
" Iya eh... Tidak. Maksud-Ku bukan begitu. Aku setuju. Yah, aku setuju " canggung.
Zuu hanya terdiam dan menatap Lee dengan kebingungan.
" euh... Yasudah aku pergi sekarang. " sahut Lee sambil berlari keluar.
Zuu pun tidur. Pagi tiba, dan bersiap pergi ke Sekolah kembali. Sampai-Nya disana, tidak terlalu ramai, karena Siswa-siswi yang hadir disini hanya orang dipilih oleh para Guru, semua saling berkumpul di grupnya-Nya masing-masing untuk siap berangkat. Arunika menepak bahu Zuu.
" Hey. Kenapa kau hanya seorang diri? Ada apa ini? Ini akan menjadi masalah Zuu..., " tegur Arunika terselang karena seorang Ibu Guru memanggilnya.
" euu... Aku pergi dulu. " ujar Arunika dengan tergesa-gesa sigap berlari.
Zuu duduk di Kursi sambil menunggu waktu berangkat. Tiba pada akhirnya Guru-guru menyuruh Siswa-siswi untuk segera masuk ke Dalam Bus.
Semua murid ditanya dengan siapa mereka pergi, Zuu benar-benar merasa gundah. Ia melihat Faiz tengah ditanya, Faiz didampingi oleh Ayahnya mereka masuk ke dalam Bus. Waktu berjalan dan sekarang giliran Zuu yang diinterogasi. Guru itu bertanya-tanya kenapa dia datang hanya seorang diri, jelas sekali itu membuat-Nya murka.
" Apa ini? Apa kamu mencoba untuk melanggar persyaratan yang sudah diterapkan di Sekolah ini!! " tegas-Nya.
" Euh... Tidak Bu. Maafkan aku, bukan maksud-Ku seperti itu, euh... Dan aku sungguh sama sekali tidak berniat seperti itu..., " Zuu menjelaskan dengan gagap.
Pembicaraan Zuu terselang oleh Guru.
" Seperti itu!! Seperti itu!! Lalu, maksud-Mu itu seperti apa?? Dengar! Belum ada satu orang pun yang pernah melanggar peraturan dan persyaratan yang sudah ditetapkan di Sekolah ini. Jika, kamu adalah orang pertama yang mencoba untuk mencela Sekolah ini, saya ingatkan! Meski kamu multitalenta bukan berarti dunia ini milik kamu, jangan bertingkah semau kamu!! Saya ingatkan itu padamu, kamu sama sekali tidak layak duduk dijajaran orang-orang yang berwibawa seperti Siswa-siswi di dalam Bus ini!! " cela Guru itu.
Zuu hanya terdiam dan menerima. Saat Faiz sedang mengobrol dengan Ayahnya pandangan-Nya teralih karena suara perdebatan antara orang. Ia melihat kearah luar, alangkah terkejutnya ternyata sumber suara perdebatan itu adalah pertentangan Zuu dengan seorang Guru. Iapun sigap berdiri, dan berniat untuk menghampiri Zuu. Tapi, niatnya terhenti karena secara mendabak datang Lee dari arah belakang dengan langsung merangkul bahu-Nya Zuu.
" Uuu... Kak Lee su?? " Zuu tercengang bengang.
" Halo. " sapa Lee dengan tersenyum ke arah Zuu.
" oh... Maafkan saya karena terlambat untuk datang Ibu yang berwibawa. Emm tapi, perlu Anda tahu satu hal saja, Zuu ini masih seorang Pelajar dan mungkin, hal sewajarnya bagi seseorang Siswa-siswi melanggar atau membangkang persyaratan atau hal sebagai-Nya, karena apa? Karena kita manusia. Saya hanya ingin mengatakan untuk memahami saja, jika memang ada kesalahan diantara murid Anda Ibu terhormat, itu pasti ada tanyakan saja kepada mereka, jika Ibu tidak percaya, itu membuktikan bahwa Anda sangat lengah memperhatikan mereka. Mau orang bagaimana pun, tingkat derajat seberapa tinggi pun itu kesalahan pasti ada di dalam Tubuh mereka. Saya sangat meragukan jika, murid Anda itu tidak pernah berbuat salah haha... Hadeh. Memang-Nya mereka ini nabi apa, yang hidupnya itu sama sekali tidak dilumuri kesalahan. Ibu saya mohon untuk membuka mata Anda. Haha.... Juga, saya mohon dengan kerendahan hati untuk membimbing mendampingi mereka dengan perlahan dan kasih sayang Ibu. Tetapi, untuk yang penting sekarang adalah Zuu, kehadiran saya kemari hanya untuk-Nya. Mohon maaf sebelumnya. " tegas Lee.
