
Selesai sudah, semua anggota dari setiap Sekolah sudah tampil, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saatnya, mengumumkan siapa pemenang yang akan berdiri diatas panggung dan, mendapatkan bimbingan langsung dari orang terpercaya, pastinya akan ada kesempatan bagi orang tersebut untuk menjadi penari yang lebih baik juga dihormati banyak orang dimasa kedepannya nanti. MC pun mengumumkan.
" Selamat untuk... Sekolah SMA Mawar Biru... Uwuhuu... " seru MC itu.
" Sudah aku duga, mereka yang akan menjadi pemenang-Nya. " rentan salah satu teman Zuu.
" Mereka memang pantas mendapatkan-Nya, dengan usaha yang begitu keras, mereka membuktikan bahwa, pada akhirnya kelelahan itu juga pasti akan menghasilkan buah yang manis. " ujar salah satu temannya lagi.
Amerta menoleh ke arah Zuu yang demikian sedang melamun juga terdiam, iapun bertanya.
" Ada apa?? " Amerta menepak.
" T...tidak ada. " gagap, Zuu tersenyum.
" Zuu. Bersiaplah, setelah selesai acara ini nanti, sebagai penutupnya kau dengan Faiz yang akan menghibur orang-orang disini. " ujar Gurunya Zuu.
" Baik Pak. " sahut Zuu.
Tiba pada pengujung acara saat Zuu ingin berdiri berniat naik ke atas Panggung menghampiri Faiz, tiba-tiba Amerta menahannya.
" Aku yang akan menggantikan-Mu, tenang saja. " tersenyum.
Zuu tercengang bengang dengan tingkah Amerta, tapi meski begitu Zuu entah kenapa rasanya lega, sekian lamanya daritadi ia merasa gundah. Sangat jelas sekali Faiz merasa kebingungan dengan kedatangan-Nya Amerta.
" Sedang apa kau disini?? Cepat turun! Jangan membuat drama di atas Panggung, segera panggil Zuu. " bisik Faiz.
" Berisik kau ini, sudah. Cepat lakukan saja jangan membuat nama Sekolah kita menjadi buruk. " tegas Amerta.
Mereka berdua pun memulai dengan baik dan berakhir juga dengan sangat bagus. Sontak semua memberikan tepukan tangan yang meriah.
Tiba pada akhirnya, semua orang berpulang ke Rumah masing-masing. Faiz dan Amerta yang terlihat seperti masih diperlukan oleh para Guru disana. Sedangkan, Lee yang tengah luntang-lantung mencari Zuu entah kemana. Ia bertanya kesana kemari tetapi, tidak ada yang mengetahui keberadaan Zuu. Lee pun merasa kelelahan juga bimbang, karena ditambah dengan situasi yang sudah larut malam.
" Itu anak siapa sebenarnya? Kenapa sekian lama bersama dengan-Nya selalu saja seperti ini. " dongkol Lee dengan terengah-engah.
Iapun mencari di Toilet, bukannya bertemu dengan Zuu tapi, ia malah bertemu dengan Faiz. Lee pura-pura tidak melihat-Nya tapi, Faiz menahan.
" ada apa? Saat ini aku tidak mempunyai kain untuk menutupi wajah-Mu itu. " cela Lee.
" Cih... Haha, hey Lee suha. Kau belum juga sadar sampai sekarang?? " mengolok-olok.
" Ku-beritahu, aku tidak akan menghalangi-Mu untuk berdekatan bahkan menikah dengan-Nya. Jika, kau memang menginginkannya ambilah, tapi jika itu mampu untuk kau raih. " Lee tersengih dengan mencela.
" Dengar Lee. Kenapa sampai sekarang kau masih belum juga melepaskan-Nya? " tanya Faiz dengan dongkol.
" Haha... Kau bertanya seperti itu membuktikan bahwa, kau memang tak mampu untuk mengambil-Nya bukan? " Lee mengolok-olok dengan terbahak-bahak.
" Cih... Posisi Zuu sekarang ditahan oleh-Mu, Tapi apapun itu aku akan tetap mengambil Zuu dari-Mu, baik itu secara perlahan atau cepat. Perlu kau tahu Lee, setiap kali aku melihat Zuu wajahnya selalu dipenuhi dengan kesuraman. Aku mulai mengerti ketika aku tahu bahwa, dia sekarang tinggal bersama-Mu. Kau memang tidak pantas menjadi seorang yang selalu disamping Zuu, aku peringatkan kau gagal menjadi orang yang membimbing kehidupan Zuu. Aku sangat mengkhawatirkan-Nya. " tegas Faiz dengan mencela.
