
" Tapi tetap saja itu sulit untuk kami percaya, ditambah dengan apa yang telah menimpa Zuu tadi. Coba Kakak pikirkan kembali, bagaimana bisa sebuah rumah dengan begitu saja meneteskan darah?? Bukankah itu pertanda? Angin juga guruh ini benar-benar pertanda buruk!! " gelisahnya Amerta.
Lee tetap teguh menenangkan mereka semua.
" Percayalah, ini rumahku! Dan selama tinggalnya aku disini, belum pernah sama sekali peristiwa hal aneh terjadi. Percaya semuanya akan baik-baik saja. " ucapnya.
Seketika pun mereka bertiga pun berusaha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
" Sebaiknya kita tidur bersamaan saja Kak, bagaimana?? Aku takut hal yang lebih mengerikan daripada sebelumnya terjadi. " keluh Amerta.
Lee terpaku sejenak dan menyetujui keinginan-Nya itu.
" Baiklah jika begitu, kita tidur bersama di ruang tengah ini bagaimana?? Masing-masing mempunyai tempat untuk beristirahat meski rasanya tidak nyaman sofa itu untuk ditempatkan. " sahutnya.
" Tidak masalah Kak, selama keadaan hati kami masih dalam ketenangan. " jawab Amerta.
Lee bertanya dengan tanggapan-Nya Arun dan Zuu.
" Lalu bagaimana sorotan kalian tentang gagasan ini? Setuju atau tidak?? "
" Euu... Baiklah. " sahut Arun.
" Menurut-Ku itu lebih baik. " sahut Zuu juga.
Mereka semua sepakat memutuskan untuk tidur di tempat tersebut. Akhirnya mereka bisa tertidur kembali meskin dengan suasana hati gelisah resah. Tetapi, berbeda hal Zuu meski mata tertutup tangannya berketar seperti orang ketakutan. Lee yang merasa ikut keresahan akan kondisinya Zuu pun berdiri dan menghampiri-Nya. Sesampainya di depan Zuu ia berpikir keras bagaimana cara sedikit menghilangkan rasa takut dalam diri manusia. Sekonyong-konyong saja sesuatu hal ini terlintas di kepalanya.
" Apa dengan cara menggenggam tangan itu benar bisa sedikit meringankan rasa takut?? " gunyamnya.
Lee malah saling bertanya jawab sendiri tak keruan di dalam hati. Saat hendak ingin melakukan sesuai yang ada dalam pikiran-Nya tiba-tiba terhenti.
" eh tidak, tidak??! Hal konyol apa yang aku pikirkan ini?!! Bagaimana bisa sebuah gandengan bisa menghilangkan rasa takut seseorang! " tutur katanya.
Karena rasa ingin tahunya berkepul-kepul alhasil ia pun memutuskan untuk memeriksa di dalam ponsel untuk mencari tahu mengenai hal tadi itu. Kemudian Lee mmenemukan sebuah artikel di internet yang ternyata ucapan dari sebagian orang itu benar. Tertulis dari Herworld.co.id mengatakan ada 7 Manfaat Menggenggam Tangan Pasangan Bagi Hubungan Cinta yaitu, 1. Menurunkan stres, 2. Meningkatkan cinta dan kekompakan, 3. Baik untuk jantung, 4. Mengurangi rasa sakit, 5. Menghilangkan rasa takut, 6. Memberi rasa aman, 7. Membuat nyaman. Lee benar-benar merasa tercengang-cengang khasiatnya.
" sulit dipercaya! Padahal ini hanya sebuah pegangan tangan saja? Bahkan jika kita melakukan-Nya berpengaruh positif juga terhadap jantung! Wah luar biasa. Oh ya, dugaanku masuk di nomor lima. Aku kira itu hanya modus si para lelaki agar bisa memegang tangan kekasihnya, ternyata ucapannya memang benar. " ujarnya.
Disini Lee malah membimbangkan dirinya sendiri.
" eh tunggu, belum tentu betul jika aku tidak memeriksa dan mencoba-Nya. "
" tidak apa-apa kan? Lagi pula aku dengan-Nya telah melewati masa ijab kabul berarti aku diperbolehkan memegang tangannya? " bingung.
Tanpa pikir panjang Lee pun langsung melakukan-Nya dengan alon-alon, setelah di genggam mendadak saja getaran di tangannya Zuu berhenti, dan itu sangat membuat Lee terkejut dan membeliak akan ketidakpercayaan kebenarannya.
" wah ternyata itu memang benar. " tercengang bengang.
