Blue Love

Blue Love
Tidak nyaman



" Euh... Iya, aku sudah pulang. " sahut Lee.


Zuu hanya mengangguk, dan melanjutkan belajar-Nya. Lee yang merasa bersalah dengan kejadian tadi langsung berhenti berbicara. Lee menepak bahu Zuu kembali.


" euh... Zuu. " panggil-Nya.


" Hah? Oh apa? " sahut Zuu sambil belajar.


" Aku lapar, bisa tidak kau buatkan aku makanan? Setidaknya nasi saja tidak apa-apa. " ujar Lee dengan lesu.


Zuu yang mendengar, seketika terkejut dan tidak menyahut ujaran dari Lee. Lee yang melihat tanggapan dari Zuu pun langsung pergi mengambil kasur lantai-Nya dan tidur. Zuu beranjak berdiri, berjalan ke arah ruang belakang untuk menyiapkan sedikit makanan untuk Lee. Selesai sudah, Zuu meletakkan masakan-Nya dihadapan wajah Lee, seketika Lee terbangun dengan aroma-Nya dan berkata.


" wah... Ini untuk-Ku?? " tanya Lee dengan tercengang bengang.


" Aku hanya bisa membuatkan-Mu makanan instan saja, aku juga terlalu sibuk untuk mengerjakan tugas ini. " sahut Zuu seraya belajar.


" Tidak-tidak... Aku sangat senang dengan makanan ini. Terima kasih Zuu. " ujar-Nya.


" Yah... Mungkin, makanan itu tidak seberapa dibandingkan dengan masakan yang selalu disiapkan oleh Amerta. " sahut-Nya kembali.


" Meski begitu... Aku sangat senang jika, kau yang membuatkan-Nya. " ujar Lee kembali.


Seketika itu membuat Zuu tercengang bengang, dan merasa canggung dengan perkataan Lee.


Saat Lee ingin mengangkat makanan-Nya, tiba-tiba ia merintih kesakitan. Aaarrggh...! Mungkin, itu efek dari kecelakaan tadi sebelum-Nya. Sontak Zuu terkejut dengan *******-Nya, ia pun sigap melihat ke arah Lee, dan bertanya.


" Ada apa? Apa makanan-Nya tidak lezat? " tanya Zuu dengan canggung.


" Oh. Tidak, ini bukan dari makanan-Nya. " sahut Lee.


" Lalu? " tanya Zuu kembali.


" Euh... Tadi, ditengah perjalanan untuk kemari... Aku tidak sengaja hampir menabrak orang, untuk menghindari-Nya aku menabrakkan diri-Ku. Mungkin, ini efek dari kecelakaan tadi. " sahut Lee kembali.


Zuu termangu, saat Lee berusaha untuk mengangkat-Nya kembali, Zuu pun mengambil makanan itu dan menyuapi Lee dengan perlahan. Lee pun tercengang bengang dengan tindakan Zuu.


" Kau ini bisa menyeduh sebuah kopi, lalu untuk menyuapi dirimu sendiri saja tidak bisa? Apa itu? " cela Zuu dengan menyuapi Lee.


" Mungkin, tadi itu belum muncul rasa sakit-Nya. " sahut Lee dengan canggung.


" Itu lucu. " tersengih.


Suasana mulai mencanggungkan, Zuu berkata kembali untuk mengalihkan perhatian.


" ee... Kak. Itu apa..., eumm itu besok eu... Aku akan keluar bersama teman-teman, mungkin aku nanti bangun lebih dulu untuk lari pagi bersama mereka, mmm mereka mengatakan kita akan mengadakan pesta di sebuah Restoran bersama. Jadi, kemungkinan aku akan pulang terlambat. " sahut Zuu dengan gugup.


" Oh yasudah, jalan saja. " sahut Lee dengan gugup.


Seiring berjalan-Nya waktu, Lee berbicara kembali kepada Zuu.


" mmm... Aku minta maaf dengan kejadian tadi. Aku tidak mengira bahwa itu adalah kau, itu sebabnya aku memukul-Mu. " ujar Lee kembali dengan gugup.


Tidak ada sahutan dari Zuu, sontak itu membuat Lee merasa tidak nyaman hati, ia pun berkata kembali dengan tegas.


Sontak itu membuat Zuu terkejut dengan perkataan Lee dengan mengatakan.