" Hey. Bukankah akhir-akhir ini, dia itu sering bersama-Mu? " tanya Lee dengan mengolok-olok kembali.
Lee pun pergi dengan tersengih bangga. Ia pun melanjutkan untuk mencari keberadaan Zuu berada, lama mencari kesana kemari diiringi keringat basah. Lee memutuskan untuk istirahat sejenak di warung. Ia memesan minum.
" minuman-Nya satu Bu. " memesan dengan terengah-engah kembali.
Saat ia menoleh ke Samping, sangat tidak duga takdir begitu sangat kejam kepadanya. Zuu ternyata dari tadi sedang tenang juga santai-Nya makan disini.
" kau dari tadi disini?? " melotot karena terkejut.
" Aku lapar, semua orang sedang sibuk entah karena apa. Tidak ada yang memperhatikan perut-Ku, hanya warung ini saja yang bisa mengerti keadaan-Ku sekarang. Jadi, itu sebabnya aku kemari. " sahut Zuu sambil makan.
" Apakah sebuah makanan bisa melupakan apapun yang berada di dalam Kepala dan juga kehidupan-Mu?? " cela Lee.
" Hey, setengah nyawaku hampir hilang karena dari tadi aku mencari-Mu kemana-mana!! Aku kira kau depresi karena kekalahan-Mu tadi. Lalu, memutuskan untuk..., " cela Lee dengan mengolok-olok Zuu.
" Aku masih waras. Tapi, karena tidak ada satu orang yang berada disamping-Ku tadi ketika lapar aku hampir gila. " sahut Zuu sambil makan.
" meski gilapun, melakukan hal itu sangat menjijikan bagiku. Aku lebih baik tidak makan satu piring daripada, bunuh diri. " sahut Zuu kembali.
" Haha... Kau..., " Lee tertawa.
Tiba-tiba ia terhenti bicara, karena teringat kembali dengan ucapan Faiz.
" Kau apa?? " tanya Zuu.
" Euh..., " Lee panik.
Tiba-tiba telpon Lee berdering, ternyata itu adalah Ibunya Amerta yang menyuruhnya untuk segera mengantarkan Putri-Nya karena hari sudah malam, Ibunya khawatir jika, terlalu lama diluar terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika perjalanan pulang. Zuu bertanya.
" Ibu Amerta?? " tanya Zuu.
Sontak itu membuat-Nya terkejut juga panik.
" Darimana ia mengetahuinya? " gumam Lee.
" euh... Kau tahu itu..., " gagap.
Zuu menyelang dengan sigap.
" Amerta menceritakan-Nya. " sahut Zuu.
" Owh... "
" Ibu Amerta menyuruh-Mu untuk segera mengantar-Nya bukan? Lalu, kenapa kau masih duduk disini? " tanya Zuu.
" Aku..., " Lee gagap kembali dengan panik.
" Aku akan pulang menggunakan kendaraan online. Tenang saja, segera kerjakan urusan-Mu. " sahut Zuu kembali.
Lee pun bergegas pergi menemui Amerta, Zuu bergumam.
" kenapa aku merasa jengkel melihat-Nya begitu yah? Ah... Lupakan. " gumam Zuu.
Tiba-tiba, minuman Lee baru tiba.
" Ini minumannya. " ujar Ibu warung itu.
" Orang-Nya sudah pergi Bu. " sahut Zuu.
" Loh?? Kenapa seperti itu, Saya sudah lelah membuatkan ini. lalu, siapa yang akan membayarnya? " dongkol Ibu itu.
" Ya... yasudah, Saya saja yang akan membayarnya. " sahut Zuu kembali.
Pembicaraan Zuu terselang karena, secara mendabak berdatangan pria untuk mampir makan.
" Ibu. Makan Bu... 3 piring. " Pria itu memesan.
" Saya 6 piring Bu. " seru dari teman pria yang lainnya.
" Itu akan habis semua atau disumbangkan, banyak sekali. " gumam Zuu.
" Wah... seperti-Nya karena wajah cantik kamu tamu saya berdatangan kemari, bahkan ada yang bukan biasa makan disini jadi ikut juga. Ini untung dadakan, terima kasih... Tidak perlu dikhawatirkan minuman yang tadi, ini semua sudah tergantikan. Sekali lagi terima kasih banyak. " ujar Ibu warung itu.