" eh tunggu! Apa ini?? Kenapa tangannya panas seperti ini?? Zuu terserang demam kah?? " panik.
Lee mengangkat tangannya yang satu lagi untuk memeriksa dahinya, dan ternyata memang benar Zuu jatuh sakit. Lee pun langsung khawatir juga bingung tak keruan, ia berpikir jika tangan yang sedang di genggam oleh Zuu itu maka getarannya akan kembali menghantam, tetapi begitu pun jika dia hanya berdiam disitu saja akan membuat Zuu semakin parah dengan kondisinya.
" bagaimana ini? Apa aku lepas terlebih dahulu setelah aku mengobati-Nya nanti? Tidak akan terjadi hal buruk padanya?? " bimbang.
Alhasil Lee memutuskan untuk mengobati Zuu lebih dulu, dengan bertekad hati akan melakukan-Nya dengan tangkas. Setelah dilepaskan ia berlari cepat menuju dapur untuk mengambil kompresan-Nya. Disaat menuangkan air panas ke dalam wadah ternyata situasi sedang tidak ingin bersahabat dengan-Nya, air panas tersebut malah habis tak tersisa, alhasil Lee merasa geram dan semakin gelisah resah kembali tak pasti. Ia mencoba untuk memasak air terlebih dahulu untuk mendapatkan keinginan-Nya. Sembari menunggu, ia kembali menghampiri Zuu dahulu untuk memegang tangan-Nya kembali. Lama waktu berjalan terdengar di dalam telinga-Nya bahwa air pun mendidih, sigap ia berlari kembali dengan rusuh dan segera menuangkan-Nya ke wadah. Kemudian ia berjalan kembali menuju Zuu dengan senang hati, Lee teralihkan perhatian matanya melihat tangan Zuu yang kembali bergetar kencang, sigap ia berlari dengan kegelisahan. Alhasil tiba-tiba,
" Bruk... " menabarak sebuah dinding.
" Aduh. " rintihnya celetuk.
Dan pada akhirnya berujung jatuhlah air itu karena ulah terlalu bersemangat juga rusuh hati dalam bekerja. Ia tertegun dengan apa yang telah terjadi baru saja.
" Aku baru saja menyelesaikannya, sedikit lagi menginjak di ujung puncak kenapa situasi malah menyuruh-Ku untuk kembali melakukan semuanya dari awal? " syoknya linglung.
Karena melihat sorotan dari wajah Zuu sangat mengkhawatirkan ia bergegas kembali berlari ke dapur dan mengerjakan semua itu dari awal. Setelah lama menunggu, ia mengambil air tersebut dan memasukkan-Nya ke dalam wadah yang tersedia bekas tadi. Kali ini, ia mencoba membawa beda itu dengan ketenangan batin juga raga. Sesampainya disana Lee tangkas sekali mengompres dahi Zuu secara perlahan, meski tangan Lee ikut bergetar karena rasa takutnya yang menghantam, ditambah dengan adanya kembali tangan Zuu yang bergetar kencang. Selesai sudah mengobati, ia kembali menggenggam tangan Zuu dengan sangat erat.
Pagi tiba, akhirnya mereka bisa tidur dengan tanpa adanya gangguan kembali. Amerta terbangun, dan langsung menggosok matanya itu, selepas bangun dari tidur dan tersadar tiba-tiba ia terkejut karena melihat ke arah Zuu di depan-Nya sekonyong-konyong saja berdiri seorang pria tengah menghadap ke Zuu dan membelakangi Amerta. Ia mengira bahwa itu adalah hantu.
" Aaaaaah!!!! " teriaknya.
Sontak Arun ikut terbangun karena ulah Amerta.
" Ada apa?? " tanya Arun terkejut, setengah sadar.
" Siapa orang di depan itu??? " ketakutan sembari menutupi wajahnya.
" Maksudmu?? " linglung.
Arun yang tidak mengerti maksudnya mencoba melepaskan tutupan matanya Amerta itu.
" hey ada apa!?? Kenapa kau bertingkah seperti ini lagi? " bingungnya.
Amerta membuka matanya dan menunjukan apa yang dimaksud-Nya tadi.
" Itu!! "
Kemudian Arun pun melihat ke arah yang dimaksud Amerta, lalu Lee membalikkan badan. Mereka berdua dengan seketika terkejut dan berteriak secara bersamaan.
" Aaaaaaah!!!! " lantang mereka.
Ulah dari teriakan tersebut dapat menghasilkan Zuu juga ikut terbangun.