
Kakak pria itu pun melepaskan tingkah-Nya.
" Apa Kakak baik-baik saja? " tanyanya kebingungan.
" Sekarang aku sudah merasa lebih baik, terima kasih banyak. " sahutnya tersenyum.
Mereka akhirnya berangkat pergi untuk makan. Sampai-Nya disana Zuu merasa gelisah karena takut jika Kakak pria itu memesan makanan melebihi persediaan bekal Zuu yang diberikan Lee tadi.
" Aku ingin makan Ratatouille, untuk minuman-Nya Milk tea, dan sebagai penutup-Nya Tiramisu. Wah bagaimana? Terlihat lezat bukan? Lalu kamu ingin makan apa? " tanya
Setelah mendengar Zuu seketika panik dan bergegas menghitung total harga dalam hati.
" Baiklah Kak Lee memberi-Ku uang 300 ribu, mari kita jumlah. Tiramisu itu harganya 60 ribu, euu... Milk tea oh ini dia 50 ribu, lalu apa lagi tadi euu... Oh Ratatouille, mana ya?? " gunyamnya seraya melihat ke buku menu.
Tengah mencari akhirnya ditemukan juga.
" ah... i...hhh!!! T...t..ujuh ratus ribu!!?? " kejut-Nya
Sontak Zuu syok setelah melihat total harganya yang melampaui bekal uang Zuu, ia pun langsung kebingungan juga berkeringat dingin bergetar tidak keruan.
" ahh!! Bagaimana ini?? Total sekitar 800 ribu lebih, sejujurnya saja, ini adalah pertama kali aku makan bersamanya. Celaka!! " gunyamnya.
" Zuu!! Zuu!! " serunya.
Ia pun tersadar.
" Hah?? Oh ada apa? " sahutnya.
" Hahaha... Kamu kenapa? Semuanya baik-baik saja kan? " tanyanya gelak senyum.
" Oh... Tentu. " sahutnya.
" Jadi apa yang ingin kamu makan? " tanyanya kembali.
" Ah... Sepertinya aku tidak akan makan, itu karena niatnya kita kemari hanya ingin menggantikan semua kerusakan atas ulah-Ku tadi, jadi maksudnya Kakak saja yang makan. " tuturnya gelisah resah.
Seketika dia pun kebingungan dan tak menerima ucapan dari Zuu.
" Bagaimana bisa seperti itu? Dengar, kebiasaan-Ku dalam kehidupan adalah ketika makan harus di temani, aku tidak bisa memakan apapun tanpa adanya seorang teman. " tegasnya.
" Ahh... Euu... Tapi, perutku saat ini tidak bisa diajak untuk berteman hehe, bagaimana Kak?? " tergagap-gagap.
" Benarkah itu?? Bukankah? Di setiap saat perutmu selalu merasa lapar? Zuu pecinta makanan bukan? " olok-oloknya.
Sontak Zuu terbeliak kejut karena mendengar perkataan darinya.
" Bagaimana bisa kamu mengetahui itu? Eh, euuu... Siapapun itu pasti menyukai yang bernama makanan. " elaknya dengan sigap.
" Hahaha... Yasudah, berarti bukan masalah jika perut tidak bisa berteman, karena ada rasanya suka semua pasti lebih nikmat untuk dinikmati, apapun itu. " tangkisnya geli hati.
Hal itu membuat Zuu gagu untuk melawan pembicaraan-Nya.
" jadi sekarang cepat katakan apa yang ingin kamu makan? " tuturnya kembali.
" Bukan begitu Kak, euu... " tergagap-gagap.
Zuu berusaha untuk menyelang agar mengelak tawaran Kakak tapi pada akhirnya ia malah langsung memesankan makanan yang sama dengan-Nya. Di sana Zuu langsung berkata jujur.
" tunggu Kak! Sejujurnya, uangku tidak cukup. Jangankan membayar makanan-Ku, untuk Kakak saja itu sudah mencekik. " ujar-Nya.
Seketika ia pun merasa geli hati dan mengatakan kembali.
" Hahaha... Jadi sebenarnya kamu mengkhawatirkan soal itu? Aku ini masih mempunyai sifat manusiawi, kamu masih seorang pelajar tentu aku mengetahuinya. Bagaimana mungkin aku menyuruhmu untuk membayar semua ini. Tidak perlu cemaskan soal itu. " ucap-Nya gelak senyum.
" Sungguh?? Lalu, siapa yang akan membayar semua biaya ini nanti? " bertanya-tanya.
" Tentu saja aku. " sahutnya.
