Blue Love

Blue Love
kesalah pahaman yang hakiki



Zuu terus mengatakan dengan gagap, bahwa ini semua salah paham. Tetapi Bapak itu tidak percaya, dan Mereka diseret keluar dari ruang Kamar Hotel. Zuu melihat Pria yang tadi mengejarnya berdiri di depan pintu Kamar Hotel.


" Tunggu-tunggu . Kau? ah...aku tahu kau pasti dalang dari semua ini bukan? Ah aku mohon, aku sungguh minta maaf padamu. Cepat katakan kepada-Nya, bahwa ini semua hanya salah paham. " memohon.


" Tidak, itu semua benar. " sahut Pria itu dengan mendongakan kepalanya.


Zuu menendang kaki Pria tadi itu sambil membisik.


" Dengar! aku ini bukan Wanita murahan Kau tahu!! Aku..., (Terhenti) " membisik.


" huh... Tenanglah Zuu tenang, jika tidak Pria ini akan membunuhmu. " menghela nafas (bicara dl hati)


Zuu menarik nafas dalam-dalam dan, berbicara kembali dengan perlahan juga kelembutan batin.


" dengar. Aku sungguh minta maaf padamu karena persoalan tadi, sungguh aku tidak tahu. Kuu-kira Kau memang mengambilnya tapi, itu semua salah, yah itu semua salah-Ku. Aku memang ceroboh. " menggetok- getok kepala sendiri.


" aku tahu, Aku yang salah. Maafkan Aku, lagi pula tidak terjadi apa-apa dengan-Mu kan. Jadi, mari kita berdamai dan berteman dengan baik " memohon dengan ketenangan batin.


" Maafkan Aku, sepertinya Aku tidak bisa memaafkan-Mu. " sahut-Nya dengan tersenyum licik.


" Hey Kau! Aku sudah bicara perlahan Kau masih saja..., " membentak.


" Cepat bawa Dia, ini akan sangat membahayakan bagi kita semua, jika tidak segera bertindak, dosa yang Dia terima akan terciprat kepada kita juga! " gesa pria itu.


" Tidak, itu tidak benar. Aku bersungguh-sungguh tidak melakukannya, hey Kau! Mati saja Kau. Hey!! " Berteriak sambil diseret menuju Lantai bawah.


Penginap Hotel itu, juga memanggil para bala bantuan lainnya untuk mengurus persoalan ini.


" Cepat telpon Ibu Ayah kalian, untuk segera datang kemari " Menyodorkan handphone.


Zuu juga Laki-laki itu, tercengang. Zuu beralih pandangan kepada seorang polisi yang baru saja datang didepan Pintu. Dan menatap tajam.


" Ampun... Ampun... Sungguh! Aku tidak melakukan apapun, tolong jangan tangkap Aku, tangkap saja Dia " menunjuk kearah laki-laki yang berada di sisi-Nya. Ia terkejut dan ternganga dengan apa yang telah dikatakan Zuu.


" Jika, memang tidak ingin ditangkap. Maka cepat lakukan! " bentak pekerja Hotel itu.


Tanpa basa-basi Zuu langsung menelpon Ibunya secara singkat.


" Mmm... B...b..Baiklah. Halo Ummah... Mmm anu Ummah, segera datang kesini Mah'... Aku akan mengirimkan lokasinya sekarang juga. Terima kasih. " gemetar.


Setelah menelpon, Zuu bergiliran dengannya. Tapi, Laki-laki itu tidak menggunakan dengan menelpon, ia hanya menggunakan, dengan sebuah kiriman pesan chat saja. orang-orang itupun menunggu. Zuu mencolek bahu Laki-laki disebelahnya itu.


" stt... Stt... Apa Kau bisu? " membisik.


" Aku tidak bisu. " jawabnya juga, membisik.


" Lalu, kenapa Kau hanya diam saja?! " membisik.


" Aku tidak tahu, tapi aku yakin. Tidak akan terjadi apa-apa, karena kita memang tidak bersalah." jawabnya kembali dengan membisik.


" Uh, benarkah? Apa Kau yakin? " terkejut.


" Tentu saja, kita kan memang tidak melakukan apa-apa, jadi tidak usah panik. "


Zuu merasa lebih baik dan tenang setelah mendapat jawaban dari laki-laki yang berada di sebelahnya itu.


" Ah... Kau benar, seharusnya Aku tidak perlu panik seperti ini haha... " tersengeh.


Zuu kembali bertanya.


" tapi, apakah Kau tahu? Apa yang akan mereka lakukan kedepannya? "


" Aku tidak tahu. Aku bukan dukun. " membisik.


Setelah lama menunggu, Zuu juga laki-laki itu mulai mengantuk. "Hoam..." melek. Saat ingin tidur.


" Jangan ada yang tidur!! " melek kearah Zuu.


" Ah. Ya, maafkan Aku. " ruyup.


Saat ingin meruyupkan mata, dengan secara mendabak orang-orang berseru.


" Oh!!!... " merusuh.


Dengan terkejut Zuu terbangun, tapi eh tetapi yang lebih mengejutkannya lagi, mendadak berdiri seorang laki-laki mengenakan peci juga berpenampilan rapi. Siapa sangka ternyata itu seorang penghulu. Zuu pun mendongakan badannya.


" Maksudnya apa ini? " panik.


" Duduk kembali, duduk kembali!! " bentak orang-orang disana.


