin mengencangkan pelukan-Nya. Zuu meronta-ronta untuk melepaskan diri.
" Kau ingin membunuh-Ku!!? " bentaknya.
" Maafkan aku Zuu. Mungkin, aku terlalu merindukan-Mu, aku sangat iri melihat kalian berdua. " tersengih.
" Maksud-Mu, cemburu? " tanyanya.
Menganggukkan.
Lama mengobrol, Zuu kembali. Saat membalikkan badan Zuu terkejut, dihadapan-Nya sekarang berdiri Lee yang sedang melihat ke Arah-Nya dengan tajam.
" Celaka. Kenapa dia mengikuti-Ku kemari?? Bagaimana ini. " panik.
Lee menghampiri Zuu dan mengatakan.
" Sedang apa? Ini sudah larut, mari kita pulang. " ajak-Nya.
Zuu tercengang bengang. Sontak Zuu membalikkan badan-Nya dan ternyata Faiz tiba-tiba sudah tidak ada.
" Mana mungkin?? Ini terlalu singkat!! " gumamnya.
Lee menepak bahu-Nya.
" Ayo cepat!! " ajak-Nya.
" Euh... Iya, mari. " sahutnya.
Selesai makan mereka pergi kembali ke Hotel, didepan pintu Hotel, Lee menyuruh-Nya untuk masuk lebih dulu ke Dalam.
" Kenapa berhenti? Ayo masuk. " ajak-Nya.
" Masuk saja, aku akan menyusul nanti. " sahutnya.
" Hah?? Apa maksud-Mu? Hey apa kau membohongi-Ku?? " sahut Zuu.
" Cemilan. Aku lupa membelinya, ini sudah malam. Sebaiknya masuk terlebih dahulu. Itu juga untuk-Mu. " menjelaskan.
" Oh... Seperti itu. Yasudah jika, memang begitu segera ambil, aku akan menunggu. " ujarnya.
Lee memberikan nomor Kamar Hotel.
" Ini nomor Kamar-Nya. "
" 903. Ini di Lantai berapa?? " tanya Zuu.
" 9. Tunggu untuk lift-Nya turun, jangan menggunakan tangga mengerti. " nasihat-Nya.
" Ini pasti akan menggangu-Ku. " keluhannya.
" Sudah cepat masuk. " gesa-Nya.
Sampai di Depan Pintu Lift, Zuu menunggu.
" Aku jadi ragu untuk masuk. Ini kenapa lama?? " gumam-Nya.
Lift pun turun, Zuu masuk. Sampai di Lantai 9 Zuu mencari Kamar-Nya, di Depan Pintu Kamar-Nya Zuu mencoba untuk membuka tetapi, pintu-Nya terkunci.
" Ini benarkan? Lalu kenapa pintu-Nya tertutup? Di kunci?? " gumam-Nya.
Dari Belakang Zuu, seseorang mengatakan.
" Ini kuncinya Kak. " menyodorkan kunci.
Zuu berbalik badan dan terkejut, ternyata pelayan Hotel itu adalah Faiz.
" Apa ini?? Kau! Apa aku bermimpi!? Sedang apa kau disini?? " ternganga.
" Eh My. Kamu disini?? Jadi selama ini kamu dengan Kakak tua itu tinggal disini?? " terkejut.
Mereka berdua saling terkejut. Dan Zuu merasa tercengang dengan tingkah-Nya Faiz.
" Tidak, aku sama sekali tidak mengikuti-Mu. " elak-Nya.
" Sekarang aku tanya, sedang apa kau disini? " tanya Zuu.
" Aku sedang mencari pengalaman menjadi seorang pegawai Hotel, dan ayah-Ku memperbolehkan untuk bekerja di Tempat milik-Nya, aku juga tidak menyangka bahwa, kamu adalah tamu kami. " menjelaskan.
" Owh... Begitukah? "
Iz' menggangguk dan memberikan kunci-Nya.
" Ini ambil My. Oh mmm... Jika, tidak sibuk mau tidak makan bersama? " ajak-Nya.
" Bukankah kita sudah bertemu tadi, aku sangat lelah dan akan tidur sekarang. Sampai nanti. " melambaikan tangan.
Zuu sigap menutup pintu Kamar-Nya dan langsung membersihkan diri. Ditengah sedang mencuci muka tiba-tiba Zuu berteriak merintih kesakitan.
" Ah... Panas. Ah... Tidak tidak!! Tangan-Ku... Tangan-Ku!! Ah... " lantangnya.
