
Lee pergi dan Zuu masuk ke dalam Sekolah, Ia sangat canggung juga takut dengan apa yang akan terjadi nantinya, apakah Zuu tidak akan disukai lagi oleh teman-teman Sekolah.
" Semoga dengan cara melangkah yang berbeda kehidupan ini juga berbeda. " gumamnya.
Dan Sesampainya di Kelas banyak orang menatap Zuu dengan ternganga.
" Wah... Sangat cantik, apa Dia anak Kelas ini? " tercengang juga ternganga.
" Wah... Benar, sebentar lagi Dia akan menjadi pacar-Ku. Haha... " tersengeh.
Zuu duduk di Sebelah Arunika. Dia langsung menyapa Zuu.
" Halo... Wah Kamu sangat cantik, sungguh. Namamu juga sangat bagus. " pujiannya.
" Uh... Benarkah? Wah aku tidak mempercayai ini, sungguh? " ternganga.
" Haha... Ekpresi-Mu sangat menggemaskan. " pujinya kembali.
" Haha... Benarkah? Aku tidak merasa begitu. " tertawa.
Karena pembicaraan mereka menimbulkan kebisingan, Guru di Depan pun menegurnya.
" Hey!! Perhatikan dengan baik. " lantangnya.
Seketika mereka terdiam juga menahan tawa.
" Hey mau makan bersama pada istirahat nanti? " bisik.
" Apa boleh? " terkejut.
" Tentu saja, itu pasti akan menjadi kenangan juga hubungan yang baik bukan? Ini sangat menyenangkan. " sahutnya.
" Kalo begitu, aku mau " tersengeh.
Bel istirahat berbunyi, salah satu Siswa di Kelas itu menyapa Zuu.
" Halo, Kau pindahan dari Sekolah mana? " tanyanya.
" Mawar Biru, apakah Kau mengetahuinya? " sahut Zuu.
" Oh sangat tahu, ada apa? Bukankah Sekolah itu populer di Daerah ini, dan kudengar Sekolahnya juga bagus? " tanyanya kembali.
" Ah benar, banyak sekali yang bersekolah di tempat itu, dan aku juga sangat berminat pindah ke Sana. " sahut Arunika.
" Tidak ada, aku hanya ingin membuka lembaran baru di Sekolah ini. " jawab Zuu.
" Hmm... Sangat sayang bukan? " kritiknya.
" Kau benar. Yasudah, mari keluar Kelas bersama? " ajaknya.
Mereka bertiga pun keluar dari Kelas dan menuju Kantin. Dan mereka saling berbicara dengan bahagia, Arunika juga Amerta sangat terkejut melihat cara makan Zuu yang berbeda dari yang lainnya.
" Ternyata Kau sangat bagus ya dengan persoalan makan? " tersengeh.
" Aku juga tidak menyangka bisa memakan ini, aku menyukai semuanya. Ini juga sangat enak " sahut Zuu.
" Oh ya namamu siapa? nama pengenalnya tidak kau gunakan? " tanya Zuu.
" Ah hahaha, sebenarnya aku sengaja melakukan itu, agar sesiapa yang ingin berdekatan dengan-Ku merasa penasaran haha... Nama-Ku Amerta. Tapi, Kau bisa memanggilnya Merry. " jawabnya.
" Wah... Tidak kusangka, namamu begitu bagus. " pujinya dengan ternganga.
" Ahaha... Sangat menggemaskan, dan Kau juga sangat cantik. Tubuhmu juga terjaga, meski Kau pecinta makanan, tapi tubuhmu tetap ideal. Aku menyukai paras wajahmu. Riasan seperti apa yang selalu Kau pakai Zuu? " tanya Amerta.
" Tidak ada, aku selalu membasuh mengusap anggota tubuh yang tertentu dalam 5 kali sehari dan tetap kujaga. Aku selalu menggunakan itu. Inilah hasilnya. " ricaunya.
" Wah... Benarkah itu? Aku sangat iri. " ujarnya.
Selesai sudah makan Arun mengajak Zuu untuk pergi bersamanya begitu pun juga amerta.
Sampainya di Tempat tersebut Zuu bertanya-tanya dengan tercengang-bengang.
" Wah... Sanggar tari!! Apakah Sekolah ini juga menyediakan Seni Tarian? " terkejut.
" Tentu saja, 3 bulan lagi Kami akan bertanding. Ini pasti sangat menegangkan. " sahutnya.
" Hah, benarkah itu? Wah itu luar biasa. " kagum.
" Meski begitu, sangat disayangkan bukan, Sekolah ini kekurangan member. Seharusnya, 6 member tetapi, teman meninggal tertabrak sebuah Mobil. Ini sangat menyakitkan. Heh... " menghela nafas.
Seketika suasana jadi dramatis.
" Apakah Dia ceroboh? " tanya Zuu.
Arun dan merry terkejut juga ternganga karena pertanyaannya Zuu.
" Hey. Kenapa Kau bertanya hal konyol seperti itu? " kebingungan.
" Konyol? Apa maksud-Mu itu pertanyaan yang Formal. " sahutnya.
Ekpresi dari Arun juga Amerta kesal.
