
Faiz. Isangat kebingungan dengan tindakan-Nya. Amerta yang demikian melihat perbuatan Faiz karena memegang tangan Zuu pun bertanya-tanya.
" Apa kau mempunyai hubungan khusus dengan laki-laki ini?? " bisik Amerta.
Zuu hanya terdiam dan panik karena pertanyaan dari Amerta.
" jika kalian memang mempunyai masalah khusus, sebaiknya carilah tempat lain untuk diselesaikan, aku berharap kau baik-baik saja Zuu, aku mengkhawatirkan-Mu. " tegur ajar Amerta.
Setelah mengatakan itu Amerta sigap pergi meninggalkan mereka berdua. Zuu yang demikian merasa bingung juga agak kesal dengan tindakan Faiz pun bertanya.
" Ada apa? Kenapa kau lakukan itu di sini? Bukankah kau juga mengetahuinya? Sebaiknya perhatikan perbuatan-Mu. " tegur ajar Zuu dongkol.
" Aku minta maaf, ini... Aku hanya ingin memberikan-Mu sarapan pagi, aku yakin kamu akan menyukainya. " sahut Faiz tersenyum.
" Oh benarkah? Euu... Sebenarnya aku sudah makan tadi, tapi tak apa aku akan memakannya juga nanti di siang hari. Apapun itu terima kasih. " ujar Zuu tersenyum riang.
" Aku senang dengan tanggapan-Mu. " ujar Faiz juga tersenyum bahagia.
" Baiklah. Sampai nanti, aku akan masuk lebih dulu, sekali lagi terima kasih untuk makanan-Nya. " ujar-Nya sembari bergegas pergi.
Faiz sunguh-sungguh girang dengan sorotan Zuu baru saja. Kemudian ia pun menyusul dari belakang. Jam pelajaran di mulai, dan Zuu duduk di kursi seorang diri karena Arun sepertinya sedang di sibukan oleh situasi. Lama pelajaran terus berlangsung akhirnya bel istirahat pun tiba, dan Arun pun terlihat baru saja datang dari luar, guru yang berada di kelas pun langsung berkata,
" Pelajaran pertama telah usai, lihat saja catatan juga soal pelajaran tadi ke teman sekursi-Mu Arun. " ujar-Nya sembari membereskan barang-barang di meja.
" Baik Buk. " sahut Arun.
Guru itu pun demikian juga anak-anak di kelas pergi keluar ruangan, Arun berjalan menghampiri Amerta dan mengatakan.
" Aku pinjam buku-Mu yah? " tanya-Nya.
" Oh, eumm baiklah, tunggu sebentar. " sahut Amerta dengan sedikit ganjil.
Arun pergi duduk di kursi-Nya dengan tampak wajah letih juga linglung. Zuu merasa penasaran akan tingkah Arun hari ini membuka pembicaraan lebih dulu.
" Ada apa? Semuanya baik-baik saja? " bertanya-tanya.
" Oh tidak apa-apa, tenang saja hehe... " sahut Arun tersenyum.
" Baiklah. " ujar-Nya kembali.
Kemudian, Zuu pun memberikan buku catatan-Nya kepada Arun.
" ini bukunya. Kau bisa mengembalikan itu sebisa-Mu. " ujar Zuu sembari menyerahkan buku.
" Ah... Tidak perlu, Amerta akan meminjamkan buku miliknya padaku. " tampik-Nya tersenyum.
" Oh, benarkah? " Zuu merasa ganjal.
Tiba-tiba Amerta menghampiri kursi Zuu dan Arun untuk memberikan bukunya itu.
" Ini, jangan lupa untuk dikembalikan, oh jaga juga buku itu dengan baik mengerti kau Arun?! " peringatan-Nya.
" Aku mengerti, aku mengerti. " sahut-Nya sembari menerima bukunya.
" Oh ya Zuu mari..., " ajak Amerta terselang oleh Arun.
" Zuu, kami tinggal dulu yah? Ada sesuatu yang ingin kau beli? Biar kami saja yang mengambil-Nya. " tawar-Nya.
" Ah tidak-tidak, hari ini aku menyimpan makanan di dalam tas. " elak-Nya panik.
" lagi pula aku juga tidak mempunyai uang sepeserpun untuk dibeli, uangku habis semua di toko es krim itu. " gunyam-Nya kesal hati.
" Baiklah, kalo begitu kami istirahat lebih dulu, sampai nanti. " ujar Arun seraya menarik tangan Amerta dan pergi.
Untuk mengisi waktu yang lompong Zuu memutuskan mengerjakan soal yang diberikan guru tadi, setelah selesai Zuu pun hanya berdiam saja. Lama waktu berjalan, akhirnya rasa jemunya meledak-ledak karena keadaan-Nya yang mencanggungkan ia pun kesal hati.
" Grrr!! Kenapa nasibku begitu amat menyedihkan hiks... Aku lapar!! " keluh kesahnya sembari menjedotkan-jedotkan kepala ke meja.