" Tidak! Pak penghulu saya difitnah Pak, saya bersungguh-sungguh tidak melakukan apapun. " menjelaskan


" usia saya masih dibawah 50an Pak, saya masih seorang Siswa SMA berumur 16thn, bahkan..., bahkan saya tidak mengenali laki-laki ini Pak, bagaimana bisa saya berhubungan, dengan seorang Pria yang sudah berumuran Pak. Hey, usiamu berapa? " tergagap.


" 39 "


" Tuhkan bujang tua, Pak tolong percaya Pak. " tersedu-sedu.


dor...! dor...!!


Dengan secara tiba-tiba, suara tembakan pistol 2 kali, dan membuat semua hening. Ternyata itu berasal dari polisi yang dari tadi, memperhatikan masalah ini. Polisi-Pun mengatakan dengan lantang sambil menatap tajam kepada Zuu juga laki-laki itu.


Zuu terdiam, dan duduk kembali dengan gemetar. Penghulu bertanya.


" Nama Kamu siapa? "


" Ji-youngjoo, ah maafkan Aku, maksud-Ku Siti Zuubaidah. " gagap.


" Binti? "


" Park Jihoon. Ah bukan, Pak Johanzaidin. Maafkan Saya. Tapi Pak, Ayahku sudah tiada. " tersedu-sedu kembali.


" Iya, baiklah. "


" Savage " mendongak.


" Maksudmu? " lantang.


" Ah, tidak. " menyeleweng pembicaraan.


Giliran Laki-laki itu-Pun ditanyakan.


" Namamu siapa? "


Penghulu terus bertanya, tapi Laki-laki itu malah melamun dengan menganga .


" Namamu siapa " lantangnya.


" Uh... Nama-Ku..., " terselang.


" Bujang tua, hahaha... " selang Zuu dengan terbahak


Bam!!!... Suara meja dihentak dengan keras oleh salah seorang yang sedang menyaksikan.


" Diam!! Dasar kau ini!! Perempuan tidak tahu malu! " membentak.


Zuu terdiam dan meminta maaf.


" Namaku Lee Suho"


" Hah!!! " Semua terkejut.


" Alee Suharto!! Ali Suharto!! " jelas alee.


" Ah... Kukira Lee Suho. Hey! Berbicaralah dengan jelas!!" bentak.


Pak Penghulu-Pun bersiap untuk berjabat tangan dengan Ali. Dan akad-Pun berlangsung. Zuu juga laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena suasana disana memanas. Mundur salah, apalagi maju, ditambah dengan kehadirannya polisi yang sedang memantau perkara ini. Setelah selesai akad, Zuu dan Alee resmi menjadi pasangan suami istri.


Zuu tersenyum dengan paksa juga lucu.


" ahe... Hiks... (Rintihan hati Zuu) tidak kusangka. Pernikahan impian-Ku hancur hanya dengan beberapa kedipan mata, tak kusangka dalam beberapa detik aku telah menjadi istri yang tidak aku kenali seperti Dia, oh apa kata Dunia. Jika, mereka tahu bahwa aku menikah dengan seorang Pria yang sudah berumur 39 tahun! 39!! 39!!. Oh aku sungguh benci dengan angka 39. Ha... Hiks... " tersedu-sedu meruyup.


" Apa Kau terharu dan bahagia dengan pernikahan ini? " mendongak kearah muka Zuu.


Zuu membuka matanya, dan terkejut.


" Apa!! Benarkah ini!? Apa ekpresi-Ku menunjukkan seperti itu ? " melotot karena terkejut.


" Hem... Iya " tercengang.


" Ketahuilah. Jangan melihat dalam ekpresi-Ku, itu semua tidak benar. Lihatlah yang sebenarnya dalam hati-Ku" tersenyum.


Zuu juga laki-laki itu-Pun diusir dari tempat itu. Saat tengah mendorong mereka berdua keluar. Ibunya Zuu datang dengan mengatakan.


" Ada apa ini!? Kenapa anak saya didorong-dorong tidak pantas seperti itu oleh kalian hah!! " membentak. Ibunya-Pun memeluk Zuu.


" Ada apa ini, kenapa ditengah malam seperti ini, kamu bisa berada di Tempat ini?! " bertanya dengan lembut.


Dengan lantangnya seseorang langsung mengatakan Zuu melakukan hal yang dilarang oleh agama dan hukum negara.


" Putri Ibu telah bersenggama dengan Pria ini" menunjuk ke arah Lee.


" Hah!! " terkejut.


Dengan spontan Ibunya langsung melepas pelukan Zuu.


" benarkah itu?! Benarkah itu Zuubaidah!!!? " membentak.


Raut wajah Ummah terganti dengan langsung marah, dihiasi dengan ketidak percayaan. Ia membentak-bentak Zuu sambil mengatakan kembali.


" apa kamu tahu?!! Bersenggama itu sangatlah dilarang oleh agama!! Itu memalukan! Keji, hina! itu bisa merusak Kehidupan dan Dunia Kamu! Zuu sungguh telah mencoreng nama baik Ummah. Zuubaidah " lantangnya dengan kecewa.


Zuu terus mengatakan bahwa ini semua salah paham, Ibu-Nya terkejut juga tidak mempercayai ini semua, matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian Ibu Zuu menangis pergi meninggalkan Zuu.


" Zuu tidak pernah, melakukan itu Ummah." jawab dengan perlahan.


" Kamu kotor Zuu, jangan temui Ummah " berteriak sambil berjalan pergi.


Zuu hanya menatap kepergian ibu-Nya.