
Lee Mencari barang yang dilempar Ibu-Nya waktu itu dan seharusnya sekarang dimiliki oleh Zuu. Karena keras-Nya berusaha hingga membuat kamar Lee berantakan, kacau balau.
" aaarrggh... Sebenarnya dimana aku menyimpannya?! Otak apa yang aku miliki sehingga ceroboh begini!! Aaarrggh... Dasar otak ayam!!! " geram-Nya dengan memukuli kepala sendiri.
Lee sangat dibuat jengkel oleh dirinya, seketika ia tersadar mengingat menyimpan benda itu.
" oh, di dalam jaket itu aaarrggh... Dasar kau!! " geramnya seraya menghampiri yang dituju-Nya.
" ah ini dia. Cincin milik Zuu sangat indah. " ujar Lee tersenyum.
Ia pun menghampiri Zuu untuk memberikan benda itu. Ketika Lee masuk ke Ruang Keluarga, ia tak ada ditempat-Nya, padahal tadi masih terlihat berbaring di atas kursi panjang, Lee demikian langsung panik pun mencari ke sana ke sini. Eksesif Lee mencari dengan kekhawatiran akhirnya istirahat sejenak.
" huh...hah...huh... Dimana sebenarnya Zuu berada?? " tanya Lee terengah-engah.
Ditengah Lee mengatur napasnya, tanpa diduga saja tiba-tiba terdengar lantunan piano yang di tekan secara merutup dengan perlahan di Ruang Musik, segeralah dilihat olehnya. Saat ia melihat ternyata memang benar ada orang di ruangan itu, yang demikian adalah Zuu tengah memainkan piano hanya dengan sekali tekan - sekali tekan juga sembari merenung. Lee pun lega tetap adanya keberadaan Zuu.
" aaarrggh... Anak ini, aku kira dia benar-benar pergi meninggalkan-Ku. " gumamnya seraya mengelus-elus dada.
Lee menghampiri Zuu secara perlahan dan memuji-muji.
" wah... Apa ini? Siapa sangka ternyata kau juga pandai dalam memainkan alat musik. Kau tah..., " ujaran Lee terhenti.
Saat dia sedang berbicara Zuu malah meninggalkan tempat duduk-Nya dan beranjak pindah ke bawah, Zuu melanjutkan renungan-Nya, sedangkan Lee tetap bersikeras agar membuat dia terhibur oleh-Nya, Lee duduk di kursi itu dan memainkan piano dengan sangat mahir. Saat ditengah ia menghayati musik-Nya, tiba-tiba Lee ditimpuk sesuatu sehingga mengenai kepalanya, ia pun sigap melihat ke arah Zuu dengan melotot.
" Diamlah suasana hati-Ku sedang buruk, aku juga tidak menyukai musik untuk saat ini. Aaarrggh... Dasar kau. " tegur ajar-Nya.
Lee benar-benar dibuat jengkel lagi oleh-Nya, ia menggerutu dalam hati.
" Tidak menyukai musik?? Lalu untuk apa dia datang ke sini?! bahkan memainkan-Nya?? Aaarrggh...!! Huh... Hah... " gumam Lee berdesah.
Lee menarik napas dalam-dalam untuk mendinginkan amarah-Nya, kemudian ia menghampiri kembali dan duduk di sebelahnya.
" ehem... Apa sekarang aku pantas bicara? " tanya Lee dengan lembut seraya berdeham sumbing.
Zuu hanya melihat ke wajahnya sejenang dan kembali merenung diri. Lee yang menyesali atas perbuatan-Nya tadi pun mulai meminta maaf.
" aku mengakui-Nya, dan menyesalinya, aku minta maaf, sungguh! Aku juga tidak mengira akan berbuat begitu padamu Zuu, kerasukan apa sebenarnya aku itu. " ujar Lee kecewa sendiri.
Zuu menyahut.
" Entah ada apa dengan diri-Ku yang sekarang, rasanya melihat wajah apalagi suaramu itu sangat membuat hatiku sakit kembali. " ujar Zuu, lesu.
Sontak saja itu membuat dada Lee Jleb... seperti tertusuk sesuatu hingga ke dalam benak-Nya, jantung Lee juga amat berdebar kencang, entah karena terkejut, syok? Tapi itu menyakitkan hatinya. Kemudian Lee menunduk juga sedih.
