
" tapi..., eh maksudku, lalu bagaimana dengan perintah-Mu yang awal? Aku belum selesai mengerjakannya Kak. " keluh-Nya.
" Kau bisa melanjutkan setelah aku benar-benar sudah tertidur. Ayo cepat kipasi sekarang. " gesanya.
" Baiklah. " sahutnya agak dongkol.
Di sela-sela menganginkan menggunakan buku itu Zuu selalu bertanya.
" sudah tidur? " tanyanya.
" Belum. " sahutnya.
Dan terus berulang-ulang bertingkah begitu, hingga pada akhirnya jengkel Lee pun keluar.
" apa maksudnya ini hah!!? " bentaknya.
Sontak Zuu pun terperanjat.
" A...ada apa? " kebingungan.
" Ada apa? He Zuu! Bagaimana bisa kau terus-menerus mengulang pertanyaan itu hah?? Lalu cara apa yang harus aku lakukan untuk tidur dengan nyenyak? Kau ingin membuat-Ku pusing tujuh keliling?? " murkanya.
" Aku minta maaf tapi Kak, tanganku sudah pegal itu sebabnya aku bertindak rewel. " berkeluh.
Lee tak mengacuhkan ucapan Zuu baru saja.
" Kau ini melakukan itu saja tidak mampu hah?? Akan aku beritahu semua orang lihat saja kau Zuu!!! Hahaha... " ujarnya mabuk.
" Baiklah baiklah, ahh kau ini. " sahutnya lesu.
Zuu berpikir jika terus begini, sama saja ia menyerahkan nyawanya kepada Lee, dan hasilnya Zuu mencari tukang servis AC yang bersedia di waktu 24 jam. Ia pun berhasil menemukan dan segeralah di telepon berbicara secara membisik agar tidak mengganggu Lee dan menyuruh-Nya segera datang dengan cepat.
Lama mengipas-ngipasi Lee hingga membuat Zuu terkantuk-kantuk, kibasannya memelan dan alhasil bukunya memukul berulang- ulang ke wajah Lee.
" He Zuu, berhenti!! Berhenti!! " bentaknya.
Zuu pun langsung terjegil dan terkejut menimbulkan buku tersebut malah jatuh mendarat di wajahnya Lee.
" Hua!! Aaa...aku minta maaf sungguh, itu tidak sengaja dilakukan. " panik.
" Kau ini memang benar-benar Zuu... " murka dengan mabuk terhenti.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi dari bawah, dan Zuu menduga tukang servis yang dipesankan-Nya itu sudah datang, lekas sekali ia berlari untuk menghampirinya. Ketika dibuka pintunya ternyata memang benar sesuai perkiraan Zuu.
" Mari masuk Pak. " ajaknya.
" Wah... Kakak sangat cantik, tidak aku sangka bisa mempunyai langganan seperti kamu. " terpukau.
" Hahaha... Bapak ini bisa saja. Saya cantik itu karena saya seorang perempuan, tapi apapun itu saya berterima kasih. " ucapnya tersengeh.
" Iya tentu, senang bisa membantu. " sahutnya.
" Mari masuk Pak. " ajaknya kembali.
Zuu pun membawanya ke lantai atas menuju kamarnya Lee. Saat mereka masuk, sontak tukang servis itu terkejut karena mencium bau alkohol di seluruh ruangan tersebut dan yang lebih mengejutkannya lagi, ada seorang laki-laki terdampar di kasur itu.
" Bau apa ini?? Baunya seperti..., eh i...itu s...siapa?? Kakak? Atu saudara? " tergagap-gagap.
Zuu menyahut dengan sigap.
" Dia suami saya. "
Pekerja merasa tak mempercayai perkataan dari Zuu dan melinglungkan dirinya.
" Hah?? Sungguh??? T...tapi mana mungkin itu istri, pasangan istri suami terjadi?? D...ia... " terjegil juga syok.
Lee pun tiba-tiba terbangun dan bertanya dengan setengah kesadaran.
" Siapa dia?? "
" Euu... Dia adalah orang yang akan memperbaiki AC itu. " sahutnya.
" Oh begitu rupanya. Hey kau!! Dia menyuruh-Mu kemari itu untuk memperkerjakan-Mu bukan untuk mengajak-Nya mengobrol. Aaarrggh...!! Kanak-kanak dia ini!! Kau itukan manusia mana mampu berbicara dengan seorang wanita brutal hahaha... Sama gilanya dia itu... Haha... " celotehnya.