" Huh... Mungkin memang benar dengan perkataanmu, Dia tertabrak karena terhanyut dengan lagu Kami. Tapi, setidaknya orang yang menabrak itu sesegeranya menolong teman Kami, mereka sangat lelet bertindak. Ini sangat sulit untuk kuakui. Sungguh, tapi entah kenapa aku tetap saja tidak menyukai orang yang menabrak itu. Tolong untuk mengerti. " sahutnya.
" Yah, aku bisa mengerti " tersenyum.
Mereka terkejut dan sedikit meragukan Zuu.
" Benarkah? Apa Kau bisa menggantikannya.? " tanya Arun.
Tiba-tiba Amerta menepak bahu Arun.
" Hey, pertanyaan macam apa itu? Apa Kau meragukannya? Dia itu pindahan dari Sekolah yang bagus, aku sangat yakin Dia bisa melakukannya. " ujarnya.
" Aku ingin sekali menunjukkannya kepada kalian. " sahut Zuu.
Zuu mulai menari, dan mereka tercengang-bengang melihat Ia menari yang begitu, tangkas juga ber-Power.
" Wah apakah Dia benar-benar melakukannya? " ternganga.
" Aku tidak tahu, tapi itu sangat luar biasa. " sahut Arun.
Selesai sudah menari, Arun dan Amerta sigap menghampiri Zuu memeluk dengan semangat.
" Ahaha... Kau sangat luar biasa, aku kehabisan kata-kata. Tapi, hanya satu yang ingin aku katakan. Kita sungguh beruntung mendapatkan Teman baru sepertimu... " bangga.
" Ini tidak begitu bagus " tersengeh.
" Hey, berhenti bersikap rendah diri. Aku sangat menyukainya " puji Arun.
" Itu benar, aku benar-benar iri... Heh... Hiks... " sahut Amerta.
Bel pulang pun berbunyi. Mereka pulang bersama, ditengah perjalanan, Arun ketibaan pacar mereka untuk menjemputnya.
" Halo, By... Ahh... Aku senang sekali, euh... Zuu aku pulang lebih dulu tidak apa-apa? " tanya Arun.
" Mmm... Oke. Apakah Pria ini kekasih-Mu? " bisik Zuu.
" Tentu saja, menurut-Mu siapa lagi. Haha... Apa harus kupanggil Dia Suamiku? Itu menjijikan bukan, hah... Hey aku ini masih SMA, apa mungkin wajah ini menunjukkan seperti seorang Istri? " terbahak.
" Yasudah Kau pergi saja. " menyelang.
" Aku akan Menemani-Mu Zuu. " tersenyum.
" Itu benar, aku punya Dia. Jadi, pergi saja. " sahut Zuu.
" Em... Baiklah, sampai nanti. " ujarnya.
Ditengah berjalan kembali, datang Lee dari Arah Belakang dengan memeluk Zuu. Sigap Zuu memukul dengan sikunya karena terkejut. Lee merintih kesakitan.
" Aw... Aw... Apa yang Kau lakukan, ini Aku. Aw... " rintih.
" Ah... Kau!! Apa Kau sudah tidak waras hah!! Bosan hidup! " lantangnya.
" Apa maksud-Mu. " cemberut karena kesal.
Zuu menahan tawa tapi tidak bisa, ia merasa konyol karena melihat rambut Lee yang berbeda.
" Haha... Apa itu? Apa Kau memotongnya, haha... Itu sungguh... Haha... Ginjal-Ku terasa geli. " terbahak-bahak.
Lee langsung kesal juga marah dan kecewa dengan tanggapan Zuu. Amerta langsung Menyenggol bahu Zuu dengan perlahan.
" Hey, Kau itu penyihir ya, lihat hatinya tersenggol Zuu " tegurnya.
" Uh...? " kebingungan.
" Apa yang Kau lakukan disini? " menghela nafas.
" Aku disini akan menjemput-Mu. " tersengeh.
Zuu langsung menunjuk ke Arah Amerta.
" Hey, aku tidak akan ikut denganmu. Tidakkah Kau melihat? "
Zuu merangkul lengan Amerta, dan menatap tajam dengan mengatakan.
" Aku ini tidak akan meninggalkanmu, karena kita akan pulang bersama bukan. Jika, ditinggalkan nanti jadi sendiri. " jelasnya.
Lee menyelingi dan menatap ke Arah Amerta.
" Dia juga akan ikut bersama bukan? " selang.
Seketika Zuu melihat ke Arah Lee.
" Haha... Benarkah? " tertawa.
Mereka berdua pun memutuskan untuk naik mobil bersama. Zuu dengan Amerta duduk di Kursi Tengah, sedangkan Lee menyetir dan kesal, Dia pun berkeluh Zuu menyelang.
" Kenapa tidak duduk di Depan Zuu? Kau membiarkan aku sendi...," dongkolnya.
" Diam!! Perhatikan jalan dengan benar. Kau tidak ingin membawa kami ke Jalan yang gelap bukan? " selangnya.
" Ish... " dongkol.
...Aku melihatmu <_<🌻...
...Beri aku cinta kalian ❤💕...
...Love You All 🍭...