Blue Love

Blue Love
Takut menghantam



" Panik. " ujar Min-ah.


Itu malah membuat Zuu juga Megan tambah panik.


" Bagaimana ini? " terengah-engah.


Orang itu malah semakin mendekati Pintu.


" Apa ini? Pintu-Nya tertutup. Lalu, dari mana asal bunyi tadi? " gumam Orang itu.


Mereka bertiga mundur dan semakin mundur tiba-tiba. Gelebuk... Sesuatu barang terjatuh dari Atas lemari.


" Aduh Megan!! " gereget Zuu.


" Hihi... " tersengeh.


Tetapi, karena bunyi itu justru membuat orang itu merasa ketakutan dan lari dari tempat itu.


" Apa dia pergi? " tanya Zuu.


" Sepertinya. " sahut Min-ah.


Dengan menghela nafas karena lega. Mereka pun terselamatkan, dan bergegas pergi dari Ruang Olahraga itu.


Di Tengah perjalanan mereka saling berbincang.


" Jadi, sekarang bagaimana keadaannya Zuu? Apa kalian masih bersama atau memutuskan untuk menghidupi diri masing-masing? " tanya Min-ah sambil menyetir.


" Aku masih bersama-Nya. " sahut-Nya.


" Ahaha... Aku sudah menduganya bahwa, kau akan menerimanya bukan? Dan menikmati kehidupan bersama Kak Lee? " tawa Megan.


Seketika itu membuat Zuu terdiam.


" Aku masih belum memiliki jawaban untuk itu. " sahut-Nya.


" Itu sangat sulit bagi-Ku, kalian ini umpama seorang Kakak dan Adik, dari sifat kalian juga sangat membuat kami greget. Kak Lee itu sangat humoris jadi, dimataku semua orang diperlakukan sama oleh-Nya. " Ujar Min-ah kembali.


" Kau benar. " Zuu menghela nafas.


" untuk hari ini dia belum pulang. " Zuu tersengih.


" Apa?? Untuk apa dia pulang selambat itu? " tanya Megan.


" Aku belum bertemu dengan-Nya hari ini. " sahut Zuu.


Sampai-Nya di Depan Gedung Hotel Megan meminta nomor telepon sebelum pergi, agar tetap bisa berkomunikasi dengan-Nya.


" Oh ya, sebelumnya aku minta nomor telepon-Mu. " Megan menyodorkan telepon genggam-Nya.


" Hey. Zuu tidak memiliki telepon sekarang " selang Min-ah.


" Ah benarkah? " kecewa.


" Tidak. Aku memilikinya sekarang. Ini ambil telepon-Ku dan simpan nomor kalian. " mengeluarkan telepon-Nya dari Dalam Saku-Nya.


" Wah... Ku-kura itu memang benar. " menepak bahu Min-ah.


Saat disentuh Megan, rupanya telepon-Nya mati.


" Apa ini? Kenapa tidak hidup? " keluh Megan.


" Ah... Seperti-Nya aku menghabiskan baterai-Nya. " Zuu tersadar.


" Lalu bagaimana kita bisa tetap terus berhubung? " memeluk Zuu dengan belai-Nya.


" Kau ini, tanpa sebuah telepon juga kita tetap bisa berhubungan. " cela Min-ah.


" Hahha... Itu benar. Mmm... Begini saja, tuliskan nomor kalian di Buku-Ku ini? " sigap Zuu mengeluarkan buku dari Dalam Tas.


Sontak itu membuat Megan senang. Dan langsung menuliskan nomor telepon-Nya.


" Baiklah. Simpan ini untuk-Ku ya. " belai-Nya.


" Baiklah. Sekarang nomor-Mu Min-ah. " menyodorkan buku dan pulpen.


Min-ah pun menulis nomor-Nya, setelah lama bertingkah mereka pun saling berpamitan dan pergi. Di Depan pintu sambil memegang gagang pintu, Zuu ragu untuk masuk karena kejadian semalam tiba-tiba saja terlintas di Dalam ingatan-Nya.


" Sebenarnya, aku masih meragukan dengan kejadian semalam, ah aku takut ini akan terjadi lagi pada-Ku. " gumam-Nya.


" Baiklah. Mari Zuu untuk menyibukkan diri sendiri haha... " tertawa dengan bersemangat.


Zuu pun masuk, saat berada di Dalam suasana-Nya seketika berubah. Zuu pun mendekat ke Arah kursi dan duduk dengan perlahan. Ia menyalakan laptop milik Lee untuk bisa menghapus video yang di Dalam rekaman CCTV itu. Ditengah berjalannya misi Zuu baru tersadar.


