Blue Love

Blue Love
Kenapa Rumah ini? #2



Lekas mereka berlari menuju ruangan tadi itu, saat masuk Amerta sudah berdiri dengan menutup wajahnya karena ketakutan.


" Hey ada apa?? Ada apa?? Kenapa kau berteriak?? " tanya Amerta panik.


" Lihat di itu. " ujarnya Amerta sembari menunjuk ke bawah juga menutup mata.


Sigap Lee dan Arun melihat yang di arahkan, setelah melihat sontak mereka juga terkejut-kejut di sebabkan karena menetes darah dengan cara berterusan dari atap ke bawah lantai.


" Apa ini, bagaimana bisa atap itu meneteskan darah?? " heran Lee seraya melihat-lihat ke atas.


Amerta mendekap dengan erat seketika kepada Arun saking takutnya situasi sekarang.


" Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan rumah ini?? " beresah-resah.


" Tenanglah. " ucap Arun.


Sekonyong-konyong saja Lee berlari dengan cepat, sigap Arun pun ikut mengejarnya.


" Eh tunggu!! " keluhnya langsung mengikuti juga.


Lee berlari menuju tangga dan naik ke atas dengan sangat cepat, sehingga hal itu membuat Arun dan Amerta keletihan. Kemudian sampailah tempat yang dituju olehnya yaitu di puncak rumah. Lee gesit sekali mencari Zuu kembali. Merasa sangat kesulitan untuk melihat, disebabkan ruangan tersebut gelap sekali alhasil Lee bertanya.


" Adakah dari kalian berdua membawa ponsel? " terengah-engah.


Sayangnya diantara mereka berdua memang tentunya tidak membawa barang yang diperlukan Lee tersebut.


" Tidak, bagaimana bisa kami membawa sebuah ponsel? Jika tahu situasi akan seperti ini pasti kami merubah pikiran. " ujar Arun.


Lee merasa kecewa juga bimbang kebingungan. Amerta angkat bicara.


" Bagaimana jika aku turun kembali untuk mengambil ponselnya?? " menyarankan.


Lee malah menolak dengan berdesah.


" Ahh tidak perlu, tidak perlu. Aku merasa teringat seperti menyimpan barang bekas disini, siapa tahu ada yang dapat kita perlukan saat ini. " ujarnya.


Lee memutuskan untuk mencoba mencari barang-barang tersebut dengan cara meraba-raba.


" Bagaimana bisa dia melakukan itu? Bukankah Kak Lee sedang kesulitan untuk melihat? " herannya.


" Mungkin Kak Lee menggunakan indra peraba untuk menentukan benar tidaknya. " belotnya.


Di sela-sela mencari, akhinya usahanya kali ini berbuah manis, ia menemukan sebuah lilin ukuran kecil.


" Aku menemukan ini! " girangnya.


Amerta pun meraba hasil pencarian Lee tersebut.


" Apa ini?? Lilin kah? " tanyanya.


" Benar, ini sangat cocok sekali dengan situasi saat ini. " sahutnya senang hati.


" Euu... Itu sangat bagus, aku ikut senang. Lalu... Sekarang bagaimana cara Kakak mempergunakan benda itu? Kak Lee punya korek api atau alat pembakar? " tanyanya.


Seketika Lee tersadar.


" Ahh... kau benar. " sedih.


" eh tunggu, aku akan mencoba kembali untuk mencari alat pembakar-Nya. " selangnya.


Sigap Lee kembali berjalan, mencari dan terus menelusuri dari berbagai arah dengan sekuat tenaga dan hasilnya,


" ah... Aku menemukannya. " senang.


Mereka berdua langsung menghampiri dan bertanya.


" Apa yang kau temukan Kak? " tanya Amerta.


" Ini adalah korek api, meski bekas semoga saja hasilnya baik. Mari segera kita nyalakan lilinnya dan lanjut mencari Zuu kembali. " tutur katanya.


Setelah membuka wadah korek api itu, sayangnya kayu pembakar hanya tersisa satu lagi.


Perkara yang diinginkan Lee pun terpenuhi, apinya dapat digunakan dan tentunya itu akan sangat membantu mereka untuk mempermudah mencari keberadaan Zuu di ruang atap tersebut.


" Zuu!!! Zuu!! Zuu!! Kau mendengar kami tidak. " teriak dari mereka.


Lama mengelilingi ruangan tersebut, Arun dan Amerta kelelahan.


" Kak, sepertinya Zuu tidak ada di tempat ini. " ujar Arun mengeluh.


