Blue Love

Blue Love
bimbang



" baiklah, euu... Tetapi, aduh bagaimana euu.. Baik Pak! Saya akan sesegera-Nya ke sana. " kaku lidah, kebingungan.


Selepas itu, Zuu langsung berkeputusan untuk membawa Lee ke rumah sakit terdekat saja. Di tengah menggandeng tiba-tiba ia bertanya.


" Jadi sekarang kita akan berjalan kaki saja untuk bisa sampai ke rumah? " lemasnya.


" Euu... Aku tidak mempunyai pilihan lain, kita akan pergi ke rumah sakit saja. " sahutnya.


Lee yang merasa keheranan pun, merasa ragu dengan keputusan-Nya.


" Bukankah, kau sangat tidak menyukai aroma rumah sakit? Jangan terlalu memaksakan diri. " kritiknya.


" Apa masalahnya? Itu bukan penghalang besar untuk-Ku, yang sekarang ada dl pikiran-Ku 2 hal yaitu, kondisi-Mu juga biaya jasa perawatan-Mu. Tapi semoga saja tak lama lagi kesulitan ini harus di akhiri. " ujarnya.


Lee tidak terlalu banyak bicara karena kondisi tubuh-Nya yang begitu usak. Kemudian akhirnya rumah sakit sudah terlihat jelas di mata Zuu lekas ia membawa Lee ke dalam dan segeralah di tangani dokter. Lalu Zuu pun pergi cepat dari sana untuk menemui atasannya itu. Untungnya Zuu masih mempunyai simpanan uang sedikit hanya bisa di pakai untuk ongkos kendaraan umumnya. Ia pun naik ke dalam dan menyuruh supir tersebut berjalan dengan secepat-cepatnya. Setelah lama memakan waktu alhasil Zuu tiba juga di tempat yang di tujunya, ia menggesa-gesakan diri berlari cepat menuju tempat tujuan berikut-Nya yaitu menemui atasannya.


" selamat malam Pak, maafkan saya datang terlambat, sungguh tadi ada masalah sehingga terlambat untuk datang. Sekali lagi mohon maaf Pak. " ucap Zuu menundukkan kepala.


Saat majikan-Nya menoleh ke belakang, dan melihat keadaan Zuu sontak saja langsung terkejut-kejut dengan ternganga.


" A...apa yang terjadi dengan-Mu?? Mengapa kau begitu kumal sekali? Sangatlah masam untuk dilihat banyak orang! " kritiknya.


" Euu... Aku minta sekali Pak, karena baru saja musibah menimpa saya, itu sebabnya waktu untuk membersihkan diri tidak ada bagi saya, karena dengan cepatnya langsung saya ke sini untuk menemui bapak. " jawabnya.


" Grrr!! Malam pertama kamu bekerja Zuu? " sindirnya.


" Iya Pak, saya tahu sekali euu... Tapi, " beresah-resah.


" Sudahlah, saya hanya bisa berharap untuk kedepannya kamu menjadi lebih baik dari sekarang. " ujarnya.


" Iya Pak, saya akan berusaha keras. " ucapnya Zuu kembali.


Majikan Zuu sangat memperhatikan kondisinya saat ini.


" Tapi aku sangat mengkhawatirkan dirimu, mengapa ada banyak coret-coret di tubuhmu. Kau yakin tidak apa-apa? Akan baik-baik saja? " bingungnya bimbang.


" Oh... Ha... Tentu saja ini bukan masalah Pak, tidak selayaknya di risaukan, hanya sebagian luka dari musibah tadi. " ujarnya tertawa.


" Euu... Baiklah. Lakukanlah yang terbaik untuk bekerja, kau hanya mempunyai beberapa jam disini mengerti Zuu? " semangatnya.


" Baik Pak, terima kasih banyak. " ucap Zuu.


" Sebelum memulai sebaiknya bersihkan dirimu terlebih dahulu, aku tidak akan pernah percaya jika kau berpenampilan begitu di hadapan para tamu nanti. " kritiknya.


" Euu... Iya Pak, tentu saya akan merapikannya. " sahut Zuu.


" Ahh ada-ada saja, apa semua anak sekolah selalu bersifat seperti itu? " cela-Nya sembari pergi berjalan.


