
" Saat ia menyanyi juga indah, ditambah suaranya juga imut begitu bukan? " sanjung salah satunya lagi.
" Mmm... Benar. " sahutnya.
Ketua kelas disana pun langsung menegur semua siswa-siswi untuk diam.
" Diam!!! " tegas-Nya.
Seketika suasana menjadi hening, tak lama kemudian mereka berdiri dan meminta maaf kepada Guru itu.
" Kami minta maaf. " sorak-sorai.
" Mungkin maksud dari mereka itu adalah, pernyataan rasa suka kepada-Nya, Ibu pernah mengatakan manusia ada 2 golongan ketika memandang seseorang, yaitu ada yang suka dan tidak, itulah kami masuk ke golongan yang menyukai Zuu. Tapi apapun alasannya, kami akan tetap lebih menyukai diri kami sendiri. Benar kan teman-teman? " Ketua Kelas menjelaskan.
" Benar. " sahutnya mereka serentak.
" Baiklah. Ibu bisa mengerti. Tapi pesawat dari tetap jangan meniru tingkahnya yang tadi dilakukan. " tutur katanya.
" Kami mengeti bu. " sahut mereka.
Tapi meski apapun alasannya, Zuu tetap akan dihukum oleh Gurunya itu.
" Kamu tulis di papan tulis, saya akan berusaha menjadi murid yang lebih baik dari sebelumnya 30 baris. " suruhnya.
" Baik bu. " sahut Zuu sembari berjalan menghampiri guru dan mengambil kapur yang dipegang-Nya.
Pelajaran di mulai hingga jam istirahat tiba, Guru mengatakan kembali kepada Zuu.
" Zuu, salin nanti di Rumah, sekarang kamu pergi kebelakang bersihkan toilet segera. " suruhnya kembali.
" Baik bu. Saya mengerti. " sahutnya seraya berdiri dari kursinya.
Zuu pun lekas pergi ke luar dan segeralah membersihkan toilet tersebut. Di sela-sela mengepel tubuhnya mulai rapuh, keringat juga sudah membasahi dirinya.
" huh, ini sungguh melelahkan. " keluhnya.
Tiba-tiba Zuu mendengar seperti orang berlari, anehnya suara itu menuju arah keberadaan Zuu.
" Duarr...!! "
Sontak Zuu terperanjat, saat ia menoleh kebelakang ternyata itu adalah Amerta yang tengah menertawakan dirinya.
" Haha... Haha... Ahh... Lucu sekali, apalagi ekpresi wajahmu sangat imut. " ejeknya.
" Aaarrggh... Kau ini mengagetkan saja, ada apa?! " kesal hati sembari menyibukkan diri menggosok.
" Haha... Tenanglah Zuu. Bagaimana pekerjaan-Mu sudah selesai? " tanya Amerta.
" Entahlah. Kau tahu? Kenapa akhir-akhir banyak sekali orang yang selalu saja menyuruhku begini, padahal sejujurnya waktu dulu itu, aku belum pernah merasakan kehidupan seperti ini, entah kenapa masalah sering kali datang secara tiba-tiba. " keluh kesahnya dongkol hati.
" Mmm... Benarkah? Mungkin, perkataan sebagian orang ada benar-Nya juga, terkadang jika kita belum pernah merasakan, pasti di kemudian saat kita akan melakukannya, dan bahkan serangannya lebih kuat dari dugaan kita, harapan ataupun bencana. Yah pada intinya, baik maupun buruk takdirlah yang terkadang juga membuat siapapun itu ketakutan. " tutur kata Amerta.
" Benar, aku berharap kedepannya berbuah manis. " ucap Zuu.
Amerta mengangguk, lalu ia pun menyodorkan sesuatu di tangannya untuk diberikan kepada Zuu.
" Oh ya, ini. "
Zuu menoleh, ternyata Amerta membawakan Zuu sebuah minuman.
" Apa ini untuk-Ku?? " tercengang bengang.
" Hey tentu saja, kau itu kan saudara dari orang yang aku sukai, sudah wajar sekali aku bertindak begini. Malah seharusnya lebih. " ujarnya.
Sontak Zuu merasa geli hati.
" Oh, jadi karena aku ini dekat dengan Kak Lee kau bertingkah baik juga perhatian seperti ini? Mmm... Manis sekali, aku pasti sangat beruntung jika kalian benar-benar menjadi sepasang kekasih. " olok-olok Zuu.
Amerta pun tersipu malu.
" Hehe... Aamiin, aku akan berusaha lebih keras. " semangatnya.
" Wah suka dipercaya bahkan dia berkata begitu. " gunyamnya.
" haha... Apapun itu aku tetap ucapkan terima kasih untuk minumannya. " gelak sumbing.
" Tentu, itu bukan apa-apa. " tersengeh.
Zuu pun meminumnya, setelah itu Amerta pamit dari sana.
