Blue Love

Blue Love
Pindah Kamar



Tiba-tiba ada sebuah telepon untuk Zuu yang nomornya tidak diketahui. Ia menyangkanya itu Faiz.


" Ini nomor siapa?? Apa ini nomor Faiz, agar dia menelpon tidak diketahui Kak Lee. " gumamnya.


Zuu-Pun mengangkat telepon itu dan menjauh dari lingkungan Lee.


" Aku tinggal sebentar. " ujarnya.


" Kemana lagi?? " tanyanya.


" Tunggu saja. " sahutnya.


Zuu pergi keluar dan mengangkat teleponnya.


" Halo. " sapanya.


Tidak ada sahutan.


" Maaf, Faiz bukan? " tanyanya kembali.


" Iya. Tolong kemari, sekarang aku berada di Seberang Jalan. Aku tunggu. " sahutnya.


Faiz langsung menutup telepon.


" Kau disini?? Untuk apa kemari?? " terkejut.


Tidak ada sahutan.


" Iz'. Halo... Halo... Ah dia ini. Sebaiknya aku temui dulu saja. " sigapnya.


Zuu pun lari dan melirik-lirik kesana- kesini. Ia-Pun melihat Iz' melambaikan tangan-Nya. Zuu menghampiri.


" Huh... Ada apa?? Kau ini sangat berkeras hati rupanya, kenapa kemari? " terengah-engah.


Iz' memeluk Zuu dengan sangat erat.


" Kesini hanya untuk memeluk-Ku saja? " tanya Zuu.


Pelukan Iz' semakin lama semakin kuat. Sehingga Zuu merintih kesakitan juga sesak bernafas.


" Ukhuk!! Lepaskan pelukan-Nya, aku tidak bisa bernafas!! " senaknya.


Iz' tidak memperdulikan ucapan Zuu, dan ia malah semakin mengencangkan pelukan-Nya. Zuu meronta-ronta untuk melepaskan diri.


" Kau ingin membunuh-Ku!!? " bentaknya.


" Maafkan aku Zuu. Mungkin, aku terlalu merindukan-Mu, aku sangat iri melihat kalian berdua. " tersengih.


" Maksud-Mu, cemburu? " tanyanya.


Menganggukkan.


Lama mengobrol, Zuu kembali. Saat membalikkan badan Zuu terkejut, dihadapan-Nya sekarang berdiri Lee yang sedang melihat ke Arah-Nya dengan tajam.


" Celaka. Kenapa dia mengikuti-Ku kemari?? Bagaimana ini. " panik.


Lee menghampiri Zuu dan mengatakan.


" Sedang apa? Ini sudah larut, mari kita pulang. " ajak-Nya.


Zuu tercengang bengang. Sontak Zuu membalikkan badan-Nya dan ternyata Faiz tiba-tiba sudah tidak ada.


" Mana mungkin?? Ini terlalu singkat!! " gumamnya.


Lee menepak bahu-Nya.


" Ayo cepat!! " ajak-Nya.


" Euh... Iya, mari. " sahutnya.


Selesai makan mereka pergi kembali ke Hotel, didepan pintu Hotel, Lee menyuruh-Nya untuk masuk lebih dulu ke Dalam.


" Kenapa berhenti? Ayo masuk. " ajak-Nya.


" Masuk saja, aku akan menyusul nanti. " sahutnya.


" Hah?? Apa maksud-Mu? Hey apa kau membohongi-Ku?? " sahut Zuu.


" Cemilan. Aku lupa membelinya, ini sudah malam. Sebaiknya masuk terlebih dahulu. Itu juga untuk-Mu. " menjelaskan.


" Oh... Seperti itu. Yasudah jika, memang begitu segera ambil, aku akan menunggu. " ujarnya.


Lee memberikan nomor Kamar Hotel.


" Ini nomor Kamar-Nya. "


" 903. Ini di Lantai berapa?? " tanya Zuu.


" 9. Tunggu untuk lift-Nya turun, jangan menggunakan tangga mengerti. " nasihat-Nya.


" Ini pasti akan menggangu-Ku. " keluhannya.


" Sudah cepat masuk. " gesa-Nya.


Sampai di Depan Pintu Lift, Zuu menunggu.


" Aku jadi ragu untuk masuk. Ini kenapa lama?? " gumam-Nya.


Lift pun turun, Zuu masuk. Sampai di Lantai 9 Zuu mencari Kamar-Nya, di Depan Pintu Kamar-Nya Zuu mencoba untuk membuka tetapi, pintu-Nya terkunci.


" Ini benarkan? Lalu kenapa pintu-Nya tertutup? Di kunci?? " gumam-Nya.


Dari Belakang Zuu, seseorang mengatakan.


" Ini kuncinya Kak. " menyodorkan kunci.


Zuu berbalik badan dan terkejut, ternyata pelayan Hotel itu adalah Faiz.


" Apa ini?? Kau! Apa aku bermimpi!? Sedang apa kau disini?? " ternganga.


" Eh My. Kamu disini?? Jadi selama ini kamu dengan Kakak tua itu tinggal disini?? " terkejut.


Mereka berdua saling terkejut. Dan Zuu merasa tercengang dengan tingkah-Nya Faiz.


" Tidak, aku sama sekali tidak mengikuti-Mu. " elak-Nya.


" Sekarang aku tanya, sedang apa kau disini? " tanya Zuu.