Sontak ia terkejut karena tingkahnya dan bertanya-tanya kepada Zuu.
" Dia mabuk?? "
" Euu... Dia, sebaiknya bapak tidak perlu acuhkan omongannya itu, dan tolong segera perbaiki AC-Nya. " mengalihkan pembicaraan.
" Euu baiklah, aku akan cepat menyelesaikannya. " sahutnya.
" ahh kasihan sekali wanita ini, kenapa dia bisa masuk kehidupan yang mengerikan seperti ini. " iba pekerja sembari berjalan.
Zuu duduk manis menunggu selesai tiba, hingga tidur dibuat-Nya.
Setelah sudah diperbaiki pekerja itu pun kembali keluar sebelum pergi ia sempat berbicara sejenak kepada Zuu.
" aku sangat ikut perihatin dengan kondisi-Mu yang sekarang. Sejujurnya saja, ini mustahil sekali bisa aku lihat kalian adalah sepasang suami istri, aku berharap sekali kamu mendapatkan kehidupan yang layak, bahkan aku sempat berpikir kamu adalah seorang model atau bintang film. Ingat pesan dariku, jangan terlalu memaksakan diri. "
" Hahaha... " Zuu gelak sumbing.
" bapak tenang saja, dia itu suamiku bukan penjahat Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. " ujar Zuu tersenyum.
Lee mendabak berdiri dan menghampiri pekerja itu.
" Hey!! Aku sudah membayarmu, apa yang membuatmu tetap berdiam di sini hah!!? " bentak Lee.
" Yasudah tidak apa-apa sebaiknya bapak lekas pulang saja. " gesa Zuu.
Pekerja itu pun bergegas keluar kamar Lee, sebelum pergi ia sempat menatap tajam mata Lee.
" Apa yang kau lihat hah?! Dasar berengsek!! Pergi sana!! " celanya mabuk.
Saat Zuu ingin keluar dari kamarnya Lee tiba-tiba memegang lengan Zuu untuk menahannya dan ditanya.
" Kau mau kemana hah? " tanya Lee mabuk.
" Aku mau ke ruangan untuk tidur. " sahutnya lesu.
" Hahaha... Lucu sekali. He Zuu!! Bagaimana bisa kau sesenang itu pergi. Hey Zuu!! Kau sudah menyelesaikan pekerjaan-Mu kan?? " tanya Lee kembali.
" Sebaiknya dilanjutkan besok saja, ini benar-benar sudah pagi Kak, aku berjanji akan bangun awal dan merapikan semuanya sebelum kau terbangun. " kata-Nya.
" Mana bisa seperti itu! Lakukan dengan benar sekarang!! Cepat!! " suruh keras Lee.
" Huh... Baiklah aku mengerti. " kesahnya.
Zuu pun kembali turun ke bawah untuk melanjutkan. Setelah mencuci lap Zuu langsung menggosok berbagai lantai juga celahnya. Di tengah asik mengepel tiba-tiba terdengar kembali panggilan dari atas yang tidak lain adalah Lee.
" Zuu!! Zuu!! " serunya.
Cepat ia menghampiri ke atas.
" Ada apa? " jawabnya letih.
" Aku kedinginan, ambilkan pakaian hangat-Ku sekarang cepat. " gesanya.
" Hanya itu? " tanyanya.
" baiklah. " berdesah.
Zuu mencari di ruangan pakaian-Nya Lee, setelah ditemukan diberikanlah barang yang diinginkannya, kemudian Zuu kembali melanjutkan pekerjaan-Nya.
Tanpa di duga Lee terus-menerus bertingkah hal serupa, alhasil Zuu pun putar balik dan putar balik ke bawah ke atas. Hingga sampai pada akhirnya ia pun merasa geram di panggilan-Nya yang ke 11 kali, ia menghampiri dan mendorong pintu kamarnya dengan keras.
" ada apa!! " rentan hatinya.
Seketika mata Lee langsung terbeliak dan terperanjat karena terkejut tegas sekali Lee berbalik marah.
" Hey rendahkan suaramu dasar kacau sekali!! Hahaha... Wanita tidak terpelihara haha... Ahh... Ini membuat-Ku gila. " ujarnya sambil berdiri.
