
" Euuu... Kalian, tidur seranjang? " tanyanya canggung.
" Tidak, ada apa memangnya? " tanya Zuu balik.
" Euu... Bagaimana dia memperlakukanmu di rumahnya? Pernahkah berbuat kasar pada Zuu? " tanya Kakak itu.
Seketika Zuu langsung menceritakan kelakuan buruknya, sehingga membuat Kakak pria itu menggelengkan kepalanya.
" benarkah dia selalu seperti itu?? Apa kamu tidak berbuat apapun untuk menangkis-Nya? " tuturnya.
" Sebenarnya kami sama gilanya, aku dengan Kak Lee tidak ada bedanya, tapi jika kemarahan dia sudah mencapai puncak mohon maaf, aku yakin siapapun itu tak akan ada yang bisa menandinginya. " cacatnya.
" Haha... Zuu lucu sekali. " gelak manisnya.
" Hehe... Aku hanya mengatakan yang ada dalam pikiran-Ku saja. " ujarnya.
" Lalu bagaimana cara Zuu mengutarakan marah kepada pria itu? " tanyanya kembali.
" Hahaha... Menangis. " tersengeh.
" Menangis?? Wah benarkah?? Zuu menangis?? " terkejut.
" Benar. " sahutnya.
" Wah apa yang dia lakukan sehingga dapat membuatmu menangis, bahkan aku belum pernah melihat setetes pun air mata dalam diri Zuu. " kejutnya.
" Sudahlah lupakan saja. " tersengih.
Makanan pun tiba dan mereka mulai menyibukkan diri dengan makan. Setelah selesai Kakak itu langsung lanjut membawa Zuu jalan-jalan sembari membelikannya beberapa pakaian untuk Zuu di Toko sebagai tanda hadiah darinya.
" Bagaimana dengan baju ini? Kamu menyukainya?? " tanya Kakak itu sembari memegang pakaian.
" Emm... Aku menyukainya. " sahutnya.
" Baiklah, lalu yang ini bagaimana? " tanyanya kembali.
" Itu juga bagus. " sahut Zuu kembali.
Alhasil setiap barang yang disukai Zuu diambil. Kemudian Zuu mencoba satu persatu baju yang di beli oleh Kakak itu. Ia pun mengenakan-Nya untuk dipakai sekarang sambil jalan bersama Kakak itu.
" Pakaiannya sangat cocok dengan-Mu. " sanjung Kakak.
Zuu langsung tersipu malu akan pujian-Nya ia tersenyum dan mengatakan.
" Benarkah?? Ah... Senangnya. Terima kasih banyak ya Kak. " ucapnya tersenyum.
" Emm Kak, sepertinya malam sudah sangat larut, euu... " tergagap-gagap.
" Oh iya benar, aku sangat mengerti maksud dari perkataan-Mu, tunggu sebentar, aku akan mengambil mobil-Ku ditempat pangkir untuk mengantarmu pulang. Zuu pun mengangguk dan menunggu kedatangan-Nya. Di tengah berdiamnya disana Zuu mengirimkan pesan kepada Lee, entah kenapa rasanya ia merasa gundah juga khawatir dengan kondisi-Nya sekarang, entah kenapa kepalanya mendabak saja teringat kepada Lee.
" Kak " panggilnya di dalam ponsel.
Tidak ada balasan darinya, ketakutan Zuu semakin menjadi.
" Hey bujang talang!!! Kenapa kau tidak menjawab pesan dariku hah!? Dasar berengsek huh!! " cacatnya dalam pesan.
Di sela-sela mendongkol juga menggerutu sendiri, tiba-tiba seseorang dari belakang membungkam mulut Zuu sehingga membuat-Nya kesulitan untuk berteriak, Zuu pun ditarik-tarik dan tetap berusaha meronta-ronta agar lepas dari bungkamannya. Tangan Zuu bergetar tak keruan ditambah juga keringat dingin yang membasahi dirinya, keadaan benar-benar mencekam Zuu.
" hiks... Siapapun tolong!! Apa ini?! Hiks!! " rintihan-Nya ketakutan.
