
Mereka berjalan bersama, di tengah jalan Amerta terus menggerutu.
" Kenapa harus menggunakan kaki Zuu!! Grrr!!!Jemputan-Ku akan datang tadi, memang-Nya tidak bisa menggunakan kendaraan untuk menuju ke rumahmu?? " keluh kesahnya.
" Banyak sebagian orang mengatakan dengan kita berjalan kaki tubuh akan menjadi lebih sehat!! Tentunya juga bisa mengurangi rasa kemanjaan dalam diri seseorang. Mungkin. " ujar Zuu.
" Tetap saja aku..., " keluhnya terhenti.
" Shush! Kenapa tentunya kau ini tidak diam saja? " tegur ajarnya.
Di sela-sela berdebat, Amerta tidak sengaja melihat sebuah keributan di sebrang jalan, dengan sigap ia memberitahu kepada Zuu.
" Hey, hey Zuu! Lihat orang-orang disana! Apa yang telah terjadi?? Apa mereka semua berhakim sendiri? " terkejut.
" Aku tidak tahu, tapi sepertinya kita harus melerai mereka. " ajaknya.
Saat hendak menyebrang jalan tiba-tiba Zuu tidak sengaja menabrak seseorang.
" Brak... "
" Aduh! Maaf " ucap Zuu.
Saat saling bertolehan betapa terkejut-Nya mereka berdua, ternyata yang ditabrak Zuu adalah orang yang memfitnah Lee dan Zuu. Hendak lekas berlari tapi sayangnya pengawas itu lebih tangkas dari Zuu, ia langsung menangkapnya dalam seketika.
" Eh... Kau mau kemana hah!!? Wah, wah, wah! Sulit dipercaya ternyata kau ini sama kerasnya seperti laki-laki itu, haha... Ternyata jika takdir sudah memutuskan berjodoh pastinya kami akan dipertemukan, wah!! Ini sungguh-sungguh memuaskan juga mengejutkan-Ku. " ujarnya puas hati, sembari menarik dan menahan Zuu.
" Lepaskan!! Lepaskan!! " meronta-ronta.
Amerta yang menyaksikan pun terkejut juga kebingungan, ia berusaha membantu Zuu agar terlepas dari cengkraman pengawas itu.
" Eh!! Apa yang kau lakukan!!? Lepaskan Zuu!! " menjambak rambut si pengawas.
" Aaarrggh...!! Kau ini kenapa!!? " rintihnya sigap menghindar
Ia pun akhirnya di hantam oleh pengawas itu hingga jatuh.
" Akh! " rintihnya.
Zuu ditarik dengan keras oleh orang itu sambil menyebrang jalan. Amerta sigap berdiri kembali dan mengejar-Nya.
" Aku menemukan yang satunya lagi!! Oi!! " serunya.
Sontak Zuu terkejut membeliak.
" Hah? Yang satunya lagi? Apa maksudnya... Kak Lee sudah...!! " gunyamnya.
Pengawas itu mendorong Zuu hingga jatuh ke jalan yang dipenuhi darah. Jelas sekali ia syok juga ketakutan.
" Aaaaah!!! Apa ini?? " kejutnya.
Saat Zuu menoleh ke hadapan atas, keruan ia terkejut-terkejut melihat Lee yang sedang di pegang lengannya dengan kuat, wajahnya sungguh seperti orang tak berdaya lagi, tentu darahnya juga mengotori muka Lee.
" kak Lee su?? " syok.
Tiba-tiba,
" Pow!... " seseorang menendang bahu Zuu dengan kasar.
" Akh!! " rintihnya sigap menoleh.
" Hey Zuu!! Apa yang kau bisa perbuat lagi sekarang?? " cekamnya.
Zuu hanya terdiam juga terpaku. Tak di sangka perilaku mereka semua malah semakin menjadi. Rambut Zuu malah ditarik-tarik kuat untuk dibuat olokan oleh mereka. Amerta yang baru saja tiba-tiba sontak terkejut-terkejut syoknya melihat peristiwa ini. Saat ia menoleh ke arah depan, itu lebih mengejutkan-Nya karena melihat Lee yang tengah payah sekali. Tangannya bergemetar tak keruan juga kebingungan, begitu pun jantung-Nya ikut berdetak sangat kencang saking takutnya situasi sekarang. Amerta berusaha menenangkan diri dan mencoba bertanya kepada salah seorang di sana.
" Permisi Pak, sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa mereka diperlakukan buruk begitu?? " gelisah resah.