" Aaarrggh... Ingin sekali aku mencekik lehernya huh... Tenanglah!! Huh... " gunyamnya berdesah.
" Ada sesuatu yang kau perlukan lagi? " mulut manisnya.
" Hahaha... Tidak ada. " sahutnya tergelak.
Sontak Zuu semakin kesalahan dan tetap berusaha menahan amarahnya.
" Huh... Baiklah, aku akan ke bawah kembali. " ujarnya.
Saat ia bergegas pergi dan membalikkan badan, Lee memanggilnya lagi.
" Eh tunggu Zuu, kaki-Ku terasa gatal mungkin karena suhu anginnya terlalu tinggi, bisakah kau ambilkan air hangat untuk menghilangkan sedikit rasa gatal ini? " perintah-Nya kembali.
Zuu berputar badan dan mengatakan.
" Iya baiklah, tolong untuk ditunggu aku akan segera kembali. " sahutnya tersenyum.
Ia pun turun ke bawah, saat ingin menyiapkan air hangat untuk Lee ternyata eh ternyata, air panasnya sudah habis.
" Aaarrggh... Bagaimana bisa kau seperti ini hah?? Tidak bisakah diajak bekerja sama? Membuat orang kesulitan saja. " keluh kesahnya terhadap air.
Zuu memutuskan untuk memasak air terlebih dahulu, sambil menunggu ia melanjutkan bersih-bersih di bagian luar. Akhirnya pun waktu akhir membersihkan semuanya telah tiba, Zuu masuk kembali untuk menyiapkan airnya. Di tengah menuju dapur tiba-tiba ia melihat Lee keluar dari dalam kamarnya, sontak itu membuatnya terkejut-kejut, Lee berjalan sembari berjinjit-jinjit dan di ikutilah oleh Zuu yang sama halnya berjalan dengan cara berjengket. Ia mendengar ucapan dari Lee.
" Aaarrggh...!! Dia ini kemana?? Menyiapkan air saja lama sekali, apa dia mengambil air dari bukit tinggi sehingga memakan banyak waktu. " gerutu Lee.
Zuu yang mendengar juga melihat tingkah Lee seketika terkejut juga sakit hati, ia tak menyangka bahwa Lee telah menipunya.
" Apa maksud dari perlakuan-Nya? Aku merubah pikiran-Ku, dia bukanlah seorang psikopatapi kenapa dia bertindak begini. " lelah payahnya juga kecewa.
Zuu pun pergi ke ruangannya dengan penuh keletihan juga kekesalan ia pun langsung meruyupkan matanya untuk menyejukkan diri. Di sela-sela istirahat, mendabak saja sebuah bantal memukul kepalanya secara keras. Sontak Zuu terbangun dan terkejut ia menoleh ke arah dugaannya.
" Hey hey hey!! Apa yang sedang kau lakukan hah?? Siapa yang menyuruh-Mu duduk diam disana hah?! Haha... Lucu sekali kau ini dasar binal!! Dimana rasa tanggung jawab-Mu hah?! Haha... " tegur ajarnya, mabuk sumbing.
Zuu hanya melihat-Nya dengan tampak wajah lelah. Lee malah terus menerus membentak dan mencaci-Nya karena tidak ada acuhan dari Zuu, di tengah mengoceh Zuu akhirnya angkat bicara dan menyelang omongan Lee.
" Bisakah kau berhenti bertingkah seperti ini? " tanyanya lesu.
" Haha... Apa maksud-Mu hah?! Hey lakukan pekerjaan dengan benar haha... Kau ini memang tidak tahu malu, akan aku beritahu kepada semua orang. Hey semua manusia di seluruh muka bumi ini, lihatlah wanita menyedihkan ini dia... " celotehnya terhenti.
" Bisakah kau hentikan hah??! Aku benar-benar tidak mengerti arti perlakuan-Mu selama ini, hiks... Terkadang kau bersifat seperti malaikat dan terkadang kau juga bersifat seperti iblis hiks... Apa kau tidak melihat tidak mendengar hah?? Kenapa kau tidak bisa diajak mengerti, aku kesakitan!! Bukan hanya tubuhku saja merasa sakit tapi hati ini juga ikut tercabik-cabik olehmu yang memperlakukan aku seperti siluman, dimana rasa manusiawi-Mu hah?? " keluh kesah Zuu menangis.