Blue Love

Blue Love
Gundah Malam



Berjalan kembali dan Min-ah bertanya.


" Eumm memang-Nya, Kak Lee itu pergi kemana?? " ujar Min-ah sambil menyetir.


" Dia mengatakan bahwa, pergi-Nya itu karena bekerja. Alasan aku menunggu Kak Lee karena, esok hari akan ada kompetisi antar Sekolah dan aku ikut serta menjadi anggota-Nya nanti, aku membutuhkan Kak Lee sebagai wakil dari Keluarga-Ku. " jawab Zuu dengan kecewa.


" Oh, memang-Nya penting kehadiran wakil dari Keluarga? " tanya Min-ah kembali.


" Di Sekolah-Ku itu, sangatlah penting kehadiran dari salah satu Keluarga-Nya masing-masing. Kata-Nya, agar kita itu lebih tersemangati dengan adanya keluarga. " sahut Zuu kembali.


" Oh... Kau benar. Yasudah hubungi saja melalui telepon. " saran Min-ah.


Zuu seketika langsung mengeluarkan telepon-Nya dan menunjukkan pesan Chat- Nya dengan Lee, sontak itu membuat Min-ah terkejut dan tersengeh.


" Uhuhu... Mungkin dia sudah mati sampai tidak membalas chat dan panggilan dari-Mu. " ujar Min-ah dengan tersengih.


" Hah!! Mati apa maksud-Mu?? Hey setiap aku berangkat Sekolah, dia sebelum pergi selalu menyimpan uang bekal untuk-Ku. Jika, bukan dia lalu siapa lagi yang memberikan-Nya?? " Zuu terkejut dan murka.


" H...harap bertenang. Mati maksud-Ku itu, telepon-Nya. Oh jadi, dia selalu memberikan uang bekal padamu. Begitu? " tanya Min-ah.


" Tentu saja. " sahut Zuu.


" Lalu yang dimaksud menunggu tadi itu apa?? " tanya Min-ah kembali dengan kebingungan.


" Euh... Itu, ya maksud-Ku, Kak Lee su menyimpan uang-Nya dipagi hari. Kan tadi aku sudah mengatakan-Nya padamu, sebelum dia pergi!! Dia menyimpan uang bekal-Nya. Kau ini tidak mendengar atau bagaimana?? " Zuu menjelaskan dengan dongkol.


" Oh... Haha. Jadi, kau tak bertemu dengan-Nya secara langsung begitu? Tapi, dia sempat hadir untuk memberikan uang padamu?? Lalu, pulang pagi berangkat pagi lagi. Yasudah kenapa kau tidak temui saja Kak Lee dipagi hari? Jika, itu memang penting bagimu. " ujar Min-ah.


" Hmm... Aku masih bisa bangun pada jam berangkat Sekolah seperti biasanya. Tapi, jika untuk bangun sepagi itu sepertinya aku tidak bisa. " lesu Zuu.


" Yasudah jangan tidur. " saran Min-ah.


" Menyesatkan, kau pikir aku ini kalong apa. " cela Zuu.


" Yasudah jangan pedulikan kehadiran keluarga itu. Sa-ngat-meny-usa-hkan. " eja Min-ah.


" Tidak bisa begitu. Lalu, nanti siapa yang akan ikut bersama-Ku jika, bukan Kak Lee. " kesah-Nya.


" Lupakan saja. Apa yang aku bicarakan dari awal sampai akhir. " ujar Min-ah dengan kesal.


" Min-ah... Min-ah... " panggil-Nya.


" Apa sih ah!! " sahut Min-ah dengan dongkol.


Tiba di Hotel, Zuu masuk kembali ke dalam Kamar, ia bergumam.


" Tidak usah tidur? Lalu besok?? " bimbang-Nya.


Zuu terus berulang kata itu dan memutuskan hanya berbaring saja. Dan sebagai penangkal-Nya agar tidak tidur sambil memainkan telepon genggam-Nya. Ditengah asik bermain tiba-tiba, Kuota anda tersisa 0.0 MB. Peringatan dari pesan telepon miliknya.


" Hih... Menyebalkan, orang mah diberitahu itu sebelum terjadi-Nya kecelakaan. Ini kenapa baru diberitahu-Nya sekarang!! Sekarat ini mah. Jika, aku tahu kuota-Nya mau habis akan Ku-isi tadi. " geram-Nya.