" Maksud-Mu... Sekarang kau diberhentikan bekerja?? " tanya Zuu dengan ternganga.


" Kenapa terkejut?? Huh... Itu semua karena-Mu, apa kau tahu? Siapa yang baru saja kau pukul-pukul itu? Dia adalah atasan baru-Ku! Aku memulai pekerjaan baru bersama-Nya, dl sekejap mata kau menghancurkan semua-Nya. Huh... Padahal aku melakukan itu juga untuk-Mu. Bagaimana dengan besok? Darimana aku harus membayar penginapan ini? Jika saja mereka tidak memecat-Ku, aku yakin hidup kita akan lebih terjamin. " Lee merutuk dengan geram.


Karena Zuu merasa tidak nyaman hati dengan perkataan Lee, ia pun berusaha untuk menjelaskan.


" Perlu kau tahu juga alasan-Nya kenapa aku melakukan itu... Kakak " sahut Zuu.


" Haha... Itu lucu. Memang-Nya, apa alasan-Mu sehingga beraninya memukul seseorang dengan sembarangan begitu? Hey. Bahkan dia saja tidak mengenalimu, bagaimana bisa kau mempunyai alasan. " Lee tersengih risi dengan mencela.


" Kau bahkan belum mendengarkan alasan-Nya apa. " sahut Zuu dengan susah hati.


Lee pun menarik nafas dalam-dalam dan mengatakan.


" Katakan. " ujar Lee dengan berdesah.


" Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi sungguh semua ini juga kesalahan-Nya sendiri. Dia bertingkah memang layaknya seperti orang jahat, dia mengambil sebuah barang secara bersembunyi begitu, dan yang lebih meyakinkan-Nya diri-Ku... Karena si korban-Nya itu seperti tengah lengah, tak sadar kata lain-Nya Kak. Itu sebabnya aku berpikir begitu. " sahut Zuu kembali dengan sedih.


Lee yang memperhatikan wajah Zuu, sigap memalingkan mukanya. Ia hanya terdiam, kemudian ia mengalihkan pembicaraan.


" Sudahlah, ini sudah malam. Aku akan tidur, begitu pun juga kau. " ujar Lee seraya menyelimuti diri-Nya sendiri.


Zuu yang melihat tanggapan dari Lee merasa sangat meresahkan hati-Nya, ia pun menghela nafas beranjak berdiri untuk menyimpan tempat bekas makan Lee tadi. Zuu kembali ke tempat belajar-Nya dengan termangu. Pagi buta tiba, Zuu bangun dan bersiap pergi keluar. Sampai-Nya di tempat berkumpul yang sudah di rencanakan, teman-teman Zuu wajah mereka tampak suram, Zuu menghampiri dan bertanya.


" Ada apa ini? Kenapa wajah kalian seperti itu? Aku sudah tiba, mari berangkat " ajak-Nya dengan terengah-engah.


mereka pun murka kepada Zuu.


" Sebenarnya kau ini darimana!? bukankah kita telah menyepakati bahwa, akan tiba sebelum matahari terbit, dan sekarang kau mengingkari-Nya. " celetuk salah satu temannya Zuu.


Zuu pun meminta maaf karena keterlambatan-Nya.


" Aku benar-benar minta maaf, sebenarnya tadi aku bangun pagi buta, karena ada sesuatu hal yang mengganjal jadi, aku selesaikan terlebih dahulu. Dan, itu sebabnya aku terlambat. " sahut Zuu.


Arunika pun menyela.


" Sudahlah, jika terus begini... kapan kita akan memulai-Nya, kita juga sudah menyepakati untuk jalan bersama dengan bahagia bukan? " ujar Arunika.


Mereka pun memutuskan untuk mulai perjalanan dengan berlari. Setelah berlari mereka melanjutkan kesenangannya di Restoran sesuai rencana. Mereka memesan banyak sekali makanan juga minuman, seiring berjalan-Nya waktu mereka saling berbicara dengan berdekah-dekah, Zuu pun bertanya ditengah kegembiraan itu.


" Sebenarnya kita sedang merayakan pesta apa? Aku masih bingung dengan semua ini? " tanya Zuu dengan gelak manis.


" Ini semua rancangan dari Arunika, tanya saja pada-Nya. " sahut Amerta.


Zuu pun beralih pandangan ke wajah Arunika dengan bertanya.


" Apa ini?? " tanya Zuu sambil makan