" Halo Zuu, malam ini kau sangat bekerja dengan baik, sayang sekali jika di sia-siakan. " sanjungnya.


" Ah... Terima kasih banyak Pak, pekerjaan ini sangat berharga bagi Zuu, meski hanya separuh untuk berada di sini, tapi sungguh Zuu sangat senang. " tersengeh.


" Haha... Iya baiklah. Tapi perlu tetap kau ingat Zuu, datanglah sesuai dengan aturan berlaku di kafe ini, tolong kerja sama-Nya. " nasihatnya.


" Tentu saja Pak, aku akan berusaha keras. " sahut Zuu tersenyum.


" Baiklah, waktu benar-benar sudah larut dan cepatlah segera pulang. " tutur katanya.


Setelah mendengar ucapan darinya sontak ia langsung merasa panik juga gelisah resah tak keruan karena ia memikirkan soal biaya rumah sakit nanti yang harus di tempuhnya. Ia tergagap-gagap untuk meminta bantuan dari atasannya.


" Euuu... Benarkah?? "


Zuu terpaku. Ia yang merasa kebingungan pun langsung bertanya.


" Ada apa?? Haha... Apa kau tidak ingin pergi? " olok-oloknya geli hati.


" kau nyaman disini, apa Zuu juga berniat untuk tidur disini? " senda guraunya.


Ia pun menjelaskan.


" Euu... Hehe... Itu, sebenarnya Zuu ingin memohon bantuan kepada bapak. " kaku lidah.


" Bantuan?? Euu... Apa yang bisa aku tolong itu? " bingungnya bertanya.


" Euu... Saat ini... Aku benar-benar tidak mempunyai uang, kondisi orang yang bersamaku sekarang ini terbaring di rumah sakit, dan Zuu sangat di gundahi dengan biayanya nanti. Euu... Jika bapak berkenan hati mengulurkan tangan untuk meminjamkan uang kepada Zuu, tentu sekali itu sangat-sangat berterima kasih juga berharga bagi kami. " ujarnya menunduk.


" Benarkah itu?? Euu... Sebelumnya aku benar-benar minta maaf Zuu, saya pasti akan menyesali telah mengatakan ini tapi, sungguh! Aku belum bisa memberi pinjaman kepada karyawan yang baru saja bekerja bersama kami, apalagi Zuu ini hanya seorang pekerja paruh waktu di tempat ini. Kafe ini juga baru saja di buka beberapa bulan lalu. maksudku resikonya tentulah sangat besar jika terlalu banyak uang yang keluar dari sana sini, kau pasti sekali mengetahui apa yang dimaksud oleh-Ku. Percayalah pada dirimu sendiri, tapi untuk ini saya tidak bisa membantumu. Aku yakin orang-orang terdekatmu pasti bisa lebih di andalkan dibandingkan aku. " sahutnya sedih hati.


Zuu susah hati sekali setelah mendengar jawaban dari majikannya, tapi ia juga mengerti apa yang dikatakan atasan-Nya itu. Alhasil ia tak mengharap apapun lagi dari majikannya tersebut.


" Euu... Iya Pak, saya amat paham sekali. Huh... Tolong maafkan saya ya Pak. Kalo begitu saya mohon pamit. " ujarnya berdesah, sedih.


Zuu pun lekas pergi dari tempat itu. Di tengah-tengah perjalanan termenung juga bersusah hati alhasil air yang berlinang di matanya tak kuat menahan rasa sakit hatinya.


" hiks... Hiks... Bagaimana ini!!? Apa yang harus aku perbuat?? Tentu aku sudah berusaha keras dan menduga bahwa dia tak akan bisa meminjamkan uang-Nya. Sebelumnya aku benar-benar mengandalkan dia bisa menolong-Ku tapi pada kenyataannya ini hanya membuang-buang waktu saja. Kira-kira Kak Lee sudah di tangani dokter atau belum? Jika dengan tubuhku bisa membayar biaya rumah sakit itu, dengan tegas aku akan siap selalu. " keluhnya merintih menangis.


" apa sebaiknya sekarang aku pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan-Nya? " pikirnya.


seketika juga niatnya terhenti.


" tapi untuk apa? Jika mereka menanyakan pembayarannya lalu aku harus bagaimana?? " bingungnya.