" Mmm... Baiklah. Terima kasih sekali lagi. " sahutnya.
" Sampai nanti. " pamitnya seraya pergi.
" Dah " ucapnya.
Kemudian Zuu melanjutkan bersih-bersih. Lama waktu berjalan akhirnya ia pun bisa menyelesaikan pekerjaan itu.
" huh... Terselesaikan juga. Aku harap ini sudah cukup membuat siswa-siswi disini nyaman. " ujarnya bernapas lega.
Tiba-tiba,
" Pow!... " suara memukul pintu.
Sontak Zuu terkejut hampir jatuh, ia merasakan kesal kembali karena sudah menduga Amerta akan mengejutkannya lagi. Zuu menoleh.
" Duarr...! " kejutnya.
Zuu kebingungan linglung dengan adanya beberapa siswa yang datang menghampiri-Nya, keruan sekali ia bertanya-tanya.
" Oh. Euu... Kalian ini siapa? "
" Hm... Kecewa, rekan-Ku sendiri tak mengenali aku. Apa kata dunia? Benar kan teman-teman? " sahut salah satu dari mereka sembari merangkul bahu Zuu.
" Euu... Tunggu, aku berubah pikiran. Seperti-Nya wajah kalian tidak asing, kita seusia tapi hanya beda kelas bukan? " tutur kata Zuu.
" Hahaha... Benar sekali. Di luar dugaan kita ternyata Zuu gadis peramah yah? " sanjung-Nya mengolok-olok.
Seketika Zuu tersengeh tersipu malu.
" oh ya Zuu, bagaimana hasinya? Sudah selesai? Bagus? " tanya-Nya kembali.
" Mmm tentu, aku telah menyelesaikan semuanya. " sahutnya riang.
" Tunggu, lalu itu apa? " tanyanya menunjuk ke bawah.
Saat Zuu memeriksanya tiba-tiba.
" Byurr... "
Mendabak saja perlakuan mereka di luar dugaan, Zuu di siram sebuah cairan berwarna hitam, sehingga menimbulkan tubuh Zuu dipenuhi kotoran itu, terutama lagi tempat yang baru saja dibersihkan menjadi lebih kotor dari sebelumnya. Zuu jelas sekali terkejut dengan perbuatan mereka dan langsung menghantamnya.
" Apa yang kau lakuka hah!!!? " murka seraya menarik kerahnya.
Sigap berteriak juga melepaskan cengkeraman dari Zuu sehingga ia pun terpental jatuh ke tembok toilet.
" Gedebug!... " Zuu terjatuh.
" Aw... Aw... Aaaaaaah!!... " rintihnya.
" Akh... tidak bajuku jadi kotor, dasar berengsek kau Zuu!! " geram-Nya sambil menendang badan-Nya.
" Aaarrggh!!... " murka Zuu.
Risakan mereka semakin menjadi, ia malah juga menjambak rambutnya Zuu.
" aw... Aw... Aaaaaaah!!... Tolong lepaskan!! Hentikan!! " minta Zuu.
Mereka malah terkekeh-kekeh girang dengan tindakan-Nya.
" Haha... ternyata begini rasanya bahagia diatas penderitaan orang lain. Haha... menyenangkan bukan teman-teman? " olok-olok.
Semakin lama merisak, Zuu semakin merintih kesakitan tiba-tiba seseorang menarik kerah baju salah satu dari mereka dengan kencang sehingga mereka semua terbawa.
" Hey dasar penjahat!! Apa yang sedang kau lakukan hah!? " murka-Nya.
" hey hati-hati! kenapa kau malah menarik bajuku. " murkanya.
saat dia menoleh, ternyata orang itu adalah Amerta. Seketika mereka melawan tarikan darinya.
" Gedebum!! " Amerta ikut terjatuh.
" Aw... Aaaaaaah...!! Kalian memang biadab!! Aku akan melaporkan sehingga akan membuat kalian semua dikeluarkan dari sini. " ancam Amerta.
" Benarkah?? Haha... Wah kami sangat ketakutan, takut-takut. Oh bagaimana ini? " mengolok-olok.
Amerta langsung bangkit kembali dan menghantam para perisak itu dengan sekuat tenaga.
" Dasar berengsek kalian semua!! Manusia seperti kalian tidak sepantasnya hidup berkeliaran!! " cacatnya sembari melawan.
Amerta terlihat sangat keras juga susah sekali, tapi dia tidak menyerah dan tetap teguh melawan para perisak itu dengan menginjak meski diinjak kembali oleh salah satu temannya yang ikut membantu perisak itu, menarik-narik baju, menjambak, bahkan hingga saling mencakar-cakar wajah. Zuu yang menyaksikan pun ikut panik juga ketakutan, ia khawatir dengan kondisi-Nya Amerta tapi ia kebingungan harus berbuat apa. Suasana disana semakin memanas dan mencekam.