" Aku sedang mencari pengalaman menjadi seorang pegawai Hotel, dan ayah-Ku memperbolehkan untuk bekerja di Tempat milik-Nya, aku juga tidak menyangka bahwa, kamu adalah tamu kami. " menjelaskan.


" Owh... Begitukah? "


Iz' menggangguk dan memberikan kunci-Nya.


" Ini ambil My. Oh mmm... Jika, tidak sibuk mau tidak makan bersama? " ajak-Nya.


" Bukankah kita sudah bertemu tadi, aku sangat lelah dan akan tidur sekarang. Sampai nanti. " melambaikan tangan.


Zuu sigap menutup pintu Kamar-Nya dan langsung membersihkan diri. Ditengah sedang mencuci muka tiba-tiba Zuu berteriak merintih kesakitan.


" Ah... Panas. Ah... Tidak tidak!! Tangan-Ku... Tangan-Ku!! Ah... " lantangnya.


Mendabak air keran itu berubah menjadi panas. Zuu lari dan segera mencari obat-Nya.


" Ah bagaimana cara aku mengobati-Nya, ahh... Tangan-Ku melepuh. Kakak ini dimana sih!! Kenapa lama sekali untuk kembali. " dongkol-Nya


Zuu seketika menangis teringat dengan kenangan buruk-Nya dimasa lampau.


" Ahaha... Heh... Hiks... " tersedu-sedu.


Zuu membersihkan luka-Nya sendiri dengan gemetar karena kesakitan. Selesai mengobati Zuu pergi kembali ke Kamar mandi untuk melihat airnya itu.


" Kenapa air ini berubah menjadi sangat panas. Apa Karena Hotel ini? Jika tau otomatis begini, aku tidak akan mau untuk pindah. " gumamnya.


Zuu sigap mematikan keran dan langsung pergi ke Atas Ranjang, dia menunggu kedatangan Lee yang demikian belum kunjung datang.


" Sebenarnya Kakak ini membeli sebuah cemilan, atau menjelajahi lautan!!? Aku hampir mati kelaparan. " dongkol-Nya.


Zuu tertidur karena terlalu lama menunggu. Ditengah malam Zuu terbangun merasa kedinginan.


" Huhu... Kenapa dingin sekali, apa aku demam? " menggigil.


Zuu mengecek suhu tubuh-Nya, dan ternyata setelah disentuh dahinya sangat dingin. Zuu menyelimuti dirinya dengan banyak selimut.


" Kenapa tetap dingin seperti ini, apa karena AC-Nya. Siapapun tolong matikan AC itu. Huhu... " gumamnya.


Meski dalam keadaan kedinginan Zuu akhirnya tetap tidur. Pagi tiba. Zuu bangun ia mengeluh karena melihat Kamar-Nya sangat berantakan.


" Huh... Apa yang Ku-lakukan semalam tadi, sehingga semuanya menjadi kacau balau begini. " menghela nafas.


Zuu membereskan-Nya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.


" Apa ini?? Dia baru sampai dipagi hari!! " dongkol-Nya.


Zuu langsung membuka pintu.


" Kau ini darimana saja hah!! Kakak?? " bentak-Nya.


" Selamat pagi. " sapa-Nya.


Ia mengira bahwa itu adalah Lee, dan ternyata. Saat dibuka itu adalah Faiz yang sedang membawakan sebuah sarapan untuk Zuu.


" Ini sarapannya. " tersenyum.


" Oh... Maafkan aku. " tersengih.


" Apa Bujang talang itu tidak bersama-Mu? Dari semalam kamu sendiri?? " tanyanya.


" Iya. " sahutnya.


Seketika Iz' terkejut dan sigap masuk ke Dalam Kamar dengan menarik Zuu.


" Ada apa ini?? Kenapa Kau menarik-Ku. " tercengang.


" Maafkan aku, tetapi banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Zuu. " sahutnya.


Zuu pun memakan sarapannya sambil mendengar ucapan-Nya Faiz.


" Apa maksud-Mu. " keheranan.


" My. Semalam aku mendengar dari mulut-Mu bahwa aku telah menemui-Mu. Benar begitu. " tanyanya.


" Benar. Lalu? " sahutnya.


" Dimana aku mengajak bertemu? " bertanya.


" Di Seberang Jalan. " sahutnya kembali.


" Apa ini, My. Sungguh, aku sama sekali belum bertemu dengan-Mu semalam, selain di Hotel tadi. " menjelaskan.


" Apa maksud-Mu, jangan bercanda. Jelas sekali itu kau, sudah sebaik-Nya cepat keluar dari sini, sebelum nanti suami-Ku datang. " gesa-Nya.


Sontak itu membuat Iz' rentan hati.


" Apa sekarang kamu memanggilnya suami My? " merentan.


" Iya memang dia suami-Ku bukan? " jelasnya.


Faiz langsung memeluk Zuu dengan mengatakan.


" Aku tidak menyukai kamu memanggilnya suami, itu membuat-Ku sakit. " bisiknya.


" Oh... Maafkan aku. " belainya.


" Kamu berjanji tidak akan memanggil dia suami lagi? "


" Baiklah. " sahutnya.


Faiz pun melepas pelukan-Nya.


" Aku pergi, hati-hati nanti di Jalan ya My? " nasihat-Nya.


" Iya baiklah, begitu-Pun juga Kau. " sahutnya.