Blue Love

Blue Love
Zuu VS Lee



Lee tercengang bengang dengan isi catatan tersebut, Lee mengambil sebuah pulpen diatas Meja dan menulis sesuatu di kertas itu. Ia meletakkan di buku belajar-Nya Zuu. Kemudian, Lee pergi keluar dan secepatnya kembali dengan membawa banyak sekali barang untuk memasak. Ia mulai memasak dan memasang musik di televisi, suara musik itu dibesarkan sehingga menimbulkan suara yang keras, sontak itu membuat Zuu terbangun dengan terkejut dan mencari asal suara itu.


" Akh... Suara apa ini?? Berisik sekali!! " dongkol-Nya dengan berdiri.


Zuu langsung terkejut dan kebingungan kenapa televisi-Nya bisa menyala dengan keadaan musik yang begitu keras.


" apa ini?? Siapa yang menghidupkan televisi ini?? " lantangnya dengan terheran-heran.


Lee pun muncul dengan membawa sekantung tepung terigu di tangannya, dan mengatakan.


" Halo. Wah maafkan aku Zuu, sepertinya aku telah menggangu tidur-Mu, aku sungguh minta maaf. " ujar Lee.


" Apa yang sedang kau lakukan?? Bagaimana jika nanti kita ditegur kembali seperti dulu, memang-Nya kau mau kita diusir dari sini?? " tegas Zuu.


Lee menepuk terigu yang berada di tangannya itu, sehingga menimbulkan muka Lee terpenuhi oleh debu tepung, ia mengatakan.


" Aku ingin membuat kue. " sahut-Nya dengan menepak terigu.


Seketika itu membuat Zuu tertawa dengan tingkah-Nya yang konyol, Zuu pun melihat ke dapur.


" Apa ini?? Apa yang ingin kau buat sebenarnya hah? " cela-Nya dengan tersengih.


Zuu melihat-lihat adonan yang dibuat oleh Lee, ia sangat geli hati.


" ini adonan atau sup tepung terigu?? Kenapa dipenuhi air begini?? " cela-Nya dengan tertawa.


" Aku ingin membuat kue Zuu. " sahut Lee dengan dongkol.


" Kau bukan sedang membuat kue tapi, ini lebih mendekati membuat susu kambing putih. " cela-Nya.


" Huhh... " Lee menghela nafas karena rasa kesal.


" ini lebih baik daripada kau tidak pernah memasak apapun. Kau hanya mengetahui makan dan makan saja, kau belum mengetahui betapa berartinya kenangan memasak bukan? Aku dengan-Nya sudah bersahabat, jadi akan Ku-buatkan sekarang makanan mewah versi rumahan. " ujar Lee kembali.


" Maksud-Mu apa hah!? Hey dengar Lee su, dari cara meracik-Nya saja aku sudah mual melihat makanan yang dibuat oleh-Mu, bagaimana bisa kau berkata AKAN KU-BUATKAN MAKANAN MEWAH VERSI RUMAHAN. Haha... Versi lokal juga seperti-Nya kau tidak akan diterima untuk ikut kompetisi. " cela-Nya dengan geli hati.


" Apa kau tidak mempercai bahwa, aku ini pandai dalam memasak. " tanya Lee dengan dongkol.


" Aku jawab mentah-mentah, sangat meragukan. " cela-Nya dengan tersenyum puas.


Lee pun langsung memasak dan menyiapkan segalanya. Ditengah memasak Zuu menegur Lee dengan terbahak.


" apa ini?? Hey haha...sudah aku duga kau memang tidak pandai dalam hal ini. Jika, memang tidak bisa... Sebaiknya, diam saja. " cela-Nya.


" Apa maksud-Mu, aku belum menunjukkan apapun padamu. Tunggu saja. " sahut Lee dengan kesal.


" Haha... Belum menunjukkan apa maksud-Mu hah?? Haha... Hey, kau sudah menunjukkan semua kemampuan-Mu, dan semua itu buruk di mata-Ku. " cela-Nya kembali.


" Hey, kau belum melihat semua-Nya. " selang Lee.


" Belum melihat semua-Nya apa?? Belum sampai dititik akhir kau sudah memasukkan sayuran ke dalam adonan kue ini, sepertinya kau memang berniat untuk membuat sebuah sup, bukan kue. Haha... Apalagi, jika aku melihat kau memasak sampai akhir, sudah menjadi capcai roti. " terbahak dengan mencela.


" sudah. Berikan itu pada-Ku, perhatian dan dengarkan. Mengerti? " ujar Zuu kembali dengan mengambil centong ditangan Lee.


Zuu membuka telepon-Nya dan melihat tutorial membuat kue. Ia pun mulai memasak, Lee memperhatikan cara memasak Zuu. Ia terpukau dengan Zuu yang sangat berhati-hati juga rapi, ditambah dengan paras wajah Zuu yang menghiasi seluruh ruangan. Lee memutuskan untuk membantu Zuu juga.


" Aku yang akan memasukkan ini ke dalam Oven. " ujar Lee dengan mengambil adonan yang sudah ditata rapi dalam loyang.


