Blue Love

Blue Love
Keganjilan Arun



Di tengah merenungi, pandangan Zuu teralih ke orang yang mengenakan seragam SMA, sontak saja Zuu terkejut juga panik karena ia nampak seperti sedang berjalan tak keruan menuju tepi jalan yang ternyata di bawahnya itu terdapat jalanan dipenuhi juga mobil berukuran besar, sigap Zuu berlari dan menarik lengannya.


" jangan!! " tegas-Nya.


Hampir saja siswa SMA itu jatuh ke jalan, Zuu pun jelas sekali menegur, tapi saat ingin berniat begitu ucapnya terhenti karena terkejut melihat wajah orang itu.


" hey!! A... Arun?? " ternganga.


Siapa sangka orang itu adalah teman sekursi Zuu yang demikian bernama Arun, keruan sekali Zuu bertanya-tanya.


" hey ada apa? " syok.


Mendabak saja Arun seperti orang tersadar dari angan-angan.


" Oh tidak ada, aku baik-baik saja. " linglungnya menyahut.


" Lalu apa yang sedang kau lakukan di sini? " tanya Zuu khawatir.


Arun malah menoleh ke muka Zuu dan menatap dengan tidak kesukaan. Lebih mengejutkan lagi ia malah tak mengacuhkan pertanyaan-Nya dan malah meninggalkan Zuu begitu saja.


" ada apa dengannya?? " bergumam.


Zuu memutuskan untuk melanjutkan pergi ke Sekolah. Setibanya di dalam kelas, Zuu melihat Arun yang sudah duduk di kursi tersebut, ia pun menghampiri juga duduk di sebelahnya sembari menoleh-noleh ke arah Arun. Karena masih merasa ganjil dengan peristiwa tadi, Arun menjadi pusat perhatian Zuu. Rasa ingin tahunya meledak-ledak akhir Zuu memutuskan untuk bertanya agar lebih jelas.


" semuanya benar baik-baik saja kan? " tutur kata Zuu.


" Ya, tentu pasti. " sahutnya tersenyum sumbing.


Tiba-tiba puk...puk!! Amerta menepak bahu Zuu secara perlahan, sigap ia menoleh.


" Oh, Amerta?? Ada apa? " kejutnya.


Amerta pun duduk di kursi depan Zuu dan mengatakan.


" Zuu, hahaha... Aku senang sekali, kau tahu sekian lamanya membelu-belai seorang ayah pada akhirnya aku diizinkan juga. Ahh... Sungguh senang. " ujar-Nya rawan hati.


Zuu yang merasa kebingungan bertanya kembali.


" Diizinkan?? Apa maksud-Mu? Apa sekarang kau sudah diperbolehkan menikah oleh ayahmu? Wah benarkah itu?? " kejutnya kembali.


" Apa maksudnya?? Ahh kau ini jika bertanya sesuatu pasti jauh dari pemikiran orang lain. Bukan begitu, ayah-Ku sudah mengizinkan untuk menginap di Rumah Kak Lee, bagus bukan? " girangnya.


Seketika Zuu tersadar dan dan terbeliak. Suasana hatinya ikut berubah menjadi dongkol juga tak suka kembali, ia tergagap-gagap dan berpura-pura ikut senang dengan percakapan Amerta.


" O...o..ouhh benarkah, wah sangat bagus. Hey aku sudah menduga bahwa pada akhirnya kau bisa melakukan itu hahaha... " gelak sumbing.


" Hahaha... Sejujurnya saja, aku melewati banyak kesulitan saat meminta izin padanya tapi itu sama sekali bukan masalah bagi seorang Amerta, ia tidak akan mudah mati begitu saja hanya dengan goyangan sedikit bahkan guncangan sebesar apapun akan tetap dipegang teguh oleh-Nya hahaha... " ucapnya besar hati.


" Hahaha... Benar-benar. " sahut Zuu.


Karena rasa panik juga takut Zuu sigap mengalihkan pembicaraan.


" oh ya, bagaimana dengan jawaban Arun? Kau di perbolehkan menginap apa tidak? " tanya Zuu.


Sontak Amerta bertanya-tanya.


" Arun?? Maksudnya?? Memang-Nya dia juga ikut? "


" Hahaha... Benar. Jadi bagaimana? " elak Zuu.


Sigap Amerta merangkul pundak Zuu dan membawanya menjauh sejenak dari lingkungan Arun, dan mengatakan.


" Kau ini kenapa Zuu??!! Arun ikut juga?? Bagaimana bisa kau bertindak seperti ini?? Kau sungguh-sungguh mendukung-Ku atau tidak? Di pihak siapa sebenarnya kau ini? " gerutu Amerta.


Semakin lama bercakap mereka semakin bercekcok.


" Hey hey, apa masalahnya?? Aku merasa tidak nyaman saja jika hanya mengajakmu sendiri untuk menginap, sedangkan aku dekat itu bukan hanya dengan Amerta tapi Arun juga. " menjelaskan.