" tadi aku mencoba dan berusaha menghubungi mereka yang selalu dekat dengan-Ku, tapi siapa sangka mereka semua memblokir nomor telepon-Ku. Aku benar-benar dikelilingi kebingungan harus berbuat apa? Seakan-akan hari ini, semua yang aku punya hancur lebur, sebenarnya aku ini berjalan di tempat yang benar apa tidak? Mereka yang ada, rasanya benar-benar hilang dari dalam diriku, sangat berharap sekali aku ingin berkehidupan dengan tenang dan tentram seperti anak-anak lainnya, setiap melihat kehidupan mereka rasanya sungguh berbeda dengan kehidupan-Ku sekarang. Juga sejujurnya saja sangatlah ganjil aku bisa terus berdekatan dengan-Mu di sini, terkadang takdir-Ku ini sulit untuk dimengerti, kuah apa yang sebenarnya aku dapatkan? " keluh kesah Zuu.
Seketika sendiri ia tersadar.
" ahh bicara apa aku ini, seperti orang naif saja, padahal aku banyak menyusahkan orang lain, tempat itu sangatlah tidak cocok untuk aku. " rintih-Nya.
Kemudian Zuu melihat ke arah Lee juga memegang tangan-Nya secara lembut dan meminta maaf padanya, sebelum mengucapkan hal itu ia menarik napas terlebih dahulu.
" kak, maafkan aku ya, sepertinya aku akan..., " pembicaraan Zuu terhenti.
" Tidak-tidak, aku tidak akan pernah mau melakukan-Nya. " sigap Lee sembari menangis.
" A....a.. Aada apa? Kau menangis?? " Zuu bertanya-tanya.
Sontak Lee tersadar dan sesegera dihapus oleh-Nya.
" Bukan begitu, maksud-Ku..., ahh ini semua karena-Mu. Kenapa kau mendongengkan cerita yang menyedihkan hah? " ujar Lee tersedu-sedu.
Jelas sekali ucapan dan tingkahnya itu membuat Zuu terbeliak dan marah kembali padanya.
" Hah?? Ka...kau bercanda?! Hey apa kau menganggap kisah tadi itu dongeng?? Wah kau Aaarrggh...!!! Sudah aku duga, sangat salah merendah hati dan bersikap baik dengan orang tidak beradab seperti-Mu!! Kau... " murka Zuu.
Seketika Lee panik kembali karena Zuu yang mulai marah lagi.
" Ahh apa yang katakan barusan? Aaarrggh...!! " gumam-Nya menggerutu.
" tunggu Zuu, bukan begitu maksud-Ku, itu hanya olokan eh, lelucon. " Lee menjelaskan dengan rusuh hati.
" Tinggalkan aku sendiri, tinggalkan aku sendiri!! " lantangnya.
Karena Lee juga dikelilingi ketakutan, kebingungan akhirnya pun ia pergi meninggalkan Zuu sementara.
Lee mendengar Zuu menangis histeris, ia benar-benar khawatir juga gelisah.
" Ahh bodoh!! Bodoh!!! Ada apa dengan aku ini?? " geramnya.
Lama waktu menunggu, jam pun menunjukkan pukul 10 malam.
" mungkin saat ini dia sudah tenang. Baiklah aku akan masuk. " gumamnya dengan tidak tenang hati.
Ketika ia membuka pintu-Nya Zuu masih melamun juga merenung, ia sungguh merasa bersalah. Lee menghampiri dengan alon-alon. Hati Lee sebenarnya benar-benar resah atas kejadian tadi tapi Lee memberanikan diri agar adonan itu tidak selamanya mengeras.
" eeu... Zuu... Itu, " gagu.
Lee menarik napas dalam-dalam, dan duduk di disebelahnya kembali, kemudian Lee sesegera-Nya mengeluarkan penangkal itu untuk di berikan kepada Zuu.
" ini cincin. " ujar-Nya sembari menyodorkan, bergemetar.
Tetapi Zuu tidak mengacuhkan-Nya dan terus melamun. Saat Lee mengatakan ini, Zuu langsung tertarik, terjegil juga terkeju-kejut untuk melihat.
" cincin ini dari Ummah-Mu. " ujar-Nya kembali.
Ia malah melihat cincin itu dengan bermenung-menung.
Lee pun bertanya.
" ada apa?? Cepat kenakan ini. " ujar Lee kebingungan.
" Jangan bercanda, sebaiknya kau pergi dari Ruangan ini, aku yang sekarang benar-benar sedang buruk. " lesu-Nya.
" Bercanda?? Apa maksud-Mu, ini sungguh pemberian dari ibu..., " bicara Lee terhenti.
" Mana mungkin dia bisa memberikan-Nya padamu sedangkan aku saja dimusuhi olehnya!! Kau pikir aku ini bodoh. " selang Zuu berteriak.