Seketika Zuu teringat dengan makanan pemberian dari Faiz, ia pun langsung girang dan sesegera-Nya dikeluarkan makanan itu.
" ah... Ini sangat bagus, sepertinya keadaan mulai bersahabat dengan-Ku. Apa ini? Wah makanannya terlihat sangat menggoda, apakah Faiz membuat ini sendiri? " ujar-Nya senang hati.
Saat Zuu ingin memasukkan suapan pertama tiba-tiba saja salah seorang siswa datang dan memanggil Zuu.
" Oh, baiklah aku datang. " sigap Zuu menyahut dan lekas membereskan bekal makanan-Nya.
" ahh!! Apa lagi sekarang? " dongkol beranjak berdiri.
Sampai-Nya di ruangan guru, Zuu dikagetkan dengan adanya kehadiran Faiz yang tengah duduk menghadap Kepala Sekolah, ia pun seketika langsung panik juga rusuh hati, kemudian Zuu menarik napas dalam-dalam agar terlihat tetap tenang dan biasa-biasa saja. Zuu pun menghampiri Kepala Sekolah itu dengan keadaan berdiri.
" Iya Pak, ada apa saya dipanggil kemari? " tanya Zuu dengan lembut juga kebingungan.
" Duduk. " perintah-Nya.
" Hah? Oh baiklah. " sahut-Nya sigap duduk.
Zuu begitu pun juga Faiz menundukkan kepala dengan perasaan benar-benar gelisah resah karena situasi yang begitu mencekam juga mengkakukan mereka berdua. Kemudian, Kepala Sekolah tiba-tiba saja menyodorkan sebuah telepon kepada mereka.
" Hubungi salah satu anggota keluarga kalian di Rumah, sekarang. " perintah-Nya dengan tenang.
Seketika mereka mendongakkan kepala mereka dan terkejut.
" Maksud Bapak? Memangnya ada apa? " tanya Zuu tergagap-gagap.
" Tidak ada yang perlu dijelaskan, telpon saja cepat. " gesa-Nya.
Faiz pun bertindak lebih dulu, kemudian ia berbicara di dalam telpon meminta kepada Ayahnya untuk datang kemari. Mereka berdua bergiliran. Zuu menekan nomor Lee untuk dihubungi, diangkatlah oleh Lee.
" Halo. " seru Zuu dalam telepon.
Setelah diangkat dari-Nya, Zuu mendengar di dalam telepon begitu sangat ricuh karena sebab itu membuat Zuu sulit berkomunikasi dengan Lee, ia tetap berusaha memberitahu beserta tegas.
" Halo Kak? Kak kau mendengar-Ku tidak?? " seru Zuu.
" Oh iya Zuu ini aku ada apa? " lantang Lee.
" Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa bising sekali? Bisa kau matikan dulu suara apa itu?? " tegas Zuu.
" Hah? Oh iya, iya. " sahut-Nya.
Tapi pada kenyataannya Zuu masih tetap mendengar keriuhan musik yang sedang Lee nyalakan, karena terlalu bertele-tele akhirnya Guru pun menegur Zuu untuk berbicara secara cepat langsung ke inti pokoknya.
" He, kenapa berliku-liku seperti itu kau ini!? Bicara cepat! " tegur-Nya.
" Iya buk. " sahut-Nya mengangguk.
Zuu berusaha berbicara kembali kepada Lee?
" halo Kak? " serunya dengan lembut.
" Zuu ada apa Zuu?? Kau masih di sana?? " sahut Lee kebingungan.
" Tentu saja aku masih disini, Kak tolong dengarkan baik-baik. " tegasnya.
" Iya Zuu ada apa Zuu ini aku? " teriak-Nya.
" Ahh... dia ini menjengkelkan!! " gunyam-Nya.
Zuu berusaha menenangkan dirinya.
" kak, aku membutuhkan bantuan-Mu sekarang. " bisiknya geram juga gelisah.
" Hah?? Apa Zuu? kau menyuruhku untuk apa? beli Jambu batu atau batu karang atau bagaimana? Memangnya untuk apa kau memerlukan itu?? " tanya Lee berteriak-teriak dalam telepon.
" Ahh bukan, siapa yang menyuruhmu membeli itu?! Kak aku dalam masalah segera datanglah kemari. " ujar-Nya kesal.
" Hah? Iya tentu aku juga akan membelikan-Mu kemiri. Apa sekarang kau sedang menghadapi ujian praktek? " sahut Lee kembali.
Zuu yang dari tadi dongkol dengan sahutan Lee pun meledak-ledak dihadapan gurunya.
" Kemiri apa maksud-Mu hah?? aku menyuruh-Mu untuk datang kemari!! dasar bebal!!! " cacatnya seraya membentak.
Sontak itu menjadi pusat perhatian Kepala Sekolah.