Blue Love

Blue Love
Koma



Tapi, apapun keputusan Zuu Lee pun bergegas pergi melajukan Mobil-Nya. Ditengah perjalanan Amerta terus merasa ketakutan, dan memberikan gelang pasangan.


" kak. Kenakan gelang ini sekarang saja, agar ketakutan kita berkurang. " gesa Amerta.


" Hah?? Oh. Euh... " Lee kebingungan sambil melirik-lirik ke arah Zuu melalui kaca.


Zuu melihat kembali ke arah Lee. Amerta menepak bahu Lee.


" Ada apa? Aku akan membantu-Mu untuk memasang-Nya. " ujar Amerta.


Amerta memasangkan gelangnya di pergelangan tanggan Lee. Kemudian ia langsung memegang tangan Lee dengan erat dan menunjukkan-Nya kepada Zuu.


" Zuu bagaimana bagus tidak? Indah bukan? " tanya Amerta.


Saat menoleh ke belakang, ia terkejut melihat Zuu sudah tak sadarkan diri, Amerta dan Lee mulai panik berusaha membangunkan Zuu.


" Zuu... Kau tidak apa-apa kan? Hey bangun! Kak bagaimana ini? " serunya dengan panik.


" yasudah. Sebaiknya kita segera membawa-Nya ke Rumah Sakit Kak. " saran Amerta.


" Tidak. Aku akan membawanya pulang ke Hotel, itu yang diinginkan Zuu tadi. " sahut Lee.


" Apa?? Aku sungguh tidak mengerti maksud kalian berdua, untuk apa kita membawa orang yang terluka ke Hotel? Memangnya itu tempat penampungan orang yang sakit?? Lebih membingungkan bagiku, membawa pulang?? Sebenarnya kalian berdua ini tinggal dimana?? " tanya Amerta dengan terheran-heran.


Lee hanya berdiam karena panik harus berkata apa. Amerta hanya menghela nafas, dan pasrah dengan keputusan dari Lee. Sampai di Hotel bergegas menggendong Zuu untuk masuk ke dalam Hotel. Ia pun menidurkan-Nya di Kasur. Amerta bertanya kembali.


" lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Memangnya Kakak tidak mengkhawatirkan kondisi-Nya Zuu? Lihat wajah-Nya yang dipenuhi darah, itu sangat mengenaskan. " ujar Amerta.


" Aku sudah memanggil seorang dokter, sebentar lagi ia akan segera tiba. " sahut Lee dengan menghela nafas.


" Ampun! Itu sama saja 11, 12. Kenapa tidak langsung saja pergi ke Rumah Sakit, itu pasti akan mempermudah penanganan untuk Zuu. Disana pasti alat-Nya lebih lengkap daripada yang dibawa sekarang oleh dokter. " ujar Amerta kembali dengan jengkel.


" Ikuti saja apa yang disarankan Zuu sebelum-Nya. " sahut Lee kembali.


Amerta terdiam. Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Zuu, mereka berdua tegang juga khawatir dengan hasil-Nya. Lee dan Amerta melihat dokter itu membersihkan luka-luka pada bagian kepala-Nya Zuu. Setelah selesai dokter itu memberitahukan kondisi Zuu.


" Keadaan-Nya sekarang sedang koma mungkin, karena banyak-Nya darah yang keluar menjadikannya kekurangan tenaga, tidak ada yang perlu dikahwatirkan semua-Nya baik-baik saja. Saya memesan jika, nanti dia siuman jangan memberinya sebuah cemilan atau makanan ringan, biarkan dia untuk memakan yang sehat juga berprotein. Agar lekas sembuh. Jika, dia merasa pusing atau mual, berikan obat yang sudah saya resepkan disini. Ingat!! Jangan berikan dia makanan yang tidak sehat, berbanyak juga minum air. Aku juga sudah membersihkan darah-darah yang berada di wajah-Nya tadi, dan mengobati luka-luka nya. " nasihat Dokter itu dengan memberikan sesobek kertas resep obat.


Dokter itupun pergi. Lee begitu pun juga Amerta merasa lebih tenang setelah mendapatkan kabar baik dari Dokter, hari juga sudah malam Amerta tidur di Kasur Lantai, begitu pun juga Lee sama halnya tidur di Kasur Lantai, hanya saja mereka berbeda tempat, Lee dibagian kanan sedangkan Amerta sebaliknya. Ditengah tidur Amerta terbangun karena merasa haus, ia berdiri dan mengambil sebotol air di atas Meja, ketika minum ia melihat Lee yang tengah merenung di balkon Amerta terheran-heran dan menghampiri-Nya. Ia pun bertanya.