Perdebatan mereka itu dilihat oleh Siswa-siswi di dalam Bus, Amerta pun menyaksikan pembelaan Lee terhadap Zuu yang pastinya itu membuat Amerta iri juga bangga dan terharu. Ia tidak menyangka rasa persaudaraan antara mereka begitu kuat.
" Pembicaraan Anda ini bermaksud apa ya?? " Guru itu tersengih kesal.
" Huh... Anggap saja pembicaraan saya tadi itu pembelajaran baru untuk Ibu yang berwibawa. Terima Kasih. " menghela nafas.
Guru itu hanya berdiam dengan rasa kesal.
" ayo masuk segera Zuu. " gesa Lee.
" Kak kau ini tidak waras!! " bisik Zuu dengan mencela.
" Aku ini masih waras. Apa yang salah? " elak Lee.
" Tidak Zuu, aku tidak mabuk. Memang-Nya ada? Orang yang mabuk dengan berkata-kata bijak seperti tadi. Sudahlah cepat masuk " gesa-Nya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam Bus. Guru tadi itu sigap didatangi seorang Guru lainnya dengan mengatakan.
" Hey! Apa yang kau lakukan hah?? Kenapa kau berkata seperti itu? " dongkol-Nya.
" Berkata apa? Memang-Nya aku mengatakan hal yang salah? Aku hanya ingin dia Perbendidikan bagus. " sahut-Nya.
" Omong kosong. Jika, niatmu memang benar begitu, bukan begitu cara mengatasinya. Meski Sekolah ini memang menjujung tinggi adab bukan berarti mereka semua ini bersih dari dosa. Kau ini membuat nama Sekolah ini retak. Nanti bicarakan baik-baik kembali dengan-Nya. " tegur-Nya.
" Baiklah. Aku minta maaf. " menghela nafas karena merasa bersalah.
Bus pun berjalan. Zuu duduk didampingi oleh Lee, ternyata mereka bersebelahan dengan Faiz. Lee berpura-pura tidak melihat kehadiran-Nya Faiz. Ditengah berjalan Lee menawarkan sebuah makanan kepada Zuu.
" Mau makan cemilan ini? " melihat ke arah Zuu
Saat menoleh kearah Zuu ternyata ia sedang lesu dengan terkantuk-kantuk.
" hm... " menghela nafas.
Lee berniat-Nya untuk memanas-manas hati Faiz tapi, Zuu malah berbeda keadaan. Tiba-tiba pukk... Karena rasa kantuk-Nya yang begitu kuat akhirnya, Zuu tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Kepala Zuu terdampar di Pundak-Nya, sontak itu membuat Lee terkejut juga ber-gemetar karena rasa canggung. Begitu pun juga Faiz melihat adegan Zuu dengan Faiz, ia sangat cemburu juga dongkol dengan perilaku Lee. Sampai tiba di tempat tujuan, Faiz membangunkan mereka berdua dengan rasa kesal.
" Bangun!! sudah sampai. " tegas-Nya.
Ayahnya Faiz menegur perilaku yang dilakukan anaknya itu.
" Hey! Kenapa membangunkan-Nya dengan cara seperti itu? Sangat tidak sopan. " ujar Ayahnya.
" Jika, tidak seperti ini mereka tak akan bangun Ayah. " sahut Faiz dengan dongkol.
" Hoam... " menggeliat.
" Tuh... Mereka akan sadar jika, caranya seperti ini. " ujar Faiz kembali.
Ayahnya Faiz merangkul.
" Sudah. Mari kita segera turun, mereka bisa mengurus-Nya sendiri. " ajaknya.
Mereka berdua pun turun, Faiz sambil menoleh-noleh ke arah belakang untuk melihat Zuu. Lee terkejut melihat Zuu yang masih nyaman-Nya tertidur.
" Ini anak sebentar lagi akan dijuluki putri tidur haha... Hey cepat bangun... " gesa-Nya sambil menggoyangkan bahunya.
" ampun... Apa yang sudah ia telan sehingga susah dibangunkan begini?? Zuu... Zuu... " Lee membangunkan kembali dengan kebingungan.