
" Aaarrggh! Anak itu memang menjengkelkan, aku akan menyusul-Nya, bagaimana bahwa dia benar-benar menemui seorang pria kembali, tentu itu akan membuat-Nya dikeluarkan dari sekolah ini. " tegasnya sigap berlari.
Zuu yang tengah menggerutu sendiri karena peristiwa tadi pun terus menarik napas dalam-dalam mengendalikan emosinya.
" Huh... Hah... Huh... Hah... Tubuh-Ku berasap!!aaarrggh... Ini sungguhan!! Apa ini? Aku tidak mengerti dengan akal pikir-Nya Kak Lee. Tunggu, ini pertama kalinya ia berkata manis menyanjung-nyanjung orang seperti itu, apakah ini nyata haha... " kesalnya.
" Zuu. " serunya.
Langkahnya terhenti seketika, karena tiba-tiba saja seperti ada seseorang yang memanggilnya dari belakang, ia pun menoleh.
" lama tak jumpa. " ujar-Nya kembali tersenyum manis.
" Kakak!!?? " kejutnya.
Zuu langsung terkejut juga tak mempercayai bahwa Kakak pria berada di depannya sekarang, Zuu lekas menghampiri dengan penuh kegembiraan.
" halo Kakak. Wah... Ini sulit di percaya aku mampu melihatmu lagi hahaha... Eh tapi bagaimana Kakak bisa berada di sini?? " senangnya juga kebingungan.
" Hehe... Sekarang aku menjadi guru tari baru di sini. " ujar-Nya tersenyum bahagia.
" Benarkah itu?? Berarti Kakak akan..., eh tunggu, bukankah Kakak saat ini juga tengah belajar di luar negara?? Bagaimana bisa Kakak menjadi seorang pelatih di sini? " bertanya-tanya.
" Ya tentu, di luar sedang mendapatkan musim panas, kami libur sementara. Sayang sekali jika hanya berdiam di rumah, mempergunakan kelebihan dalam diri sepertinya akan lebih menyenangkan. " sahutnya.
" Oh begitu. Apakah Kakak akan melatih kami setiap hari? " tanya Zuu kembali.
" Jika aku mampu tentu saja. " sahutnya.
" Wah sungguh?? Luar biasa, itu pasti menyenangkan bisa melakukan-Nya dengan Kakak. " ujar-Nya tersenyum girang.
" Apakah kamu sungguh-sungguh ini pertama kalinya melihat-Ku kembali?? " tanyanya geli hati.
" Iya benar, hari ini benar-benar sangat membahagiakan bagiku, Kakak tahu? Ini di luar dugaan hehe... " ujar-Nya tersengeh.
" Haha... Ada-ada saja kamu ini. Tapi Ku-kira ini adalah kedua kalinya kita bertemu. " ujar-Nya.
" Hah?? Tidak, sekian lamanya tak jumpa ini pertama kali Zuu melihat Kakak, sungguh! " tegasnya juga kebingungan.
" Hahaha... Benarkah? Tunggu sebentar, mungkin dengan adanya ini bisa memulihkan ingatanmu. " ujar-Nya geli hati sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung plastik-Nya.
" Moci es krim?? Bukankah makanan ini bekas gigitan-Ku tadi pagi. " Zuu linglung.
Seketika Zuu teringat kejadian pagi tadi.
" oh... Kakak orang yang aku tabrak di pagi hari? " tanyanya.
Ia pun mengangguk.
" ahh... Jika benar begitu aku sungguh-sungguh minta maaf, karena terlalu asik juga tergesa-gesanya berlari sehingga tak sengaja menabrak Kakak. Aku bersungguh-sungguh. " malu besar.
" Itu bukan masalah, aku sangat mengerti dalam situasi-Mu diwaktu tadi. " ujar-Nya tersenyum.
" Benarkah? Tapi aku tetap merasa malu juga tak nyaman hati jika seperti ini, aku kurang menyapa-Mu dengan baik. " rendah dirinya.
" Tidak-tidak, banyaknya manusia yang bersapaan dengan-Ku kamu adalah orang yang terbaik diantara lainnya. " sanjungnya.
Sontak Zuu tersipu malu.
" Tentu saja itu tidak benar. " tersengeh.
" Aku mengatakan dengan kenyataannya. " pujinya kembali.
Zuu hanya tersenyum malu akan sanjungannya, tiba-tiba ia pun mengeluarkan moci es krim itu dari dalam kantung plastik-Nya sembari mengatakan.
" sangat tidak sopan hanya memberikan makanan bekas, aku juga menyimpan ini untuk di berikan padamu. " ujar-Nya menyodorkan es krim di tangan-Nya.
" Wah... Ini sungguh untuk-Ku?? Hahaha... Kakak memang yang terbaik, terima kasih banyak. " ujar-Nya sigap mengambil.
Karena merasa tidak enak hati Zuu menunduk tersenyum.
" Oh ya, perlu Zuu ketahui..., " ujar-Nya
" Apa itu? " tanyanya, dongak.
Ia pun mendekatkan mulutnya di depan telinga Zuu.
" Sejujurnya saja, saat kamu menabrak-Ku tadi pagi, minuman yang belum sama sekali aku nikmati juga ikut terjatuh bersama barang-barangku. Aku menuntut gantinya. Sebagai tanda rasa tanggung jawab kamu, mari selepas usai sekolah ajak aku makan. " bisiknya.