Ia tetap sekuat tenaga untuk melepaskan diri, dan usaha pun berbuah manis, Zuu menendang bagian ujung jari kakinya dengan sangat keras, dan itu adalah kesempatan emasnya berlari dengan sangat cepat. Akhirnya Zuu berhasil kabur dari orang yang berniat jahat kepalanya itu, di sela-sela terengah-engah Zuu menoleh ke sana kemari alhasil ia sungguh kelinglungan karena tempat keberadaan-Nya sekarang Zuu tak tahu. Untuk menenangkan diri juga hati ia memutuskan duduk sejenak di sana, di tengahnya berdiam, tiba-tiba saja terdengar suara yang begitu nyaring entah dari mana asalnya, Zuu pun mencari sumber tersebut. Akhirnya ia berhasil menemukannya yang ternyata suara itu adalah seorang penceramah yang tengah menjelaskan pembelajaran di atas panggung besar, Zuu sangat terpukau melihat suasana di sana yang begitu ramai sekali dikelilingi banyak orang, mereka bersorak-sorai sehingga membuat semangat terbakar-bakar. Zuu teralihkan pandangannya kepada sekelompok orang yang begitu sangat mencermati penceramah itu, Zuu pun tertarik untuk ikut mendengarkan dari jauh. Semakin lama mendengarkan semakin Zuu terkejut-kejut matanya juga terbeliak akan ilmu yang disampaikan oleh-Nya, ia baru mengetahui kehidupan sepasang suami istri yang sebenarnya, seketika Zuu tertegun dan merasa seperti orang bodoh. Ia pun melihat-lihat dirinya dengan berpikiran Zuu tubuhnya sangatlah berdosa, baru bisa di pahami dan di sadari bahwa keapesannya akhir-akhir ini karena tindakan bodoh Zuu sendiri, ia mengingat semua kelakuan buruknya kepada Lee. Zuu memang berpikir dari awal dia setelah menikah dengan-Nya sikap Zuu kurang hormat terhadap Lee. Setelah itu pun ia pergi dari tempat itu dengan suasana hati penuh kesedihan juga kekecewaan kepada dirinya sendiri. Lama berjalan menyusuri jalanan, tiba-tiba Bim!, bim!... Tanpa diperkira Kakak itu masih mencari Zuu, ia turun dari mobil dan menghampiri.
" Zuu!! Kamu tidak apa-apa kan?? Apa ini? Kenapa kamu pergi begitu saja, aku mencari kami serta penuh kegelisahan! Apa yang kamu lakukan di sini?? " paniknya menegur.
" Euu... Aku minta maaf sudah membuat-Mu seperti itu. Sungguh! Aku tidak bermaksud apapun. " sahutnya gundah gulana.
" Baiklah, tidak usah bahas hal itu sekarang, cepat masuk ini sudah larut malam. " gesa-Nya.
Siapa sangka ternyata Zuu malah menolak perintahnya.
" Euu... Aku sangat minta maaf tapi, sepertinya itu tidak perlu, aku akan pulang dengan sendirinya. " tuturnya.
" Sendirinya bagaimana?! Jangan bercanda cepat masuk, saat ini aku masih dalam keadaan gundah. Aku amat mengkhawatirkan Zuu, cepat masuk. " tegur ajarnya kembali.
Kakak itu menarik tangan Zuu tegas sekali, tapi ia tetap menolak melepaskan pegangan tangan-Nya dengan keras.
" Ini sungguhan, aku akan pulang sendiri, minta maaf tapi tolong hargai keinginan-Ku. " ucapnya kembali seraya berjalan pergi, murka.
Karena melihat dari paras wajah terlihat memang benar marah, ia pun membiarkan-Nya pergi. Malam itu begitu sangat menyelimuti Zuu sepanjang perjalanan, sekian lama berjalan kaki pada akhirnya Zuu pun tiba ddi depan pintu rumah Lee. Ia merasa sangat canggung juga takut untuk masuk ke dalam. Kemudian, Zuu berusaha menenangkan diri tapi langkah-Nya terhenti karena ia baru teringat barang bawaannya yang berada di tangan-Nya itu, Zuu pun menyingkirkan semua pemberian dari Kakak ke tong sampah, lalu masuklah. Ketika membuka pintu Rumah secara perlahan, hidung Zuu entah kenapa merasa terganggu akan aroma yang dihirupnya di ruangan ini.
" bau apa ini?? kenapa menyengat sekali!! " risihnya.
Di nyalakanlah lampu tersebut, saat melihat Zuu seketika tertegun karena terkejutnya ruangan itu sangat begitu kacau balau, ia menoleh ke berbagai celah-celah bagian rumah dan ternyata memang benar-benar kotor di tambah dengan adanya aroma tak sedap membuat Zuu rasanya ingin muntah. Ia pun berjalan perlahan-lahan menuju meja di ruangan tersebut. Di sinilah Zuu terperanjat amat terkejut karena melihat banyak sekali bekas minuman keras di hadapannya sekarang.
" apa ini?? " terbeliak syok.