Mereka berdua bekerja sama membuat kue besar itu. Selesai sudah, mereka lanjut menghiasi kue-Nya. Akhirnya pun, kue tar itu selesai dibuat oleh mereka. Zuu sangat senang melihat hasil masakan-Nya yang sempurna meski, dalam pembuatan-Nya campur tangan dengan Lee, yang terpenting sekarang ia bisa merasakan bagaimana susah dan lelah-Nya dalam proses memasak. Mereka membawa kue itu ke tengah Ruangan, Zuu mengambil sebuah piring kecil juga hal lainnya untuk merayakan hari ulang tahun Ibu-Nya.


Mereka berdua saling menatap kue-Nya dengan terkagum-kagum akan ketidakpercayaan ini semua bisa terjadi.


" Ini sangat cantik, bagaimana bisa kita menyelesaikan ini semua. " Zuu terharu.


" Kita ini memang mempunyai bakat terpendam yang sangat luar biasa . " ujar Lee.


" ini untukku? " tanya Lee.


" Tentu saja, cepat buka mulut-Mu. " sahut Zuu.


Lee membuka mulutnya dan disuapi oleh Zuu. Dak, dig, dug... Jantung Lee berdetak-detak. Zuu bertanya.


" apakah ini enak? " tanya Zuu.


" Tentu saja. Ini sangat lezat juga bagus. " sahut Lee.


" Aku berharap, semoga Ibu saat ini juga sedang memasak untuk merayakan ulang tahun-Nya. " ujar Zuu.


" Percayalah, mereka juga pasti tak akan melupakan tanggal ulang tahun-Nya. " sahut Lee.


" Benarkah? " tanya Zuu dengan cemberut.


Zuu tiba-tiba merasa sedih, Lee mencoba untuk menghibur-Nya dengan cara langsung memuji kembali kue itu.


" Wah... Luar biasa, bukan hanya enak saja ternyata, kue ini sangat mempunyai kelembutan yang khas. Aku sampai, tidak mengira bisa memakan makanan selezat ini. " puji Lee dengan mulut dipenuhi makanan.


" Ah... Benarkah? Hey! Jangan berlebihan seperti itu, masakan ini bukan hanya aku saja yang membuat-Nya tapi, kau juga ikut membuat ini semua. " sahut Zuu.


" Tidak. Sungguh, apa maksud-Mu hah? Aku hanya memasukkan kue ke dalam Ovenan saja, aku memuji rasa khas di dalam kue ini. " ujar Lee kembali.


" Jika, kau tidak pandai dalam mengatur Ovenan, bisa saja rasa lezat ini hilang karena ke-tidak pintaran-Nya. " sahut Zuu dengan sedikit mencela.


" Apa maksud-Mu? Hey dengar, menurut-Ku ini sangat bagus. Huh... Sangat jarang orang seperti-Mu bisa melakukan hal seperti ini. Jaman sekarang, anak remaja SMA seperti-Mu sangatlah malas dalam melakukan hal ini itu. " ujar Lee dengan menghela nafas.


" Benarkah?? " tanya Zuu dengan kebingungan.


" Tentu saja. " sahut Lee kembali.


" Eum... Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku melihat kue tar sebesar ini. Setiap ulang tahun adik-Ku, Ibu selalu pergi bersama dengan-Ku ke Toko Kue dan, aku melihat yang membuat kue itu adalah anak remaja, bahkan menurut-Ku dia lebih muda dari-Ku. Dan rasa kue-Nya lebih lezat dibanding dengan punya-Ku ini. " sahut Zuu kembali.


" Oh... Benarkah? Maksud-Ku, anak remaja yang lahir dari keluarga yang mampu, yah... Pada umumnya, mereka selalu dimanja-manjakan oleh keluarga-Nya. Ah... Terserah. Tapi, aku bangga melihat-Mu bisa melakukan hal ini. " ujar Lee dengan dongkol.


" Haha... " Zuu tersengeh.


" Hey! Kenapa kau malah tertawa? " ujar Lee kembali dengan kesal.


" Ini bukan sebuah tertawaan kau tahu, aku hanya... " sahut Zuu dengan menatap Lee.


" Hanya?? " Lee kebingungan.


Tiba-tiba Zuu mendengar sesuatu di Ruangan Dapur, iapun segera melihat-Nya.


" Euh... Tunggu sebentar, aku akan kembali. " selang Zuu dengan berdiri. Zuu datang kembali dengan membawa semangkuk sup.


" ini untuk-Mu, cobalah. " ujar Zuu dengan menyodorkan.


" Wah. Kau membuat sup juga? Ku-kira itu tidak akan sempat untuk memasak-Nya tapi, sepertinya kau memang pandai membuat-Nya. " puji Lee.


" untuk pengalaman pertama memasak-Mu sangat bagus, dan berjalan baik. " puji Lee kembali.


" Benarkah?? " menengadahkan kepala-Nya karena tersipu malu.


Saat Lee ingin menyuapi sup-Nya tiba-tiba Zuu berteriak karena terkejut dengan langsung memegang tangan Lee.


" Hey Lee su!! Jang..., " tegas Zuu dengan terkejut.


Mereka terkejut dan saling menatap.