" Tunggu. Apa aku tahu cara menghapus-Nya? Sejujurnya saja ini pertama kalinya aku memegang CCTV. " gumam-Nya.


" oh aku lihat saja di internet. " berkesimpulan.


Zuu mengambil kembali telepon milik-Nya, dan ia baru tersadar kembali bahwa, baterai-Nya sudah habis. Zuu mengisi baterai-Nya dan menyalakan. Disitu ia terkejut melihat banyak notifikasi pesan juga telepon tak terjawab dari Faiz.


" Ini sih, lebih dari sebuah peringatan. " cela-Nya.


Zuu menelpon kembali Faiz.


" Halo " sapa-Nya Zuu


" Zuu, akhirnya kamu memberikan sinyal juga. Ada apa ini? Darimana saja? Aku menunggu dan baru sekarang terbalaskan? " tanya Iz' dengan gesa.


Zuu perlahan-lahan menjelaskan. Dan iz' berusaha untuk mengerti. Ia pun beralih dari telepon ke video call. Zuu melihat ekpresi Faiz yang begitu dilumpuri banyak dosa, euh maksud-Ku dilumpuri banyak kesedihan, Zuu berusaha menghibur dengan mengajak-Nya untuk duet bersama. Mereka saling bernyanyi bersama dan akhirnya raut wajah Faiz pun seketika berubah menjadi bahagia juga senang dengan tertawa, karena tingkah bernyanyi Zuu yang begitu lawak.


" Zuu aku sangat bahagia, Terima Kasih untuk hadiah ini. " Faiz tersenyum girang.


" Aku juga..., " perkataan Zuu terhenti.


Tiba-tiba saja lampu mati, begitu- Pun juga telepon-Nya.


" Apa ini? Kenapa jadi dobel gelap begini " keluh-Nya.


Seketika Zuu langsung menyelimuti dirinya dengan selimut ia menutupi seluruh tubuh-Nya, dengan bergumam.


" Cepat ayo tidur, tidur... Tidur Zuu. " gundah-Nya.


" ah... Aku tidak bisa bagaimana ini?? " desah-Nya.


Malam terus berjalan dan Zuu terbaring dalam keadaan yang sama dengan melek.


" Aku sangat berharap untuk kau segera datang kemari Kak. Sebenarnya kau ini kemana? Disaat seperti ini, kau belum juga datang?? " gumam-Nya.


Tiba-tiba Zuu merasa ingin mendatangi Kamar Mandi, ternyata dengan hebatnya ia malah dipanggil oleh alam.


" Kenapa harus sekarang?? Hah... Pergi tidak ya? Bagaimana jika ini lebih buruk dari sebelumnya? Apakah aku masih bisa melihat matahari esok hari. " keluh-Nya.


Tiba-tiba saja Zuu baru tersadar kembali bahwa, ia memiliki sebuah lilin. Zuu langsung mengambilnya dan berjalan menuju Kamar Mandi. Selesai sudah ia pergi kembali ke Ranjang-Nya tapi, tiba-tiba Zuu terkejut dan sigap berlari ke Arah pintu untuk melarikan diri karena ia tadi saat berjalan seperti ada seseorang memegang kaki-Nya dengan keras.


" Ahh... " lantangnya.


Zuu membukakan pintu dan terkejut ternyata dibalik pintu itu berdiri Lee yang sedang ingin memegang gagang pintu Kamar Hotel itu. Lee bertanya-tanya dan mencela Zuu.


" Apa ini? Apa ini? Kau ketakutan?? " cela-Nya.


" Apa maksud-Mu? Tidak. " mengelak.


" Benarkah? Wah... Sangat luar biasa. Lalu, apa ini di wajahmu banyak sekali keringat? " cela-Nya kembali


" Aku itu, apa ini itu tadi aku selesai dari Kamar Mandi. " sigap Zuu menjawab.


" Mmm... Begitu. " sahut Lee.


Saat Lee menoleh ke Arah Belakang-Nya Zuu, ia bertanya kembali.


" Lalu itu kenapa lampu-Nya berwarna oren? Oh aku tahu. Kau ingin bermalaman romantis ya, agar seperti di Film-film begitu bukan? " belai-Nya.


" Lampu oren?? " Zuu kebingungan dan sigap menoleh ke Belakang.


" Api... Api!! " paniknya.


" Hah!! Api?? " panik Lee


...Kakak Teman-teman❤. Maafkan aku (◞‸◟ㆀ) mungkin untuk hari ini update-Nya akan sedikit malam sekitar pukul 22:30 ಥ_ಥ...


...Tolong beri support terus ya 🙏💓...


...Lebih menikmati dengan iringan lagu hihi (o^∀^o) ...


...Love you all ...