" Sepasang suami istri ini melanggar hukuman yang sudah ditetapkan, mereka pantas mendapatkannya. " sahutnya.
" Hah!!? Su...su...suami?? Is..tri?? " syok ternganga.
Seketika Amerta termangu dengan melotot. Perselisihan pun berlanjut.
" Hey!! Ada apa dengan-Mu?? Kenapa kau lakukan ini hah!? Sudah bosan hidup rupanya?? Haha... " gelaknya.
" Akh!!! Lepaskan dasar berengsek!! " cela Zuu juga merintih.
Sontak ucapan Zuu membuat mereka semua terkejut, tindakan-Nya semakin brutal.
" Plak!... Plak!... Plak!... " menampar-nampar berulang-ulang dengan keras.
" Hey, hey, hey!! Kau itu masih anak sekolah! Tidak aku sangka kata kasar itu bisa juga keluar dari mulut gadis lugu sepertimu. " cacatnya.
Tidak hanya seorang yang menyiksa Zuu, yang lainnya juga ikut serta memperlakukannya tidak pantas kepada Zuu. Tak lama kemudian Lee yang tidak menerima pun angkat bicara keras dengan tenaga yang tersisa. Tangannya juga bergemetaran saking murkanya dia.
" He!!! Hentikan itu dasar berandalan!! Biadab kalian semua!! Psikopat!! " berang Lee.
Alhasil perhatian mereka teralihkan kepada Lee, salah satunya menghampiri Lee dengan penuh kepercayaan diri juga besar hati.
" Haha... Kau mengatakan kami apa? Berandalan?? Hey!! Yang sebenarnya seorang berandal itu aku atau kau hah!? " bentaknya dengan memukul wajah Lee.
" Blam!... "
" Ah... Hentikan!! " teriak Zuu.
Mereka semua malah merasa geli hati karena sikap yang Lee dan Zuu tunjukan.
" Haha... Apa ini?? Mereka berdua saling menyayangi satu sama lain? Haha... Perlukah kita mengasihaninya? " olok-oloknya.
" Satu hal yang ingin aku tanyakan kepada kalian semua, kenapa kalian melakukan perkara yang menjijikkan ini kepada kami? Padahal sungguh! Aku sama sekali tidak mengenali kalian semua? Aku bersungguh-sungguh merasa ganjil dengan perlakuan kalian. " tangkis Zuu.
" Tentu aku merasa risih karena terus mengurusimu hey!! Kau pikir aku senang melakukan seperti ini hah? " bentaknya.
" Tidak ada yang menyuruhmu untuk masuk ke hidupanku?? " lawan Zuu kembali.
" Hah?? Wah! Dasar kau!! Hey kau benar-benar wanita tidak tahu malu yang pernah aku lihat!! Dimana rasa hormat-Mu hah? " celanya.
" Gila, ternyata kalian semua memang tidak waras. " cacatnya bicara perlahan.
" Apa??! Wah!! Hey kau mengatakan apa baru saja?! " bentaknya.
Seketika mereka adu mulut.
" Bukankah kalian sendiri mengatakan bahwa kami melakukan hal kotor? Dan sekarang, aku baru saja mendengar dari mulutmu sendiri bahwa aku harus menjaga kehormatan-Ku, jika kalian berpikir kebenarannya begitu, lalu untuk apa aku harus menjaga kehormatan-Ku? Apa sebenarnya kalian semua sedang bermain-main dengan kehidupan seseorang? " tutur kata Zuu menunduk.
Teman yang satunya lagi menegur agar memenangkan percekcokan ini.
" Hey kau ini bicara dengan sebenarnya, perlu aku ingatkan! Berhati-hatilah! Dia itu anak sekolah, meski kalian seusia tapi banyak yang mengatakan bahwa dia wanita cerdas, tentu kepintaran juga ketangkasan-Nya bisa saja melebihi-Mu. Kau berada di posisi yang benar, menangkan perselisihan ini. " bisiknya.
" Hey Zuu!! Haha... Hal sekecil itu pun kau bisa menjadikannya tali agar bisa lepas dari keburukan-Mu?? Aku berkata begitu karena situasi tadi merasa tercekam saja, hanya tergesa-gesa mengertilah!! " tangkisnya.
" Elakkan yang buruk! Apa maksud-Mu... Tercekam karena takut kebenarannya terungkap? Jujur saja, sebenarnya kau juga mengetahui apa yang terjadi dengan-Ku juga Kak Lee di waktu itu bukan? Ketakutan-Mu tadi membuktikan bahwa kau memang berada di posisi yang salah. " lawan Zuu kembali.