Zuu tetap bertahan melek, terus berjalan-Nya waktu muncul hal-hal yang aneh kembali terjadi. Tiba-tiba, lampu hidup-mati sendiri secara terus menerus, dan terdengar kembali suara keran dinyalakan, lalu air-Nya terus mengalir, suara hal aneh lainnya terdengar jelas ditelinga Zuu. Ia terus menahan rasa takut-Nya itu dengan menyelimuti dirinya.


" Ini... Ini yang aku takutkan kembali jika tidak segera tidur. Hiks... Siapapun tolong!! " gumamnya.


" jam berapa sekarang?? Kenapa Bujang talang itu belum datang juga. " gumam-Nya kembali.


" jam 2:30 pagi. Ada apa ini? Benarkah dia yang selama ini memberikan-Ku uang kan? Tapi, bagaimana jika bukan Kak Lee su pelakunya. Ah... Tidak mungkin... " Zuu gelisah.


" Ahhhhh... " lantang-Nya.


Tiba-tiba, Zuu melihat didepan mata-Nya itu berdiri seorang Pria yang sedang memegang sebuah gelas tidak lain adalah Lee su, mereka berdua saling menatap karena terkejut.


" Kak Lee su?? " ternganga.


" Uh... Kau ini membuat-Ku kaget saja. Ada apa? Mimpi buruk kembali? " tanya Lee dengan nada sedikit mencela.


" Euh... Tidak. Tapi, ini nyata. " sahut Zuu dengan gemetar.


" Uh... Sangat aneh memang kau ini. " cela-Nya kembali sambil berjalan ke Arah Meja.


Zuu sigap bangun dan menghampiri Lee.


" Kak Lee baru pulang? " tanya Zuu.


" Hem... Dan akan berangkat lagi sekarang juga. " sahut Lee sambil mengocek kopi-Nya.


" Euh... A...a...aku ingin bicara banyak dengan-Mu, dan ini sangat penting. " ujar Zuu dengan gagap.


" Eummm... Bicara banyak? Wah itu pasti akan sangat menguras waktu. Seperti-Nya aku tidak bisa mendengarkan-Nya sekarang Zuu. Maafkan aku. " sahut Lee kembali dengan berjalan untuk bersiap pergi.


" Yasudah. Aku akan bicara yang penting-Nya saja bagaimana? Aku mohon tolong dengarkan. " ujar Zuu kembali.


" Eumm... Katakan saja cepat. " sahut Lee sambil berbenah.


" Jadi begini, euh... Kau tahu kan? Bahwa, aku ini sangat menyukai dunia dance? " menjelaskan dengan gugup.. "


" Ehem... Lalu? " tanya Lee kembali.


" Tapi, bagian yang paling penting-Nya itu, aku sudah mengirimkan pesan lewat telepon. " ujar Zuu kembali.


" jadi, di Sekolah-Ku itu mengadakan kompetisi antar Sekolah dan, aku ikut serta menjadi anggota-Nya. " menjelaskan.


" Oh... Kompetisi apa yang kau ikuti? " tanya Lee sambil berbenah.


" Aku kan sudah mengatakan-Nya bahwa, aku ini menyukai dunia dance. Dan terpilihlah aku menjadi member di Grup Sekolah itu. " menjelaskan kembali.


" Oh... Oh...maafkan aku. Jadi, seperti itu. " Lee tersengeh sambil meminum kopi.


" Dan, sekaligus juga menjadi makne di member-Ku. Euh... Pada akhirnya guru itu menyuruhku untuk duet nanti bersama... Faiz. " gundah Zuu.


" Wah... bukankah itu sangat bagus, aku cukup mendengar baik tentang Faiz yang memiliki suara indah dan lembut, itu pasti akan menjadi perpaduan yang menarik kalian berdua untuk didengar. Dan, aku yakin mereka pasti menyukai lagu apapun yang dinyanyikan oleh kalian. " sahut Lee kembali sambil menyeruput kopi.


" Euh... Iya, terima kasih. Jadi, kau memperbolehkan-Ku untuk ikut bermain? " tanya Zuu kembali dengan gugup.


Sontak Lee melotot ke Arah Zuu karena terkejut.


" ada apa? kenapa ekpresi-Mu seperti itu? Apa kau tidak setuju? " gundah.


" Iya eh... Tidak. Maksud-Ku bukan begitu. Aku setuju. Yah, aku setuju " canggung.


Zuu hanya terdiam dan menatap Lee dengan kebingungan.


...❣️❣️LOVE YOU ALL ❣️❣️...