" Oh ya tentu baiklah, aku juga sudah berjanji untuk mengganti itu Kak hehe... " kejut-Nya juga tergagap-gagap.
" Terima kasih Kak. " teriaknya.
Zuu benar-benar gembira riang karena mendapatkan makanan pemberiannya.
" ini pasti sangat enak. " ujar-Nya sembari membuka kemasan.
Saat ingin memasukkan suapan pertama tiba-tiba Pow!... Mendabak Lee menepak bahu Zuu sambil mengatakan.
" Hey, sekarang mau kemana kau hah?! Pandai sekali rupanya kau ini menyusahkan orang lain.
Karena rasa terkejut es krim yang baru saja ingin di santap oleh-Nya jatuh. Sigap Zuu melihat ke arah mata Lee dengan bengis.
" Ada apa? Kenapa menatap-Ku seperti itu dan jawab pertanyaan-Ku! " tegur ajar-Nya.
Zuu menutup mata sembari menarik napas dalam-dalam agar menghilangkan rasa amarah-Nya. Setelah reda, ia pun mengambil kembali moci es krim yang sudah tergeletak di lantai itu. Saat ingin dimakan kembali sigap Lee menyepak dengan tangan-Nya, menimbulkan es krim jatuh untuk ke 2 kalinya. Zuu berusaha berdesah kembali, tapi nyatanya amarah-Nya tak bisa di sejukkan Zuu langsung marah.
" Kau mau mati. " cacatnya perlahan.
" Hah?? " kebingungan.
" Apa kau sudah kehilangan akal hah!!? Apa yang kau lakukan Lee su!!! " lantangnya membentak.
Seketika Lee berlari dengan cepat. Zuu pun mengejarnya. Di tengah berlari ia pun merasa kelelahan dan memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Pelajaran di mulai kembali, entah sebab apa mendabak ingatan ucapan Lee datang menghantui Zuu. Ia pun berbisik kepada Arun.
" arun! " serunya membisik sembari mencolek bahunya.
Ia pun tersadar dan menoleh ke arah Zuu dengan bertanya-tanya.
" Ada apa? " sahutnya.
" Bagaimana jika Arun ikut juga menginap bersama Amerta nanti?? " ajaknya.
Seketika Arun tercengang-cengang juga kebingungan.
" Euu... Untuk apa aku ikut? " tanyanya kembali.
Zuu tergagu-gagu menjelaskan.
" Euu... Seperti ini, bagaimana ya? Anggap saja ajakan ini sebagai sambutan hangat pertemanan kita, aku juga belum pernah melihatmu berkunjung ke rumah. " ujar-Nya.
" Tapi jika memang kebenarannya begitu, aku tidak bisa tinggal hingga 1 minggu itu terlalu lama bagiku. " sahutnya kembali.
" Tidak mengapa haha... Apa masalahnya, yang terpenting nanti ikut juga bersama Amerta. " tuturnya kembali.
" Aku akan meminta izin dulu kepada orang tua. " sahut Arun dingin.
" Hehe... Tentu baiklah, aku sangat menanti kedatanganmu. " ucap Zuu tersengih.
Ia benar-benar menjadi canggung dengan tanggapan dan perilaku Arun hari ini, entah kenapa sekarang ia seperti orang asing baginya. Mereka pun melanjutkan belajar-Nya. Jam pelajaran pun telah usai, belum pulang dibunyikan, kemudian Amerta lekas sekali menghampiri kursi Zuu untuk mengajak-Nya pulang bersama-sama. Tapi Zuu menolak.
" Zuu, mari kita pulang. " seraya merangkul.
" Euu... Aku pasti akan sangat menyesali berkata begini, hari ini aku tidak bisa pulang bersama kalian. " elaknya.
" Tapi kenapa?? " kebingungan.
" Aku ada janji dengan seseorang. " sahutnya.
" Dengan siapa itu? Apa dengan Kak Lee?? " bertanya-tanya.
" Bukan, pulanglah lebih dulu. " elaknya kembali.
" Emm... Lalu Kak Lee dimana? " tanya Amerta kembali.
" Ahh... Aku benci mendengar itu, aku tidak tahu dimana dia. Kau cari saja. " sahutnya dengan suram.
" Baiklah, kau yang rugi harus ini aku pulang bersama Arun. sampai nanti. " pamitnya sambil merangkul lengan Arun.
Tanpa pikir panjang Zuu menghampiri Ruang Guru, ia melihat kesana kemari untuk mencari keberadaan Kakaknya itu, karena lama menunggu akhirnya Zuu memutuskan berjalan dan menunggu-Nya kembali di depan Sekolah. Terlihat semua orang begitu pun juga para Guru sudah pergi pulang, ia sekarang sudah merasa jemu, kesal karena terlalu lama berdiri di sana. Akhirnya buah pun berbuah manis juga, Kakak pria itu datang menghampiri Zuu.
" Ah... Kenapa tidak dari tadi. " gunyamnya.
Tiba-tiba pukk!! Kakak pria Zuu itu mendabak menyentuhkan wajah-Nya ke muka Zuu dengan menutup mata, Zuu yang merasa tak nyaman hati hanya tertegun juga bergemetar tangan.