" Kakak belum tidur? " tanya Amerta dengan menepak bahu-Nya.


Lee terkejut dan langsung memalingkan wajah-Nya dengan mengusap air matanya.


" Ah... Kau terbangun karena-Ku? " tanya Lee dengan gagap.


Saat melihat wajah Lee sontak itu membuat Amerta terkejut karena, wajah Lee yang dipenuhi air mata.


" Kakak menangis?? " tercengang bengang.


" Wah... Seperti-Nya aku sangat iri dengan Zuu, ia beruntung sekali mempunyai orang yang begitu sangat khawatir terhadap saudara-Nya. " puji Amerta dengan tersengih kagum.


" Hah... Aku tak mengerti maksud-Mu. " Lee mengelak.


" Kak. Eum... Seberapa besar sayang-Mu terhadap Zuu saudara-Mu? " tanya Amerta.


" Haha... Kenapa bertanya seperti itu? " tanya Lee kembali.


" Ah... Katakan saja, aku ingin mengetahui-Nya. " belai Amerta sambil memegang lengan Lee.


Lee menghela nafas dan menyahut pertanyaan Amerta.


" Huh... Dia dan aku adalah keluarga, Ibu dan ayah-Ku adalah keluarga. " terhenti.


Tiba-tiba Amerta menyelang.


" Tunggu-tunggu, haha... Aku ingin mengubah perkataan-Mu, tolong perankan aku menjadi orang tua-Mu. Hanya sebagai contoh saja tapi, rasa sayang kepada mereka itu kenyataan-Nya. " selang Amerta.


" Euh... Baiklah. Jadi pada intinya, kau dengan-Nya itu sama halnya adalah keluarga-Ku. Tapi, rasa sayang-Ku kepada-Mu lebih besar daripada rasa sayang-Ku terhadap Zuu. " tersenyum.


Lee merenung sejenak kemudian, ia melanjutkan perkataan-Nya.


" tapi, sepertinya Zuu lebih beruntung dari bayangan-Ku, orang yang seharusnya memiliki rasa sayang terbesar-Ku ini telah meninggalkan lebih dulu. Aku tidak tahu harus berkata apalagi. Mungkin, aku memberikan semua rasa sayang-Ku ini kepada Zuu. " sahut Lee kembali dengan tersenyum.


" Euh... Maafkan aku, euh... Maaf apa orang tua-Mu sudah tiada? " gagap dan panik.


Lee mengangguk. Amerta merasa bersalah dengan sigap mengubah topik pembicaraan-Nya.


" euh... Begini, kau merasa ada yang aneh tidak dengan Zuu. Maksud-Ku, ini sangat tidak lazim ia dikejar-kejar oleh hantu. Kau berpikir sama tidak dengan-Ku? Dan lebih aneh-Nya lagi, dia melarang kita untuk pergi ke Rumah Sakit. Apakah Kakak mengetahui sesuatu dengan masalah Zuu? Eh, tidak-tidak! Maksud-Ku... Menurut Kakak ini bagaimana? " ujar Amerta dengan gagap.


" Euh... Mungkin, aku mengetahui sedikit tentang hal ini. " sahut Lee.


Seketika itu membuat Amerta terkejut juga kebingungan.


" Maksud Kakak? " tanya Amerta dengan terheran-heran.


" Mungkin, yang dimaksud Zuu itu baik, pada intinya dia tidak ingin orang yang tidak tahu apa-apa terlibat dalam masalah-Nya, mungkin dia tidak ingin membahayakan banyak orang. Begitu pun juga sama halnya dia menyuruh-Mu untuk tidur bersama kami itu. " sahut Lee kembali.


" Hah?? Aku..., " terhenti.


Tiba-tiba gedebug!... Terdengar seseorang jatuh, saat melihat ke belakang ternyata itu adalah Zuu, sontak itu membuat mereka berdua terkejut dan sigap menghampiri Zuu untuk membantu membangunkannya.


" Zuu kau tidak apa-apa? " tanya Amerta juga Lee dengan panik.


Zuu menolak bantuan dari mereka berdua.


" Tidak-tidak. Aku baik-baik saja. " sahut Zuu.