Mendabak air keran itu berubah menjadi panas. Zuu lari dan segera mencari obat-Nya.
" Ah bagaimana cara aku mengobati-Nya, ahh... Tangan-Ku melepuh. Kakak ini dimana sih!! Kenapa lama sekali untuk kembali. " dongkol-Nya
Zuu seketika menangis teringat dengan kenangan buruk-Nya dimasa lampau.
" Ahaha... Heh... Hiks... " tersedu-sedu.
Zuu membersihkan luka-Nya sendiri dengan gemetar karena kesakitan. Selesai mengobati Zuu pergi kembali ke Kamar mandi untuk melihat airnya itu.
" Kenapa air ini berubah menjadi sangat panas. Apa Karena Hotel ini? Jika tau otomatis begini, aku tidak akan mau untuk pindah. " gumamnya.
Zuu sigap mematikan keran dan langsung pergi ke Atas Ranjang, dia menunggu kedatangan Lee yang demikian belum kunjung datang.
" Sebenarnya Kakak ini membeli sebuah cemilan, atau menjelajahi lautan!!? Aku hampir mati kelaparan. " dongkol-Nya.
Zuu tertidur karena terlalu lama menunggu. Ditengah malam Zuu terbangun merasa kedinginan.
" Huhu... Kenapa dingin sekali, apa aku demam? " menggigil.
Zuu mengecek suhu tubuh-Nya, dan ternyata setelah disentuh dahinya sangat dingin. Zuu menyelimuti dirinya dengan banyak selimut.
" Kenapa tetap dingin seperti ini, apa karena AC-Nya. Siapapun tolong matikan AC itu. Huhu... " gumamnya.
Meski dalam keadaan kedinginan Zuu akhirnya tetap tidur. Pagi tiba. Zuu bangun ia mengeluh karena melihat Kamar-Nya sangat berantakan.
" Huh... Apa yang Ku-lakukan semalam tadi, sehingga semuanya menjadi kacau balau begini. " menghela nafas.
Zuu membereskan-Nya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
" Apa ini?? Dia baru sampai dipagi hari!! " dongkol-Nya.
Zuu langsung membuka pintu.
" Kau ini darimana saja hah!! Kakak?? " bentak-Nya.
" Selamat pagi. " sapa-Nya.
Ia mengira bahwa itu adalah Lee, dan ternyata. Saat dibuka itu adalah Faiz yang sedang membawakan sebuah sarapan untuk Zuu.
" Ini sarapannya. " tersenyum.
" Oh... Maafkan aku. " tersengih.
" Apa Bujang talang itu tidak bersama-Mu? Dari semalam kamu sendiri?? " tanyanya.
" Iya. " sahutnya.
Seketika Iz' terkejut dan sigap masuk ke Dalam Kamar dengan menarik Zuu.
" Ada apa ini?? Kenapa Kau menarik-Ku. " tercengang.
" Maafkan aku, tetapi banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Zuu. " sahutnya.
Zuu pun memakan sarapannya sambil mendengar ucapan-Nya Faiz.
" Apa maksud-Mu. " keheranan.
" My. Semalam aku mendengar dari mulut-Mu bahwa aku telah menemui-Mu. Benar begitu. " tanyanya.
" Benar. Lalu? " sahutnya.
" Dimana aku mengajak bertemu? " bertanya.
" Di Seberang Jalan. " sahutnya kembali.
" Apa ini, My. Sungguh, aku sama sekali belum bertemu dengan-Mu semalam, selain di Hotel tadi. " menjelaskan.
" Apa maksud-Mu, jangan bercanda. Jelas sekali itu kau, sudah sebaik-Nya cepat keluar dari sini, sebelum nanti suami-Ku datang. " gesa-Nya.
Sontak itu membuat Iz' rentan hati.
" Apa sekarang kamu memanggilnya suami My? " merentan.
" Iya memang dia suami-Ku bukan? " jelasnya.
Faiz langsung memeluk Zuu dengan mengatakan.
" Aku tidak menyukai kamu memanggilnya suami, itu membuat-Ku sakit. " bisiknya.
" Oh... Maafkan aku. " belainya.
" Kamu berjanji tidak akan memanggil dia suami lagi? "
" Baiklah. " sahutnya.
Faiz pun melepas pelukan-Nya.
" Aku pergi, hati-hati nanti di Jalan ya My? " nasihat-Nya.
" Iya baiklah, begitu-Pun juga Kau. " sahutnya.