Lee juga yang merasakan juga menduga sama dengan mereka pun terpaku sejenak karena rasa khawatirnya sangat membuat Lee keresahan. Mereka berdua mencoba untuk mengajak Kak Lee mencari Zuu di tempat lainnya. Telah banyak tempat yang mereka bertiga tempuhi tapi hasil belum mereka dapatkan juga. Keruan sekali hal itu sangat membuat mereka gelisah resah juga membimbangkan, terutama bagi Lee.


" Aku berharap Zuu baik-baik saja. " gunyamnya.


Mereka bertiga pun turun kembali ke lantai bawah. Setibanya disana, perundingan diadakan sejenang.


" jika kita mencari keluar? Bagaimana? Apa kalian tidak keberatan? " tanya Lee canggung.


" Kenapa bertanya? Jika memang harusnya begitu, mari kita lakukan. " sahut Amerta.


Kemudian mereka pun memutuskan untuk keluar mencari pencerahan. Saat Lee baru membuka pintunya tiba-tiba,


" Bruk... " bertabrakan, terjatuh.


Ternyata eh ternyata, orang yang menabrak dengan cukup lumayan keras itu ialah Zuu. Sontak mereka terkejut-kejut dan ternganga keheranan. Sigap Zuu menutup pintu-Nya.


" Zuu?! " kejutnya.


" Hey Zuu!! Kau tidak apa-apa?? Darimana saja hah!? Kenapa kau bisa berada di luar?? " kejut Lee juga bertanya-tanya.


" Hiks...!! Tolong Kak! Tolong aku!! " ketakutan berkeringat dingin.


Mereka yang melihat ekpresi Zuu pun sangat ikut bimbang.


" Ada apa?? Tenanglah Zuu?? " ujar Amerta.


" Aku tidak tahu kenapa?? Aku tidak tahu!! " syoknya.


" Hey Zuu tolong tenangkan dirimu! Bagaimana kami bisa mengerti dengan apa yang kau maksud itu!! Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu hah?? Kenapa bisa kau berkeliaran di luar pada malam-malam buta seperti ini? " tegas Lee.


" Aku bukan berkeliaran!! Aku tidak tahu bagaimana bisa aku berada di tempat itu!! Mengerikan!! Hiks... Sungguh sangat menakutkan!! Seseorang telah membawa aku ke sebuah kuburan!! " ujar Zuu bergemetar ketakutan.


Jelas sekali mereka terkejut dengan apa yang telah dijelaskan oleh Zuu, mereka merasa sedikit tak mengerti dan tak mempercayai dengan perkataan-Nya.


" Hah!!? Apa?? " kejut mereka.


" Aku tidak tahu!! aku tidak tahu!! hiks. " ketakutan.


Zuu masih terlalu syok akan apa yang telah menimpa dirinya, berbeda dengan Lee ia merasa sudah mulai mengerti kondisi terjadi-Nya sekarang ini. Tak lama kemudian, pintu rumah Lee terbuka dengan lebar disebabkan saja mendadak angin kencang datang dan menghantam mereka, Lee sigap menutup kembali pintu itu. Setelah itu, ia pun menyuruh teman-temannya Zuu untuk segera tidur.


" Sebaiknya kalian cepat masuk kembali ke kamar kalian dan beristirahatlah dengan tenang. " suruhnya.


" Bagaimana kami bisa lakukan itu Kak, sedangkan saja untuk berjalan aku merasa tertegun untuk melangkah!! sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?? " keluhnya sedih bertanyalah.


" Euu... semuanya akan baik-baik saja sungguh! kita tidak perlu acuhkan perkara apapun yang akan terjadi nantinya, ini semua mungkin hanya... " ucapnya terhenti.


Tiba-tiba,


" Geluguk... geluguk!!! " terdengar jelas sekali suara guruh di telinga mereka, dan karena hal itu menambah suasana hati takut gelisah resah Amerta semakin menjadi-jadi.


" Aaaaahhh!! kenapa suara-Nya nyaring sekali??? " rintihnya.


Arun yang merasa keheranan pun bertanya.


" Bagaimana bisa guruh datang secara mendabak begitu? kami baru saja melihat di luar sedang tidak ada hujan?? "


Lee yang merasa khawatir dengan kondisi mereka pun mencoba untuk mencari alasan yang logis.


" Nah, itu sebabnya kenapa angin tadi datang dengan kencang, menandakan bahwa hujan lebat akan tiba malam ini. " elak-Nya sigap.