" Aku mengajak bukan diajak oleh-Mu, ini hasil dari keinginan-Ku sendiri. Coba kau pikirkan bagaimana jika Arun ikut, itu pasti akan menjadi pengganjal untuk hubungan aku dengan Kak Lee nanti. " cerocosnya rentan hati.


Zuu berusaha melawan gerutuan Amerta untuk memenangkan diri.


" Hey bagaimana bisa kau menganggap teman itu seorang penghalang, yakin saja mungkin di kemudian saat nanti Arun malah ikut membantu-Mu juga. " tangkis Zuu.


" Tapi tetap saja... Aaarrggh...!! Yasudah, meski itu memang mengganggu-Ku, coba kau tanyakan saja, perlu kau ketahui juga Zuu, Arun itu bukan tipe orang yang gampang diajak berkumpul, wanita bersibuk. Ajak saja. " ujarnya kesal hati.


Mereka berdua pun menghampiri Arun dan bertanyalah Zuu.


" Arun, jadi apa jawabannya?? "


Ia menjawab.


" Mungkin, aku hanya menginap malam ini saja, orang tua-Ku mengizinkan. "


" Wah bagus jika begitu, bukan masalah lebih baik malah, benar bukan Merry? " senang Zuu.


Tampak dari wajah Amerta sangat kesal juga bengis. Tak lama kemudian guru pun datang.


" Halo, selamat pagi semua-Nya. " sapa Guru.


Sigap Amerta kembali ke kursinya. Mereka menyahut.


" Selamat pagi Ibu. " sahut para murid.


Sebelum masuk ke pembelajaran Guru tersebut mengabsen. Di sela-sela memanggil satu persatu murid, seketika Zuu terkejut, ia baru menyadari saat Guru itu menyebut nama Faiz tak sahutan dari orangnya, sigap Zuu pun menoleh ke arah kursi tempat ia duduk, dan ternyata ia memang tidak hadir hari ini.


" Dia sungguh tidak hadir?? Aku berharap semuanya baik-baik saja. " gundah Zuu.


Tiba-tiba Pow!... Lutut kaki Arun memukul bagian lutut Zuu dengan keras sehingga ia pun sempat merasakan sakit.


" Akh...!! " rintihnya juga terkejut.


" Cepatlah bertindak. " tegur ajar Arun bengis.


" Hah?? Maksudnya? " kebingungan.


Zuu semakin ganjil akan sikap Arun akhir-akhir ini, tiba-tiba Blam!... Guru di kelas pun melemparkan penghapus papan tulis sengaja mengenai Zuu, sehingga wajahnya dipenuhi debu kapur bahkan Zuu merasa kesakitan terutama dibagian matanya.


" Aaaaaaah!... Sakit perih, Aw...!! " merintih.


" Apa yang tengah kamu sibukkan disana sehingga lengah di dalam kelas? " tegur ajar Guru.


" Saya minta maaf. " ujarnya seraya berdiri juga menundukkan kepala.


" Ambil penghapus itu cepat kemari. " perintah-Nya dengan tegas.


Zuu pun mengambil benda tersebut dan menghampiri Guru dengan penuh keresahan.


" Ini Buk. " tutur katanya menyerahkan penghapus itu.


Ia pun mengambil-Nya.


" Apa yang membuatmu tidak acuh? Sudah bosan untuk belajar? tapi padahal saya belum memulai apapun dalam pembelajaran, ini baru pengabsenan. Lalu apa yang salah? Kamu ingin pulang? " sindir Guru tegas bergas.


Zuu tergaguk-gaguk sulit untuk berkata apa. Guru terus menegur ajar.


" ada yang berminat menjadi seperti dia?? " sindiranya kembali.


Sontak semua orang di kelas mengacungkan telunjuknya kecuali Arun dan Amerta. Guru itu pun terkejut-kejut kebingungan, kenapa murid-murid di kelas-Nya malah bertingkah seperti itu.


" hah?? Benarkah?? Kalian ingin seperti wanita ini?? Mengapa itu?? " terheran-heran.


Berbagai siswa-siswi disana saling menyahut.


" Tentu saja aku menginginkannya. Aku menyukai dia. " ujar salah satunya.


" Dia cantik yah? " bisiknya.


" Benar dia cantik. " sahut salah satu murid.


" Aku sih bukan karena paras eloknya, aku menyukai dia yang pintar, selama dia bersekolah disini aku selalu memerhatikannya dan itu baik, pintar, jika ada kesempatan waktu ingin sekali rasanya lebih dekat. " ujarnya.


" Dia juga pandai menari, jarang sekali ada orang seperti itu bukan? " sanjung salah satunya.


" Benar. Jangankan menari, setiap kali aku mengikuti guru kita senam tubuhku benar-benar kaku saat bergerak hahaha... Mungkin aku tidak pandai di bidang itu. " senda gurau kepada teman sekursi-Nya.


Seketika peristiwa itu pun menjadi perbincangan para murid di kelas.