Hati Zuu langsung bernapas sejuk, tapi seketika ia juga tersadar mengenai kesalahannya waktu itu.
" Jika sekarang Kakak membayar semua ini, lalu dimana aku harus bertanggung jawab? " kebingungan.
" Bayarlah nanti setelah kamu sudah bekerja. " sahutnya kembali.
" Euu... Aku sangat minta maaf ya Kak, sulit sekali untuk bisa membayar semua ganti ruginya padamu. Tapi aku akan tetap membayar meski dengan jarak waktu yang lumayan lama, mencicil apakah boleh? " canggung-Nya.
" Oh... Euu... Berapa lama lagi Kakak tinggal disini? " resah.
" 2 bulan dari sekarang. " ucapnya.
Kakak pria itu pun memanggil pelayan resto untuk mencatat pesanannya, setelah di pesankan dia berkata kembali.
" ini Zuu. " ujar-Nya sembari menyodorkan moci es krim lagi di tangannya.
Zuu yang merasa tercengang pun bertanya.
" Untuk siapa ini? " kebingungan.
" Tentu saja untuk Zuu. " jawabnya.
" Tapi kenapa?? " ganjilnya.
" Kamu tidak memakannya tadi kan? " tanyanya.
Zuu langsung tertegun. Ia tidak mengira bahwa Kakak pria mengetahui peristiwa Lee menjatuhkan es krimnya.
" sudahlah ambil saja, makan ini sambil menunggu makanannya datang. " tuturnya.
" Euu... Terima kasih banyak. " canggung, sembari mengambil.
Di tengah memakan es krim ia pun bertanya-tanya.
" Jika aku boleh tahu, siapa pria yang menjatuhkan pemberian dariku itu?? " penasaran.
Tubuh Zuu kaku seketika dengan mata terjegil.
" Euu... Laki-laki itu..., dia... " jawabnya terhenti.
" Dia adalah suaminya. " lantangnya Lee.
Tanpa di sangka suara itu adalah Lee yang mendabak datang dari arah belakang Zuu, ia berjalan menuju meja mereka. Sontak itu membuat Kakak pria itu terperanjat begitu pun juga Zuu yang langsung berkeringat dingin akan situasi sekarang.
" Apa ini?? Hal apa yang akan terjadi lagi!!?? " gunyamnya gelisah resah.
" Halo. " sapa Lee.
" Oh iya, maaf tapi apa maksud dari perkataan anda barusan?? " kejutnya melihat tajam.
" Oh, euu... Perlukah saya mengatakan itu untuk ke dua kali-Nya? " sindirnya.
" Euu... Zuu, siapa memangnya dia? Paman atau Saudara, atau siapa?? " bertanya-tanya.
Lee dengan besar hati menyelang pertanyaan Kakak pria itu.
" Sudah aku katakan kami adalah sepasang suami istri benar kan Zuu?? Lihat ini? " ujarnya seraya menunjukkan cincin yang dikenakan Zuu juga Lee. Kakak pria itu menjadi linglung.
" sudahlah soal ini sangat tidak penting untuk dijelaskan, niat aku kemari hanya ingin memastikan bahwa Zuu dalam keadaan baik-baik saja. Oh aku juga lupa hendak memberikan ini padamu, ambil. " ujarnya kembali seraya menyodorkan kantung kresek.
Setelah niatnya terpenuhi Lee pun sigap pergi. Kemudian Zuu melihat ke dalam kantung plastik pemberian Lee tadi yang ternyata isinya itu adalah jambu batu dan kemiri.
" Ahh dia ini benar-benar menyebalkan. " gerutunya.
" Bagaimana bisa itu terjadi? Apa karena tekanan dari orang tua? " ujarnya gundah.
Pertanyaan-Nya sontak membuat Zuu gagu, ia hanya terdiam seraya berdiri, Kakak itu membujuk agar Zuu menceritakan yang sebenarnya.
" bisakah aku mengetahuinya? " tersenyum.
Zuu duduk kembali dan memberitahu semua kejadian yang sudah menimpanya itu dari awal hingga sekarang secara perlahan. Kakak pria itu jelas sekali terkejut juga sulit mempercayai takdir yang telah Zuu terima.
" aku sangat turut sedih. " iba-Nya.
" Terima kasih. " ucapnya.
" Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Kenapa Zuu masih tinggal bersama laki-laki itu? " bertanya-tanya.
" Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi Kak, jika memang aku tinggalkan Kak Lee, lalu nanti Zuu tidur dimana? " sahutnya.